Sebintang Rindu

Sebintang Rindu
Part 27_My Mistake In the Past (Iksa)



Perdebatan antara Luna dan Asyad pun berlanjut hingga Asyad yang merasa kesal dengan sikap keras kepala Luna yang tak bisa menyadari akan kesalahannya, sebenarnya Luna memang bukan lah orang yang suka mendebat apalagi dengan sahabatnya ia sosok yang paling pengalah dari ke semua sahabatnya ia juga terkenal paling bijaksana di antara sahabatnya hanya saja sikap cemburu yang di miliki Luna sekarang membuatnya seolah berubah menjadi sosok yang tak kenal para sahabatnya.


Luna yang semakin sakit hati karena sikap Asyad yang terlalu membela Iksa, Luna pun semakin membenci gadis itu, ia seolah olah kehilangan sahabat yang menyayanginya namun sebenarnya dirinyalah yang membuat jarak antara sahabatnya akibat sikap cemburunya. Luna tak pernah mengungkapkan isi hatinya kepada Asyad ia hanya memendam perasaannya berharap Asyad dapat mengetahui akan perasaannya tanpa harus ia bicara.


Namun hati manusia tidak ada yang tau mungkin sesuatu yang kita harapkan tak semuanya bisa kita dapatkan namun selagi kita masih terus berusaha yakinlah harapan itu akan menjadi nyata. Tak terkecuali dengan sebuah hubungan, hubungan yang kita inginkan adalah hubungan yang saling terikat satu sama lain mencintai dan di cintai, namun tak semua orang mendapatkan itu terkadang kita harus rela berkorban demi orang yang kita cintai bahagia meski terkadang harus kita sendiri yang tersakiti.


Luna pun pergi dari kamar Asyad dengan membawa perasaan kecewa teramat sangat, sesampainya ia di kamar ia menatap langit langit kamarnya tak berasa dengan semua perasaannya yang ia pendam ia menjatuhkan air matanya lagi untuk seorang sahabat yang di anggapnya istimewa di hatinya ia begitu terluka akan sikap Asyad meskipun bukanlah salah Asyad karena memang Asyad yang tak pernah mengetahui isi hatinya. Mata Luna pun akhirnya terpejam saat air matanya kering namun masih terdengar sedikit sesenggukan dari napasnya.


*


“Kil, aku mau pergi dulu yah, mungkin aku bakal pulang malam, kalau Nela tanya bilang aja aku ada urusan,” Ucap Iksa di pagi hari membangunkan Kila yang tengah asyik tertidur di kamarnya yg terletak sebelah kamar Iksa.


“Hmmm, kau mau kemana Sa?” tanyanya yang masih sedikit mengantuk.


“Aku mau ke makam Vedo, hari ini adalah hari dimana dia dulu meninggalkanku. Aku belum mengetahui tepatnya dimana dia di makamkan makanya aku mungkin pulang malam karena sekalian mencari dimana makam Vedo,” jawabnya dengan sedikit menahan tangis yang ingin tumpah mengenang dulu saat ia masih hidup bersama Vedo.


Karena masih setengah sadar Kila hanya menganggukkan kepalanya ia masih merasa pusing akibat minum wine semalam bersama Nela di tempatnya, setelah melihat anggukan Kila, Iksa pun keluar dari kamar Kila dan pergi mencari alamat makam Vedo.


“Aku gak tau harus mencarinya dimana, oh iya aku telfon mama aja barangkali mama punya info tentang Vedo, eh..kalau aku tanya mama pasti nanti mama khawatir sama aku gak jadi ah aku bakal mencarinya sendiri,” ucapnya meletakkan kembali ponsel di genggamannya ke dalam tasnya, sambil berjalan mencari taxi menuju rumah kelahirannya dulu.


Setelah sampai di sebuah rumah yang kini tengah sepi ia pun mencoba untuk memasuki rumah tersebut, sebenarnya ia sungguh takut jikalau Lena mengetahuinya berada di sini. Saat gerbang tersebut di ketuk dilihatnya satpam yang mebukakan pintu untuknya.


“Pak Imran, apa kabar pak?” tanyanya saat mengetahui satpam rumah Vedo masih sama namun terlihat sedikit tua karena wajahnya yang sudah tak Nampak gagah seperti dulu.


“Siapa ya, ada yang bisa saya bantu Nona?” tanyanya sedikit bingung karena gadis di depannya mengenal dirinya.


“Saya Iksa pak yang dua belas tahun lalu sering datang kesini bermain dengan Vedo anaknya tante Lena,” ucapnya mengingatkan memori Pak Imran.


“Iksa?? Iksa siapa ya Non, bapak tidak ingat Non,” jawabnya sambil masih terus berfikir.


“Oh iya sudah pak kalau memang pak Imran tidak ingat, saya memaklumi karena memang dua belas tahun bukanlah waktu yang sebentar.”


“Maaf ya Non Iksa, maklum bapak sudah tua jadi sudah sedikit pikun,” ucap pak Imran sambil memegang kepalanya dengan mengusap usap dengan tangannya sendiri.


“Tidak apa – apa pak, saya kesini mau menanyakan tentang Vedo, saya ingin melihat makamnya, karena saya sama sekali belum pernah tau di mana makamnya semenjak dia meninggal.”


