
Mobil sedan milik Asyad meluncur menuju tempat makanan junk food yang sudah tak asing di telinga kita, sesampainya di tempat junk food tersebut ia mencari meja Nela yang sudah terlihat oleh matanya, namun posisi Iksa yang memunggunginya tak mengerti akan kedatangan Asyad.
Bersamaan itu Nela yang sedari tadi menoel paha Kila agar mengerti apa yang harus dia rencanakan, Kila pun melihat ke belakang Iksa yang sudah berdiri laki – laki super tampan yang menggoda mata Kila lalu ia segera menatap Nela dan mengedipkan satu matanya di depan Nela.
“Ouuuuu,” Kila pun memulai aksinya dengan memegang perut dengan kedua tangannya.
“Kau kenapa Kil?” tanya Iksa khawatir.
“Maghku kambuh kayaknya Sa aku periksa ke dokter aja dulu karena kemaren aku telat makan,” seraya memegang perutnya yang memang tak sakit itu.
“Kita bawa ke Dokter aja Sa,” timpa Nela yang langsung membopong tubuh Kila berdiri.
Iksa yang juga begitu panik ia pun berdiri dan mengikuti kedua sahabatnya, sesaat Iksa terkejut saat ia berbalik badan tubuh Asyad sudah berada tepat di depannya jaraknya mungkin hanya satu sampai dua senti, dahi Iksa di tangkap oleh dada bidang Asyad yang terlihat begitu kekar tangan Asyad pun langsung memeluk pinggang Iksa, Iksa yang kini sadar ia mendongak ke atas dan mendorong tubuh Asyad ke belakang.
“Minggir,” Teriak Iksa.
Asyad yang tak bergeming dari tempatnya mengingat kembali pelukan hangat Iksa setelah sekian lama, tak berapa lama ia pun mengikuti langkah Iksa yang tengah sibuk mengejar sahabatnya.
Sampai di depan terlihat Nela dan Kila yang mau masuk ke dalam mobil dan Iksa pun mengikuti nya.
“Kenapa Nel?” tanya Iksa heran karena mobil Nela tiba tiba tak bisa di nyalakan.
“Entahlah, padahal tadi ok ok aja ni mobil, kenapa sekarang jadi ngadat gini sih,” ucapnya bohong.
“Nel, perutku sakit banget, ayo dong aku udah gak tahan ini, sakit setengah mati,” pintanya membentak Nela agar kebohongan mereka tampak nyata di depan Iksa.
“Eh itu ada si Asyad, guys,” seru Nela dan langsung membuka pintu mobilnya lalu mendekati Asyad.
“Syad tolongin temenku dong, bawa dia ke Klinik atau rumah sakit, perutnya tiba – tiba sakit karena dia punya riwayat sakit magh jadi plis anterin dia ya Syad,” pintanya sambil menggoyang goyangkan lengan Asyad agar menuruti pintanya.
“Ok, masuk mobilku,” jawab Asyad lalu menuju mobilnya.
“Sa kau anterin Kila ya aku mau jagain ini mobil sampai ada orang bengkel datang.”
“Oke Nel aku anterin Kila dulu,” Iksa pun memapah tubuh Kila yang sedang pura pura lemas itu ke dekapannya, sontak Iksa yang tadinya panik tambah di bikin Kila bingung.
“Eh kau apa-apaan sih Sa,” sungutnya sebal dengan Iksa.
“Ya mau bantuin kamu duduk la Kil, emangnya aku mau apa?”
“Haduh yang ada perutku makin tambah sakit kalau duduk di depan, aku mau duduk di belakang pengen tiduran, perut gue sakit ini,” pintanya.
“Oh ok ok,” lalu Iksa kembali membopong tubuh Kila ke tempat duduk belakang kemudi, lalu ia pun dengan terpaksa harus duduk di depan.
Asyad yang sedari tadi melihat tingkah kedua wanita itu ia hanya tersenyum saja karena menurutnya sakit magh tidak separah itu hanya saja wanita yang kini sedang ia kejar sedang dalam mode panik jadi terlihat sangat ketakutan ia jadi teringat saat dulu mengerjainya hingga berakhir pingsan, “Ya semoga kali ini tak terulang lagi,” gumamnya pada gadis di sampingnya.
“Apa kau bilang apa?” saut Iksa yang mendengar samar suara laki laki di sampingnya.
“Nothing, gunakan seat beltnya,” Asyad pun langsung meraih seat belt di samping Iksa lalu di kenakannya pada tubuh Iksa membuat jarak keduanya nampak dekat.
“A-a-aku bisa pakai sendiri,” di rengkuhnya seat belt yang Asyad tarik.
“Oh oke.” Asayad pun fokus untuk segera mengemudikan mobilnya.
*
“Udah gak papa perutku, jadi aku mau turun di sini soalnya aku lagi ada janji temu sama seseorang,” ucapnya dengan tenang.
