
Lima bulan sudah selama masa kehamilan Iksa, ia merasa tubuhnya semakin berat terkadang ia merasa malas sekali melakukan pekerjaannya sekarang, namun karena sikap dan tanggung jawabnya ia masih profesionalisme. Asyad sudah melarang istrinya bekerja saat mengetahui istrinya hamil namun sang istri tak mengindahkan ucapannya, alasannya karena saat dirumah tidak mempunyai pekerjaan lain jadi ia tidak ingin menjadi pengangguran.
Asyad pun tak akan membiarkan istrinya bekerja terlalu lelah, ia hanya memberikan batas kerjanya hanya sampai siang hari, setelah itu Asyad akan selalu menjemputnya untuk ia antar pulang, terkadang juga ia menyuruh supir pribadinya untuk menjemput Iksa jika Asyad tidak bisa meninggalkan meeting dengan rekan kerjanya.
Iksa hanya menurut saja apa yang dikatakan suaminya yang terpenting baginya ia mempunyai kesibukan, ia hanya tidak ingin bermalas-malasan dirumah dan seakan membuat bentuk tubuhnya semakin besar dan badannya terasa berat untuk menopangnya.
Hari demi haripun berlalu usia kandungannya kini sudah mencapai sembilan bulan yang mana puncaknya penantian menyambut sang buah hati tercintanya.
"Sayang sini deh Bunda mau bicara!" panggil Samira kepada menantunya.
"Iya Bunda ada apa?"
"Besok ada acara pernikahan anak teman Bunda, Bunda tidak bisa pergi karena Ayah sedang keluar kota, Bunda minta Iksa mau ya datang kesana dengan Asyad?!"
"Iksa mau mau saja Bunda." jawabnya, lalu Bunda Samira memeluk erat menantunya sebagai ucapan terima kasih.
"Terima kasih banyak ya sayang."
"Iya sama-sama Bunda."
"Semoga si adek tidak ganggu kencan mama sama papa ya?" ucap Samira mengelus perut buncit Iksa dan berbicara seolah perut Iksa bisa mendengarnya.
Iksa hanya tersenyum saja dengan kelakuan Ibu mertuanya, jujur ia sangat beruntung mendapat mertua seperti beliau yang sangat menyayanginya melebihi anaknya sendiri, dia juga jarang sekali mencampuri urusan rumah tangganya meskipun Asyad dan Iksa memang jarang sekali bertengkar paling paling mereka hanya berdebat masalah pekerjaan saja.
Setelah berbincang dengan Samira, ia kembali ke dalam kamar, merebahkan tubuhnya yang semakin berat saja akhir-akhir ini. Tak terasa matanya tiba-tiba terpejam masuk ke dalam mimpi.
Asyad yang baru saja pulang ia membuka kamarnya terlihat sang istri terlelap dalam tidurnya, ia pun mendekati istrinya mengusap puncak kepalanya lalu menciumi wajahnya yang membuat Iksa terganggu dan bangun dari tidurnya.
"Sayang, kau sudah pulang?" tanya Iksa memastikan suaminya memang sudah pulang.
"Iya sayang, apakah hari ini kau lelah sekali?"
"Tadinya, sekarang sudah tidak, kau mau mandi? Aku akan siapkan air untukmu," Ucap Iksa bangkit dari tidurnya namun Asyad menahannya.
"Tidak usah sayang, aku mandi dengan air di shower saja, kau istirahatlah! bagaimana anak papa apa seharian ini kau mengganggu mama?" Ucap Asyad lalu ia berpaling dari perut Iksa mencium dalam perut buncit Iksa.
"Dia sangat aktif sekali didalam, terkadang juga sangat membuatku terkejut dengan tendangannya aku jadi tidak sabar menyambutnya sayang." Iksa membelai rambut Asyad yang menciumi perutnya sedari tadi membuatnya geli di bagian tersebut.
Setelah puas dengan tingkahnya Asyad pun bangkit dan menuju kamar mandi, sementara Iksa menyiapkan baju tidur untuk sang suami.
*
Keesokan harinya Iksa dan Asyad yang memang sudah siap berangkat ke acara pesta pernikahan teman Samira, mereka segera berjalan menuju mobil dengan di dampingi pak Agung supir pribadinya, mengingat kehamilan Iksa yang sudah menghitung hari ia berjaga-jaga agar bisa siap siaga saat di pesta terjadi sesuatu.
Sesampainya di sebuah hotel yang tampak begitu ramai karena pernikahan tersebut terbilang cukup meriah dan dihadiri beberapa pengusaha, Asyad dan Iksa kini berjalan menuju ballroom mereka langsung disuguhkan pemandangan yang super mengejutkan bagaimana tidak tampak dikursi pelaminan Nela bersanding dengan pasangannya, Iksa dan Asyad begitu terkesiap bagaimana mungkin sahabatnya itu tak memberi tau kabar bahagia ini.
