Sebintang Rindu

Sebintang Rindu
S2 - Berdua



Setelah selesai meeting mereka semua menuju arah kendaraan tepat mereka memarkirkannya. mereka semua pergi ke tempat dimana proyek tersebut akan dibangun meninggalkan hotel berbintang itu, mereka sudah mencari arsitektur handal untuk membangun project yang sudah mereka rencanakan.


"Emn tunggu, Nona bolehkah aku berbicara denganmu? atau bagaimana kalau kita satu mobil ada hal yang ingin ku bicarakan denganmu," Ucap David dengan suara bariton khasnya.


"Hal apa?" Tanya Aileen.


"Iya hal apa?" Tanya Rayn mengulang pertanyaan Aileen.


"Kau masih mempunyai hutang padaku Nona," Ucap David mengingatkan Aileen.


"Bukankah kemarin itu sudah?" Tanya Aileen sembari mengingat ingat.


"Bukan, itu kau yang menikmatinya sendiri, bahkan kau lupa membayar makanan tersebut?" Ucap David dengan senyum menyeringai.


Aileen membelalakkan matanya ia tertegun dengan ucapan David, sungguh ia tidak ingat sampai makanan yang sudah ia lahap sampai habis belum ia bayar, sungguh Aileen merasa malu sekali.


"Emm, apa kau mau menagihnya?" tanya Aileen.


"Kau benar sekali!" Seru David dengan senyum tipisnya.


"Berapa semuanya, aku akan bayar!" Aileen dengan sigap mengeluarkan dompetnya sambil menunggu nominal yang akan disebutkan oleh lelaki dihadapannya.


"No, aku tidak ingin kau membayarnya dengan uang Nona." Toalak David.


"Lalu?"


"Izinkan aku satu mobil denganmu, sekarang aku ingin berbicara empat mata denganmu Nona Aileen." Ucap David dengan bujukan mautnya membuat Aileen menimang ucapannya.


"Rayn?" Aileen memanggil Rayn dengan sigap David langsjng menyela perkataan Aileen untuk Rayn.


"Rayn akan bersama Aldo dan Fira dimobilku."


"Rayn?" Aileen masih meminta persetujuan sahabatnya.


"Baiklah, kalau memang kalian ada sesuatu yang harus kalian selesaikan, Ai kau berhutang penjelasan padaku!" Tatapan Rayn membuat Aileen kesal untuk apa juga sahabatnya itu menudingnya seperti itu.


"Jaga sahabatku pak David, dia orangnya rada p3lor, jadi siap siap hening aja," Ucap Rayn langsung mendapatkan pelototan mata dari Aileen, bisa bisanya sahabatnya sendiri membongkar aib didepan orang lain.


"What is p3lor?" Ucap David.


Rayn menepuk jidatnya lalu ingin menjelaskan artinya dengan sigap mulutnya sudah dibungkam oleh tangan Aileen.


"Lupakan pak David!"


"Kau seharusnya cepat pergi Rayn, jangan membuatku malu didepan pak David?" bisik Aileen di telinga Rayn membuat Rayn menahan tawanya.


Dengan langkah pelan Rayn berjalan meninggalkan Aileen, mencari mobil rekan kerjanya tadi.


"Duh, sebenernya aku tak ingin bertemu lelaki penggoda itu, sungguh mengesalkan sekali!" Rayn mendumel didalam gerutuannya.


Berjalan menyusuri basemant parkir mobil tersebut.


"Hai Nona," Sapa Aldo saat melihat Rayn kebingungan mencari sesuatu.


"Oh kau disini ternyata," Ucap Rayn datar.


"Kau mencariku?" tanya Aldo menunjuk dirinya sendiri.


"Jelas saja aku mencarimu antar aku ke tempat proyek itu."


"Tunggu Nona, kau sangat ingin sekali satu mobil denganku, kau mulai menyukaiku?" Tanya Aldo dengan wajah tengilnya dan percaya diri tingkat tinggi.


"Hei, siapa juga yang mau satu mobil denganmu, percaya diri sekali, bosmu yang menyuruhku."


"Oh iya, wah dia sangat tau sekali kau tertarik padaku."


"Tutup mulutmu aku sama sekali tidak tertarik dengan lelaki penggoda sepertimu!"


"Woahhh, kau menjulukiku lelaki penggoda menarik Nona, kau semakin manis ketika mengatakan itu."


"Dasar sinting kau!"


"Mana mobil bosmu, aku tidak mau basa basi unfaedah denganmu?" Rayn memberenggut sebal lalu berjalan meninggalkan Aldo.


"Hei Nona memang kau tau mobilnya?" teriak Aldo.