“Maksudmu? Tadi kau begitu kesakitan dan sekarang mendadak perutmu sudah tak kenapa-napa dalam waktu sekejap,” tanyanya begitu heran.
“Oh tadi, udah biasa mah aku sakit begituan sekarang udah gak papa, ini aku minum obat maghku, aku lupa kalau bawa obatnya, maaf ya jadi ngrepotin kalian,” ucapnya seraya merasa bersalah.
“Oh ya Syad, tolong anterin sahabat tercintaku pulang ya, soalnya aku ada urusan penting,” tambahnya yang langsung keluar begitu saja dari dalam mobil. Lalu berkata kepada Iksa di luar pintu kaca mobil yang tengah terbuka “Kau di anter Asyad pulang ya, aku ada urusan bentar.”
“Aku temenin ya Kil, kau tadi habis sakit kan.”
“Gak papa, aku udah baikan liat lah aku udah seger banget kan, kau tenang saja aku nanti pulang kok ke kos.”
“Hati-hati ya Syad, jagain sahabatku jangan sampai hilang,” tambahnya memerintah.
Dengan senyum selebar mungkin dan seolah mengerti akan tujuan sahabatnya yang sedang mendekatkan dirinya dan juga Iksa maka ia pun tak ingin membuang kesempatan emas ini untuk bisa mengambil hati Iksa kembali “Oke, kau hati hati ya!"
Kila pun memajukan tanganya dengan satu jempol berdiri yang menandakan kalau ia yakin sahabatnya aman di tangan Asyad.
Mobil Asyad pun melaju, Kila yang Nampak bahagia akhirnya sahabatnya bisa berdua lagi dengan mantan kekasihnya itu ya meskipun belum ada tanda tanda berbaikan setidaknya mereka bisa berbicara dari hati ke hati.
Tampak mobil Nela melaju tepat di depan tubuh Kila, Kila pun langsung masuk ke dalam mobil Nela mereka berdua saling menepuk tangan yang menandakan rencana mereka berjalan lancaa.
“Kita berhasil Nel,” ungkap Kila nampak sumringah.
“Ya, aku yakin Asyad gak akan membuang kesempatan ini, karena aku tau begitu ambisiusnya dia untuk mendapatkan Iksa kembali.”
“Kau bener Nel aku juga yakin Iksa masih ada hati sama mantan terindahnya itu, mengingat ia pernah tidur di kosku entah mimpi apa dia selalu menyebut nama Asyad dan satu hal dia juga menyebut nama orang lain mmm siapa yah? Ve ve siapa ya? Kalau gak salah ah iya Vedo iya bener Nel Vedo dia pernah nyebut nama Vedo di mimpinya.”
“Mmmm siapa Vedo? apa ia juga pernah membuat Iksa terluka seperti Asyad atau jangan jangan....” ucapnya terpotong dengan gaya memikirnya.
“Jangan jangan apa? Kau jangan mikir macem macem Nel, si Vedo itu temen kecilnya si Iksa yang udah lama meninggal dia pernah trauma gegara masa lalunya namun Asyad datang ia seolah menghidupkan semangat Iksa ehhh yang lebih parah ternyata Asyad malah ninggalin Iksa gitu aja tanpa alasan, siapa yang gak sakit coba harus kehilangan orang yang paling di cintainya,” tuturnya menjelaskan kepada Nela.
“Sungguh aku tak tau Kil kalau Iksa punya masa lalu sekelam itu, kenapa aku tak pernah di kasih tau?”
“Yee salah kau gak pernah nanya?”
“Yah mana aku tau lah, aku kan bukan tipe orang yang suka mengkorek-korek masa lalu orang, tapi kalau tau si Iksa punya masa lalu sekelam ini tau gitu aku hajar tuh si Asyad tega bener nyakitin si Iksa,” geram Nela jadi sebal memikirkan sahabatnya yang ternyata se brengsek itu.
“Udah itu udah berlalu, lagian mereka kan lagi berdua kita do’akan aja semoga mereka bisa menangani masalah hati mereka.”
“Iya Kil, rasanya gak habis fikir aku sama tu si Asyad bener bener aku jadi kesel banget sama dia.”
“Udah ah kenapa jadi kau yang uring uringan begitu, ayo jalan kita cari makan perutku masih laper, gegara tuh si Asyad gak bisa nunggu kita sampe selesei makan dulu apa baru muncul ini makanan belom abis main muncul tiba tiba.”
“Hahahaha okelah nanti malah maghmu yang kumat beneran,” tawanya
“Shit! kau menyumpahiku?” tanyanya nyolot.
“Uppsss, udahlah lupain.” Nela pun melajukan mobilnya menuju rumah makan karena sedari tadi sahabatnya yang sudah meronta ronta perutnya ingin di isi.
\=\=\=\=\=\=