
Rayn yang masih mengunyah makanannya itu melirik sekilas tidak peduli dengan sapaan laki-laki yang menggodanya sedari tadi.
"Boleh makan bareng disini?" Tanyanya.
Rayn hanya memandang lagi sekilas lalu melanjutkan makanan yang ia nikmati begitu lahap.
"Aku duduk!" Aldo mendaratkan dirinya duduk di hadapan wanita yang masih menampilkan wajah datar tak bersahabat itu.
"Hey kau!" Kini suara Rayn terdengar memecah keheningan.
"Iya," Aldo begitu terkesiap dengan suara Rayn, ia langsung menatap lekat-lekat wajah imut dan cantik dihadapannya.
"Kalau kau duduk hanya memandangku saja lebih baik kau enyah dari sini, meja disini banyak yang masih kosong kau bisa memakainya untuk makan tidak perlu menungguku selesai makan," maki Rayn kepada Aldo.
"Kau kira aku mengantri, aku memang sengaja ingin duduk berdua satu meja denganmu Nona manis." seringai senyum Aldo membuat Rayn yakin pria didepannya ini seorang playboy cap lalat yang menurutnya bisa dengan mudah merayunya hanya dengan mulut manisnya yang suka tebar pesona tak jelas itu.
"Terserah kau saja, silahkan duduk di meja ini, aku mau pindah saja!" Rayn berdiri beranjak meninggalkan tempat yang tadi ia singgahi.
"Eh tunggu, kenapa kau mau pindah Nona?"
"Aku tidak suka duduk dengan orang asing!" jawabnya.
"Oke baiklah, kalau begitu perkenalkan aku Aldo," Ucap Aldo memperkenalkan dirinya penuh percaya diri dihadapan Rayn.
"Aku tidak peduli dengan namamu, kau tetap saja orang asing!"
"Aku bukan orang asing, aku asli orang Indonesia Nona," Ucapan Aldo seketika membuat Rayn marah dan penuh emosi hingga makanan yang ia bawa begitu saja dia letakkan dengan benturan keras antara piring dan meja tersebut membuat pengunjung lain melihat mereka yang tengah beradu paham.
"Kau tidak mengerti ya dari tadi, aku ini ingin makan sendiri tidak mau di ganggu kenapa kau dari tadi menggangguku, kalau kau makan ya makanlah jangan menggangguku terus, aku capek!" Bentak Rayn begitu terlihat hingga suaranya begitu kentara ditelinga pengunjung restoran di hotel tersebut.
Rayn melangkahkan kakinya keluar dari restoran itu, ia hanya ingin mencari ketenangan tapi kenapa lelaki tadi selalu saja mengganggunya dari ia keluar kamar hingga di restoran Rayn rasanya ingin mengumpat saja.
***
Aileen yang baru saja tersadar dari tidurnya kini mengerjap mendapatkan suasana yang begitu sepi.
"Kemana Rayn?" Ucapnya bermonolog.
Namun hanya sepersekian menit pintu kamarnya terbuka tampak Rayn menggunakan dress warna pastel.
"Kau dari mana rayn?" Tanya Aileen di sela ia menguap.
"Cari makan Ai!" ucapnya masih kentara dengan nada kesalnya.
"Kau kenapa? Wajahmu nampak kesal sekali, apa kau tak mendapatkan apa yang kau cari?" Tanya Aileen dengan raut bingung disekitar wajah cantiknya.
"Tidak Ai, hanya saja aku kesal sekali dengan laki-laki yang sedaru tadi menggangguku, aku sampai tak berselera makan gara-gara dia!" ucapnya bersungut sungut marah.
"Oh kau sedang digoda seorang pria, bagus dong itu berarti pria itu masih waras karena kau memang cantik sekali, lihatlah dandananmu siapa coba pria yang mampu menolak pesona Rayn Wilda." Aileen seketika tertawa melihat wajah sahabatnya yang begitu merona merah dipipi bulatnya.
"Tetao saja aku kesal, kalau saja aku bertemu lagi dengannya aku tidak akan segan segan memberi pukulan padanya jika dia masih saja menggodaku!" Ancam Rayn begitu menggebu.
"Awas kalau loh malah takut, bwahahaha," Tawa Aileen menggelegar seiring Rayn yang menggelitik perutnya.
"Rayn jangan gini, geli!" Aileen berusaha melepas Rayn yang memasang muka sebal padanya dan terus saja menggelitik perut Aileen.
Rayn melepas gelitikkannya saat tiba-tiba ponsel Aileen berbunyi.
"Iya hallo."
"......"
"Oh pasti, saya akan kesana besok."
"......"
Aileen mematikan panggilan telponnya setelah suara dari balik telpon sana mengakhirinya terlebih dahulu.
