
Iksa yang tertidur dalam kamarnya kini terbangun karena merasa perutnya seperti diaduk hebat ia langsung turun dari ranjang menuju kamar mandi tepat di wastafel kamar mandinya Iksa memuntahkan semua isi perutnya sampai terasa sangat pahit dikerongkongannya.
Bibi Fale yang kini sedang nengantarkan makan siang untuk Iksa merasa terkejut karena Iksa tak ada di kasurnya, Bibi Fale pun mencari Iksa diseluruh ruangan kamarnya hingga bibi Fale membuka kamar mandi terlihat Iksa sedang mencuci mukanya, wajahnya terlihat sangat pucat.
"Nyonya tidak apa-apa?" tanya Bibi Fale.
"Aku baik bi."
"Saya antar ke ranjang Nyonya," Bibi Fale menuntun Iksa menuju ranjangnya, Bibi Fale merasa Iksa tidak berdaya hingga berjalannya pun seperti tidak kuat sama sekali.
"Makasih ya bi." Iksa menampilkan senyum paksanya agar Bibi Fale tidak khawatir.
"Nyonya sangat pucat sekali, apa perlu saya telponkan Tuan biar nyonya diantar Tuan ke dokter?" Saran bibi Fale.
"Jangan bi, Asyad sedang sibuk dengan pekerjaannya, dia sedang menangani proyek besar aku tidak mau membenani pikirannya."
"Baiklah Nyonya," ucap Bibi Fale lalu mengambil sesuatu yang dibawanya tadi.
"Ini bibi buatkan sup untuk Nyonya biar, tubuh Nyonya segera membaik."
"Terima kasih Bi."
Iksa menelan sup tersebut dengan cepat bagaimana tidak sup itu bisa membangkitkan selera makannya, ia menghabiskan sup buatan bibi Fale yang dibawakannya hampir semangkuk besar. Iksa menyesap supnya dengan sangat senang akhirnya dia bisa makan, karena tadi pagi perutnya seperti tidak ingin diisi apapun selain hanya ingin tidur dalam rasa pusingnya.
Malam hari pun tiba Asyad yang kini sudah berada dalam rumahnya beristirahat bersama sang istri yang sudah tertidur sejak tadi, ia mengusap lembut rambut sang istri merasa lega istrinya seperti sudah terlihat mendingan.
Asyad yang kini sudah tertidur tiba-tiba matanya terbuka lebar bagaimana tidak, sang istri yang tadinya terlihat sangat lelap kini sudah bangun dan berada di atas tubuh Asyad ia mengungkung tubuh Asyad yang kini berada dibawahnya.
"Sayang, kenapa sudah bangun? ini sudah malam." ucap Asyad serasa mengusap lembut punggung Iksa.
"Aku ingin peluk kamu."
"Sayang kau kan baru sembuh tidak bagus kalau tidurmu seperti ini." mendengar itu Iksa langsung mendongak ke arah Asyad.
"Jadi kau tidak mau memelukku ya sudah, aku tidak akan menyentuhmu," Iksa melepaskan diri dari tubuh sang suami lalu ia tidur dengan memunggungi suaminya.
"Kenapa kau jadi marah sayang? bukan begitu maksudku, aku hanya tidak ingin istriku sakit kembali." bujuk Asyad memeluk istrinya dari belakang.
"Sudahlah, aku mau tidur kau menyingkirlah." Iksa mencoba menghempaskan tangan Asyad namun Asyad tidak mau menurutinya.
"Ya sudah tidurlah, tadi bilang kau ingin ku peluk."
"Tidak jadi."
"Biarkan saja jangan menolak."
Asyad memeluk Iksa dan mengecup kepalanya berulang kali memberi kehangatan kepada sang istri, merasakan Asyad mengecupnya tiada henti Iksa yang memunggungi Asyad pun berbalik menghadap sang suami, ia memeluk tubuh suaminya erat hingga Asyad terkekeh dengan tingkah sang istri yang tak seperti biasanya.
Pukul dua lebih lima belas menit Iksa terbangun lagi ia merasa sangat lapar sekali tiba-tiba terngiang sup buatan bibi Fale ia pun menuruni ranjangnya dan mencari sup tadi siapa tahu bibi Fale masih menyisakannya.
