Sebintang Rindu

Sebintang Rindu
Part 37_Sayang?



Cahaya matahari pagi menyinari masuk kedalam celah jendela kamar Iksa mengusik tidur Iksa yang sangat nyaman, tubuh Iksa menggeliat ia menatap jam di ponsel yang terletak di nakas sebelah bed kamarnya.


“Sungguh,” Matanya melebar melihat ponselnya. “Sudah sesiang ini, Oh ya Tuhan aku terlalu nyenyak dalam mimpiku, kalau setiap hari aku tertidur di sini mungkin aku akan selalu bangun siang karena terlalu nyaman,” gumamnya sembari meletakkan ponselnya kembali di atas nakas dan bergegas menuruni bed kamarnya menuju kamar mandi untuk bersiap- siap berangkat ke kampus, mengingat ia sudah meninggalkan begitu banyak pelajaran jadi hari ini ia akan tetap datang meskipun telat.


Tok tok tok


Terdengar seseorang mengetuk pintu kamar, Iksa yang sudah bersiap-siap akan ke kampus pun menghampiri seseorang di balik pintu tersebut.


“Hay,” sapa Asyad setelah pintu terbuka.


“Hay, kamu gak kerja, kenapa malah kesini?” tanya Iksa


“Kamu lupa ini tempat kerjaku sayang.”


“Tunggu tadi kamu bilang apa?” tanya Iksa kembali.


“Yang mana, ini tempatku kerja?”


“Bukan itu tapi yang terakhir tadi?”


“Sayang?” ucap Asyad dengan menngedikkan alisnya.


“Emm....”


“Kenapa kita kan sepasang kekasih jadi wajar dong aku panggil kamu seperti itu.” Ucap Asyad penuh senyum.


“Emm iya...aku...aku seneng banget,” ucap Iksa dengan malu-malu.


“Kenapa sih pipinya merah banget jadi bikin gemes tau.” Sembari mencubit pipi Iksa.


“Awww Asyad sakit tau,” sembari mengerucutkan bibirnya yang terlihat kesal.


“Kamu sudah siap berangkat kembali lagi ke kampus?”


“Siap.”


“Oke, kita berangkat tuan putri,” sembari menggenggam tangan Iksa menuju parkir hotel.


Asyad pun melajukan mobilnya meninggalkan hotel menuju kampus Iksa, di dalam mobil Iksa begitu sangat bahagia, beberapa kali ia mengulum senyum manisnya itu hingga tak sadar ada sebuah tangan kekar membelai lembut rambutnya.


“Apa tidurmu nyenyak?” tanya Asyad masih setia membelai rambut lurus Iksa.


“Iya Syad nyenyak, nyenyak banget ini aja sampai aku bangun kesiangan loh,” jawabnya sembari menatap Asyad manja.


“Syukurlah nanti pulang dari kampus aku jemput ya sayang,” Mengulang kata sayang yang membuat wajah Iksa kembali merona. Iksa hanya menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.


Asyad menghentikan mobilnya saat sampai di depan kampus Iksa, Iksa pun berpamitan dengan Asyad dan mengucapkan terima kasih padanya namun sebelum Iksa turun tangannya segera di tahan oleh Asyad.


“Tunggu sayang,” tahan Asyad memegang tangan Iksa.


“Salam perpisahan dulu,” mendekat ke wajah Iksa yang hanya berjarak satu kepalan tangan. Iksa begitu gugup dan jantungnya berasa ingin lepas karena saking gugupnya. Tak lagi menunggu Asyad pun melayangkan ciumannya di bibir merah ranum Iksa hanya sekedar bibir menempel namun bisa membuat Iksa seakan melayang terbang menikmati ciuman yang hanya sebentar tadi.


“Selamat belajar ya sayang,” ucap Asyad dengan penuh sayang.


“I..i..iya aku aku turun dulu ya, sampai jumpa nanti, kamu kamu hati-hati ya,” ucap Iksa gugup menahan senyum yang ingin ia tampilkan sedari tadi.


“Iya sayang.” Iksa pun turun dari mobil Asyad ia memegang dadanya yang berasa terus berdetak masih belum berhenti.


Asyad pun melajukan mobilnya dan segera Iksa melambaikan tangannya sebentar lalu masuk menuju halaman kampus.


Sesampainya di kelas Iksa di sambut oleh sahabatnya Kila dengan hebohnya membuat Iksa menahan malu karena sikap sahabatnya yang terlalu lebay menurutnya.


“IKSAAAAAAAAAA,” teriak Kila memenuhi ruangan kelas tersebut.


“Astaga Sa kenapa kau masuk, bukannya kau masih sakit?” tambahnya lagi dengan pertanyaan yang membuat Iksa malas menjawab.


“Haduh Kil suara kamu gak bisa pelan sedikit, lihat tu anak- anak pada liatin kita.”


“Biarin ajalah, tadi pertanyaan aku di jawab dong, bukannya kau baru kemarin keluar dari rumah sakit kenapa sekarang kau malah masuk kuliah?” tanya Kila memburu.


“Kila aku udah sembuh lihat aku udah gak papa,” Iksa merentangkan tubuhnya memperjelas bahwa ia memang sudah sehat.


“Kamu yakin Sa?”


“Bohong.” Jawab Iksa cepat merasa jengah dengan sifat Kila yang sudah begini.


“Tuh kan mending kau istirahat aja sekarang ayo gue anterin ke tempat kosmu.”


“Kilaaaaa, aku udah sehat sekarang kau tak perlu sekhawatir itu, lagian sekarang mungkin aku udah gak tinggal di kos lagi, soalnya Asyad bener-bener gak ngebolehin aku buat tinggal jauh darinya.”


“AHHH sweet banget si Sa, eh tunggu..” tiba-tiba mata Kila membelalak tak percaya melihat benda mungil kecil melingkar di jari manis Iksa.


“Jangan bilang kau sudah....” dengan cepat Iksa menganggukkan kepalanya.


“Iya kemarin saat di rumah sakit Asyad melamar aku,” jawab Iksa dengan menyunggingkan senyum penuh kebahagiaan .


“Oh astaga kenapa akh gak tau moment itu sih Sa, aku seneng banget deh liatnya.”


“Apalagi aku,” ucap Iksa.


“Hmmm yang lagi bahagia banget jadi ngiri deh pengen di lamar juga.”


“La...sama Bara gimana loh?”


“Tau ah gak jelas dianya, udah ah kita duduk aja bentar lagi dosen dateng.” Ucap Kila mengalihkan pembicaraan tentang Bara karena merasa kesal sedari tadi ia menghubunginya tak ada respon, mereka pun kembali ke tempat duduknya tak lama dosen pun datang dan mereka memulai pelajaran dengan seksama.


\=\=\=\=\=\=\=\=