
Iksa kini keluar dari kafe yang ia kunjungi bersama sahabatnya menyisakan dua orang yang sedang asyik bercanda ria selepas kepergian Iksa.
"Hai Sayang!" sapa Asyad saat Iksa sudah tiba dimobilnya.
"Kau lama menunggu ya?"
"Enggak sayang, ayo pulang!" Asyad membukakan pintu mobilnya dari dalam.
Iksa pun menarik pintu mobilnya dan masuk ke dalam, mereka pun pulang bersama ke rumah Mommy Lena.
*
Kila yang tengah berada dalam mobil Ardi hanya diam tak bicara karena memang ia sudah lelah sekali, sedari tadi sudah bercanda ria dengan Ardi tanpa henti.
"Kil?"
"Ya."
"Boleh aku tanya sesuatu?"
"Tanya saja," jawab Kila hanya memandang Ardi sekilas lalu kembali ke ponsel.
"Kil, kau pernah jatuh cinta tidak?" Mendengar itu Kila langsung menoleh pada Ardi apa maksudnya dia bertanya hal seperti itu.
"Pernah, bahkan sekarang pun aku sedang jatuh cinta," jawab Kila dengan senyum mengembang diwajahnya.
Ardi merasa sangat senang ia mengira Kila jatuh cinta pada dirinya, ia berpikir untuk bisa menyatakan perasaannya pada Kila malam ini.
"Oh iya, kau sedang jatuh cinta juga, aku berpikir kita memiliki perasaan yang sama." Ardi masih dalam mode senang bukan main.
"Iya, benar sangat benar," Kila mengiyakan ucapan Ardi yang membuat senyuman diwajah Ardi seketika mengembang sempurna.
"Aku harap, perasaanmu akan sama sampai saatnya nanti," Kila masih berpikir akan perkataan Ardi, namun ia hanya mengedikkan bahunya tak ingin ambil pusing akan hal itu.
"Pastinya." ucapnya singkat dan tak terasa ia pun sampai di kosnya dan berpamitan pulang pada Ardi, sedang Ardu disana mendengus kesal baru juga mau menyatakan perasaannya eh sudah sampai saja alhasil niatnya hancur sudah, tapi tidak apa ia masih punya kesempatan, pikirnya.
*
Iksa dan Asyad kini sudah semakin siap untuk melakukan acara yang semakin ditunggunya hanya menghitung hari saja mereka akan resmi menjadi sepasang suami istri, mereka kini tinggal di Surabaya setelah seminggu yang lalu ia disini untuk berkunjung keorang tua dan kini mereka tak hanya berkunjung namun akan melepas masa lajangnya pula juga semua yang telah dipersiapkan oleh Samira, Maria dan Lena hampir sempurna.
Tiga hari pun berlalu begitu cepat terlihat Iksa sedang berdiri di sebuah cermin menatap dirinya tak percaya ia terlihat sangat cantik dan berbeda dari Iksa yang polos dan tak pernah memakai make up berlebihan.
"Kau cantik sekali sayang," Ucap Lena memandang putrinya yang terlihat sangat berbeda.
"Iya kau sangat cantik Iksa, mama yakin calon pengantinmu tak akan bisa mengedipkan matanya saat melihatmu," Maria menyauti dengan sedikit menggoda Iksa hingga terlihat wajah Iksa bersemu malu akan ucapan Maria.
"Ma, Mom, Iksa gugup banget." menggenggam erat kedua tangan sang Ibu.
"Tenang sayang, ini memang hal biasa, Mommy dulu juga begitu saat dengan Ayahmu dulu dan Ayahmu sekarang," Ucap Lena.
Sementara ditengah gedung tampak Asyad yang sedang melakukan ijab kabul dengan Ayah Iksa Jeremy, prosesinya benar-benar sakral dan khidmad tak ada perayaan adat disana karena yang membuat acara menginginkan perayaan yang lebih modern.
Setelah ijab kabul selesai giliran Iksa yang akan menemui Asyad yang kini sudah sah menjadi suaminya ia berjalan bersama kedua ibunya yakni Lena dan Maria, Iksa tampak sangat cantik dengan balutan kain kebaya modern yang sangat pas ditubuhnya.
Jantung Iksa berdegup lebih tatkala ia sudah bersanding dengan sang suami, ia menarik tangan Asyad lalu menciumnya, Asyad pun membalas mencium kening Iksa setelah itu tibalah saat foto bersama.
