Sebintang Rindu

Sebintang Rindu
Part 29_Pura-pura Sakit



Sesaat Asyad terlihat bingung dengan kehadiran sahabat Iksa yang tak lain adalah Kila, ia berdiri sendiri di depan pintu dengan wajah yang begitu gelisah.


“Hai Asyad,” sapanya dengan tetap menunjukkan wajah sumringahnya.


“Ada apa? kenapa kau bisa tau kamarku.”


“Oh tenang aku gak menguntitmu kok, aku di kasih tau Nela. Kita berdua nginep di sini,” sambil mengerlingkan satu matanya seperti sosok wanita yang sedang menggoda kekasihnya. Uhhhh sebenarnya bukan tipe dia banget.


“Sedang apa kau berdiri di depan kamarku Kil, terus kalian kenapa menginap juga di hotel ini, bukannya kau tinggal di sebelah kosnya Iksa.”


“Hmmmm cuman sehari ini doang kok Syad, ini juga bukan penginnya aku Nela yang mengajakku.”


“Trus kau kesini ngapain, Nela mana?” tanya Asyad menatap curiga Kila.


“Eitttss biasa aja kali ngeliatnya, aku mau ngomong sama kamu, Nela ada, dia lagi tidur di kamarnya.”


“Ok, jadi apa yang mau kau omongin?” tanyanya menggebu karena merasa lelah dengan sikap Kila yang terlihat berbelit belit.


“Cepetan dong Kil, kau mau ngomong apa? aku capek mau istirahat!” pintanya pada Kila.


“Ok ok, em em itu anu emmm,” masih berfikir, “Emm Bara emm Bara itu emmm,” bingung. “Haduh kenapa aku jadi bingung gini sih,” ucap Kila dalam hati ia merasa bingung menanyakan tentang Bara kepada Asyad.


“Kil.” Panggilnya. “Kenapa Bara?” tanyanya curiga.


“Emm, katanya dia sakit, kau kan temen deketnya kau bisa tidak mengantarku ke tempatnya, Nela gak tau ini, jadi aku mau minta tolong sama kamu, Bara minta aku ngomong sama kamu buat mengantarku ke apartmentnya,” jawabnya terlihat begitu takut karena ini hal baru yang Kila lakuin.


“Hmmm kau sama dia???” tanya nya penuh selidik.


Kila yang begitu ketakutan, ia segera mengangkat satu telunjuk di dekatkannya pada bibir mungilnya, “Sssssttttt, kau jangan banyak mikir macem macem deh Syad, plis kau bisa gak nganterin aku kesana sekarang plisss,” mohonnya pada Asyad.


"Sejak kapan Bara sakit?? perasaan tadi di kantor curhat denganku sehat sehat saja," pikirnya.


Karena mengingat jasanya yang sudah membantunya dengan Iksa kembali, tanpa berpikir panjang ia pun menyetujui permintaan Kila, ia tak menanyakan lagi perihal hubungannya dengan Bara.


Asyad mengantar Kila menuju apartement Bara yang lumayan jauh dari jarak hotelnya. “Aku ini bos loh Kil, kau bisa bisanya menyuruhku buat jadi supirmu, untung kamu temennya Iksa coba orang lain mending aku tidur tadi, hfffttt,” desahnya mengambil nafas dalam seolah mengeluarkan isi hatinya.


“Ya elah Syad, yang ikhlas dong,” jawabnya menggerutu.


Asyad masih fokus melihat ke depan ia tak menghiraukan lagi perkataan Kila yang sedari tadi menggerutu tak jelas.


Setelah kurang lebih 30 menit sampailah mereka ke apartment Bara, mereka berjalan mencari kamar Bara, Asyad yang memang sudah mengetahui kamar Bara ia pun langsung membuka apartment Bara tanpa mengetuknya.


“Bar, ini Kila kau ngapain nyuruh dia kesini?" teriaknya pada Bara yang berada tepat di hadapannya. “Pake alasan sakit segala, sejak kapan kau belajar jadi pembohong,” bisik Asyad pada Bara, terkekeh geli.


“kau bisa diem gak sih!!” semburnya di telinga Asyad. “kau bisa pulang Syad, makasih udah nganterin Kila kesini, inget ya kau kan masih punya hutang budi denganku dan Kila,” ucap Bara menyudutkan Asyad.


