
Aileen dan David yang sudah bersiap akan menuju rumah Aileen, Aileen merasakan David seperti menyiapkan kekuatan mentalnya untuk menghadapi amarah Asyad ia tau dengan cara David mengambil napas besar berulang kali.
David melajukan mobilnya menuju tempat dimana ia akan berperang mental dengan Asyad karena ia sungguh akan memperjuangkan kekasihnya, apapun yang menghadang sekarang David sudah tak ingin kehilangan gadisnya itu, ia sudah berjanji dengan Mami Sarah untuk membawa gadisnya dihadapannya sebagai menantu di keluarga Artair.
Sesampainya disebuah rumah yang terlihat begitu mewah, memang tak semewah tempat tinggal David di negaranya namun rumah dihadapannya ini sudah terlihat mewah baginya.
Penjaga rumah yang melihat mobil yang akan mamasuki halaman rumah dan terlihat majikannya terlihat didalam mobil tersebut karena Aileen sempat mengeluarkan kepalanya agar terlihat penjaga rumahnya.
Aileen berjalan keluar dari mobil bersamaan dengan David yang sudah terparkir tepat dihalaman rumah Aileen.
“Aku akan membantumu, Dav.” Ucap Aileen meyakinkan David, ia juga tidak ingin sampai ia dan David terpisah lagi itu membuatnya tak lagi ingin punya semangat hidup.
“Terima kasih, Sayang.” Aileen begitu mengeratkan genggamannya dijemari David.
David melihat itu lalu tersenyum, entah melihat wajah mungil dihadapannya seolah ia sedang tak berhadapan dengan apapun, sekan hilang apa tujuannya kesini.
Pintu rumah terbuka setelah bebrapa kali Aileen memencet bel di sebelah pintunya, terlihat asisten rumah tangganya.
“Nona Aileen!” Ucap wanita paruh baya di hadapan Aileen.
“Duhh, Non darimana saja, Tuan Asyad dan Nyonya cemas menunggu Nona pulang,” Ucapnya membuat Aileen sedikit takut karena ia tau pasti didalam Papanya akan menghujaninya beribu pertanyaan yang membuat Aileen pusing harus menjawab apa.
“Maaf Bi, Aileen akan menemui Papa apa Mama juga ada didalam Bi?” Tanya Aileen karena dengan adanya Mamanya semua kemarahan Papanya pasti akan surut pikirnya.
“Ada Non, Nyonya Iksa dan Tuan sedang sarapan bersama diruang tengah.” Aileen tersenyum disudut bibirnya.
Aileen menarik tangan David yang sedari tadi digenggamnya,
“Pa, Ma,” Panggil Aileen saat kegiatan makan pagi Papa dan Mamanya sudah terselesaikan.
Asyad melihat sosok yang ia khawatirkan sedari semalam merasa geram seketika saat Aileen datang bersama dengan orang yang pernah membuat putrinya menderita.
“Aileen, masuk!” Ucap Asyad enatap tajam ia seakan sudah kehabisan kesabarannya, setelah membuat putri semata wayangnya menderita lalu dengan dengan sengaja membawa putrinya semalaman tanpa kabar atau apapun.
“Tidak Pa, Aileen mau jelasin ke Papa.” Ucap Aileen memohon.
“Aileen.” Bentak Asyad dengan nada begitu tinggi membuat Aileen sedikit ketakutan.
“Sayang, menurutlah dengan Papamu.” Ucap David seolah tak ingin membuat semuanya rumit ia tak ingin kekasihnya termakan oleh amarah orang tuanya sendiri, lebih baik dia yang menerima itu ia tidak akan tega melihat kekasihnya dibentak meskipun itu orang tua Aileen sendiri sungguh hati David tak bisa merasakan itu.
“Tapi, Dav.” Ucap Aileen menyela.
“Aku akan menjelaskan semuanya, kau masuklah, aku tak sanggup kau harus menelan amarah Papamu, menurutlah!” David tak segan mencium kening Aileen dihadapan kedua orang tuanya.
Aileen masuk ke kamarnya dengan masih melihat ke arah David ia tak ingin meninggalkan kekasihnya sendirian menghadapi amarah sang Papa bagaimanapun juga Aileen sendiri yang meminta David untuk tetap tinggal disana semalaman karena masih rindu sekali dengan sosok yang kini tengah berdiri dihadapan Papanya.
