
Setelah sampai di Hotel, Wiliam dan Asyad langsung menuju kantor Wiliam mereka berdua berbincang tentang pengembangan hotel di Jerman yang di urus Asyad selama 2 tahun itu, ia melihat semua berkas yang Asyad berikan kepada Wiliam.
Wiliam Nampak terkejut karena berkas yang di berikan Asyad data datanya sangat sempurna membuat Wiliam semakin takjub dengan kehebatan anak semata wayangnya.
“Setelah ini apa rencanamu?” tanya Wiliam.
“Satu tujuan Asyad yah, mengejar Iksa kembali,” sambil tersenyum di hadapan Wiliam.
“Ok ayah mengerti, semuanya sudah beres ayah akan membebaskanmu, temuilah dia nak!” pinta Wiliam.
“Baiklah ayah, Asyad hari ini rencananya mau ke rumah Iksa.”
Asyad pun berpamitan dengan Wiliam dan keluar dari ruangan ayahnya. Ia segera melajukan mobilnya dan menuju ke rumah Iksa yang lumayan jauh dari arah hotel ayahnya, sekitar 1 jam Asyad pun sampai di rumah Iksa.
Saat di depan pintu rumah Iksa suasana tampak sepi berkali –kali Asyad mengetuk pintu namun tak ada sahutan sama sekali sampai Asyad pun putus asa ia berfikir apa Iksa pindah rumah.
Sesaat ketika Asyad membuka pintu mobilnya dan hendak pergi datanglah Maria dengan sebuah taksi Asyad pun segera menghampiri Maria.
“Tante Maria,” sapa Asyad.
“Oh kamu nak, apa kabar lama sekali tak pernah kesini?”
“Baik tante, Iya Asyad minta maaf....”
“Eh masuk dulu nak!” Maria langsung membuka pintu rumahnya dan mempersilahkan Asyad duduk di kursi tamunya, ia langsung ke belakang mengambil minum dan menyuguhkan di hadapan Asyad.
“Makasih tante.”
“Kamu kemana saja selama ini nak, tante gak pernah dengar kabar kamu sama sekali?”
“Asyad ke luar negeri tante, Ayah nyuruh Asyad mengurus Hotel di sana, Memangnya Bunda belum cerita sama tante?”
“Bunda?”
“Iya kata Bunda bertemu dengan tante Maria dua bulan lalu.”
“Maksud kamu Bunda kamu? Siapa? Tante belum pernah kenal bahkan bertemu dengan Bundamu,” jawab Maria terlihat Nampak bingung.
“Bunda Samira tante, apa tante tidak mengingatnya?”
“Astaga ternyata kamu anak Samira tante kenal nama kamu Tiar bukan Asyad jadi tante tak mengenali kamu sama sekali nak, maafkan tantemu ini.”
“Iya tidak apa- apa tante.”
“Tante gak nyangka ternyata kamu anak Samira, tante sungguh bahagia melihatmu sekarang, Eh tunggu harusnya kan dulu kamu tahu kalau tante ini teman mama kamu, kenapa kamu gak cerita kalau kamu anaknya?”
“Dulu niat Asyad ingin memberi kejutan sama Bunda dan ayah sambil menujukkan ke mereka bahwa aku sama Iksa menjalin hubungan, namun Ayah malah mengirimku ke Jerman, jadi ya Asyad tak sempat menjelaskan semuanya.” ucap Asyad menjelaskan kepada Maria.
“Oh iya tante ini udah sore Iksa kemana ya tan, kok dari tadi Asyad tak melihatnya?”
“Iksa kuliah di Bandung nak, dia kekeh pengen nerusin kuliahnya di sana, tante sih awalnya tak memberi izin namun kamu tau sendiri lah dia orangnya keras kepala banget apa yang dia inginkan pasti selalu ingin di perjuangkan.”
Asyad pun terdiam mendengar Iksa yang kembali ke Bandung, setelah larut akan diamnya ia pun segera berpamitan kepada Maria dan segera pergi kembali ke hotel ayahnya.
Kemacetan yang melanda seakan membuat Asyad ingin keluar dari mobilnya namun di urungkannya, setelah beberapa menit terjebak kemacetan, mobilnya pun mulai berjalan normal dan tak hanya berjalan normal Asyad mempercepat laju mobilnya karena ia sungguh tak sabar mengatakan sesuatu kepada ayah tercintanya.
Sesampainya di hotel ia dengan sedikit berlari dan tak menghiraukan tamu dan pegawai ayahnya yang terlihat heran dengan seoarang Asyad yang begitu tergesa – gesa. Ia pun masuk ke ruang ayahnya dengan napas yang naik turun.
“Kenapa kau ini Asyad?” tanya Wiliam heran melihat anaknya seperti habis lari maraton.
“Yah, aku ingin ke Bandung sekarang juga, Asyad mau mengurus hotel di sana yah,” jawabnya langsung pada intinya.
