Sebintang Rindu

Sebintang Rindu
Part 64_Epilog



Pagi menyambut datangnya mentari yang bersinar melusup kedalam celah sebuah ruangan yang terlihat masih gelap akibat pergumulan dua orang yang kini sedang saling bertaut mesra dalam pelukan.


Asyad mengerjapkan matanya terlihat teduh saat pemandangan pertama yang ia lihat adalah wajah istri tercintanya, seseorang yang setia menunggunya hingga sampai pada ikatan yang benar-benar Asyad harapkan.


Semua perjuangannya tidaklah sia-sia Asyad sangat bahagia mengingat kenangan bersama Iksa yang sudah ia lalui, baginya tiada kebahagiaan yang lain selain bersama dengan orang yang sangat ia cintai.


Lama Asyad memandang wajah tidur sang istri ia pun mengakhirinya dengan mengecup dalan kening Iksa lalu beranjak dari ranjangnya menuju kamar mandi ia membiarkan sang istri tertidur pulas karena semua itu karna perbuatannya yang membuat Iksa masih belum juga terbangun sedang Asyad begitu bersemangat seperti sudah menyerap kekuatan istrinya.


*


Setelah mereka berkemas, Asyad membawa Iksa menuju rumahnya dengan perasaan yang sama-sama terlihat bahagia terlihat jelas di raut wajah mereka.


Sesampainya di rumah terlihat kedua orang tua Asyad dan orang tua Iksa sudah menyambutnya dan sahabat mereka pun juga hadir disana, namun satu hal yang membuat wajah kedua pasangan pengantin baru terkejut saat salah satu sahabatnya terlihat hadir didalamnya.


"Hai," sapanya.


"Luna, kau datang?" sambut Iksa dengan bibir teangkat di kedua sudutnya.


"Iya, kalian sahabat aku, aku bakalan hadir, maaf kemarin tidak bisa hadir di resepsi kalian." Sesal Luna namun masih mendapat tatapan tajam dari Asyad.


"Oh tidak masalah Lun, aku seneng kamu sekarang bisa hadir."


"Sa, maafin aku ya, aku minta maaf karena sudah egois dan mata aku sampai tertutup tak bisa melihat kebenaran dan kesalahan, aku minta maaf, kejadian kemarin benar-benar membuat aku menyesal akan tindakan aku yang membuat Asyad menjadi semakin membenciku." Luna merunduk meratapi kesalahannya.


"Lun, sudah kami sudah memaafkanmu, kita sahabat harus saling memaafkan." Iksa mencoba menenangkan Luna.


"Apa aku bisa percaya dengan kata-katamu?" Asyad menyambut dengan kata-kata dingin dan tajam.


"Asyad aku...." Air mata Luna sukses meluruh jatuh kepipinya.


"Syad, Luna sudah minta maaf kau seharusnya bisa memaafkannya!" Iksa mencoba membujuk sang suami agar mau berdamai dengan sahabatnya.


"Aku sudah ikhlas jika memang kamu mau memberiku hukuman lebih dari itu, jika kau mau aku siap menyerahkan diriku kepada pihak berwajib, karena memang itu keadilan untuk Iksa." Iksa semakin memeluk Luna memberi pengertian pada tubuhnya supaya berhenti membicarakan masalah yang sudah berlalu.


"Itu bukan hakku, itu semua terserah istriku, namun aku yakin dengan sikapnya itu dia tak mampu melihatmu mendekam disana!"


"Asyad!" Iksa mencoba menghentikan perkataan Asyad yang semakin membuat Luna merasa bersalah.


"A-ku sudah sadar, Gean sudah memberitahuku semuanya, aku minta maaf aku tau kau memang berjodoh dengan Iksa kalian sudah bersama sejak kalian kecil, kalian sudah meratapi semua kehidupan yang pahit yang tak ku ketahui, maaf!"


"Baiklah lupakan, aku juga tak akan setega itu membiarkanmu masuk kedalam buih."


"Kau memaafkanku?!" Luna menatap penasaran Asyad.


"Iya." Luna begitu senang dan ingin memeluk Asyad.


"Aku sudah punya istri, maaf!" Asyad menolak pelukan Luna. "Sayang, sini!" panggilnya pada Iksa.


"Yeahh, gitu dong sekarang gak ada lagi pertengkaran lagi, aku rindu kalian semua," Nela memeluk pundak Iksa dan Luna di ikuti Kila dan juga Venya.


"Sahabat," Venya melayangkan telapak tangannya diantara sahabatnya.


"Sahabat," Tangan Kila menerima, di lanjut Nela, Iksa dan Luna lalu menghempaskannya ke udara.


"Yeahhhh!" mereka berteriak serentak.


Sang lelaki melihatnya dengan tersenyum bahagia mereka melihat pasangan mereka tersenyum bahagia.


Acara berkumpul saat itu menjadi momen indah kembalinya sahabat mereka yang pernah terpecah karena sebuah kesalahpahaaman.


*


"Sayang!" panggil Asyad saat Iksa sedang membersihkan wajahnya di depan meja rias.


"Iya."


"Apa sih?"


"Sini dong, kan harus nurut kalau suami manggil!"


"Iya bentar!"


Usai membersihkan wajahnya ia beranjak naik ke atas ranjang mendekati sang suami yang sudah menyambutnya.


"Ada apa?"


"Kok ada apa, peluk dong!" Iksa menurut saja.


"Kenapa?"


"Tidak ada, aku bahagia sekali sudah diberi kesempatan sama Tuhan untuk menjadi suami dari seorang Armela Iksaria Bakhtiar." Asyad memeluk istrinya sayang.


"Sama, aku juga bahagia, akhirnya penantianku terjawab sudah dan kaulah jawaban dari itu, terima kasih sudah menerimaku dan maaf kalau selama ini aku tidak pengertian padamu!"


"Hei kau ini seperti sedang mengucapkan perpisahan saja, Sayang aku rela kok apapun dengan sikapmu padaku tapi satu hal yang tak akan aku terima, aku tak akan membiarkanmu lepas dari hidupku lagi," Asyad melayangkan kecupan di kening Iksa hingga Iksa memejamkan matanya merasakan kehangatan yang tersalurkan dari tubuh Asyad.


"Sayang!"


"Hmmm?" jawab Iksa.


"Aku mau!"


"Apa?"


"Itu!"


"Apa?"


Dan tanpa kata lagi Asyad pun menyerang istrinya kembali, melakukan percintaan yang ke sekian kalinya.


"Asyad, nakal!"


"Biarin kan sudah bebas!"


Mereka pun menikmati kegiatan malamnya melepas semua masalah mencurahkan semua cinta yang akan membuat hidupnya lebih bahagia.


Inilah awal kehidupan mereka dimulai.


.


.


.


THE END


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Makasih yang udah setia membaca novel aku dari awal sampai sekarang, aku minta maaf jika endingnya tidak sesuai ini sudah aku usahakan yang terbaik.


Akan ada extra part yaa tungguiiiinn🤗🤗🤗


See you next time...............