Sebintang Rindu

Sebintang Rindu
Part 25_Reuni Sahabat



Di tempat lain Nela yang begitu sibuk dengan persiapan akan pertemuan dengan semua sahabatnya, dia memilih dan memilah semua pakaian yang akan ia gunakan saat acara makan malam bersama sahabatnya, karena mereka lama tak bertemu Nela ingin mempersiapkan dirinya semenarik mungkin karena ia ingin terlihat lebih cantik dari Luna, yah, sejak dulu Nela selalu iri dengan kecantikan Luna tetap meski begitu Nela sangat menyayangi Luna itu karena ia tau persaingan apapun yang terjadi antara mereka namun tetap sahabat tetaplah sahabat.


Drrrt drrrrt drrrt


Suara ponsel Nela terdengar, satu panggilan dari Kila


“Iya,” sambil memencet mode speaker.


“Kau masih lama Nel, katanya jam tujuh kau kesini,” jawab Kila di sebrang telfon.


“Bentar Kil, nih abis ini on the way, jangan membuatku buru – buru entar kacau dandanan aku,” jawabnya sambil menabur bedak di wajahnya.


“Wadawww, jadi kau masih berdandan, buruan gih aku jenuh nih nungguin kamu.”


“Iya iya ini juga hampir selesai lima belas menit lagi aku sampai.”


Tit ‘ Nela langsung mematikan ponselnya tanpa menunggu jawaban Kila.


Tin tin tin


Suara mobil Nela di depan tempat kos yang Kila tempati.


Kila pun buru – buru keluar setelah melihat mobil Nela terlihat di depan kosnya.


“Kenapa kau keluar sendiri Kil, Iksa mana?” Tanya Nela.


“Kau sih pakai telat menjemputku, Iksa udah sama si Asyad tadi, aku tadi di ajakin bareng juga, tapi aku gak mau masa iya aku mau jadi baygon,” jawab Kila sembari memakai seat belt.


“Shit! terus kau mau aku berangkat sendirian gitu?”


“Maunya sih gitu, tapi aku kan orangnya perasaan banget jadi aku rela aja nungguin kamu sampe jamuran gini,” Sambil tertawa meledek begitu senang melihat Nela cemberut. “Udah ayo jalan entar acaranya keburu selesei baru tau rasa lo.”


“Gak bakalan, mereka pasti menunggu tuan putrinya datang,” dengan senyum devil mengibaskan rambutya yang terurai lalu melajukan mobilnya menuju restoran yang sudah ia rencanankan dengan sahabatnya.


Sesampainya di restoran terlihat semua sudah datang namun tak terlihat Iksa di kerumunan meja tersebut.


“Hay semuanya,” sapa Nela kepada sahabatnya.


“Kau tak berubah ya Nel,” ucap Luna pada Nela.


“Ah iya dong Lun aku mah orangnya gak pernah berubah, emang di kata aku bunglon apa pakai berubah - ubah segala,” jawab Nela kurang suka dengan ucapan Luna.


“Mentang - mentang situ sekarang artis pake bilang aku gak bisa berubah, helowww aku masih sekolah keles, bukan kayak situ yang emang kerjanya suka dandan dan di tuntut selalu sempurna tapi tetep aja lebih cantik gue yang super natural,” gerutu Nela dalam hati sembari tersenyum devil di hadapan Luna.


“Duh ucapanmu ya Nel, dewasa sedikit dong, masak udah masuk duniah perkuliahan masih aja konyol banget, hmmm lama – lama kau susah cari pacar omonganmu selalu kemana- mana,” sindir Luna pada Nela.


“Nih orang kenapa sih, gitu amat denganku perasaan dulu juga gak sinis sinis amat sama aku kenapa mendadak lama gak ketemu jadi nyebelin tingkat dewa gini,” gerutu Nela lagi dalam hati, tanpa menggubris ucapan Luna ia pun mencari seseorang yang tak ia temukan.


“Iksa dimana?” tanyanya.


“Dia ke toilet Nel,” jawab Asyad.


“Oh….hai Fery hai venya gimana study kalian di sana lancar kan?” Tanya Nela.


“Lancar Nel, kami berdua ngambil jurusan yang sama, sama – sama di bidang business dan satu hal lagi kau kapan mengunjungi kita ke Singapura, sekali kali lah kau ke tempat kita, kita liburan bareng kesana, toh Indonesia sama Singapura deket kan,” ucap Venya sambil menuangkan wine di dalam gelasnya dan gelas Fery.


“Iya Nel, kau harus kesana juga kita liburan bareng atau kita double date aja, udah pada punya pacar semua kan?” Tanya Fery yang langsung mendapat tatapan tajam dari Luna, Venya pun juga memukul paha Fery yang ngomongnya asal.


“Hai semua, eh… kamu dan Kila udah dateng, kenapa lama sekali Nel hampir aja tadi Kila ikut aku kalau bukan karna Kila yang emang udah janji sama kamu mungkin aku udah maksa Kila buat ikut aku sama Asyad,” ucap Iksa sehabis keluar dari toilet, ia langsung menempati kursinya di sebelah Asyad.


