
Asyad yang kini sampai di hotel milik keluarga Wiliam segera menuju kamar hotel yang dikhususkan untuk keluaga Wiliam, tiba – tiba ponselnya bergetar ia segera menatap layar ponselnya dan mengangkat panggilan tersebut.
“Halo, ada apa?” tanyanya sedikit kesal dengan panggilan telfon di seberang sana.
“Wih, jutek amat bro santai jangan uring – uringan kayak gitu,” goda Bara di seberang telfon.
Bara memang terkenal sahabat Asyad yang paling dekat, bahkan mereka seperti kakak adik saat bersama karena ketampanannya yang tak jauh berbeda yang bisa menghipnotis banyak wanita yang memperhatikannya selain itu tak kalah menariknya mereka juga mempunyai tubuh yang maskulin, wooo.
“Tak usah basa basi, kau ini kalau tak mengganggu ya mengusik hidupku mulu, katakan ada apa?” sungutnya mulai kesal.
“Mau ngajak reuni bro, kau tidak rindu denganku atau dengan yang lainnya juga?”
“Memang semuanya tidak sibuk dengan urusan mereka?” tanya Asyad penasaran karena dia sendiri juga merindukan sahabatnya.
“Kita malah nungguin kau pulang bro, kita semua udah sepakat bakal ketemu di bandung,” jawab Bara
“Bandung? Kenapa kau harus milih tempat di Bandung Bar?”
“Ya kan Nela sahabat bungsu kita di Bandung dia maksa kita semua buat reuni di Bandung.”
“Ok terserah kalian saja nanti share lokasi aja,” ucap Asyad mengakhiri panggilannya.
Asyad pun merebahkan tubuhnya di atas ranjang kamar hotel miliknya, ia begitu lelah dengan semuanya berharap setelah dari Jerman ia bisa bertemu dengan Iksa dan melepas rindunya namun yang terjadi Iksa berada di Bandung dan entah kemana dia saat ini.
Dalam lamunannya ia berfikir apakah Iksa mau untuk menerimanya lagi padahal ia berfikir dengan surat yang saat itu ia tulis bisa merubah kesalah pahamannya namun entah malah ia tak pernah memberi kabar bahkan nomornya pun tak pernah aktif semenjak kejadian itu ia sungguh frustasi dngan semua ini, kepergian Iksa ke bandung juga menimbulkan teka teki bagi Asyad, entah kenapa Iksa harus ke bandung lagi apakah ia ingin kembali ke masa lalunya, Asyad hanya bisa menerka nerkanya.
*
Keesokan harinya tepat pukul 7 malam Iksa, Nela dan Kila pergi ke sebuah restoran dimana mereka akan bertemu dengan sahabat Nela,
“Sa kau baik-baik saja kan?” tanya Kila yang mengetahui ketidak nyamanan sahabatnya.
“Eh gak papa kok Kil, emang aku terlihat kenapa – napa ya?” jawab Iksa pura – pura terlihat tidak mengerti.
“Kalo emang kau ragu dan ingin kita balik, kita gak akan kesana Sa, daripada kau tak nyaman dengan semua ini,” sahut Nela berbasa - basi.
“Kalian kenapa sih? Aku gak kenapa –napa kok nih liat,” sambil menunjukkan senyumnya selebar mungkin yang sengaja di buat buat agar tidak menimbulkan ketidak tenangan sahabat nya karena suasana hatinya.
“Oke, kita udah sampai,” Nela pun memberhentikan mobilnya di depan sebuah restoran yang di pilihnya.
Mereka pun masuk ke dalam restoran tersebut dan menuju meja yang sudah di pesan Nela sebelumnya. Mereka datang lebih dulu setengah jam sebelum janji temunya dengan sahabatnya, Nela yang sudah mempersiapkan semua ini karena yang nanti datang hanya Bara dan Asyad, ya, karena hanya merekalah yang bisa hadir namun Iksa tak tau kalau hanya mereka yang datang.
Terlihat dari seberang meja seorang laki laki sedang menuju ke arah meja makan mereka, kedatangannya pun langsung membuat Nela dan kila begitu kaget.
“Loh kalian di sini juga?” tanya sosok laki laki itu.
