Sebintang Rindu

Sebintang Rindu
Extra Part 3_Pingsan



Setelah Iksa membersihkan diri dan berganti pakaian ia segera menuju meja makan, karena perutnya sangat lapar sekali. Iksa mendudukkan dirinya di meja makan dan masih mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.


"Bibi tau Asyad dimana?" tanya Iksa saat bibi Fale berjalan ke arah dapur.


"Tuan tadi pagi pagi sekali sudah berangkat nyonya, beliau ada meeting penting katanya." jelas bibi Fale.


"Kenapa tidak membangunkanku?" gumamnya namun masih terdengar telinga wanita paruh baya tersebut.


"Tenang saja Nyonya, Tuan tadi sudah berpesan kepada saya jika Nyonya sudah bangun saya di suruh memberikan ini pada Nyonya." Bibi Fale menyodorkan sebuah kertas yang terlipat rapi kepada Iksa.


Iksa yang penasaran pun segera membaca isi dari kertas tersebut.


Maaf ya sayang, aku sebenarnya ingin makan pagi bersama namun aku tidak tega jika harus membangunkanmu, kamu jangan khawatir aku akan pulang cepat hari ini, aku ingin mengajakmu makan malam diluar, Love you


Your husband


Di kedua sudut bibirnya tampak mengembang ia bahagia sekali menerima sebuah surat dari lelaki yang sudah setahun ini menjadi suaminya.


"Baiklah Bi terima kasih, temani Iksa makan ya Bi, aku tidak ingin makan sendirian." Ajak Iksa membuat wanita itu merasa tidak enak.


"Bibi makan dibelakang saja Nyonya, kan ini bibi masak untuk Nyonya."


"Ayolah Bi, Iksa ingin di temani." Tidak tega melihat raut wajah pengharapannya bibi Fale pun menemani Iksa makan di meja tersebut.


Saat sudah makan sesuap demi sesuap tiba-tiba Iksa menggembungkan pipinya dan menutup mulutnya dengan tangan, rasa mual yang kemarin dirasakan kini muncul kembali. Melihat itu bibi Fale langsung berdiri mendekati Iksa.


"Nyonya kenapa?" tanya Bibi Fale.


"Aku tidak apa-apa bi." Iksa masih mencoba tidak menunjukkan rasa sakitnya.


"Aku mau ke kamar dulu bi." Iksa bangkit berdiri dari kursinya namun hanya beberapa langkah tubuhnya tiba-tiba kehilangan keseimbangannya, bibi Fale yang berada tepat dibelakang Iksa langsung menangkap tubuhnya.


*


Asyad yang kini sedang meeting bersama rekan kerjanya terlihat sangat serius dalam menjelaskan misinya.


Setelah meeting selesai Asyad kembali keruangannya tampak seorang supir pribadi Asyad tengah berada didepan ruangannya.


"Tuan."


"Pak Agung? ada apa bapak kemari bukannya bapak harusnya dirumah?"


"Tuan tadi bi Fale sudah menelpon nomor Tuan Asyad sedari tadi namun Tuan tidak mengangkat akhirnya saya kemari, karena Nyonya Iksa tiba-tiba pingsan dirumah." Mendengar itu Asyad langsung berbalik arah tanpa peduli dengan supirnya yang masih berdiri di depan ruangannya, menuju parkir mobil kantornya, perasaan Asyad menjadi sangat gelisah pasalnya istrinya tadi sudah terlihat baik-baik saja.


Sesampainya dirumah ia langsung berlari menuju rumahnya dengan perasaan yang tidak tenang Asyad melihat tubuh Iksa yang sedang berbaring di kamar tidurnya wajahnya terlihat sangat pucat, tak peduli lagi ia segera membawa sang istri ke rumah sakit.


Di rumah sakit tepatnya di ruang IGD Iksa kini sedang ditangani dokter, setelah memeriksa keadaan Iksa dokter itu hanya menyunggingkan senyumnya.


"Bagaimana keadaan istri saya dok?" tanya Asyad panik.


"Tidak ada yang serius Tuan, saya rasa anda akan menjadi seorang Ayah karena istri anda saat ini sedang hamil." mendengar itu Asyad seolah tak percaya.


"Apa saya tidak salah dengar dokter?" tanya Asyad ingin dokter tersebut mengulang kata-katanya.


"Tidak Tuan, istri anda sedang hamil, anda bisa langsung konfirmasikan ke dokter kandungan untuk hasil lebih jelasnya."


"Terima kasih Tuhan, terima kasih dokter terima kasih, saya bahagia sekali mendengar ini." Asyad memeluk dokter tersebut melepaskan kebahagiaannya.


*


Asyad menghampiri Iksa yang kini masih terbaring dengan mata masih terpejam.


