
Keesokan paginya terlihat kedua orang tua Asyad serta Iksa yang sudah duduk di meja makan, Asyad yang tampak santainya ia pun segera duduk di sebelah Iksa.
“Ehemm,” suara deheman Bunda Samira yang dimaksudkan untuk Asyad.
“Asyad duduk sini, sebelah Bunda,” Ucap Bunda Samira seraya menggerakkan tangannya sebagai kode agar Asyad melakukan perintahnya.
Asyad yang masih tampak tenang itu dengan segera ia mendudukkan dirinya di kursi sebelah Bundanya, lalu tangan kiri Bundanya pun meraih telinga Asyad dan di tariklah hingga Asyad mengeluh kesakitan.
“Kamu ya, sudah Bunda bilang jangan tidur seranjang dengan Iksa kenapa masih aja ngebantah perintah Bunda!” ucap Bunda masih menjewer telinga anak semata wayangnya.
“Aduh bun sakit, lepasin dulu ini Bun!” pinta Asyad.
“Ngaku dulu siapa yang ngajak tidur bersama?” tanya Bunda dengan suara lantang.
“Lepasin dulu Bun, nanti aku jelasin.” Samira pun melepaskan tangannya dari telinga Asyad dan menunggu jawaban dari sang anak.
“Entahlah Asyad kemarin mengigau mungkin, sampai Asyad berakhir di kamar Iksa,” Jelasnya berbohong.
“Oh mengigau sampai pintu kamar di kunci?”
“Bun sudahlah sebentar lagi kan dia mau mengantar Iksa, biarkan saja!” ucap Wiliam menengahi perdebatan istri dan anaknya.
Samira pun hanya mengalah dan mereka kembali dengan makanan yang sudah tersedia di meja makan.
*
Asyad mengemudikan mobilnya menuju ke rumah Maria, rumah yang sangat dirindukan oleh Iksa, sesampainya di depan rumahnya datanglah Maria yang sudah menyambutnya di depan pintu, tak lupa dengan Bunda Samira yang begitu heboh karena bertemu sahabat tercintanya.
“Oh Maria, kau terlihat sangat cantik hari ini apa kau sedang mengundang seseorang juga selain kedatangan kita?” tanya Samira yang terlihat penasaran akan penampilan Maria.
“Kau berlebihan Mir, aku hanya ingin menyambut kedatangan anakku sendiri, sudah lama tak berkunjung ke rumahku, Sayang apa kabar?” jawab Maria sembari memeluk Samira lalu memalingkan wajahnya ke arah Iksa.
“Aku baik Ma,” menghampiri Maria dan memeluknya, “Mama sehat kan?” tanya Iksa.
“Iya sayang Mama sehat sangat sehat apalagi bertemu denganmu Mama sangat rindu sekali denganmu."
“Oke oke, sudah dulu haru-harunya, begini aku tadi sudah menghubungi butik langganan aku supaya menyiapkan gaun untuk Iksa, emm bagaimana kalau kita kesana sekarang biar Bunda bisa lihat menantu dan anak Bunda saat pakai gaun pengantin.” Ucap Samira.
“Boleh tuh, ayo Mir, aku juga tidak sabar melihatnya,” ucap Maria.
Mereka pun akhirnya kembali ke mobil Asyad dan Iksa mereka hanya menurut saja kemauan sang Bunda yang harus sesuai keinginannya.
Saat tiba di butik Iksa dan Asyad langsung saja di giring ke ruang khusus yang menyediakan beberapa gaun dan jas.
“Sayang, kenapa susah sekali harus memilikimu sungguh rumit harus berganti- ganti jas seperti ini, lihat dirimu sudah berapa kali berganti gaun namun dengan mudahnya Bunda bilang kau tidak cocok kau terlihat lelah sekali.” Ucap Asyad merasa tak tega dengan Iksa.
“Kau terlihat lelah sayang, kita bisa lakukan besok lagi,” tangan Asyad melingkar di pinggang Iksa matanya menatap Iksa dalam.
“Asyad, sudahlah ini hanya berganti gaun saja, kau tak perlu sekesal ini.”
