
Iksa yang terlihat sudah bangun dari tidurnya pun terlihat heran dengan banyak kerumunan orang di depannya
“Ada apa ini, kenapa kalian melihatku seperti itu?” tanyanya heran.
“Sayang bagaimana keadaan kamu?” tanya Maria mengusap pipi Iksa lembut.
“Iksa baik kok ma.” Wajahnya masih terlihat begitu bingung akan keadaan di depannya.
“Sayang ada yang ingin mama bicarakan sama kamu.”
“Kamu masih ingat tante Lena?”
“Tante Lena, iya Iksa ingat ma kenapa dengannya?”
“Mama ingin memberi tahu tentang suatu rahasia, Mama harap kamu bisa menerimanya ya sayang.”
“Mama mau bicara apa ma, jangan buat Iksa penasaran ma, katakan mama mau bicara apa?”
“Sayang, tante Lena adalah Ibu kandung kamu ia yang telah melahirkanmu selama ini.”
“Iksa.” Iksa pun menoleh ke arah sumber suara tersebut.
“Apa kabar sayang?” ucapnya lembut mendekati Iksa.
“Tan...tan...tante Lena,” ucapnya gugup dan begitu terlihat bingung.
“Maafin mama Iksa, maafin mama atas semua ini, mama menyesal,” mendekati Iksa memegang telapak tangan Iksa berharap Iksa memaafkannya.
Iksa hanya memandang sekitar ia begitu bingung akan semua ini, mendadak kepalanya terasa pusing begitu mendengar semuanya, baginya ini terlalu spontan untuk di ungkapkan ia masih belum bisa mencerna semua kalimat yang terucap dari dua wanita di hadapannya.
“Iksa kenapa kamu sayang?” ucap Maria panik.
“Baiklah kita biarkan dia istirahat, mungkin terlalu banyak orang di sini membuat Iksa tak tenang.” Maria pun menyuruh semua untuk keluar kecuali Asyad yang masih menjaga Iksa.
Mereka semua pun mengerti dan keluar dari ruangan tersebut, hanya ada Asyad dan Iksa yang tengah berada dalam ruang tersebut.
“Asyad.....” panggilnya hingga titik bening di ujung matanya jatuh.
“Tenang Iksa, jangan terlalu dipikirkan.” Ucap Asyad sembari memeluk Iksa yang kini tengah duduk di atas bed kamarnya.
“Mama, tante Lena aku bingung Syad, kenapa mereka menyembunyikan kebohongan sebesar ini dariku.” Air matanya semakin membanjiri pipi mulusnya.
“Iksa lihat aku!” Asyad menarik wajah Iksa mengusap pipinya yang basah, “Kamu dengar aku ya, mereka menyembunyikan ini semua mungkin untuk kebaikan kamu tante Maria juga pasti punya alasan mengapa ia tak mengatakannya kepadamu saat itu.”
“Aku bingung Syad aku sungguh bingung dengan semua ini, mereka semua membohongi aku, aku merasa orang yang aku percaya kini seperti mengkhianatiku.”
“Iksa kamu jangan berpikir seperti itu semua itu mereka sembunyikan karena ada alasannya, setelah kamu sembuh kita akan mendengar penjelasan dari mereka,” Asyad kembali memeluk Iksa di letakkannya dagunya di kepala Iksa memberi Iksa kenyamanan.
“Syad, kamu jangan tinggalkan aku lagi ya, kali ini mungkin aku gak akan sanggup bisa bertahan.”
“Iksa aku tak akan pernah meninggalkanmu aku sangat mencintaimu,” Asyad melepas pelukannya mengambil sesuatu di di dalam saku celananya, ia membuka sebuah kotak merah beludru di hadapan Iksa, “Kemarin saat mengajakmu bertemu aku sudah menyiapkan ini untuk membuat hari spesial untukmu jadi kali ini aku tak akan menunggu lagi, Will you marry me?”
Iksa sontak terkejut sembari menutup mulutnya dengan tangan kanannya, ia terlihat begitu bahagia hingga air matanya kembali meluncur di pipi mulusnya karena begitu bahagia akan Asyad memberinya kejutan secara tiba-tiba.
“Yes...Yes, I will,” Asyad menarik tangan Iksa memasukkan cincin di jari manis Iksa.
“Aku mencintaimu iksa,” masih memegang jemari Iksa, Asyad mencium punggung tangan Iksa tepat di letakkannya cincin tersebut.
Seakan tidak ada masalah apapun dipikiran Iksa karena ia begitu bahagia dengan semua ini, “Aku juga mencintaimu Asyad.” Iksa kembali memeluk Asyad kini pelukannya terasa sangat erat di tubuh Asyad, begitupun dengan Asyad ia juga mengeratkan pelukannya seperti tak ingin terlepas lagi.
\=\=\=\=\=\=\=\=