Sebintang Rindu

Sebintang Rindu
S2 - Bukan Pengkhianat



Namun setelah bertemu Aileen perasaannya berbeda ia menatap Aileen bak kekasihnya hanya saja sikapnya sangat berbeda, jika dulu Kayla begitu kalem namun sekarang Aileen begitu ceria, sifat keduanya ini membuat David jatuh cinta pada sosok Aileen dan juga Kayla.


Brak....


Suara ponsel Aldo yang tengah dipegang jatuh begitu saja di lantai, di depan pintu kamar rawat inap David yang sudah terbuka, Aldo begitu terkejut melihat pemandangan didepannya.


Aileen terbangun sedikit mengerjapkan matanya samar-samar lampu membuatnya enggan membuka bola mata, namun ia harus memastikan suara apa yang ia dengar. Ketika ia mulai bergerak untuk bangun tiba-tiba saja Aileen begitu terkejut melihat tangan David yang kini bersemayam dipinggang kecilnya, ia pun mencoba melepaskan tangan besar itu, perlahan lalu turun dari bed yang David tiduri sekarang.


"Aldo?" Kata Aileen saat mata mereka berdua bertatapan.


"Eh, Nona Aileen, maaf mengganggu tidurmu aku hanya sedikit terkejut dengan apa yang kulihat." Ucap Aldo dengan perasaan canggung.


"Tidak apa, tadi David sulit tidur jadi aku mencoba membantunya untuk tidur."


"Bos David memang mempunyai penyakit insomnia semenjak Nona Kayla mengalami kecelakaan," Ungkap Aldo menjelaskan masa lalu David.


"Oh iya, sungguh malang sekali, lalu bagaimana keadaan Nona Kayla?" Tanya Aileen yang kini mulai penasaran.


"Entahlah, sampai sekarang pun Nona Kayla belum ada tanda-tanda kembali bahkan semua keluarganya menganggap ia sudah tidak ada lagi, mereka sudah ikhlas jika memang Nona Kayla menjemput takdirnya terlebih dahulu."


"Aku begitu terharu dengan cerita tentangnya, aku tak tau dibalik sikapnya yang murah senyum itu tersimpan banyak sekali kenangan pahitnya." Aileen merasa dirinya ikut terbawa suasana tersebut hingga entah kenapa mendengar itu dirinya merasa sakit.


"Anda tidak apa-apa Nona Aileeen?" Tanya Aldo melihat wajah Aileen tampak sedih.


"Tidak apa-apa, aku ke kamar mandi sebentar," Pamit Aileen agar tak begitu kentara terlihat oleh Aldo.


"Oh iya, baiklah Nona."


Aileen pergi ke kamar mandi yang berada didalam ruangan tersebut, sementara Aldo yang baru datang langsung menghampiri David yang sudah terlelap dalam mimpinya.


"Kau akan sangat beruntung mendapatkan gadis seperti Nona Aileen ia begitu berbeda dengan Nona Kayla andai kau tau Dav, kau tak akan pernah merasakan perasaan yang menyiksa batinmu." Ucap Aldo bermonolog didalam keheningan kamar tersebut.


Suara pintu kamar mandi terbuka terlihat Aileen keluar dari dalam sana, melihat Aldo yang sedang menatap pemandangan diluar kamar tersebut yang hanya dibatasi oleh sebuah kaca.


"Aldo, kau masih disini?" Tanya Aileen.


"Kau sudah selesai Nona?" Aldo tak menjawab pertanyaan Aileen justru berbalik tanya.


"Iya."


"Apa kau tidak lelah, kau sudah sedari tadi menunggunya, pulanglah biar David aku yang jaga!" Pinta Aldo.


"Apa tidak apa-apa, nanti hutangku malah semakin banyak padanya."


"Hutang?" Tanya Aldo bingung apa hubungannya menjaga David dengan sebuah hutang.


"Iya, karena ini salah satu melunasinya," Jawab Aileen lirih.


"Baiklah, jika memang ini keinginan David, jika aku yang menyuruhmu pergi pasti nanti aku yang kena amukan histerisnya, haha," Ucap Aldo dengan sebuah candaan yang terdengar aneh ditelinga Aileen.


"Apa kau tetap tidur disana seranjang dengan David?" Tanya David lagi.


"Tidak, aku akan tidur di bed sebelah."


"Ya sudah, tidurlah, aku akan tidur di sofa situ," Aldo menunjuk sofa yang akan ia gunakan mengistirahatkan tubuhnya.


***


David terbangun dari tidurnya, tak ada seorang pun sampingnya, perasaannya kemarin ia sedang memeluk Aileen namun sekarang ia hanya sendiri dibed tersebut.


Terdengar suara pintu kamar mandi terbuka, David pun melirik kearah tersebut, senyum merekah hadir diwajah tampan nan maskulin kala melihat perempuan didepannya adalah orang yang ia cari.