Acara resepsi pun di gelar digedung itu juga tampak Iksa dan Asyad sudah berdiri di panggung pelaminan menyalami beberapa tamu yang hadir.
Kila dan Nela yang datang saat itu merasa heboh sendiri karena mereka banyak bertemu dengan pria pria tampan di pesta tersebut membuat mereka semakin heboh menggila.
"Nel, itu tadi siapa sih duh ganteng banget?" Ucap Kila sambil menepuk-nepuk pipi Nela.
"Nel, itu cowok bule ganteng banget sih, duh si Asyad temennya banyak yang bule yah kalau tau gitu dari dulu aku mau minta Asyad dikenalin." Kila berteriak heboh bahagia dengan pemandangan di sekitar.
"Ehemmm," Suara deheman itu mengalihkan pandangan Kila dan Nela dari kepemilikan wajah tampan orang lain.
"Ahhhh....Bara My honey," Teriak Kila yang langsung menghambur di pelukan Bara.
"Katanya tadi ada yang bilang mau dikenalin dengan pria lain," Sindir Bara pada Kila.
"Ah itu tadi hanya bercanda, habis emang ganteng banget Bar itu si bule." Kila berbicara seakan sedang bersama Nela membuat yang diajak bicara merasa kesal melihat kekasihnya memuji ketampanan pria lain.
"Ya sudah, sana ajakin kenalan sekalian tukeran nomor terus kencan dan nikah sama bule itu." Bara semakin menyindir Kila karena Kila yang sedari tadi tidak pernah peka.
"Eh kok kamu nyuruh aku nikah sama orang lain Bar, kamu gak sayang sama aku?" ucap Kila dengan nada memelas.
"Untuk apa, kalau kau hanya mengagung-agungkan pria lain dihadapanku!" Bara menepis tangan Kila yang mencoba ingin merengkuhnya.
"Bar, kenapa kau jadi serius sekali aku hanya bercanda, lihat kau sudah memerah, ayolah Baraku sayang, jangan merajuk seperti ini!" Kila mulai menarik paksa lengan Bara untuk direngkuhnya, Bara pun tak bisa menolaknya jika sang kekasih sudah dalam mode manja.
"Hei, kalian semua sudah romatisannya ayo melihat pengantinnya!" Ucap Fery sembari menggandeng sang kekasih Venya.
Mereka berjalan menuju panggung pelaminan yang sudah dipijak lama oleh sang pengantin. Mereka sesekali menggoda sahabatnya hingga membuat keduanya merasa gugup kala disinggung saat malam pertama. Setelah itu mereka berfoto bersama sebagai kenangan mereka bersama.
*
Usai acara resepsi kini semua orang meninggalkan gedung tersebut, Asyad dan Iksa yang kini menyandang gelar pengantin baru tampak tangannya saling bergandengan berjalan menuju kamar hotel yang sudah disediakan oleh Samira yakni dihotelnya sendiri di Surabaya.
Asyad membuka pintu kamar hotel sedang Iksa terkagum-kagum dengan penampakan yang disuguhkan di dalam kamar tersebut setelah pintu yang dibuka lebar oleh Asyad.
Mereka masuk ke dalam kamar yang penuh dengan kelopak mawar di atas tempat tidurnya dan lilin berbentuk love di depannya membuat suasana di kamar tersebut terlihat sangat romantis.
"Wah ini romantis sekali!"
"Kamu senang sayang?"
"Sangat, aku sangat menyukainya Asyad."
"Apa kau tak ingin memberikan hadiah untukku?" mendengar itu Iksa langsung terkejut ia mulai gugup jantungnya tiba-tiba berdebar tak seperti biasanya.
"Ha-di-ah?" tanyanya terbata-bata.
"Iya hadiah, hadiah pernikahan kita."
"Em, aku belum sempat membeli hadiah untukmu, tapi tunggu! aku janji besok aku akan membelikanmu hadiah," jawab Iksa dengan polosnya.
"Aku tidak mau hadiah yang kau beli itu!"
"Memang kau tau aku mau membeli apa? aku saja belum memikirkannya," Iksa masih menjawab dengan lugunya.
"Tidak, aku tidak mau hadiah yang kau belikan, yang aku mau....... " Asyad menjeda kata-katanya sebentar.
"Kamu!"
Perlahan Iksa mulai memundurkan tubuhnya saat Asyad mencoba berjalan maju mendekatinya, satu dua tiga......... ๐
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hiya-hiya nya next episode yah๐๐๐
Mohon bersabar๐ค๐ค