Sebintang Rindu

Sebintang Rindu
Part 47_Begitu Bahagia



Asyad yang sudah berada di depan gedung bertingkat mewah melangkahkan kakinya menuju pintu masuk perusahaan tersebut. Para resepsionis menyambut kedatangannya.


“Selamat pagi pak, ada yang bisa saya bantu?” ucap resepsionis cantik dengan paras lembutnya.


“Iya saya mau bertemu dengan pemilik perusahaan ini.” Ucap Asyad dengan wajah dinginnya yang membuat resepsionis tersebut sedikit takut dengan ekspresinya.


“Baik pak tunggu sebentar!” resepsionis itu langsung menelpon seseorang untuk meminta persetujuan.


“Baik karena pak presdir sedang rapat, bapak bisa menemui sekretaris beliau ruangannya berada di lantai sepuluh.” Ucapnya sambil menunjukkan tangannya menuju lift dengan sopannya.


“Terima kasih.”


Asyad pun berjalan menuju lift yang tadi ditunjukkan oleh resepsionis tersebut dengan diikuti oleh asistennya Bima yang kini berada di belakang tubuhnya.


Setelah sampai di lantai sepuluh Asyad langsung di sambut oleh seorang sekretaris cantik yang bername tag Fira seketika matanya melihat penuh ketertarikan,


“Selamat pagi pak Asyad, mohon maaf pak presdir sedang rapat anda bisa menunggu di ruangan beliau mari saya antar.”


Asyad berjalan mengikuti sekretaris tersebut sesampainya di dalam ruangan sang sekretaris segera mempersilahkan duduk dengan bahasa manjanya, “Anda membutuhkan sesuatu pak?” tanya sekretaris tersebut yang merasa enggan meninggalkan Asyad.


“Tidak terima kasih saya akan menunggu beliau saja, Bima tolong kemarikan filenya!” ucapnya sembari memanggil Bima yang berada di belakang sekretaris tersebut.


“Baik pak,” ucap Bima kini mendekati Asyad menyerahkan semua file yang di bawanya.


Setelah menunggu selama kurang lebih lima belas menit sang pemilik ruangan yang di tunggu akhirnya datang.


“Selamat pagi pak Anggara,” ucap Asyad menyunggingkan senyumnya.


“Oh iya selamat pagi pak,” balas Anggara yang tak lain adalah teman dari Wiliam


Mereka duduk berseberangan dengan Anggara yang duduk di kursi kebesarannya, tanpa berkata apapun Asyad menyerahkan sebuah file di hadapan Anggara.


“Apa ini pak Asyad?” tanyanya.


“Bisa anda buka sendiri.” Ucap Asyad.


“Apa ini pak Asyad maksudnya, bukankah ini seorang model yang menjadi brand ambassador kami.”


“Iya anda benar, saya mau anda menarik semua kontrak dengannya.”


“Mohon maaf pak saya tidak bisa, karena di sini Luna masih memiliki kontrak dengan kami.”


“Ok terserah anda, karena saya akan membawa file ini ke polisi dan menjadikannya tersangka karena kasus perencanaan pembunuhan.”


“Tapi pak.”


“Terserah anda saja apa anda ingin reputasi perusahaan anda akan tercemar gegara seorang brand ambassador seorang pembunuh dan satu hal lagi ayah saya akan mencabut saham dari perusahaan anda.” Ucap Asyad penuh penekanan.


“Baiklah kalau begitu saya akan mencabut semua kontrak dengannya saya mohon dengan sangat pak Wiliam tetap mempertahankan sahamnya disini.”


“Baik pak Asyad.” Asyad berlalu dari ruangan Anggara dan segera di ikuti Asistennya Bima.


“Permisi pak,” pamit Bima dengan sang pemilik ruangan.


Asyad dan Bima berjalan keluar dari ruangan Anggara dan berjalan melewati sekretaris Fira yang sedari tadi nampak memperhatikan Asyad dari pintu keluar hingga melewatinya tak lupa senyumnya ia keluarkan dengan semanis mungkin di hadapan Asyad namun hanya mendapat tatapan dingin dari Asyad karena ia tak berkeinginan membalas sapaan sekretaris tersebut.


*


Iksa yang sedang berbincang dengan sang Ibu yang tak lain adalah Lena di taman rumahnya saat sore hari dengan suasana yang begitu cerah, mereka seakan menikmati hari yang begitu bahagia memandang langit yang begitu indah sambil menceritakan kehidupan mereka masing-masing selama mereka tak bersama.


