Sebintang Rindu

Sebintang Rindu
Part 23_Sebuah Rencana 2



Mobil Asyad melaju menyusuri jalan yang terlihat begitu macet, hening di dalam mobil tak ada satu pun suara yang mendahuluinya atau pun sekedar berbasa basi


“Sa?” panggil Asyad memecah keheningan yang terjadi selama beberapa menit.


“Hmm...”


“Cari makan dulu ya, tadi aku lihat kamu belum sempet makan karena kejadian tadi.”


“Gak usah, aku langsung pulang saja,” jawabnya malas.


“Kalau gitu kamu ikut aku cari makan, aku laper Sa, belum makan ini,” ucapnya tanpa memperdulikan jawaban Iksa mobil Asyad berhenti di depan restoran yang cukup mewah di kota bandung ini.


“Kenapa gak anter aku dulu sih, kan kau nanti juga bisa makan sepuasmu setelah selesai mengantarku, aku gak suka kau seenaknya begini,” ucapnya mendengus kesal.


Tanpa peduli apa yang Iksa katakan Asyad pun langsung turun dari mobil sedannya itu lalu memutari di depan mobil membuka pintu untuk Iksa.


“Ayo Sa?” ajaknya pada Iksa.


“Kalau kau lapar makan saja sendiri, aku tadi udah bilang gak usah kenapa mesti maksa gini sih, makan saja kalau makan aku tungguin di sini.”


“Sa pliss, kenapa sih kamu harus bersikap jutek gini sama aku,” ucapnya memohon.


“Plis Sa, kali ini aja kau terima permintaan aku, hanya makan.” Tambah Asyad.


“Ok, hanya makan,” Tukas Iksa mengakhiri perdebatan.


Mereka berjalan memasuki restoran tersebut, restoran dengan gaya super romantis terlihat kebanyakan beberapa pasangan yang sedang duduk di meja restoran itu. Mereka berdua di sambut oleh dua pelayan cantik yang mengantarkan Asyad dan juga Iksa ke meja paling ujung yang masih kosong terlihat di situ tempatnya terlihat begitu privasi dan satu lagi gaya cahaya yang remang – remang membuat Iksa kala itu terlihat sedikit gugup.


“Kau mau pesan apa Sa?” Tanya Asyad.


“Terserah kau,” jawab Iksa singkat.


“Ok, aku pesenin nasi goreng sama jus alpukat kesukaanmu ya Sa,” ucapnya pada Iksa yang tak di balas ucapan atau pun anggukan sama sekali dari Iksa.


“Mbak, nasi goreng spesialnya 2 jus alpukat 2 sama fruit saladnya 1 ya mbak,” ucapnya pada pelayan restoran yang dengan sigap mencatat pesanan Asyad dan kemudian mengulangnya lagi di depan Asyad.


Pelayan itu pun berlalu dari hadapan Iksa dan juga Asyad, sesaat keheningan menyeruap lagi diantara mereka berdua dan terlihat Iksa sangat begitu betah mendiami Asyad.


“Sa, ngomong dong..” panggil Asyad


“Mau ngomong apa juga, gak ada yang perlu di omongin, aku juga lagi malas bicara.”


“Oke, kalau begitu aku yang bicara, untuk kejadian 2 tahun la--”


“Plis jangan pernah membahas kejadian masa lalu, aku gak mau ada cerita masa lalu lagi.”


“Sa…Plis dengerin aku kali ini aja Sa, aku mau jelasin sesuatu sama kamu, kita, hubungan kita belum berakhir.”


Sontak Iksa menatap tajam ke arah Asyad “Syad, pliss jangan mengungkit masa lalu, hubungan kita udah berakhir dan gak ada lagi hubungan kita selain tidak lebih dari sebatas teman.”


“Sa, aku gak pernah bilang kalau hubungan kita berakhir.”


“Cukup Syad, kau……kau belum puas nerbangin hati aku lalu dengan seenaknya kau menjatuhkannya begitu saja dan sekarang kau kembali dengan alasan menjelaskan masa lalu, denger Syad aku gak butuh penjelasan darimu, karena semuanya sudah jelas,” ucap Iksa dengan nada begitu marah lalu bangkit dari tempat duduknya.


“Lepasin Syad.” Asyad pun dengan sigap memeluk tubuh Iksa dengan paksa.


