Sebintang Rindu

Sebintang Rindu
Part 39_Sungguh?



Terdengar langkah alas kaki bersuara bersautan mendekat kea rah sepasang ibu dan anak yang saling melepas rindu tersebut mereka semua terlihat bahagia karena melihat peristiwa haru yang kini berhadapan di mata mereka. Maria juga sangat bahagia melihat anak angkatnya bisa merasakan pelukan hangat oleh ibu kandungnya, Maria tak dapat menahan perasaan bahagia yang kini membuncang hatinya sungguh ia sangat bahagia hingga air di kedua matanya tumpah, Iksa yang memperhatikan Maria ia bergegas mengusap air mata mamanya yang selama ini dengan sabar sudah merawat Iksa dengan sepenuh hati.


Asyad menghampiri kekasihnya dan memeluknya tanpa sungkan di hadapan orang tua mereka.


“Bagaimana perasaaanmu sayang?” tanya Asyad melepas pelukannya dan menangkup kedua pipi Iksa.


“Aku bahagia, bahagia banget aku bisa merasakan mempunyai dua sosok Ibu yang sekarang sangat menyayangiku.” Jawab Iksa dengan rasa bahagia namun masih terdengar suara serak setelah tangisan tersebut.


Tiba-tiba suara bariton besar menengahi acara haru tersebut, “Ku rasa kalian semua butuh asupan makan kalian semua pasti lelah karena tangisan haru ini jadi untuk merayakan perasaan bahagia kita semua, bisakah kalian makan malam bersama disini bersama kita.” Tanya Jeremy memcah suasana tersebut.


Mereka semua tersenyum dan mengangguk mengiyakan perkataan Jeremy dan mereka pun makan malam bersama.


Di sela makan malam tersebut Asyad berdehem kepada mereka semua, “Ehhhmm.”


“Asyad, kamu kenapa?” Tanya Iksa yang kini tengah duduk bersampingan dengannya.


Asyad menggenggam jemari Iksa dan mulai berbicara.


“Tante, om... jadi begini saya berniat untuk melamar Iksa saya ingin menikahinya dan ingin memulai hidup baru dengan anak kalian, bagaimana? Apa Om dan Tante merestui hubungan kami?” ucap Asyad sedikit gugup namun masih terlihat tegas.


“Tante sama Om merestui hubungan kalian apapun yang terbaik bagi Iksa kami akan selalu mendukungnya, karena Iksa yang menjalaninya iyakan Maria?” ucap Lena yang langsung mengarah pada Maria.


“Emmm iya kami semua merestui hubungan kalian semoga kalian selalu diberkati kebahagiaan” tanya Maria yang membuat Iksa semakin tersipu malu.


“Syukurlah, aku jadi tak sabar ingin segera menimang cucu,” ucap Samira terlihat heboh hingga semua tertawa akan ucapannya sementara Iksa yang sedari tadi diam raut mukanya terlihat merah akan perkataan Samira.


*


Terlihat Nela dan Kila berada di sebuah kafe bersama Kendra sedang berdebat karena Kendra meminta bantuan kepada mereka untuk mendekatkannya dengan Iksa yang menurut Kendra akan lebih mudah karena ia tak bisa mendekati Iksa karena Iksa sulit untuk diajak pendekatan bahkan.


“Ayolah kalian kan sahabat terdekatnya Iksa, pliss bantuin aku buat deket sama Iksa!” pinta Kendra terlihat memelas.


“Kau bisa-bisanya berbicara seperti itu pada kita, kau tau bahkan Iksa sedikitpun tak punya perasaan denganmu, sudahlah jauhi Iksa kau bisa mendapatkan gadis yang bisa lebih peka denganmu.” Sungut Nela yang tak terima dengan permintaan Kendra yang terlihat memaksa kehendaknya.


“Iya Ken, lagian kau kenapa sih ngebet banget sama Iksa, aku kasih tau ya Iksa itu udah punya tambatan hatinya jadi percuma saja kau mengejarnya karena hatinya gak akan bisa kau dapatkan.” Jelas Kila agar Kendra mengerti.


“Oh iya, bilang saja kalian memang tak mau membantuku, aku tau Iksa masih sendiri ia dari dulu tak pernah dekat dengan cowok manapun, jadi kalian jangan mengarang cerita.” Ucap Kendra yang terlihat kesal karena ia sedari memohon hingga merendahkan dirinya di hadapan kedua sahabat Iksa namun mereka masih saja tak mau membantu.


“Kau.......” Kesal Nela yang melihat Kendra keras kepala.


“Terserah kau Ken, kita sudah memberi tahumu, kalau kau masih tak percaya ya sudah.” Kila semakin pusing di buatnya.


