
“Ma,” panggil Jeremy yang tengah bersantai di ruang keluarga bersama istrinya.
“Iya pa, ada apa hmmm?”
“Dulu mama pernah berbicara sama papa tentang anak mama, tentang mama membencinya hanya karena alasan yang menjadikan diri mama seorang istri sekaligus ibu yang sangat menderita.”
“Pa, aku gak mau bahas itu, lagian aku sudah melupakan itu semua, karena kamu sudah membangun sebuah kehidupan baru di hidupku yang dulu begitu kelam.”
“Ma, papa tau namun bagaimanapun itu suami dan anak bungsu mama tiada bukan karena dia, itu semua karena takdir ma.”
“Papa gak tau betapa sakitnya mama jika mama menatap wajahnya hati mama terlalu sakit mengingat Aldo yang meninggalkan mama dalam kecelakaan yang mengenaskan gegara kelahirannya, aku begitu benci saat melihat dia pa, dan untuk kedua kalinya karena dia Vedo ikut meninggalkan mama, papa gak tau perasaan mama papa gak tau dan gak akan pernah tau,” tangis Lena pun pecah seketika.
Jeremy pun memeluk hangat istrinya, “Papa memang tidak tau, namun apa mama juga tidak merasakan betapa Iksa menderita akan ini, mungkin Iksa tak pernah tau karena mama sudah menyembunyikannya namun jauh di lubuk hatinya pasti ada sebuah kesakitan yang dengan erat menyiksa hatinya, mama gak akan pernah tau itu.”
“Coba bayangkan saat nanti mama merindukan sosok seorang anak, aku yakin mama sebenarnya juga merindukan sosok Iksa.”
“Dalam kehidupan tak ada sesuatu yang sempurna, sebenci apapun mama dengan Iksa pasti suatu saat tuhan akan membalikkan hati mama, mungkin tidak sekarang, namun satu hal yang perlu mama ketahui tidak ada anak yang bernasib sial di dunia ini, apa mama tak merasakan jika semakin mama menyebut Iksa dengan anak sial maka kehidupan mama akan semakin sulit dan itu nyata mama rasakan.”
Seketika Lena terdiam, ia mencoba berfikir dalam pelukan Jeremy memang benar saat ia membuang Iksa hal buruk terus terjadi padanya sampai anak kesayangannya harus meninggalkannya untuk selamanya, setelah kejadian itu Lena juga terombang ambing akan perusahaannya bahkan ia pernah di tipu dengan teman dekatnya sendiri. Hingga ia pernah masuk rumah sakit karena rahimnya terkena kista yang sudah cukup besar dan harus melakukan pengangkatan rahim ia begitu syok hingga pingsan berkali-kali di rumah sakit, saat dia membutuhkan sahabatnya dia merasa menyesal telah membiarkan sahabatnya pergi dan saat itu dia sudah tak berdaya dan merasa tak ada yang bisa dia harapkan selain kematian.
Hanya Jeremy yang membantunya saat itu ia pegawai Lena yang tak lain adalah sekretarisnya, ia sangat prihatin dengan kehidupan Lena, hanya Jeremylah yang menemani Lena saat kondisinya terpuruk. Hingga saat kehidupan Lena sudah membaik ia pun memilih Jeremy menjadi suaminya karena ia membutuhkan sosok pelindung dalam hidupnya.
“Pa, seandainya pun mama bertemu dengannya apa dia akan membenci mama?” tanya Lena mendongakkan kepala melihat wajah Jeremy.
“Mama belum mencobanya, Iksa dan mama itu sedarah sebenci apapun nanti Iksa ke mama papa yakin tak ada anak yang tak ingin bertemu dengan ibu kandungnya.”
“Tapi mama sudah membuangnya pa, mama merasa ibu yang jahat.”
“Mama tidak membuangnya sama sekali tidak, mama hanya mempercayakan Iksa kepada sahabat mama yang juga kebetulan belum memilki momongan, itu juga menjadi kehidupan baru baginya mama juga sudah memberikan peluang kepada sahabat mama untuk merasakan bagaimana menjadi seorang ibu, hanya saja kata-kata mama saat itu sedikit kasar terhadap Iksa namun tenanglah papa yakin Iksa juga tidak akan mengingatnya, benar kan ma?”
“Papa, yang benar saja masa Iksa masih ingat dia kan masih bayi mana bisa dia ingat.”
“Bisa aja, mungkin Iksa memiliki indra ke enam,” mengedikkan bahunya dan menggoda Lena.
“Papa gak lucu,” memukul dada Jeremy yang kini ia jadikan penopang.