Asyad masih berdiri tegak menatap tajam manic David yang kini juga menatap Asyad dengan mata yang begitu sendu, Iksa yang tadi mengantar anak semata wayangnya kekamar lalu mennenangkannya dan kembali lagi ke ruang dimana Asyad dan David seakan ingin berseteru.
“Aku sudah mengingatkanmu untuk menjauhi putriku, mengapa kau masih mendekatinya?!” Ucap Asyad menggema diruangan tersebut.
“Tuan maaf, saya sangat mencintai putri anda, saya tidak bisa melakukan itu.” Ucap David dengan suara tegas namun masih sopan terhadap Ayah dari kekasihnya itu.
“Kau pikir aku percaya denganmu, kau sudah menghancurkan kepercayaanku, aku tidak akan membiarkan putriku jatuh kembali kepada pria seperti dirimu.” Ancam Asyad dengan binar tatapan tajamnya yang tak kunjung surut.
“Tuan, saya mohon maaf, saya akan melakukan apapun untuk anda asal jangan menjauhkan saya dengan Aileen Tuan, saya mohon!” David menjatuhkan dirinya berlutut dihadapan Asyad dengan pandangan memohonnya yang terlihat matanya sudah membasahi wajahnya.
“Pa.” Iksa yang tak tega melihat kekasih putrinya harus berlutut begitu saja dihadapan suaminya, membuatnya tersentuh akan kesungguhan David.
“Kau pikir aku akan memaafkanmu dengan kau berlutut didepanku, ingat Gerard Artiar atau David entah aku tak tau siapa nama aslimu, aku tidak akan pernah memaafkanmu bahkan kau ingin melukai dirimu sendiri, aku tak akan pernah memaafkanmu!” Asyad berlalu dari hadapan David yang masih berlutut disana.
“Tuan saya mohon, maafkan saya!” Teriak David yang sudah tak ditanggapi sama sekali oleh Asyad.
“Tante maafkan saya, saya ingin menebus semua kesalahan saya terhadap Aileen, saya mohon Tante maafkan saya.” Ucap David dengan linangan air mata karena ia sudah tak sanggup jika harus berpisah lagi dengan Aileen ia sudah menunggu satu tahun untuk ini untuk mendapatkan Aileennya kembali.
“Sudah nak, bangunlah!” Ucap Iksa lembut ia mengerti dengan perasaan David saat ini, sakit memang jika harus mendapati perkataan akan perpisahan ia dengan seseorang yang dicintai.
“Nak, percayalah jika memang kalian berjodoh pasti semua akan kembali seperti apa yang kau harapkan.” Ucap Iksa membuat David melihatnya dengan tatapan tak mengerti.
“Tante, apa itu artinya Tante tak bisa membantuku untuk meredakan amarah Tuan Asyad, apa ini artinya aku dan Aileen sudah tak punya harapan lagi.” Ucap David begitu lesu dengan penuturan wanita paruh baya dihadapannya.
“Nak, suami Tante orangnya sangat memegang sekali kepercayaan karena sekali seseorang melakukan kesalahan itu ia akan sulit untuk menerima itu, jadi kau harus berusaha dengan kemampuanmu, tunjukkan jika kau benar-benar mencintai putri Tante, Tante yakin suami Tante akan luluh dengan sendirinya seiring berjalannya waktu.” Mendengar itu David seperti tak punya tenaga lagi keinginannya dengan Aileen untuk bersama harus berjarak lagi karena perjuangannya akan begitu berat karena ini tak akan mudah.
“Baiklah Tante, saya pamit, terima kasih, namun saya tidak akan berhenti untuk mendapatkan Aileen, saya akan berusaha lebih keras lagi.” David pun pergi dari hadapan Iksa menyisakan Iksa yang melihat tubuh David menghilang dari pintu keluar tersenyum.
Iksa tersenyum melihat itu, ia yakin David adalah jodoh dari anaknya, ia yakin bahwa lelaki yang baru saja pergi adalah orang yang pantang menyerah yang akan membuat hidup putrinya berwarna kelak.
\=\=\=\=\=\=
Maaf yah, yg udah nunggu lama, akunya update satu bab, ada kesalahan teknis, file yg baru ke hapus ku kira file lama jadi mon maaf yahhh🙏🙏🙏🙏
jadi harus ngulang lagi dari awal😭😭😭😭
barangkali ada salah tulis maap maap bgt, yah CMIIW cinta😁😁