“Kau tau sayang, tidak semua kehidupan di dunia ini dapat kita miliki meskipun kita memiliki segalanya,” Lena menceritakan isi hatinya yang sedang bernostalgia dari masa lalu.


“Kau sangat menyanyangi Ayah, Mom?” tanyanya tentang suami Lena terdahulu.


“Iya dan sampai sekarang pun Mommy sangat menyayanginya,” ucap Lena dengan sendu.


“Mengapa dulu Mommy sangat membenci Iksa, boleh Iksa tau Mom?” tanya Iksa sedikit khawatir takut bilamana Lena merasa bersalah padanya.


“Karena Mommy terlalu mencintai Ayahmu, sehingga Mommy melupakan sebuah cinta dan kebahagiaan besar yaitu kamu,” Lena menangkup wajah Iksa seakan memberi isyarat bahwa dirinya sangat terluka akan hal itu, ia begitu menyesal.


“Mommy mohon sayang jangan tinggalkan Mommy, kaulah satu-satunya buah cinta kami yang masih mendekatkan cinta Mommy dan Ayahmu,” tambahnya yang kini langsung mendekap tubuh Iksa dengan sayang hingga airmata pun tak bisa lagi ia tahan hingga begitu sesak didada Lena dan acara santai sore pun berubah menjadi haru antara Ibu dan anak yang kini tengah mengungkapkan isi hati mereka.


“Mom…” Iksa pun ikut menangis di bahu Lena.


“Mommy rindu dengan Ayahmu sangat rindu Iksa,” pelukan Lena semakin erat ia benar-benar mengeluarkan semua kesakitan hatinya selama ini.


“Mom…..” Iksa tak bisa berkata apa-apa karena tangisnya kini juga semakin deras.


“Mom tenanglah, apa kau besok ingin menemui Ayah, kita besok bisa mengunjungi makam Ayah, Iksa juga ingin memberi do'a ke makam ayah karena selama Iksa juga belum pernah ke makam Ayah,” ucap Iksa mengusap airmatanya dan menenangkan sang Ibu agar tidak terlalu kalut akan masa lalu.


“Baiklah, besok Mommy akan ke makam Ayah Mommy juga ingin minta maaf kepadanya karena tak menjagamu dengan baik selama ini,” Lena merenggangkan pelukannya dan menggenggam erat jemari Iksa.


Mereka seakan merasakan kelegaan di hati masing-masing, Iksa yang begitu penasaran akan masa lalu Ibunya merasa lega karena mengetahui semuanya dan Lena pun juga lega karena kini perasaan sakit hati yang menyiksa dirinya telah lepas dan itu karena putri semata wayangnya kini.


Saat mereka akan masuk ke dalam rumah tiba-tiba ponsel Iksa berbunyi dan ternyata notif dari seseorang, namun ia mengabaikan pesan yang masuk dari ponselnya dan melanjutkan kebersamaan dengan sang Ibu di dalam rumah.


*


Asyad kini yang akan beranjak keluar dari kantornya, sejenak membuka ponselnya dan untuk kedua kalinya Iksa tak membalas pesannya, ia juga menelpon Iksa berkali-kali namun juga tak kunjung di angkat oleh Iksa. Asyad pun semakin kalang kabut ia takut Iksa akan salah paham lagi dengan dirinya ia takut membuat Iksa menangis lagi sudah cukup baginya ia membuatnya bersedih.


Asyad melajukan mobilnya dan langsung melesat menuju rumah Iksa, dengan perasaan yang begitu khawatir dan takut, saat sesampainya di sana ia memarkirkan mobilnya di halaman rumah Iksa dan saat melihat di teras rumah ternyata ia melihat Iksa begitu bahagia sedang bersenda gurau dengan orang tuanya, sampai mereka mengabaikan Asyad yang datang, bukan mengabaikan lebih tepatnya mereka tak melihat keberadaan Asyad.


Asyad begitu bahagia melihat Iksa begitu bahagia bersama keluarganya didalam hatinya ia berjanji akan membuat Iksa selalu bahagia dan akan selalu menjadikannya ratu dalam hatinya.


‘Kebahagiaan sejati adalah cinta yang tulus dan saling memahami akan setiap hal yang terkait dengan kebahagiaan pasangan kita, namun tak melupakan masa dimana ia membutuhkan sebuah sandaran untuk bertahan melawan kesedihannya’


\=\=\=\=\=\=\=\=