“Ayah tidak salah dengar, kemarin kamu sendiri yang kekeh pengen tinggal di sini sampai masalahmu itu selesai, sekarang apa yang terjadi?”
“Terserah kau saja, sekarang pergilah ayah masih banyak berkas yang harus ayah selesaikan,”pinta Wiliam.
Asyad pun segera pulang dan mengemasi barang – barangnya dari kamar, Samira yang melihat Asyad sedang membawa koper Nampak terlihat bingung pasalnya dia baru saja pulang dari Jerman lalu dia mau kemana lagi.
Asyad pun yang mengerti kebingungan Bunds tercintanya ia pun menjelaskan tentang kepergiannya ini, seulas senyum bahagia sungguh nampak dari bibir Samira ia pun memeluk Asyad membiarkannya pergi tak lupa do’a yang ia panjatkan agar anak tercintanya kembali menemui cinta lamanya.
*
Drrrrrrt..drrrrrtt...drrrrttt
Dering suara telfon nela, dengan terkejut Nela mendadak sangat senang pasalnya setelah berpisah dari sahabatnya belum ada sama sekali dari mereka yang menghubunginya sampai saat ini, begitu nama yang muncul dari ponselnya adalah salah satu sahabatnya, Nela langsung menggeser layarnya ke atas tanda kalau ia menjawab telfon di sebrang sana.
“Halo Baraaaaaaaa, kau kemana saja, kenapa baru menghubungiku kamu benar benar jahat apa persahabatan kita udah selesai, sampai kau sudah mulai melupakan aku bahkan panggilan grup ku saja kau abaikan,” celoteh Nela yang tak henti –hentinya membuat si penelpon di sebrang sana seakan diam tanpa kata akan teriakan Nela.
“Sepertinya aku salah menghubungimu Nel,” canda Bara menggoda Nela.
“Kau—”
“Harusnya kau sambut aku dengan manis dong, kenapa malah menyambutku dengan celotehanmu yang seakan kau menyalahkan aku saja,”
“Aku tak menyalahkanmu saja yang lainnya juga, kalian semua jahat.”
“Okelah, maafkan aku dan mereka semua hingga kita semua lupa kalau kau itu sahabat kita,” Bara terkekeh geli saat benar benar bisa menggoda Nela.
“Jadi kau dan mereka semua sengaja udah gak nganggep aku sahabat, okelah persahabatan kita sampai disini,” ucapnya sedikit kesal dengan Bara .
“Heyy heyy tunggu kenapa kau serius sekali menanggapi kekonyolanku, aku hanya bercanda Nela aku sangat merindukanmu juga yang lainnya, aku menghubungimu karena aku ingin bertemu denganmu dan juga yang lainnya, ku dengar Asyad sudah pulang dari Jerman.”
“Oh ya, wah ini benar-benar kabar baik, oke nanti kabari aku ya Bar kita ketemu dimana.” ujar Nela.
“Oke, see you Nel.”
Nela pun mengakhiri panggilannya dengan Bara lalu ia tersenyum senyum sendiri kepada dua sahabatnya yang kini tengah berada di hadapannya dan mendengar pembicaraan Nela dengan Bara.
“Bara?” tanya Iksa.
“Iya, dia bakal ngajak aku dan yang lainnya buat ketemu, aku sangat merindukan mereka semua sudah satu tahun lebih aku tak pernah melihat mereka.”
“Ya namanya juga orang sibuk tak seperti kau yang pengangguran,” sergah Kila.
“Sembarangan kau Kil, aku juga lagi kuliah keles aku juga sibuk kok,” sungut Nela yang tak terima dengan hinaan Kila.
“Biasa aja gak usah sewot gitu Nel, cepet tua l
kau nanti,” Kila cekikikan melihat wajah sinis Nela.
“Udah deh, kalian selalu aja berdebat,” ucap Iksa menengahi perdebatan dua manusia itu.
Mereka yang sedang asyik ngobrol sesekali tertawa riang menunjukkan sudah bahwa mereka kini begitu dekat, mereka juga sudah saling terbuka, tak terkecuali masalah yang mereka hadapi kini sudah bisa saling membantu dan saling memberi support satu sama lain.
“Oh iya Sa, mmmm Asyad udah kembali,” ucap Nela ragu seketika membuat mereka semua jadi hening mengingat Iksa sama sekali tidak ingin membahas masalah itu lagi.
“Kau sih,” sambil menyenggol lengan Nela agar tak lupa akan sahabatnya yang pernah terpuruk akan masalah itu.
“Gak papa, aku tak akan seperti dulu lagi.”
“Rencananya kita bakal ketemu bareng ya bisa di sebut reunian bareng gitu tapi cuman kita berenam, tapi itu tadinya sih, karena aku pengen ngajakin kau dan Kila ketemu sama sahabat aku, lagian kau kan dulu pernah ketemu sama sahabat aku Sa,” pintanya agar Iksa mau mengikuti rencananya.
\=\=\=\=\=
Happy reading ya dear.....