“Sayang, aku....” Wajah Asyad merunduk mendekati wajah Iksa namun lebih tepat ke bibir ranum Iksa yang terlihat menggoda.
“Asyad, ada banyak orang di sini.” Iksa berusaha menjauhkan wajahnya namun Asyad semakin memajukan wajahnya, hingga
“Asyad!!” teriak Samira yang langsung menarik telinga Asyad dengan kerasnya, seketika Asyad yang tengah menikmati khayalannya kaget bukan main.
“Aduh Bun, Bunda suka sekali menarik telingaku,” sungut Asyad tampak kesal.
“Kau ini ya, tidak bisa tahan sama sekali, kau tau ini tempat umum, Ayahmu saja tak semesum kau kenapa kau jadi tidak tau malu seperti ini.” Bentak Samira dengan nada kesal melihat anaknya yang sangat susah di beri tau.
Iksa yang melihat itu hanya tersenyum, sungguh lucu sekali melihat tingkah sang ibu dan anaknya yang seperti Tom dan Jerry yang selalu saja berdebat.
“Bun, Asyad kasihan sama Iksa dari tadi Bunda bilang gaunnya tidak cocok dan sudah berapa kali Iksa ganti menuruti kata Bunda, apa Bunda tidak berfikir Iksa akan kelelahan karena berganti gaun tiap menit.” Serang Asyad kepada sang Bunda.
“Kau ini ya, Iksa tidak apa-apa ini wajar di alami pengantin wanita yang mau menikah kau ini hanya alasan saja untuk berdekatan dengan Iksa,” Ucap Samira membuat Iksa merona mendengarnya.
“Asyad sudahlah kau dari tadi bertengkar terus dengan Bunda, aku tidak apa-apa aku senang kok dengan ini kau tak perlu khawatir, jadi kau duduk saja tunggu sampai ada yang cocok dengan tubuhku dan sesuai keinginan Bunda,” jelas Iksa.
“Sini Asyad sama Mama saja biar Mama yang pilihkan kau jas nya,” ucap Maria menjauhkan Asyad dan menyuruhnya untuk memakai jas yang sudah ia pilih di tangannya.
Samira dan Maria menunggu Asyad dan Iksa memakai jas dan gaunnya setelah Iksa sudah bergonta ganti sudah ke sepuluh kalinya dengan gaun yang super panjang dan sangat mewah membuat Iksa kewalahan dengan itu namun ia ingin terlihat tampak senang meskipun ia sebenarnya sangat lelah berganti gaun dengan beban gaun amat berat bahkan menggantikannya harus dengan dua orang,
"huft," dengusnya.
“Woww, kau sangat cantik sayang, aww benar-benar sangat pas di tubuh Iksa, Mar rasanya aku ingin menikah lagi,” Samira begitu bahagia saat Iksa keluar dari ruang ganti, sambil melirik ke arah Asyad yang tak berkedip memandang sang kekasih yang terlihat sangat cantik.
“Sayang kau cantk sekali, kau sangat mirip dengan Lena,” ucap Maria tersenyum kagum melihat putrinya yang tak biasa dengan gaun yang digunakan saat ini.
“Ehemm,” deheman Samira membuyarkan lamunan Asyad yang sedari tadi memandang Iksa.
“Bagaimana cantik kan? Bunda tau masalah fashion jadi kau jangan meragukan Bunda,” Samira terlihat bangga dengan pilihannya dan mematikan kata-kata anaknya.
Asyad hanya diam dan mendengarkan kata-kata Bundanya yang membangga-banggakan dirinya, sedang Iksa hanya tersenyum di depan kaca ia tampak melirik penampilannya yang memang sangat cantik ia jadi tak sabar ingin segera bersanding dengan Asyad yang terlihat sangat tampan di sampingnya, Samira memfoto mereka berdua, dan hal itu di jadikan kesempatan bagi Asyad memeluk pinggang Iksa dari samping dan mencuri kecupan dari Iksa membuat Iksa kaget bukan main.
“ASYADDD,” Teriak Samira melihat kelakuan anaknya yag tak tau tempat itu sungguh ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
\=\=\=\=\=\=\=