"Kenapa Nela tidak memberi kabar pada kita sayang?" ucap Iksa dengan raut wajah terlihat kecewa.
"Aku juga terkejut sayang, mungkin ada alasan lain, aku juga tak melihat sahabat kita terlihat hadir dia memang sengaja tak mengundang kita."
"Ada apa dengan Nela?"
"Sudahlah sayang, kita nikmati acaranya saja dulu nanti setelah selesai kita minta penjelasan padanya."
"Sayang kamu mau makan apa?"
"Aku makan salad saja Syad."
"Baiklah aku ambilkan dulu kau tunggu sebentar ya!" Asyad berjalan ke tempat yang menyediakan salad.
Melihat Asyad yang sudah pergi, perasaan Iksa yang dihantui rasa penasarannya pun menuju panggung pelaminan dimana terlihat Nela dengan pasangannya sedang duduk dengan arah pandang yang tak terlihat bahagia dimatanya.
"Nela!" Iksa memanggil Nela dibawah tempat panggung yang Nela pijaki.
Mendengar namanya dipanggil Nela pun menoleh ke sumber suara alangkah terkejutnya Nela saat melihat Iksa disana, ia bahkan tak mengundangnya kenapa dia bisa berada disini.
Tanpa peduli dengan suaminya ia pun segera turun dari atas panggungnya dan mendekati Iksa.
"Iksa." Nela memeluk erat sahabatnya ia begitu bahagia melihat sahabatnya ia menangis terseduh dipelukan Iksa seakan Iksalah orang yang telah membuat hatinya sedikit tenang.
"Nela, apa yang kamu lakukan? kenapa kau tak memberikan kabar bahagia ini dengan sahabatmu, kau sudah tak menyayangi kita?" tanya Iksa membuat Nela semakin terisak.
Asyad yang sudah kembali dengan salad yang sudah diminta istrinya pun bingung karena istrinya tak terlihat ada di sekitar tempat yang sudah ia janjikan tadi, Asyad berjalan mencari istrinya mata Asyad langsung tertuju pada panggung pelaminan, Asyad sudah mengira istrinya itu akan menemui Nela tanpa mau menunggu acara selesai.
"Kamu jahat banget Nel, kenapa kamu menyembunyikan ini semua, kamu tau kita semua sahabat kamu, kamu yang dulu sering bantu aku saat aku berada dimasa sulit, kenapa kamu memendamnya sendiri?" Ucap Iksa menangis di samping Nela, karena saat ini mereka berada didalam kamar hotel yang sengaja hanya mereka berdua didalamnya.
"Aku bingung Sa, kejadian ini sangat menyakitkan buat aku juga pasti akan membuat keluargaku malu akan semua ini." Ungkap Nela terisak.
Nela mengakui bahwa saat ini ia tengah berbadan dua dan ayah dari calon jabang bayinya adalah Kendra bahkan Kendra sendiri tak mengetahui bahwa Nela sedang mengandung anaknya karena ia kini tengah melanjutkan studynya keluar negeri entah bagaimana perasaan Kendra saat ia kembali melihat Nela telah menikah dengan orang lain.
Nela tak kuasa dengan rumitnya kehidupannya saat ia mengetahui ia hamil ia begitu bingung dan panik hingga dirinya sempat pingsan dan disaat itulah kehamilannya diketahui oleh keluarganya, lalu tanpa ingin membuat nama keluarganya tercemar Ayahnya sengaja menjodohkannya dengan rekan kerjanya, tanpa memberi tahu bahwa anaknya sedang hamil.
Namun seiring berjalannya hubungan mereka Nela tidak ingin menyimpan rahasianya kepada laki-laki yang akan menjadi suaminya ia tak kuasa membohonginya karena ia begitu baik dengan Nela, ia pikir pasangannya akan melepaskannya dan menghentikan perjodohan ini namun diluar dugaan laki-laki itu malah menerimanya hingga kini mereka bersanding dipelaminan.
"Aku sengaja tak mengundang kalian semua karena aku tak ingin Kendra mendengar ini semua, hiks hiks." Ucap Nela membuat Iksa mengerti beban yang dialami sahabatnya.
Iksa menangis memeluk erat sahabatnya, ia seperti ikut dalam permasalahan sahabatnya ia berjanji akan membantunya jika kelak Nela mengalami kesulitan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Asli nangis aku gaess, karena cerita Nela dan Kendra akan aku buat sequel dari Sebintang Rindu.
Yang penasaran ditunggu yahhhh........
πππππ
Jangan lupa mampir lapak aku juga
ππππππ
"The Storm Seeds Of Love"
Jangan lupa like dan votenyaπ€π€π€π€π€π