"Sayang, aku yakin disaat kamu membuka mata, kamu pasti akan bahagia mendengar ini, ini adalah keinginanmu dan tentu saja keinginanku juga, aku akan menjaga kalian berdua," Asyad menggenggam tangan Iksa melayangkan ciuman di kening sang istri lalu tangannya beralih pada perut rata Iksa mengelusnya seolah ingin merasakan seseorang yang akan hadir di hidup mereka.


Iksa mengerjapkan matanya hingga terbuka lebar merasakan sesuatu sedang membelai perutnya.


"Asyad?"


"Sayang sudah bangun."


"Aku kenapa?"


"Kamu sedang sakit, tadi bibi Fale menangkapmu saat kau jatuh pingsan."


"Aku pingsan?"


"Iya, kau tau aku bahagia sekali hari ini." mendengar itu Iksa hanya mengerutkan dahinya ia hanya berpikir bagaimana suaminya tidak khawatir melihat istrinya jatuh pingsan dan malah sekarang dia bahagia.


"Kau bahagia melihatku sakit?"


"Tidak sayang, kau tau aku tadi sangat khawatir denganmu, namun sekarang aku bahagia karena sebentar lagi akan ada seseorang yang akan hadir dalam hidup kita, dia ada disini." Asyad menunjuk perut Iksa dan membelainya lembut.


"Apa aku hamil?" Asyad menganggukkan kepalanya dengan mencium lembut tangan sang istri.


"Aku hamil, sayang kamu tidak sedang berbohong kan?" tanya Iksa tidak percaya.


"Tidak sayang, setelah kamu sudah baikan kita akan pergi ke dokter kandungan, kita akan mendengar lebih jelas tentang calon anak kita."


Mendengar itu Iksa merasa dirinya sangat bahagia, sungguh ia sangat bersyukur dengan apa yang sudah Tuhan berikan untuknya dan keluarganya ia akan menjadi seorang ibu adalah hal yang selalu dinantikannya selama ini sekarang malaikat kecil itu sudah berada dalam dirinya ia berjanji akan selalu menjaga dan melindunginya.


Setelah Iksa sudah membaik Asyad mengajak sang istri untuk periksa ke dokter kandungan.


"Kandungan bu Iksa baik-baik saja janin yang di dalam rahimnya juga sehat tidak ada sesuatu yang buruk."


"Tapi dok kenapa tadi istri saya sampai pingsan bahkan akhir akhir ini dia mengeluh karena pusing?" Tanya Asyad masih tidak puas akan jawaban sang dokter.


"Pak Asyad tenang saja itu hal biasa yang memang terjadi saat kehamilan trimester pertama, perubahan hormon pada sang ibu membuat beliau terkadang merasakan pusing, mual dan bahkan sampai pingsan karena sangat lemahnya tubuh beliau, namun kadang juga ada yang tidak merasakan apapun semua hanya tergantung hormon yang dimiliki sang ibu, jadi Pak Asyad sebagai suami harus bisa menjadi suami siaga untuk istri anda, pastikan beliau makan makanan yang bergizi, jangan terlalu lelah harus cukup istirahat bahkan diharuskan untuk banyak-banyak istirahat." Jelas dokter membuat pasangan suami istri itu cukup paham akan penjelasannya.


"Kalau berhubungan suami istri bagaimana dok, apakah boleh?" Tanya Asyad membuat Iksa yang mendengar langsung melebarkan matanya, merasa malu dengan pertanyaan suaminya yang begitu frontal sekali.


"Tidak apa-apa pak, asal harus pelan jangan sampai janin didalamnya terguncang berlebihan karena bisa terjadi pendarahan awal karena hal tersebut." Asyad tersenyum mendengar itu, itu artinya ia tak perlu khawatir akan bersarang kemana juniornya jika ia menginginkannya.


Melihat itu Iksa hanya diam saja menahan malu, karena sungguh Asyad tidak tau malu bisa-bisanya bertanya hal sepribadi itu kepada dokternya.


Mereka berjalan menuju koridor rumah sakit ke arah pintu keluar, namun saat akan masuk ke mobil tak sengaja Iksa melihat dua orang yang sedang berjalan ke arah rawat jalan, melihat itu Asyad tampak memicingkan wajahnya melihat arah pandang sang istri. Asyad dan Iksa menatap dua sejoli itu sangat intens, ada apa dengan mereka?


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hai makasih ya buat kalian semua yang udah kasih like dan votenya, semoga selalu di beri kesehatan πŸ€—πŸ€—πŸ€—


Oh iya karyaku ini sekarang sudah masuk kontrak jadi aku rencana akan buat sequel dari cerita ini, extra part ini akan membahas tentang masalah rumah tangga antara Asyad dan Iksa setelah itu akan lanjut season 2πŸ€—πŸ€—πŸ€—


Love you all gaess😘