“Eh kau Ken, iya ini kita lagi mau makan,” jawab Nela.
“Kok belum pesan dan meja kalian masih kosong?” tanya Kendra heran.
“Iya kita lagi nunggu temen kita Ken,” jawab Nela terlihat panik karena rencananya untuk mendekatkan Iksa dengan Asyad takut di rusak Kendra, karena Nela tau kalau Kendra juga menyukai Iksa meskipun tak pernah tanya dengan Kendra ia tau karena setiap kali mereka bicara mata Kendra selalu menatap Iksa.
Nela pun berfikir keras supaya Kendra tidak bergabung makan bersamanya, namun sudah terlihat Asyad dan Bara yang sudah di pintu restoran. Nela yang semakin panik karena kebingungannya dapat terlihat oleh Kila, Kila pun tak kalah panik karena ia mengerti akan rencana Nela yang sudah mereka persiapkan sebelumnya.
~Flashback On~
“Terus.”
“Aku punya rencana bagus nih buat hubungan si Iksa dan Asyad balik lagi.”
“Kau yakin, Emang kau mau merencanakan apa untuk hubungan mereka?” Tanya Kila penasaran.
“Rencanaku reuni bakal aku undur, aku minta bantuan Bara buat dateng ke acara cuman sama Asyad doang, nanti kita dateng kesana bertiga dan Bara pun setuju sama ideku,” ucap Nela membisikkan rencananya di daun telinga Kila.
“Oke gue setuju kali ini sama otak cerdas kau,” puji Kila sambil memberikan jempol ke Nela.
“Nela gitu loh," sambil mendekap kedua tangan di depan dadanya.
“Sombong amat, baru juga di bilang cerdas,” sungut Kila.
“Biarin,wekkk,” ejek Nela sambil memeletkan lidahnya di depan Kila.
~Flashback Off~
Bara dan Asyad yang sudah datang dari arah pintu masuk pun segera mencari meja atas nama pesanan Nela, pelayan restoran pun menunjukkan mejanya.
Terlihat dari jauh mereka memandang sahabatnya Nela yang telah sampai di meja lebih dulu.
Nela yang kini sudah terhimpit karena terlihat kedatangan Bara segera ia mengkode Kila untuk membawa Kendra pergi. Kila yang mengerti itu ia menjalankan taktiknya.
“Oh ya Ken aku ada perlu denganmu, bentar ya gaess aku tinggal dulu, ayo Ken,”Kila pun menarik lengan Kendra dan membawanya keluar dari meja itu.
“Eh..lo..lo,” Kendra terkejut karena tangannya sudah di tarik oleh Kila dengan kencang sehingga dia tak mampu untuk tetap bertahan di tempat itu.
Setelah Kila berhasil mengamankan Kendra, terlihat Bara dan Asyad sudah berada di meja yang Nela dan Iksa tempati.
Seketika Iksa sungguh terkejut namun ia hanya memasang mimik muka yang biasa saja mengetahui itu acara reuni sahabat Nela.
Asyad yang tak kalah kaget pun juga nampak diam bagaimana tidak saat ia berusaha mencari Iksa kini Iksa hadir di depannya tanpa perlu mencarinya. Nampak gurat senyum terlukis di wajah Asyad kemudian, di pandangnya Iksa begitu intens namun Iksa masih memandang kearah lain.
“Hay Bar, hay Syad,” sapa Nela lalu menyuruh mereka duduk dan sengaja menyeting tempat duduk agar Asyad duduk di samping Iksa.
Menyadari hal itu Asyad pun langsung sigap duduk bersanding dengan Iksa, Iksa yang menyadari itu ia cukup terkejut jantungnya yang tadinya tenang kini berdegup tak karuan saat menyadari Asyad duduk di sebelahnya.
“Apa kabar Sa?” sapa Asyad sambil menengok ke arah Iksa dan tak menggubris sapaan Nela.
“Baik, seperti yang kamu lihat,” jawabnya sekilas menghadap Asyad lalu berpaling menghadap Nela.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Yuhuuuu perang hati bakal di mulai gaessss
tap ❤ nya ya gaess, biar aku semangat updatenya.
Syukur2 bisa di komen dan di kasih krisan
happy reading buat kalian semua yang pada baca 😘😘😘😘