
Satu tahun sudah Iksa dan Asyad menjalani hiruk pikuk rumah tangganya, Iksa yang sudah menyandang gelar sarjana dan memiliki nilai yang cukup memuaskan membuatnya merasa bangga apalagi sang suami yang selalu setia dan sabar dalam menghadapinya selama ini.
Kini Asyad dan Iksa bekerja di tempat yang sama di hotel milik sang suami, sebenarnya Iksa sudah menolak akan hal itu namun Asyad bersikukuh menyuruh istrinya dalam pengawasannya dan menurutnya istrinya pantas mendapatkan pekerjaan yang menurut Asyad sesuai dengan bidangnya yaitu sebagai chef de cuisine disini Iksa hanya mengelola dari cabang hotel saja, Asyad ingin Iksa menjadi head chef namun karena Asyad tidak ingin membebani Iksa ia di beri jabatan yang lumayan tinggi sebagai chef de cuisine.
Iksa yang kini berada di kamar tidurnya tiba-tiba merenungkan sesuatu, melihat itu Asyad mendekatinya memegang jemarinya agar tersadar dari lamunannya.
"Ada apa sayang?" tanya Asyad lembut dan berhasil membuat Iksa tersadar.
"Tidak, tidak ada."
"Katakan, apa ada masalah di pekerjaanmu?"
"Tidak semuanya baik-baik saja, aku hanya sedikit lelah."
Mendengar itu Asyad langsung memberikan kecupan hangat dipelipis sang istri dan mendekapnya mesra.
"Jika ada apa-apa katakan sayang, jangan sampai membuat dirimu terlalu berpikir dalam." Iksa hanya menganggukkan kepala dan memeluk erat suaminya.
"Asyad,"
"Iya sayang."
"Kenapa sampai sekarang aku belum juga hamil?"
"Jadi ini yang membuatmu melamun sedari tadi." Iksa menganggukkan kepalanya.
"Emm tadi aku tidak sengaja mendengar pembicaraan staff di dapur, dia bilang istrinya sudah lama tidak hamil dan ada yang bilang kemungkinan istrinya ada suatu penyakit di rahimnya, mendengar itu aku takut karena bahkan sampai sekarang aku belum juga hamil." Iksa menjelaskan kejadian di dapur saat para staff sedang berbicara dan Iksa sedang memeriksa pekerjaannya.
"Hei hei, jangan bilang seperti itu kan mereka hanya asal menduga, lagi pula belum tentu apa yang di bicarakan oleh orang tersebut benar." Asyad mencoba menenangkan sang istri yang terlihat kalut sekali.
"Aku takut sayang," Iksa semakin mengeratkan pelukannya agar kecemasannya bisa hilang.
"Ya sudah besok kita ke rumah sakit ya, kita periksa keadaan kamu." Iksa mengangguk paham lalu sedikit meregangkan pelukannya dari Asyad.
Terasa pelukan Iksa sudah merenggang ia pun membaringkan istrinya untuk tidur, perlahan Iksa pun tertidur dan disusul pula oleh Asyad.
*
Dokter yang kini sedang menangani Iksa menjelaskan tentang kondisi Iksa.
"Kandungan bu Iksa baik-baik saja sehat dan tidak ada penyakit apapun didalamnya, mungkin karena bu Iksa terlalu lelah dan stress menjadi pemicu bu Iksa belum bisa hamil."
"Jadi karena itu dok, saya belum juga hamil?" tanya Iksa memastikan.
"Iya boleh Ibu coba mulai sekarang mengurangi pekerjaan yang terlalu berat dan untuk bapak bisa menyemangati bu Iksa jangan terlalu banyak berfikir yang terlalu berat."
"Baiklah dok saya akan sering-sering mengingatkan istri saya," ucap Asyad sopan.
"Ini resep obatnya untuk vitamin bu Iksa."
"Terima kasih dokter."
Setelah menebus obat mereka berjalan menuju mobil Asyad menggenggam erat tangan sang istri untuk menenangkannya.
Sampainya di mobil Asyad pun menjalankan mobilnya menuju rumah tercintanya.
"Sayang mulai sekarang, pekerjaan kamu bisa di handle sous chef dulu ya biar kamu tidak terlalu lelah kamu ingatkan pesan dokter." ucap Asyad mengingatkan.
"Aku akan bosan jika berada di rumah tanpa melakukan apapun, sayang."
"Baiklah, kalau kamu menginginkan itu, namun aku akan menyuruh sous chef yang menghandle pekerjaan yang terlalu berat, aku akan sering datang kesana biar kau bisa istirahat."