“Baiklah, aku akan mendapatkannya dengan caraku sendiri.” Ucap Kendra lalu bangkit berdiri dan berlalu pergi dari hadapan mereka dengan muka kesal.


“Heiii, makananmu belum di bayar......” Teriak Nela yang melihat Kendra keluar begitu saja.


“Sudahlah Nel, bayarin aja dia kan lagi kalut, sekalian yeee bayarin punyaku.” Kila menyeruput minumnya dan segera menghabiskan makanannya tanpa peduli dengan Nela yang sudah sangat kesal.


“Kau sama saja.” Sungutnya.


Setelah selesai makan mereka keluar dari kafe tersebut dan menuju parkiran, setelah memasang seat belt mereka pun melajukan mobilnya lalu keluar.


“Oh iya Kil, kira-kira Iksa lagi ngapain ya, pengen ketemu nih sama dia sekalian bilang sama Iksa buat hati-hati dengan si Kendra.” Ucap Nela sambil menyetir dengan fokus tatapan ke depan.


“Entahlah, mungkin ke rumah tante Lena.” Jawab Kila.


“Kita kesana yuk, aku juga pengen tau rumah aslinya Iksa.”


“Baiklah.”


Setelah Kila memencet bel rumah Lena mereka menunggu seseorang membukakan pintu. Terlihat sosok laki-laki tinggi besar yang mereka tau adalah suami Lena.


“Malem Om,” Sapa mereka bebarengan.


“Oh kalian, masuk saja Iksa ada didalam,” Ucap Jeremy yang memang sudah mengetahui akan sahabat Iksa.


“Terima kasih Om,” mereka pun masuk ke dalam dan terlihat Iksa dan keluarganya sedang makan malam bersama.


“Iksa,” ucap kedua sahabat itu kompak, mereka langsung menuju ruangan yang penuh akan manusia di dalamnya.


Iksa yang sedang duduk membelakangi mereka pun menoleh dan langsung bangkit dari duduknya menghampiri mereka.


“Kalian,” Ucap Iksa yang sedikit kaget dengan kedatangan dua sahabatnya itu.


“He he he he,” mereka hanya menunjukkan deretan giginya tanpa merasa bahwa mereka sungguh mengganggu acara yang sedang berlangsung di meja makan tersebut.


“Ayo kalian bisa ikut makan bersama kita, mumpung tadi ART tante masak banyak,” pinta Lena pada sahabat Iksa.


“Maaf sudah mengganggu acara kalian, terima kasih kami sudah makan tante.” Jawab Kila terlihat sungkan karena sepertinya acara mereka belum selesai.


“Oh ya sudah kalian ngobrol lah dulu,” ucap Lena agar Iksa menuntun sahabatnya ke ruang tamu.


Iksa pun menuntun mereka keluar dari ruangan tersebut setelah berpamitan dengan keluarganya dan tak lupa juga dengan Asyad.


“Kalian ada apa tiba-tiba datang kemari?” tanya Iksa.


“Emmm tidak ada, hanya ingin bertemu saja denganmu.” Jawab Nela jujur.


“Tapi ada yang mau kita bicarain Sa.” Tambah Nela.


“Oke, ada apa memangnya?”


“Kendra,” ucap Nela.


“Kendra? Kenapa dengan dia?”


“Gini loh Sa, tadi dia menemui kita berdua, dia ingin sekali kita membantunya supaya bisa dekat denganmu, kuharap kau hati-hati dengannya." Jelas Kila.


“Huft aku kira ada apa? Aku sudah tau itu dari jaman kita SMK dia selalu aja cari cara buat deketin aku, aku selalu menghindar karena aku tau dia ingin sekali mendekatiku.” Ujar Iksa yang memang tampak tenang.


“Oh iya kalian tau hari ini Asyad melamarku di depan orang tuaku.” Tambah Iksa yang begitu bahagia.


“Sungguh?” tanya Nela yang terkejut mendengar ucapan Iksa.


“Iya, sungguh tadi saat di ruang makan dia melamarku,” Iksa menampakkan senyumnya lebar, pipinya bersemu merah karena sangat bahagia.


“Aku seneng banget Sa, akhirnya dia melamarmu, aku bakal kasih tau semua sahabatnya, ini adalah berita bahagia dan menggembirakan sepanjang sejarah.” Ucap Nela yang merasakan sangat bahagia atas kebahagiaan sahabatnya.


“Kau kira ini pelajaran sejarah.” Ucap Kila yang melihat Nela terlalu berlebihan menanggapinya.


“Biarin,” Nela menjulurkan lidahnya seakan mengejek sahabatnya.


“Syukurlah Sa, aku ikut bahagia mendengar ini, emmm bagaimana kalau besok kita have fun, ya anggep aja kita lagi merayakan kebahagiaan kita.” Ucap Kila dan langsung di setujui para sahabatnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=