Sebintang Rindu

Sebintang Rindu
Part 61_Lupa Waktu



Asyad yang kini sudah keluar dari kamar mandi yang terletak di ruang kerjanya tersebut langsung berhadapan dengan layar laptopnya ia sudah siap memulai pekerjaannya setelah tiga puluh menit ia menuntaskan hasratnya di dalam kamar mandi.


Terdengar suara pintu ruang kerjanya di ketuk ternyata sang sekretaris lah yang datang, ia membawa sebuah map berisikan data untuk menilai kopetensi Iksa dalam magangnya, Asyad pun meraih map tersebut dan memberikan nilai kepada Iksa ia sangat profesional ia tak ingin memberi nilai Iksa hanya karena Iksa calon istrinya namun tak dapat dipungkiri kenyataannya Iksa memang pantas mendapatkan nilai yang cukup bagus menurut Asyad, ia sangat menghargai jerih payah sang kekasih dalam memperoleh sebuah nilai. Asyad menyerahkan kembali map tersebut kepada Silvi lalu ia mengambil ponselnya untuk menghubungi Iksa setelah sekretarisnya keluar dari ruangannya.


Iksa yang kini tengah membantu para chef yang sedang bekerja ia sungguh memiliki rasa ingin tau yang tinggi, masakan yang belum pernah ia tau pun ia pelajari sungguh-sungguh dari chef yang sudah ahli tersebut.


"Ar, kau sungguh ahli ya dalam memasak?!" Ucap Iksa pada ardi selaku chef di dapur tersebut.


"Kalau aku tidak ahli mana mungkin aku bekerja di sini Sa!" Ardi menjawab namun tatapannya kini memandang ke arah lain, Iksa yang menyadari itu langsung saja menegur Ardi.


"Hei kau lihat siapa?" tanya Iksa menyelidik.


"Tidak aku hanya melihat temanmu yang sedang belajar memasak, bukan seperti kau yang malah mengintrogasi pembimbingnya!" Ucap Ardi ketus pada Iksa.


"Oh iya, aku tak yakin!"


"Sudahlah kau ini mengangguku saja belajar sana supaya magangmu cepat selesai!" ucapan Ardi yang sedikit lebih tinggi itu membuat perhatian Kila dan temannya yang sejak tadi sedang memperhatikan pembimbingnya.


"Kenapa kau jadi membentakku!" ucap Iksa tak terima dengan bentakan yang dilayangkan oleh Ardi.


"Sudahlah kau ini jangan menggangguku Iksa, kau belajar sana!" ucap Ardi menurunkan nada bicaranya.


"Okelah, kau ini memang tidak bisa di ajak bicara." Ucap Iksa lalu berlalu dari hadapan Ardi.


Ardi memang menyukai Kila namun jujur saat pertama kali yang ia lihat adalah Iksa ia jatuh cinta pada Iksa saat Iksa pertama kali memasuki dapur, namun sayang ia harus putus asa terlebih dahulu saat setelah penilaian memasaka untuk sang direktur Ardi mengetahui kalau Iksa adalah calon istri dari direkturnya ia pun hanya bisa memendam perasaannya terkadang ia mencoba menghindar darinya menyuruhnya lebih cepat memberikan makanannya kepada direkturnya agar ia bisa bebas tanpa melihat Iksa.


Kini Ardi berusaha dekat dengan sahabat Iksa meskipun Ardi juga belum mengetahui apa Kila sudah memiliki seseorang atau tidak, namun tidak ada salahnya ia mencoba.


Iksa dan Kila yang kini tengah keluar dari hotel karena memang sudah jam bekerja sudah usai mereka berjalan menuju loby hotel menunggu taxi online yang sudah mereka pesan.


"Kalian belum pulang?" tanya Ardi saat keluar dari pintu hotel dan melihat mereka menunggu seseorang.


"Belum kami menunggu taxi," jawab Iksa.


"Oh, apa pak Asyad tidak bisa mengantarmu Sa?"


"Dia lembur, tidak bisa pulang bersamaku."


"Apa sebegitu penting yah, sampai-sampai mengabaikan kekasihnya dan pulang sendiri!" serunya pada Iksa menyindir atasannya.