“Aduh mama sakit,” teriak Jeremy semakin menggoda yang membuat Lena semakin merona di buatnya.
Semenjak saat itu Lena selalu terngiang perkataan suaminya ia berusaha mencari keberadaan Maria namun ia sama sekali tidak bisa menemukannya karena ia tak memiliki satu petunjuk pun tentang dimana Maria tinggal ia hanya tau Maria pergi ke Surabaya terakhir kali ia berbicara dengan Maria.
*
“Ehem,” suara deheman dari luar kamar inap Iksa.
“Eh bu Lena, pak Jeremy, tante hmmm bagaimana keadaan bu Lena?” tanya Asyad menutupi keterkejutannya.
“Baik nak.”jawab Lena serak.
“Syukurlah Bu, dan Asyad terima kasih banyak karena bu Lena Iksa bisa tertolong.”
“Kamu tak perlu merasa aku orang yang paling berjasa, aku sangat berdosa dan banyak salah kepadanya jadi sudah seharusnya aku melakukan tanggung jawabku.” Tegas Lena seketika menatap ke arah Iksa.
Iksa yang terlihat lelap akan tidurnya membuat Lena menggerakkan tubuhnya maju menghampiri anaknya Iksa.
“Sayang maafkan mama.” Ucapnya sembari mengelus lembut pipi Iksa namun karena efek obat yang baru saja di minum Iksa ia sama sekali tak mendengar ucapan Lena.
“Lena, kamu istirahat dulu, nanti kalau Iksa bangun, biar aku panggil kamu kesini lagi.” Maria menenangkan Lena yang terlihat begitu sedih.
“Iya Bu Lena, ibu harusnya menjaga kondisi ibu yang baru saja pulih, biar Asyad dan Tante Maria yang menunggu Iksa.” Tak dapat jawaban dari Lena ia tetap pada tempatnya tak beranjak dari sebelah Iksa.
“Ma, mama istirahat dulu ya,” ucap Jeremy mencoba membujuk Lena.
“Baiklah, aku mau istirahat disini saja aku mau tetap lihat Iksa,” rengeknya.
Sementara Lena beristirahat di bed sebelah sedang Jeremy menunggu di sofa dengan Maria, Asyad keluar menemui kedua sahabat Iksa.
“Syad.” Ucap mereka serentak.
“Kalian pulanglah, dari kemaren kalian belum istirahat.”
Tiba-tiba suara wanita paruh baya berteriak dari belakang Kila dan Nela.
“Asyad......” Teriak Samira heboh.
“Bunda, Bunda apaan sih pakai teriak segala, ini rumah sakit Bun bukan di acara konser,” ketus Asyad.
“Ya ampun sayang, kamu tu ya udah Bunda gak di kasih kabar sekarang Bunda datang malah uring-uringan gini,” sembari mengusap rambut Asyad sehingga nampak berantakan.
“Bunda!!” Lirik Asyad tajam menatap Samira.
“Bunda Samira,” Teriak Nela.
“Oh ya ampun si cantiknya Bunda, kamu apa kabar? Kenapa gak pernah main ke rumah sayang?”
“Hehehe Nela kuliah di sini Bun jadi belum bisa kesana.”
“Oh kamu di sini juga, bareng sama Iksa dan Asyad juga?”
“Iya Bunda, Nela satu universitas dengan Iksa sama ini si Kila.” Nela menarik Kila ke hadapan Samira.
“Kila tante, temannya Nela dan Iksa,” Kila mengulurkan tangannya pada Samira.
“Oh hai, cantik sekali kamu Kila, panggil Bunda aja sama seperti Nela biar akrab.”
“Iya tan, maksudku iya Bunda,” Ucap Kila merasa sedikit aneh tapi ya sudahlah.
“Bagaimana keadaan Iksa, Bunda mau lihat Iksa, Syad.”
“Iksa udah baikan Bun, dia masih istirahat Bun.” Tanpa memperdulikan ucapan Asyad, Samira pun masuk bersama Wiliam ke ruang inap Iksa di ikuti Asyad di belakangnya. Dilihatnya Iksa yang sedang lelap tertidur, ia juga melihat Maria yang sedang melamun dan terkejut melihat Lena yang terlentang di bed.
“Maria,” panggil Samira.
“Oh, Samira,” Maria pun bangkit dari tempatnya memeluk Samira.
“Kamu baik-baik saja kan Mar?”
“Iya, aku baik Mir, kamu apa kabar?”
“Seperti yang kamu lihat,” melebarkan senyumnya yang terlihat gigi putih rata Samira, mereka pun tersenyum dengan tingkah Samira, sedangkan suaminya Wiliam hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=