
Ting
Suara ponsel Iksa menampilkan sebuah pesan dari sang kekasih,
‘Nanti pulangnya aku jemput ya sayang’
Namun Iksa hanya membaca saja tanpa membalas pesan dari Asyad. Semenjak kejadian kemarin Iksa merasa kesal dengan Asyad bagaimana tidak tiba-tiba seseorang entah siapa itu mengirim sebuah gambar dimana Asyad sedang membawa seorang perempuan masuk ke kamar hotel dan itu pun Asyad lakukan setelah pulang dari rumahnya.
“Sa kau tak apa kan?” tanya Nela yang sedari tadi melihat raut wajah Iksa yang berbeda setelah melihat ponselnya.
“Tidak Nel, hanya sedikit tak enak badan, sepertinya aku tak akan mengikuti pelajaran selanjutnya, aku mau pulang dulu.”
“Hay, guys,” teriak Kila dari arah belakang sahabatnya.
“Kil, aku sepertinya gak ikut mata kuliah selanjutnya, aku mau pulang dulu,” ucap Iksa pada Kila.
“Eh kok main pulang aja sih Sa, aku juga ikut kalau begitu,” pinta Kila.
“Iksa lagi gak enak badan Kil, kau jangan terlalu mengganggunya,” Sergah Nela.
“Ahhh ini Iksa bukan lagi gak enak badan, dia mungkin lagi kesal saja, aku ikut kalau kau pulang.” Seru Kila memaksa.
“Kesal? Kau kesal dengan siapa Sa?” tanya Nela heran.
“Kenapa sih, kau selalu saja tau Kil, memang aku keliatan ya kalau lagi bohong?” keluh Iksa.
“Hmmm.” Ucap Kila menggeram.
“Huftt, padahal aku mau rebahan di rumah asli memang lagi kesal banget aku tuh,” ungkap Iksa pada kedua sahabatnya.
Iksa pun menceritakan kejadian kemarin kepada sahabatnya, sahabatnya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya karena sikap Iksa yang kini sudah mulai cemburu pada kekasihnya.
“Tak usah di pikir lah Sa, kita hang out yuk!” Ajak Kila.
“Ayo!” Seru Nela semangat.
“Duh kalian ini, kalau ada acara seperti ini semangatnya minta ampun, baiklah aku juga ingin bersenang senang.” Ucap Iksa seketika keadaan sedihnya beberapa menit yang lalu telah hilang dengan sendirinya.
*
Asyad yang sedari tadi terlihat gusar saat bekerja karena menunggu notifikasi balasan dari kekasihnya namun tak kunjung ada balasan sama sekali, berkali-kali ia melihat ponselnya bahkan pesan dari sahabatnya ia abaikan karena ia tak ingin membalas pesan kecuali dari kekasihnya. Asyad mencoba menelpon Iksa namun tak juga di angkat, berkali-kali pula ia menelpon hingga sampai telpon terakhir di reject oleh Iksa hilang sudah kesabarannnya, ia pun melangkah pergi dari kantornya menuju kampus Iksa.
Sesampainya di kampus Iksa ia berdiri di depan kampus Iksa karena ia tau ini waktu berakhirnya kuliah Iksa, lama menunggu hampir satu jam namun tak kunjung ia melihat Iksa. Asyad pun mencoba menghubunginya lagi namun panggilan tersebut malah di matikan oleh Iksa, Asyad benar-benar kesal dibuat Iksa, ada apa dengannya sampai ia tak mau mengangkat telpon dan membalas pesannya. Sampai pada pilihan terakhir ia mencoba menghubungi Nela karena ia yakin Iksa bersama sahabatnya saat ini.
“Hmmm ada apa?” Suara Nela di seberang telpon.
“Nel, kau sekarang bersama Iksa atau tidak?” Tanya Asyad.
“Hmmm,” Ucap Nela.
“Dimana kalian sekarang?” tanya Asyad.
“Seperti biasa.” Jawab Nela singkat karena ia tau kini sedang berhadapan dengan sahabatnya, ia pun juga tak tega melihat Asyad sahabatnya nampak khawatir karena kekasihnya.
Setelah mengetahui jawaban dari Nela, Asyad pun langsung mematikan sambungannya dan langsung menuju ke suatu tempat dimana Iksa dan sahabatnya biasa berkumpul.
Setelah sampai di tempat biasa kekasihnya bersama sahabatnya ia pun masuk ke kafe, Asyad terlihat kesal saat ia masuk ia melihat Iksa sedang berbicara dengan seorang laki-laki. Asyad begitu kesal ternyata hanya karena lelaki itu ia mengabaikan semua pesan dan panggilanya, ia pun menghampiri Iksa.
“Apa-apaan sih Syad, ngapain kamu kesini?” Ucap Iksa yang merasa malu karena sikap Asyad yang berlebihan di hadapan sahabatnya.
“Ayo pulang!” Dengan sigap Asyad memeluk erat pinggang Iksa dan mengajak Iksa berdiri.