"Hei kau dari tadi mengataiku sinting sekarang kau mengatakan aku lambat, kalau kau tau kekuatanku diranjang kau pasti akan memujiku nona manis," Ucap Aldo menyeringai senyum pada Rayn.


"Dasar otak mesum, cepetan mana mobilnya?" Aldo berjalan beriringan dengan Rayn dimobil.


Masuk kedalam mobil yang sedari tadi sekretaris David menunggunya didalam mobil. Menyalakan mobil Aldo menginjak pedal gas mobil berlalj dari hotel tersebut.


***


Didalam keheningan mobil yang terdapat dua manusia sedang berperang dalam batinnya.


"Ai?" panggil David.


"Iya pak."


"Em maaf, sebenarnya tidak ada yang ingin kubicarakan."


"Lalu?"


"Aku hanya ingin satu mobil denganmu, kau tidak keberatan kan?"


"Santai saja pak, saya tidak keberatan justru saya malah senang karena bisa bebas dari setir mobil." Aileen menyunggingkan senyum manis diwajah orientalnya.


"Oh ya, kau menyetir sendiri meskipun bersama temanmu?" Tanya David terlihat antusias ingin tau.


"Iya pak, Rayn itu suka ceroboh kalau menyetir mobil, jadi dari pada saya mati muda dan belum menikah lebih baik saya sendiri yang menyetir." Aileen menjelaskan panjang tanpa sadar setiap kali berbicara David selalu saja meliriknya apalagi bibirnya yang sedari tadi mengatup ngatup membuat David ingin mendekati benda kenyal itu.


"Oh iya, kau masih single?" Tanya David lagi.


"Iya anda benar sekali, sayang sekali kan kalau saya harus mati muda belum juga nikmatin surga dunia sudah death duluan," Aileen berucap tanpa sadar entah kenapa ia seperti tidak bisa mengerem ucapannya, dia kira bersama Rayn inget atuh Aileen lagi sama siapa.


David tersenyum mendengar ucapan Aileen, apa yang tadi dia bilang dia belum menikmati surga dunia, jadi wanita ini masih orisinil pikir David semakin melebarkan senyumnya yang tanpa sadar juga terlihat oleh Aileen.


"Anda kenapa Pak?"


"Eh, tidak saya tidak apa-apa."


"Syukurlah, saya takut anda juga seperti Rayn."


"Tenang saja saya tidak akan seceroboh temanmu, apalagi sampai membuat kamu celaka sebelum kumiliki." Ucapnya mengalir begitu saja membuat Aileen yang berada disisinya terkejut seketika.


"Maksud anda?"


"Eh tidak, tidak ada maksud," David mengusak rambut belakangnya meski tak gatal merasa melting sekali dengan gadis disampingnya ini entah kenapa mengucapkan disaat yang tidak tepat.


"Oh," Aileen hanya merespon sembari menganggukan kepalanya.


"Ai!"


"Iya pak?"


"Jangan panggil pak dong, saya tidak setua itu, panggil nama saya saja seperti kau pertama kali bertemu denganku."


"Oke, sebenarnya rada aneh saja aku memanggilmu sebutan pak, jadi baiklah Dav ayo kita turun, sepertinya kita sudah sampai."


"Baiklah Ai."


Mereka turun dari mobil dengan Aileen menatap lahan yang masih dipenuhi pedagang itu, teringat saat pertama kali menginjakkan kakinya ditempat tersebut ia tak sampai hati melihatnya dan sekarang ia tersenyum lebar saat ia kini memberikan kabar bahagia kepada pedagang tersebut.


"Apa kau tidak akan membohongiku Dav?" Tanya Aileen memastikan tentang apa yang diberitahukan asistennya tadi.


"Kau masih tak percaya, kau ini orang marketing Ai, harusnya kau paham bahwa apa yang tertera di dokumen tadi asli bukan rekayasa," Terang David masih berusaha meyakinkan Aileen.


"Ehm iya aku percaya sekarang, aku lega sekali pikiran negatifku tentang pedagang ini lenyap sudah, terima kasih sudah mau memberikan mereka tempat singgah kembali." Aileen berucap haru.


Melihat Aileen ia menjadi sangat tertarik dengan jiwa keibaan yang dia miliki, yakin dalam hati David tidak akan menyiakan kesempatan ini.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Bang David oh bang David๐Ÿค—๐Ÿค—


Jangan lupa yah buat ngasih secerca votenya, aku terima kasih buanyak deh buat yang mau vote๐Ÿค—๐Ÿค—๐Ÿค—๐Ÿ˜†


Makasih doang๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†