“Hmmm kalian udah baikan nih ceritanya,” ucap Nela dan Kila bebarengan.


“Seperti yang kalian lihat,” sambil menarik tangan Iksa lalu mencium punggung tangan Iksa.


“Asyad!!!” Iksa yang cukup malu melihat tingkah laku Asyad sontak ia langsung melepas tangannya dari genggaman tangan Asyad.


“Cieee ciee ciee mukanya merah dia Nel,” ledek Kila pada Iksa.


“Apaan sih kalian,” jawabnya menahan senyum yang ingin di keluarkan.


Di sisi lain Luna yang melihat kejadian itu ia merasa kesal “Harusnya aku yang berada di dekat Asyad, bukan cewek asing seperti dia, kenapa juga Nela suka banget sih sama gadis kampungan itu, awas kau ya Nel, padahal kau tau aku yang lebih dulu suka dengan Asyad lalu beraninya kau yang membawa gadis itu dan sekarang makin nunjukin kemesraannya di depanku, aku bener – bener gak trima, Asyad bakal jadi milikku, persetan dengan janji kita aku gak akan peduli, tunggu saja,” gerutu Luna dalam hati sambil menatap tajam ke arah Asyad dan Iksa.


“Oh kalian baru baikan ya, selamat ya Syad akhirnya orang yang lo tunggu – tunggu kembali juga,” ucap Bara.


“Thanks bro, ini juga berkat dukunganmu, ” sambil memberi senyuman pada Bara.


“Oh iya kita pesan makanan ya,” ucap Bara sambil memanggil pelayan restoran.


Mereka pun pesan makanan masing masing.


Setelah pelayan tersebut mencatat semua pesanan mereka ia pun meninggalkan meja makan, sejenak terasa hening, Luna yang sedari tadi matanya tak kunjung lepas dari tatapan Asyad ia pun mencari cela agar bisa dekat dengan Asyad.


“Oh iya Syad, aku nanti pulang bareng kau ya sekalian? kan aku kemaren stay di hotel kamu,” Tanya Luna berharap Asyad memberinya tanda Iya.


“Mmmm gimana ya?” jawabnya bingung sambil menatap ke arah Iksa.


“Gak papa Syad entar aku bisa pulang bareng Nela dan Kila,” jawab Iksa yang mengerti akan sorot mata Asyad yang terlihat meminta jawaban.


“Eh jangan dong Sa, kan Kamu berangkatnya sama aku,” ucapnya tak terima dengan jawaban Iksa.


“Gimana kalau Luna ke hotel bareng aku sama Nela aja?” ucap Kila, Asyad pun langsung melebarkan senyumnya yang terlihat bahagia menganggap teman Iksa begitu peka dan mengerti akan kondisinya.


“Ah iya aku setuju, Kil, mending kau pulang bareng mereka aja Lun,” ucap Asyad yang tak merasa sungkan sama sekali akan Luna.


“Iyap betul banget aku juga setuju kok, Luna sama kita aja atau kita sambil jalan jalan juga kan kita udah lama gak hangout bareng Lun,” sergah Nela antusias menjauhkan Luna dari Asyad.


Luna yang merasa geram akan jawaban Asyad, di tambah dengan sahabat Iksa dan juga si Nela ia semakin mengepalkan jemarinya karena menahan kesal karena rencananya untuk dekat dengan Asyad harus terhalangi oleh 2 orang yang mengusik nya. “Oh iya, it’s ok,” jawabnya sambil tersenyum sinis pada Nela dan Kila. “Ok, memangnya aku denganAsyad gak bisa apa deket, it’s ok aku bakal nungguin Asyad nanti di hotel, kalian gak bisa lagi halangin gue,” ungkapnya dalam hati kesal.


“Kau bareng kita aja gak papa kok Lun, kan kau sama Asyad satu arah iya kan Syad,” ucap Iksa yang masih tak enak dengan Luna.


“Sa!” Asyad menatap tajam Iksa.


“Santai saja Sa, aku bareng si Nela aja,” mencoba bersikap manis.


Terlihat Fery dan Venya yang sibuk dengan keasyikan mereka berdua tanpa menggubris pembicaraan temennya.


“Ve, Fer lo kenapa sih dari tadi cekikikan mulu,” Tanya Bara.


“Hmmm ini loh Bar si Fery tangannya gak bisa diem,” ucap Venya pelan hanya di dengar oleh Bara.


Ya, Fery dan Venya memang sudah lama menjalin hubungan namun sampai saat ini sahabatnya tak mengetahui hanya Bara yang mengetahui itu pun karena Fery yang keceplosan bicara saat ia dan Bara ngobrol. Dan sampai sekarang pun hubungan mereka belum ada yang mengetahui, selain karena perjanjian namun ada masalah khusus yang membuat mereka harus menutupi hubungan mereka.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=