"Kau sudah bangun?" Tanya Aileen mendekat ke sebelah David.


"Iya, aku kira kau sudah ingkar janji." Balas David mengungkit tentang hutang piutangnya.


"Tenang saja, aku tidak akan mengingkari janjiku karena aku bukan tipe orang pengkhianat." Ucap Aileen sembari tangannya bersedekap di dadanya.


"Kau lapar?" Tanya Aileen.


"Aku terbangun karena lapar, tapi tanganku agak sulit digerakkan." Alibi David.


"Kemarin kau bahkan memeluk pinggangku, kenapa sekarang tidak bisa digerakkan?" Tanya Aileen curiga.


"Ya sudah, aku akan makan menunggu tanganku membaik dulu." Merasa jengkel dengan kelakuan David, Aileen pun berinisiatif menyuapinya makan.


Aileen mengambil makanan yang sudah tersedia di meja makan pasien lalu mendekat duduk disebelah David.


"Kemarilah," Pinta Aileen menyodorkan sendok yang sudah berisi makanan ke mulut David.


David menerima suapan dengan begitu bahagia, betapa beruntungnya seorang David bisa menerima suapan makan dari seorang gadis seperti Aileen, gadis yang kini bersemayam direlung hatinya.


"Sudah Ai, aku sudah kenyang, kau juga belum makan, setelah ini kau harus makan, Aldo akan kemari sebentar lagi membawa makananmu."


"Kenapa? Aku akan mencari sendiri diluar kau tak usah merepotkan Aldo."


"Kau berjanji tak akan meninggalkanku, kau akan menjagaku dan merawatku sampai sembuh, jadi kau harus selalu ada disini."


"Nanti Aldo akan bergantian jaga denganku."


"Kau jangan menghindari hutangmu Ai, kalau kau tetap keluar maka aku akan membuat hutangmu dua kali lipat lebih banyak." Ancam David.


"Kau, selalu saja hutang yang kau ungkit, aku bisa saja membayarnya jadi kita impas, kau butuh berapa akan aku bayar?" Tantang Aileen.


"Aku tidak butuh uang, aku hanya butuh ketepatan janji yang kau berikan," Ucap David masih dengan nada menantang.


"Kau!!" Ucap Aileen lalu berbalik dari hadapan David, belum sempat melangkah maju menghindari David, David pun segera menarik Aileen dalam pelukannya, dilingkarkanya kedua tangannya ke pinggang Aileen hingga Aileen yang terkejut tak bisa berkutik.


"Kau harus janji tak akan meninggalkanku, rawat aku sampai aku sembuh," Bisik David ditelinga Aileen membuat jantung Aileen berdegup cepat, perasaan ini sama ketika ia dan David sedang berciuman sangat menegangkan.


"Aileen!" Panggil David.


"Ha, iya, aku kan sudah bilang aku bukan orang pengkhianat, aku akan menepati janjiku Tuan David yang terhormat," Aileen berucap sembari menormalkan detak jantungnya agar tak terlalu terlihat jika keadaan sedekat itu dengan David ia sangat gugup namun ia berusaha menutupinya dengan baik.


"Baiklah, jadi sekarang kau disini saja, jangan keluar, antarkan aku kekamar mandi aku ingin buang air!" Ucap David yang kini sudah melepaskan tubuh Aileen.


"Ha?! Apa kau tidak bisa sendiri?"


"Kau berjanji akan merawatku, jadi bantu aku berjalan kekamar mandi!" Pintanya.


"Baik baiklah, ayo," Aileen mengambil infus lalu membawanya, tak disangka Aileen David langsung memeluk pinggang mungilnya.


Merasa jengah dengan tingkah David, Aileen membiarkan saja apapun tingkahnya.


"Aku tunggu disini, cepatlah!"


"Aku tak bisa memegang infusnya jika buang air, Ai."


"Lalu kau menyuruhku ikut bersamamu, gila saja kalau aku harus melihatmu buang air, kalau begitu nanti saja buang airnya, tunggu Aldo saja." Ucap Aileen kesal.


"Ai, aku sudah tidak kuat, kau bisa berbalik badan sambil memegang infusnya." Ucap David dan berhasil membuat Aileen mau mengikutinya.


***


Aldo yang kini berjalan dilorong rumah sakit menuju ruangan David dengan barang bawaannya dan sarapan untuk Aileen yang sudah diperintahkan sahabatnya itu.


Aldo membuka pintu kamar David, dan begitu terkejut saat melihat dua sosok manusia yang baru saja keluar dari kamar mandi secara bebarengan.


"Aku melihat adegan ini lagi, oh God!" Aldo menepuk dahinya sendiri hingga terlihat oleh Aileen juga David.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=