"Asyad itu berlebihan!"
"Cukup sayang, akhir-akhir ini kau sering kelelahan mengurusi semua pekerjaanmu, jadi mulai sekarang kau harus menurut, kau hanya boleh kelelahan hanya saat bersamaku di ranjang." Ucap Asyad membuat Iksa sontak memukul bahu Asyad.
"Kan hanya dengan istriku saja." Asyad kembali pada fokus menyetirnya.
Setibanya di rumah Asyad mengajak Iksa makan siang karena memang bibi Fale sudah menyiapkan makanan yang sudah tersaji di atas meja.
"Sayang, aku kangen sama Mama." ucap Iksa saat acara makan sedang berjalan.
"Iya besok kita kesana ya, sekarang makan dulu habis itu kita istirahat." Ucap Asyad.
"Loh kok istirahat memangnya kita tidak kembali ke hotel?"
"Tidak, aku ingin kamu bisa istirahat aku tidak ingin kamu terlalu capek dengan pekerjaanmu itu."
"Asyad, kau jangan begitu mereka pasti sudah menungguku untuk merencanakan menu selanjutnya." Iksa mencoba membujuk sang suami agar mau membiarkannya kembali bekerja.
"Tidak akan, kau ingat apa kata dokter kalau kau harus menjaga kesehatan, kalau kau tidak mau ya sudah biar sekarang kamu di rumah saja tidak usah bekerja lagi."
"Asyad, kenapa begitu kau tega membiarkan aku dilanda kebosanan di rumah." Iksa mulai sedikit merajuk.
Setelah lama mereka debat di tempat makan Iksa akhirnya memilih mengalah, ia beranjak dari tempat makannya dan menuju ke kamarnya dengan perasaan kesal terhadap suaminya.
Asyad yang melihat itu mengerti akan perasaan istrinya, terkadang memang istrinya itu suka gila bekerja jadi kalau bukan Asyad yang menyuruhnya istirahat ia tidak akan beristirahat dan tetap larut dengan pekerjaannya, entah kenapa pemikiran Iksa bekerja membuatnya lupa menjaga dirinya.
*
Dua minggu berlalu terlihat Asyad yang sedang berkutat di dapur membuatkan sesuatu untuk istrinya, ya memang sekarang Iksa sedang tidak enak badan dirinya merasakan pusing yang berdenyut hebat Asyad sudah menyarankan untuk periksa ke dokter namun Iksa menolaknya dengan dalih hanya istirahat saja ia akan sembuh dengan sendirinya.
"Sayang kita ke dokter ya, aku takut nanti makin parah jika di biarkan!" Ucap Asyad lembut sambil mengusap rambut Iksa mesra.
"Tidak usah, kan aku sudah bilang aku hanya ingin istirahat saja, nanti pasti sembuh kok, kamu jangan khawatir!" ujar Iksa menenangkan suami dari rasa khawatirnya.
"Baiklah, kuharap begitu," Asyad hanya mengiyakan saja ucapan Iksa ia tidak ingin berdebat dengan istrinya yang sedang sakit.
"Kamu tidak kerja?"
"Sebenarnya ada meeting hari ini, tapi aku mana tega meninggalkanmu seperti ini sayang."
"Sayang, aku akan baik-baik saja, kamu berangkatlah, mereka pasti akan menunggumu."
"Kamu prioritasku aku hanya tidak ingin kau kenapa-napa."
"Asyad kau jangan egois, aku pasti baik-baik saja, disini juga ada bibi Fale jadi nanti kalau aku butuh sesuatu aku pasti akan menyuruh bibi Fale membantuku."
"Baiklah, aku akan bersiap, kau pastikan makan tepat waktu, aku akan menelpon. bibi Fale untuk mengetahui keadaanmu."
"Iya." ucap Iksa melemah namun tetap memaksakan senyumnya didepan sang suami.
Asyad kini sudah bersiap berangkat ke hotelnya, setelah sarapan ia menuju kamarnya untuk berpamitan kepada sang istri.
"Sayang aku pergi ya!"
"Hmmm," jawab Iksa dengan mata terpejam.
"Jangan lupa makan, sayang!" seketika Asyad mendaratkan ciuman di kening Iksa dalam, mengetahui istrinya yang seperti itu ia masih khawatir namun Asyad membiarkannya tenang dalam tidurnya.
Asyad menuju parkir mobil rumahnya, ia juga tak lupa berpesan kepada bibi Fale untuk menghubunginya jikalau terjadi sesuatu dengan keadaan Iksa.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hai hai makasih yang udah setia baca
jangan lupa vote dan likenya.