Iksa mencari di semua bagian dapur namun Iksa tidak menemukan sup tersebut sama sekali ia bahkan ingin mengeluarkan air matanya karena ia seperti kehilangan sesuatu yang berharga.
Asyad meraba sebelah bantalnya ia membuka matanya saat sang istri tak tidak ada dalam perabaannya, ia pun bergegas mencari Iksa bahkan di kamar mandipun Iksa tidak ada didalamnya, Ia pun keluar dari kamarnya. Saat berada di ruang tengah Asyad mendengar suara sesenggukan istrinya saat dicari dan Asyad menemukannya didapur sang Istri sedang duduk disana sambil menangis.
"Aku mencari sup yang di buatkan bibi Fale tapi supnya sudah tidak ada, bibi tidak menyisakan sama sekali supnya untukku." Ucap Iksa sambil menangis sesenggukan seperti anak kecil yang kehilangan mainannya.
"Untuk apa kau mencari sup itu malam-malam?"
"Untuk kumakan apa lagi? aku sangat lapar sekali dan aku cuma ingin supnya bibi Fale."
"Ya sudah biar kubuatkan ya, kau tunggu sebentar!"
"Memang kau bisa?"
"Kita lihat nanti!"
Asyad pun mengambil Apron yang tergantung di tembok dapur lalu dipakainya ia segera mengiris bawang dan memotong sayurannya ia berkutat didapur tanpa rasa kantuk sama sekali karena melihat istrinya menangis membuatnya merasa tidak tega, disisi lain dia juga sangat heran istrinya tidak pernah lapar saat malam namun kini entah mengapa dia harus memaksa meminta makan apalagi hanya ingin makan sup.
Setelah berkutat didapur dengan cukup tenaga ekstra ia pun membawakan sup tersebut ke meja sang istri.
Iksa yang melihat itu matanya berbinar dia sangat senang sekali dihadapannya sudah tersedia sup yang dia inginkan.
"Hmm, enak sekali, kenapa kau bisa membuatnya sama persis seperti bibi Fale?"
"Karena resep itu sudah dijadikan standart makanan sup dari Mommy, jadi kita semua akan selalu membuat sup dengan rasa dan bahan yang sama, sup ini juga salah satu sup favorit Mommy."
"Pantas rasanya enak sekali."
"Ya sudah habiskan, habis itu kita tidur ini sudah pagi dan nanti aku harus bekerja karena ada meeting lagi bersama rekan kerjaku tadi."
"Maaf aku jadi menyusahkanmu." ucap Iksa yang kini perasaannya terlihat sangat sensitif.
"Tidak kau tidak menyusahkanku sayang, kau istriku jadi sudah seharusnya aku memberi apa yang dibutuhkan istriku." Mendengar itu Iksa yang tadi terlihat murung kini bibir wanita itu tersenyum lebar perkataan suaminya tadi seperti sebuah bunga yang disiram begitu membuatnya bahagia.
"Terima kasih suamiku."
"Sama-sama istriku sayang."
Usai makan mereka kembali kekamarnya, Iksa yang sudah membaringkan tubuhnya di ranjang terlihat sangat kantuk ia langsung memejamkan matanya dan tidur terlelap disamping Asyad.
Melihat istrinya Asyad hanya menggelengkan kepala saja ia merasa heran baru juga terbaring namun dengan cepatnya sudah terlelap bahkan tak memikirkan sang suami yang kini jadi susah tidur karena ulahnya.
*
Keesokan harinya Asyad langsung berangkat kerja pagi-pagi sekali ia melihat Iksa yang masih tertidur hanya menyunggingkan senyumnya. Tak ingin mengganggu tidur sang istri ia akan segera pergi bekerja tanpa membangunkan istrinya.
Mata Iksa terbuka dilihatnya jendela kamar sudah terbuka sinar matahari terang masuk dengan beraninya. Iksa melihat jam dan betapa kagetnya dia bahwa ia bangun sudah pukul sembilan pagi.
"Kenapa Asyad tidak membangunkanku?" Iksa bergumam dalam hatinya lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
like dan votenya yah🤗🤗🤗