"Siapa Ai?" Tanya Rayn.
"Rekan kerja kita, katanya besok sebelum kita berangkat mereka mengajak makan pagi dahulu di restoran hotel ini." Ucap Aileen memutar ponselnya keudara dengan satu tangan miliknya.
"Oh jadi mereka menginap disini juga, baguslah kita tidak akan terlalu lama menunggu mereka nanti."
"Ya sudah ayo tidur, aku masih mengantuk Rayn!" Ajak Aileen yang sudah dilanda kantuk lagi.
"Baiklah!" Jawab Rayn mengiyakan ucapan sahabatnya.
Mereka pun merebahkan tubuh mereka di spring bad yang terasa nyaman untuk tubuh mereka beristarahat menghilangkan penat dan letih selama seharian ini.
***
Sudah satu jam Aileen dan Rayn berkutat didalam kamar sibuk dengan pakaian yang mereka kenakan kini akhirnya mereka keluar dengan tampilan yang begitu sempurna bagi mereka pribadi.
"Kita akan bertemu dimana Ai?" tanya Rayn sambil mengecek notifikasi sosial medianya.
"Kau pelupa sekali si Rayn, aku kemarin sudah bilang kita bertemu di restoran hotel ini." Jawab Aileen bersungut kesal.
"Ya udahlah Ai biasa aja, kan aku tidur seharian nyenyak sekali jadi maklum lah kalau aku melupakan kata-katamu." Ucap Rayn santai.
"Kau ya Rayn, pagi-pagi jangan membuatku kesal kenapa sih?!" Aileen merasa semua badannya masih terasa sakit ditambah dia kemarin malam tidak makan jadi terasa lemas sekali tubuhnya.
Rayn hanya menjawab dengan kekehan senyumnya, membuat Aileen malas memalingkan wajahnya.
Aileen berjalan cepat meninggalkan Rayn yang sedari tadi jalannya lambat sekali ya begitulah ia sedang asyik dengan dunia mayanya jadi tak sadar kalau Aileen sudah berlalu meninggalkannya.
Aileen sudah lebih dulu sampai di restoran tersebut, dengan Rayn yang terlihat ngos ngosan karena setelah sadar dari dunia mayanya ia langsung terburu-buru mengikuti langakah Aileen.
"Sepertinya mereka belum datang Rayn, sebentar aku cek pesan dulu!" Aileen mengambil ponsel dari dalam tas berwarna merah muda yang menggantung ditangan sebelah kirinya.
Terdapat pesan dari seseorang yang Aileen ketahui bahwa mereka sudah memesan meja atas nama David, Aileen seketika mengingat nama tersebut tapi dimana namanya sangat familiar sekali ditelinganya, namun ia sungguh lupa akan seseorang bernama David itu pernah bertemu dengannya atau tidak.
"Sebentar aku tanyakan waitress dulu!"
Setelah bertanya kepada waitress tersebut Aileen kembali berhadapan dengan Rayn.
"Kita akan duduk di meja dengan meja bernomor 9, Rayn, ayo!" Ajak Aileen yang sudah lebih dulu melangkah.
Aileen dan Rayn duduk di meja dengan kursi berjumlah empat buah pas untuk acara meeting pagi ini dengan rekan kerjanya suasana tenang di restoran tersebut membuat Aileen nyaman akan presentasinya nanti dihadapan rekan kerjanya.
"Ai aku jadi deg deg an nih," Rayn berucap seolah-olah ia akan pergi berperang.
"Kenapa jadi kau yang deg deg an, yang menjelaskan perihal proyek ini aku harusnya aku yang nervous bukan kamu," sanggah Aileen tidak terima.
"Sama aja Ai, kan kita berdua sama sama ngadepin rekan kerja kita, meskipun semua penjelasan nanti kau yang mengatakan secara detail, aku hanya takut saja tiba-tiba orang iti membatalkan kerjasamanya." Beranggapan demikian Aileen yang mendengar itu tak lagi menghiraukan, ia tau Rayn akan berbicara semakin tidak jelas nantinya hanya mengusir rasa nervous nya saja.
Terlihat dua lelaki tampan dan satu wanita cantik yang membawa beberapa map yang ia pegang.
Lelaki itu menghentikan langkahnya dan memicingkan matanya saat melihat meja pesanannya terdapat wanita cantik yang ingin sekali ia temui ternyata wanita itu telah menunggunya, David melebarkan senyumannya terlihat jelas raut wajahnya nampak berseri.
"Aileen aku datang lagi," Ucapnya dalam hati.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
**Aku bawa bang David sama Neng Aileen uyyyy😉😉😉😉
Thanks buat baca, I lop yu😘**