“Syad, lepasin kau tak malu apa di lihatin banyak orang,” ucap Iksa sambil berusaha lepas dari pelukan Asyad.


“Aku bakal seperti ini kalau kau terus terusan menghindariku, aku mau kamu cuma dengarkan penjelasanku, semua yang kau fikirkan tentangku tentang hubungan kita aku tak pernah sekalipun berusaha menghancurkan hatimu Sa, plis kali ini aja kau mau dengerin aku ya!” ucapnya dengan tetap memeluk tubuh Iksa yang tengah diam tak bergerak, pelan-pelan Asyad melonggarkan pelukannya.


“Aku…,” Asyad melepas pelukannya di lihatnya Iksa menangis ingin berucap.


Asyad menuntun Iksa kembali ke tempat duduknya sembari menggenggam erat jemari Iksa.


“Aku….hanya tak ingin masa itu terulang dan membuat diriku hancur kembali Syad sudah cukup Syad, aku udah berusaha mengobati hatiku sendiri aku berusaha bangkit hanya Kila dan Nela yang selama ini selalu support aku dan kau yang menghancurkanku membuat hidupku kembali kelam pergi begitu saja dan membuangku,” ucapnya dengan derai air mata yang tak dapat ia tahan.


“Sssst…” Asyad memajukan jari telunjuknya di depan bibir Iksa.


“Sa dengerin aku, tak pernah terlintas di pikiranku untuk membuangmu, aku minta maaf karena ucapanku yang dulu menyakitimu, namun kau harus tau Sa aku dulu ingin menjelaskan sesuatu padamu namun kau keburu meninggalkanku akhirnya kau jadi salah paham begini sama aku, aku minta maaf Sa,” ucap Asyad.


“Maksudmu?” Tanya Iksa yang mulai luluh dengan penjelasan Asyad.


“Permisi pesanan nasi goreng special 2 jus alpukat 2 dan satu fruit salad,” Ucap pelayan restoran itu membuyarkan obrolan tersebut, sambil meletakkan pesanan ke meja yang tengah Asyad dan Iksa tempati.


“Terima kasih mbak,” ucap Asyad begitu ramah lalu pelayan itu tersenyum dan berlalu meninggalkan meja Asyad.


“Makan dulu Sa!” seru Asyad.


“Kau belum jawab aku Syad, maksud penjelasanmu apa?” Tanya Iksa lagi.


Asyad membuang napasnya kasar, “Jadi begini Sa, sebenernya maksud aku bilang pisah waktu itu bukan pisah hubungan kita, aku hanya ingin bilang kalau aku mau pisah jarak untuk 2 tahun karena aku harus menyelesaikan tugas yang di beri ayahku, itu maksud aku Sa, karena aku sudah memberitahu hubunganku denganmu pada kedua orang tuaku kalau aku serius denganmu, aku ingin menikah denganmu.”


“Menikah??" ucap Iksa tak percaya.


“Iya Sa, kepergianku ke Jerman tak lain hanya untuk bisa menikah denganmu, karena setelah dari Jerman aku akan melamarmu,” ucap Asyad sontak membuat Iksa terkejut.


“Kau bercanda Syad.”


“Sa, sungguh, yang ku tulis di surat itu aku juga sungguh-sungguh aku serius dengan semua ini.”


“Surat?” Tanya Iksa.


“Iya, surat yang aku berikan padamu aku titipkan ke Nela.”


Iksa langsung membungkam mulutnya dengan kedua tangannya “Maafkan aku Syad, aku membuang suratmu dan tak sempat ku baca, karena saat itu aku bener bener sakit hati denganmu aku sungguh hancur saat itu Syad, aku minta maaf Syad.”


“It’s ok Sa, sekarang kau mau kan maafin aku, aku sungguh tak ada niat untuk bermain hati denganmu Sa, aku tak pernah jatuh cinta sedalam ini saat aku bertemu denganmu sungguh kamulah labuhan terakhirku Sa,” ucapnya sembari menggenggam jemari Iksa.


“BLUSSSH…” wajah Iksa terlihat merah merona dan begitu malu –malu.


“Iya aku maafin kamu, aku juga minta maaf karena sudah salah paham akan dirimu,” sambil menggenggam tangan Asyad lebih erat. Kedua insan itu begitu bahagia.


\=\=\=\=\=\=