"Kau tidak tau dia, jadi jangan berbicara yang tidak-tidak dia sudah memaksa mengantarku pulang aku saja yang memang tidak mau karena ingin pergi jalan-jalan dengan Kila!" jawab Iksa tak suka dengan Ardi yang seolah-olah berpikir buruk tentang Asyad.


"Tau nih, lagian apa urusan kamu mau Iksa tak diantar atau tidak itu tidak ada urusannya denganmu!" Balas Kila membela sahabatnya.


"Ok ok, kenapa kalian jadi sensitif begini aku hanya bertanya tidak ada niatan membicarakan tentang hal buruk atasanku, so maaf kalau aku menyinggung perasaanmu." Ucap Ardi dengan disertai kekehan dalam bicaranya.


"Oh iya apa kalian mau pulang bersamaku, em maksudku kuantar kalian berdua pulang?" tanya Ardi.


"Tidak, Terima kasih." ucap mereka bersamaan.


"Kalian kompak sekali! ok baiklah maafkan perkataanku yang tadi ya aku tak bermaksud menyinggung perasaan kalian, Kila tolong dong bujukin Iksa biar tidak cemberut."


Ardi mencoba membujuk kedua anak magang itu hingga akhirnya mereka percaya dan mau menerima tawaran Ardi, mereka pun memasuki mobil Ardi dengan Kila yang berada di depan bersama Ardi dan Iksa di belakang, mereka merencanakan pergi ke suatu tempat untuk melepas penat setelah bekerja.


Mereka menuju sebuah kafe dengan suasana yang menenangkan karena diiringi live music yang sangat indah.


"Kalian mau pesan apa biar aku yang traktir kalian?!" Ucap Ardi.


"Makasih ya Ar, maaf buat yang tadi!" ucap Iksa merasa sungkan.


"Tidak masalah, ayo kalian pesan!"


Mereka memesan makanan sesuai pilihannya , Ardi yang tampak memperhatikan Kila yang sedang asyik bersama ponselnya dan belum menyentuh makanannya pun penasaran karena saat ia berbicara dengan Iksa ia tak menyauti pembicaraan mereka, dengan berani Ardi mencoba bertanya pada Kila.


"Apa sebegitu penting ya berkomunikasi dengan ponsel daripada kami yang ada disini?"


"Hai Kila, Ardi tanya tu!" bentak Iksa karena Kila tak mendengar Ardi bicara.


"Oh iya, ada apa Ar?" jawab Kila


"Sudahlah lanjutkan saja!"


Drrrttt drrrtttt drrrtt


Suara ponsel Iksa berdering ia melihat panggilan dari sang kekasih.


"Sayang kau dimana?" tanya Asyad setelah Iksa menggeser tombol hijau.


"A aku di kafe sama Kila dan Ardi," jawabnya.


"Kenapa pesanku tak kau balas?"


"Maaf, aku tak mendengar notif pesanku."


"Ya sudah sekarang kamu dimana? aku jemput ya sayang!"


"Kau sudah pulang?"


"Iya, pekerjaanku sudah selesai, kau lihat ini sudah malam Iksa."


"Ha iyakah?" Iksa melihat ponselnya menunjukkan pukul sembilan malam.


"Duh aku sampai lupa waktu, maaf, baiklah aku di kafe dekat hotelmu," Iksa memberitahukan detail lengkap tempatnya.


Iksa mengakhiri panggilannya dan berbicara kepada temannya bahwa Asyad akan datang menjemputnya, Kila yang masih asyik dengan ponselnya pun langsung mendongak.


"Loh kok Asyad jemput kamu sih, terus aku pulangnya gimana sa?"


"Kan ada Ardi, Kil," jawab Iksa.


"Tidak apa-apa Kil aku akan antar kamu pulang." ucap Ardi menyauti jawaban Iksa.


Kila yang terlihat cemberut pun kini terlihat santai dan tersenyum kembali baginya ia bisa pulang sampai kosnya saja sudah bersyukur tanpa harus mengeluarkan uang untuk perjalanan.


"Makasih ya Ar, hehehe" Ucap Kila pada Ardi dengan kekehan senyum bahagia.


"Iya sama-sama," Ardi membalas dengan mengulas senyum lebar akhirnya ia bisa dekat dan berbicara dengan Kila meskipun hanya didalam perjalanan pulang.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Vote dan like ya cintahhh🤗