“Oh, itu sebentar ya non saya catatkan alamatnya,” pak Imran pun masuk ke dalam pos jaganya lalu keluar dengan membawa sebuah kertas kecil bertuliskan alamat makam Vedo. “Ini non alamatnya, maaf bapak gak bisa ngantar karena teman bapak tidak masuk kerja jadi bapak jaga sendirian.”


Ia pun lega bisa mendapatkan alamatnya tanpa harus bertemu dengan tante Lena, ia pun membeli bunga di tepi jalan saat menuju alamat makam Vedo.


Iksa pun sampai di alamat yang dia tuju, ia pun kebingungan saat melihat makam yang begitu luas harus mencari satu persatu, ia pun bertanya pada penjaga makam, karena memang penjaga makam mengenal keluarga Lena jadi ia pun langsung menunjukkan makam Vedo.


Iksa berdiri mematung melihat tulisan nama Vedo, ia pun duduk di sebelah makam Vedo meletakkan bunga yang ia bawa di atas makam Vedo.


“Apa kabar Ved, semoga kamu selalu tenang disana, aku yakin saat itu kamu marah denganku karena tak menemanimu di saat terakhir kamu menutup mata, namun sungguh bukan aku tak ingin melihatmu aku sangat ingin melihatmu Ved hanya keadaan dulu yang mambuat aku harus segera meninggalkanmu, Ved andai waktu bisa di putar kembali aku ingin mencegahmu bermain di arena bermain itu, karena sungguh aku lah yang pantas di salahkan hingga membuat kamu harus pergi selamanya meninggalkan kita semua,” tangis Iksa pun pecah saat ia sudah tak kuasa menahannya, hingga ia menangis kelelahan sampai ia tertidur di atas makam Vedo.


*


Asyad yang kini tengah sibuk di hotelnya ia mempercepat semua pekerjaannya agar ia bisa segera menemui Iksa karena sedari tadi perasaannya tak tenang sama sekali.


Selesai berkutat dengan pekerjaannya yang selesai tepat pukul empat sore ia pun segera pergi ke tempat kos Iksa, Namun saat sampai di tempat Iksa ia tak melihat Iksa membukakan pintu kamarnya meski ia sudah berkali – kali pintu kamarnya. Ia pun mencoba mengetuk pintu kamar Kila yang berada di sebelah kamar Iksa namun hasilnya nihil Kila pun tak ada di dalam kamarnya.


Asyad pun mencoba untuk menghubungi Nela, namun Nela menjawab bahwa tak bersama Iksa ia hanya bersama Kila dan teman kampus lainnya.


“Dimana kau Sa, kenapa semua pesanku tak kau balas sama sekali,” ucapnya dengan resah akan keberadaan Iksa.


Tak ada cara lain ia mencoba melacak keberadaan Iksa lewat handphone ternyata saat ia temukan Iksa berada di sebuah tempat dekat di rumahnya terdahulu, dengan cepat Asyad melajukan mobilnya menuju lokasi yang ia temukan di aplikasinya.


Saat ia sampai di daerah yang Iksa kunjungi, Asyad tak menyangka bahwa lokasi yang ia temukan berada di sebuah makam, Asyad pun mencoba ulang pencariannya namun tetap saja titik lokasi handphone Iksa berada di dalam makam tersebut.


Asyad berjalan menuju makam ia terperangah melihat Iksa yang tertidur di atas makam yang tengah berdiri sebuah bunga di depan batu nisan. Ia merasa takut Iksa pingsan di makam tersebut ia pun mendekat dan mencoba membangunkan Iksa namun ketakutannya pun sirna saat dilihatnya Iksa mengerjapkan matanya yang sudah terlihat sembab.


“Sa, kamu gak papa kan?” Tanyanya sembari tangannya memeluk pipi Iksa.


“Asyad,” terkejut dengan kedatangan Asyad di hadapannya, “Kau, kenapa bisa tau aku ada di sini?” Tanyanya yang masih merasa bingung.


“Aku melacak nomormu, ternyata kau ada di sini,” sambil di lihatnya nisan yang bertuliskan nama Vedo. “Jadi ini makamnya, Hai aku Asyad aku orang yang akan selalu jaga Iksa aku harap di sana kamu bisa tenang, Iksa bersamaku aku janji padamu untuk selalu menjadi pelindungnya seperti saat Iksa menjadi pelindungmu dulu,” ucapnya dengan batu nisan Vedo yang tengah berdiri di hadapannya lalu berpaling dan mengecup kening Iksa, “Aku gak akan pernah meninggalkan kamu lagi Sa, aku janji sebagai bukti makam Vedo dan Tuhan lah yang akan menjadi saksi aku berharap kamu gak akan pernah berniat untuk ninggalin aku lagi,” sembari mencium punggung tangan Iksa lalu memeluk erat tubuh Iksa. “Kita pulang ya Sa, udah mau petang,” menarik tangan Iksa untuk bangkit dari duduknya.


Mereka berjalan keluar dari makam, masuk ke dalam mobil dengan Iksa yang diam membisu, Asyad melajukan mobilnya menuju sebuah taman ia ingin mengatakan sesuatu tentang masa lalunya kepada Iksa.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=