“Sialan kau Bar, bukan sahabat aku tinju kau,” seraya memukul lengan Bara.


“Awwww,” rintih Bara.


“Ok ok, lanjutkan permainanmu Bar, aku pulang ya, oh ya Kil kau jangan terlalu polos kalau sama dia, dia orangnya mesum abis,” sekali lagi Asyad memukul lengan Bara dan berlalu meninggalkan Bara dan Kila dengan tawa menyeringai.


"Sialan kau Syad!" gerutu Bara.


Setelah kepergian Asyad, Bara pun mengajak Kila duduk di sofa ruang tamu, ia mengambilkan minuman dan snack untuk Kila.


“Kau gak sakit Bar? kau sepertinya keliatan sehat banget, kau membohongiku?” tanya Kila curiga.


“Emmm itu, awww,” teriaknya kesakitan yang didasari kebohongan.


“Kau gak papa Bar?" tanya Kila seraya memegang lengan Bara.


“Sakit Kil,” rengeknya pada Kila.


“Yang mana yang sakit?” tanya Kila khawatir.


“Yang ini Kil, sakit banget, awww.” sambil menunjuk perutnya yang sebenarnya tak sakit.


“Sabar ya, kau mau istirahat aja aku anterin ke kamarmu ya,” ucap Kila tanpa merasa curiga dengan kebohongan Bara, Bara pun hanya menganggukkan kepalanya.


Kila pun memapah Bara ke kamarnya, ia berjalan menaiki satu per satu anak tangga. Sampai di kamar Bara, Kila membaringkan Bara yang masih terlihat ekspresi kesakitan, padahal enggak.


“Aku temenin kamu sampai besok, aku tidur di sofa sebelah situ, kau istirahat biar gak kesakitan lagi,” ucapnya langsung berlalu dari Bara namun dengan cepat tangan Kila di tarik cepat oleh Bara yang membuat Kila hampir jatuh ke tubuh Bara namun ia masih bisa menahan tubuhnya.


“Tidur disini aja Kil!” pintanya seraya melirik tempat di sebelahnya.


“Kau ngigau Bar, mana mungkin aku tidur di sebelahmu kita ini belum ada hubungan apa –apa kau main menyuruhku tidur aja, nggak!!! aku tidur di sofa,” ucap Kila.


“Plisss, aku gak tega kalo kau harus tidur di sofa, kau kan cewek masa iya aku enak enakan tidur di ranjang, kau malah di sofa,” ucapnya memohon.


“Bar….kau itu lagi sakit, aku ini sehat gak papa aku tidur di sofa, udah kau tidur aja, daripada aku pulang nih,” ucap Kila mengancam.


“Padahal aku sehat walafiat nih Kil,” ucapnya dalam hati. Bara pun melepas tangan Kila dan membiarkan Kila meninggalkannya.


Kila pun membaringkan tubuhnya di sofa depan ranjang kamar Bara, sesekali Bara melirik Kila memastikan ia sudah tidur atau belum.


Jam tepat menunjukkan dini hari pukul dua belas malam, Bara yang memang tidak bisa tidur karena tak tenang ia pun menghampiri Kila yang tengah tertidur pulas di sofa. Ia melihat wajah Kila yang begitu cantik dan kalem saat tidur tapi entah mengapa saat dirinya di dunia nyata begitu cerewet dan gak ada kalem kalemnya sama banget kayak Nela.


Bara tak tega melihat Kila yang tidurnya seakan tak tenang ia pun berinisiatif menggendong Kila ke ranjang kamar tidurnya dan membaringkannya di sana.


“Kau tu ya, polos banget jadi orang kalo yang ngibulin kamu orang lain entah bakal jadi apa dirimu, ” ucapnya lalu mengecup kening Kila ia pun menyelimuti tubuh Kila hingga sampai bahunya.


Bara yang masih menghargai Kila, ia memilih untuk tidur di sofa yang tadi Kila tempati. Bara pun memejamkan matanya ia tidur dengan perasaan bersalah karena sudah tega membohongi Kila hanya untuk menemaninya. Namun ia masih merasa sedikit lega karena setidaknya Kila tidak sampai tidur di sofa, “sungguh kejam kau Bara,” gerutunya di hati.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=