Sebintang Rindu

Sebintang Rindu
Part 36_Kamu Harus Sanggup



Satu minggu sudah Iksa di rawat kini akhirnya ia pulang. Demi menjaga kesehatan Iksa, Asyad mengajaknya ke hotelnya agar Iksa bisa tenang dalam istirahatnya.


“Kenapa aku di ajak ke sini Syad?” tanya Iksa penuh kagum memandang ruangan yang begitu mewah di hadapannya.


“Iksa, mulai sekarang kamu bakal selalu di dekatku, dan mulai sekarang kamu tinggal di sini, aku ada di kamar sebelah jadi aku akan setiap hari mengecek kondisi kamu,” jelas Asyad tegas.


“Ini berlebihan Syad, aku bisa jaga diri kok.”


“No Iksa, kamu kekasihku calon istriku dan aku gak mau ada sesuatu terjadi lagi sama kamu apapun itu, bahkan tergores sedikitpun aku tak akan membiarkannya.”


“Kamu sungguh berlebihan Syad, baiklah aku akan menurutimu kali ini karena aku tak ingin berdebat denganmu.” Ucap Iksa pasrah.


“Anak pintar,” mengacak-acak rambut Iksa hingga terlihat kesal raut mukanya. “Ya sudah sekarang kamu istirahat, aku pesankan makan siang nanti kita makan siang bersama di sini.”


“Oke, pergilah,” Iksa mengibaskan tangannya menyuruh Asyad pergi.


“No, kenapa kamu mengusirku Iksa, aku bisa pesan lewat telpon, kenapa aku harus pergi?” seru Asyad.


“Ow, maaf aku belum terbiasa dan aku juga tak tau itu, lagian aku belum pernah menginap di hotel semewah ini, jadi maklumin aja ya sikapku yang norak ini."


“Tidak ada yang salah Iksa, jangan berbicara seperti itu, tidak ada yang norak, mungkin kau harus terbiasa dengan ini nantinya setelah menjadi Ny Bachtiar.” Mendengar kata Ny Bachtiar Iksa tersenyum wajahnya merah merona terlihat bahagia, Asyad pun menarik Iksa ke dalam pelukannya Iksa pun membalas pelukan tersebut erat.


“Besok aku akan mengajakmu ke suatu tempat, aku harap kamu siap ya dengan semua ini, aku ingin tak ada lagi beban di antara aku atau kamu nantinya.” Bisiknya di telinga Iksa.


“Kita akan kemana jangan membuatku takut,” Iksa mendongakkan kepalanya mencari jawaban dari wajah tampan Asyad.


Asyad melepaskan pelukannya ia menatap dalam wajah Iksa, “Kamu harus ingat Iksa ada satu masalah dalam hidupmu, selesaikan, kamu harus siap dengan semua ini karena aku tak ingin trauma itu semakin dalam, dengan kamu menghadapinya aku yakin kamu akan terlepas dari trauma itu, ada aku Sa, aku akan tetap selalu mendukung apapun keputusanmu, karena kau berhak akan itu.”


“Iksa buka mata kamu....Iksa lihat aku...Iksa....” panggil Asyad memegangi kedua pipi Iksa, Iksa pun membuka matanya pasrah.


“Iksa ini semua demi kebaikanmu, aku tak ingin kamu terus menerus menderita akan semua ini, aku mohon Iksa kamu gadis yang kuat aku yakin kamu pasti sanggup, kamu sayang kan sama tante Maria kamu tau betapa khawatirnya dia saat mengetahui keadaanmu saat itu dan kau tau betapa frustasinya dia saat dia tidak bisa mendonorkan darahnya untukmu karena ia mengingat kamu bukanlah anak kandungnya.”


“Donor? Jadi ada yang mendonorkan darah untukku?” tanyanya begitu terkejut.


“Iya, dan tante Lena lah yang mendonorkan darahnya untukmu, aku tak tau apa yang di lakukan tante Lena dulu padamu tapi kali ini aku yakin ada begitu banyak penyesalan didirinya, kamu harus menyelesaikannya Iksa, mereka berdua sangat menyayangimu Iksa.”


“Jadi tante Lena.....” Iksa terkesiap tak percaya air matanya jatuh dari bola mata indahnya.


“Aku sudah berbicara dengan mereka untuk menunggu kamu siap, namun aku harus meyakinkanmu karena aku tau kesiapan itu harus benar-benar di paksa, jadi ku mohon temui mereka besok.” Iksa pun mengangguk pasrah setelah semua penjelasan yang Asyad jabarkan, dirinya sudah mengerti apa yang harus dilakukan dengan semua ini demi dirinya dan orang-orang yang sangat menyayanginya.


“Ya sudah sekarang kamu istirahat, aku akan pesan makanan dulu, apa kamu ingin sesuatu?”


“Terserah kamu Syad, aku sebenarnya belum selera untuk makan.”


“Iksa....pokoknya kamu harus makan kamu baru saja sembuh aku gak mau kamu kenapa-kenapa.” Sambil menoel hidung Iksa.


“Asyad....jangan jail deh tangan kamu, iya iya aku makan nanti, suapin aku entar,” ucapnya dengan suara manja seakan moodnya sangat cepat kembali.


“Manja sekali, tak apa aku dengan senang hati melayani Tuan putri,” ucapnya sembari membungkukkan badannya seolah seperti pangeran yang akan menjemput pasangannya.


Iksa pun tertawa melihat kelakuan Asyad ia berfikir begitu beruntung akhirnya teman yang ia cari dulu kini memberi kehangatan yang sama dalam hidupnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=