“Kau apa-apaan sih Syad, aku sedang makan kenapa kau menganggu sekali,” Kesal Iksa.
“Oh jadi sekarang aku jadi penganggu kamu, Ok, fine, aku memang penganggu dan sekarang kamu pulang,” Ucap Asyad sedikit marah dengan sikap Iksa.
Iksa pun melihat Asyad dengan tatapan takut, karena ia tak pernah melihat Asyad semarah ini padanya, ia pun hanya menurut saja dan meninggalkan kedua sahabatnya dan juga Kendra yang juga berada di tempatnya.
Di dalam mobil Asyad dan Iksa sama-sama tak saling saling mereka hanya terdiam karena sama-sama merasa kesal akan perlakuan masing-masing. Mobil Asyad pun berhenti di depan hotelnya lalu turun dari mobil mengitari mobilnya membuka pintu untuk Iksa namun Iksa tak kunjung ingin turun.
“Mau sampai kapan kamu di dalam sini?” Tanya Asyad masih dengan nada kesalnya.
“Aku akan di sini sampai kamu pergi.” Mendengar itu Asyad langsung menarik tangan Iksa kasar karena kemarahannya sudah di atas ubun-ubun seakan mau pecah saat itu juga.
Asyad menarik tangan menuju kamar hotelnya seketika para karyawan di hotelnya hanya terdiam membisu seakan terkejut apa yang di lakukan atasannya dengan membawa seorang gadis cantik ke dalam kamar hotelnya. Iksa yang melihat itu sangat malu sekali bahkan tangan kirinya terasa sakit akan cengkraman dari tangan Asyad.
“Asyad lepaskan!” pinta Iksa.
“Diamlah!” bentaknya.
Asyad pun membawa Iksa ke dalam kamar pribadi miliknya, ia membuka pintunya lalu memasukkan Iksa terlebih dahulu ke dalam kamarnya lalu ia masuk dengan menutup pintu dan mengunci rapat pintunya.
“Syad, kau mau apa?” ucap Iksa ketakutan.
“Apa yang aku mau, kamu mau tau aku mau apa?” ucap Asyad seketika mendorong tubuh Iksa hingga terhempas ke dinding kokoh kamarnya.
“Aku mau jadi seorang penganggu seperti yang kau katakan, aku tak akan membiarkanmu tenang hari ini biar kau tau arti penganggu yang sebenarnya.” Ucap Asyad dengan menatap tajam mata Iksa seakan mencari sesuatu di mata Iksa.
“Syad lepasin, kenapa kamu jadi begini.” Ucap Iksa mencoba melepaskan diri dari himpitan tubuh Asyad.
Asyad semakin menghimpit tubuh Iksa ia menarik dagu Iksa dan bibirnya pun mendarat sempurna di bibir Iksa, Iksa yang terlihat syok seketika membelalakkan matanya, Asyad dengan sigap melahap bibir Iksa tanpa ampun. Iksa pun berusaha meronta dari himpitan Asyad namun Asyad semakin erat memeluk Iksa. Kini Iksa hanya bisa pasrah dan membiarkan Asyad melakukan apa yang dia mau. Saat ia sadar tak ada penolakan dari Iksa Asyad pun tersadar dan melepaskan ciumannya ia menatap intens wajah Iksa merangkup wajahnya karena sadar apa yang ia perbuat ia pun memeluk Iksa erat dan penuh sayang.
“Maafkan aku,” Ucap Asyad.
“Kau ini kenapa, tiba-tiba marah tak jelas seperti ini?” Tanya Iksa yang juga terlihat bingung.
“Aku cemburu kamu mengabaikan telpon dan pesanku hanya karena laki-laki itu, aku marah melihatmu tertawa bersama laki-laki itu,” Ungkap Asyad.
“Kau ini aneh aku tidak ada apa-apa dengan dia, justru di sini harusnya aku yang marah denganmu.” Ucap Iksa menekan kata marah.
“Aku? sedari tadi aku menelponmu tanpa henti kau malah mengabaikanku semua pesan tak ada yang kau balas.”
“Kau cemburu melihatku dengan Kendra hanya dengan tertawa bersamanya padahal kau tau jelas aku di sana bersama Kila dan Nela, bagaimana kalau kau melihatku mengantar seorang pria masuk ke dalam kamar hotel, hah?” ucap Iksa dengan nada begitu tinggi di hadapan Asyad.
Drrrttt drrrttt
Tiba-tiba terdengar suara dering ponsel Asyad di sakunya, Lalu Asyad mengangkatnya seketika wajah Asyad yang sudah di liputi kemarahan seakan tambah berkali lipat tingkat kemarahannya. Setelah berbicara dengan orang di sebrang telponnya ia pun mematikan panggilannya. Ia pun pergi tanpa pamit pada Iksa Asyad berlalu dari hadapan Iksa dan menutup pintu hotel begitu keras.
Iksa yang melihat itu ia hanya bisa menangis duduk di lantai wajahnya di sembunyikan di atas lututnya, ia baru mengerti sosok Asyad yang begitu kejam padanya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=