Sebintang Rindu

Sebintang Rindu
Part 33_Maafkan Aku (Asyad)



Suami Lena yang saat itu terkejut melihat istri kesayangannya menangis ia pun segera merengkuh Lena dari Maria, “Kenapa ini? Kenapa istri saya sampai menangis?”ucapnya menenangkan istrinya.


“Iksa, pa…hiks…hiks…” ucap Lena menangis sesenggukan.


“Kenapa dengan Iksa? maaf ada apa ini apa yang sebenarnya terjadi?” tanyanya melihat Maria dan Asyad.


“Begini om, kemarin Iksa mengalami kecelakaan dan sekarang dia kehilangan banyak darah, karena tante Maria bukanlah ibu kandungan Iksa, disini beliau minta tolong kepada bu Lena untuk bersedia menjadi pendonor Iksa, itu karena ibu Lena ibu kandungnya, mungkin ada kecocokan karena mereka sedarah,” jelas Asyad.


“Bagaimana sayang, kamu bersedia mendonorkan darah kamu untuk anak kandungmu?” tanya Jeremy.


“Iya, aku mau pa,” Lena menganggukkan kepalanya, “aku mau menebus semua kesalahanku pada anakku sendiri, maafin mamamu ini nak…hiks…hikss…..”


“Syukurlah Len, kamu sudah menyesali semua perbuatanmu, aku berharap kalian bisa bersama setelah ini," ucap Maria.


“Maria…” panggil Lena.


“Kamu adalah ibunya selama ini, karena kamu Iksa mendapatkan kasih sayang seorang ibu, entah apa yang terjadi dengan Iksa saat itu jika kamu tak mengangkatnya menjadi anak dan terima kasih banyak kamu sudah membesarkan Iksa selama ini aku berhutang banyak padamu, Mar, kamu memang sahabat sejati yang selalu ada buatku, terima kasih Maria terima kasih,” ucap Lena tulus sembari memeluk Lena.


“Sudahlah, lagian selama ini hidup aku juga sendiri, aku juga terima kasih karena kamu sudah percayakan Iksa padaku, hidupku yang selama ini hampa, bahkan terasa terisi dengan kehadiran Iksa, dia juga tumbuh menjadi gadis yang baik hati, cantik dan pintar, kamu harus tau itu Len.” Mereka pun tersenyum bersama.


Asyad yang melihat dan mendengar percakapan dua orang wanita di hadapannya sejenak ia ikut meneteskan air matanya namun dengan cepat ia mengusapnya.


“Tante, bagaimana kalau kita segera ke rumah sakit waktu Iksa juga tidak banyak.”


“Baiklah,”ucap Lena.


Tanpa memperdulikan pekerjaan rutin paginya Lena beserta suami beranjak pergi mengikuti Maria dan Asyad, mereka semua pergi menuju rumah sakit.


*


Sesampainya di rumah sakit mereka semua buru-buru menuju ruang rawat Iksa. Sejenak Lena meminta izin untuk menemui Iksa terlebih dahulu.


Setelah menemui Iksa, Lena pun akhirnya menemui dokter untuk segera melakukan tranfusi darah.


“Semoga berhasil ya tante,” ucap Kila menggenggam jemari Maria.


“Semoga ini menjadi suatu kehidupan baru Iksa, ia berhak akan itu.” Ucap Maria yang terdengar sendu di telinga Kila.


“Tante…”


“Entahlah, sepertinya tante begitu bahagia Kila, melihat Iksa yang akhirnya akan mendapat pengakuan dari ibu kandungnya,” ucap Maria melengkungkan senyumnya di hadapan Kila.


“Tante…”Kila pun memeluk Maria ia tau tidak ada satupun ibu yang rela harus berpisah dengan anaknya apalagi Maria lah yang sudah membesarkan Iksa memberi kasih sayang meskipun dia bukanlah ibu kandungnya namun hubungannya dengan Iksa amatlah dekat.


Mereka pun berpelukan melepaskan tangisnya, “Kila yakin bagaimanapun keadaannya nanti Tante akan selalu menjadi yang utama di hati Iksa karena Tantelah yang membuka kehidupan Iksa,” Nela yang mendengar itu ia juga ikut meneteskan air matanya begitu pula dengan Asyad.


Tiba-tiba suara dering telpon Asyad berbunyi, suara panggilan dari Bundanya.


“Asyad, kamu tega sekali ya,” ucap suara di sebrang telpon.


“Haduh Bun, Bunda apaan sih, Asyad denger Bun gak usah pakai teriak-teriak segala.”


“Kenapa kamu gak bilang ke Bunda kalau Iksa kecelakaan kenapa Bunda harus tau ini dari bara, jahat sekali kamu, ini Bunda udah di bandara, Bunda mau on the way ke rumah sakit.”


“HAHH, Bunda udah di bandara, Asyad jemput ya Bun?”


“Gak usah, ini Bunda udah naik taxi sama ayahmu.”


“Ayah juga ikut Bun?” tanyanya terkejut.


“Menurut kamu, Ayah kamu bakal membiarkan Bunda sendirian begitu.”


“Iya udah Bun, hati-hati Asyad tunggu Bunda sama Ayah.” Asyad pun mematikan telponnya.


“Siapa Syad? Nyokab kamu?” tanya Nela yang tengah duduk di samping Asyad.


“Wah Bunda bakal kesini, ya ampun aku rindu sekali sama mereka,” ucap Nela penuh dengan kegirangan.


Setelah hampir 4 jam, akhirnya dokter yang menangani Iksa keluar.


“Bagaimana dokter?” ucap Maria.


“Syukurlah, darahnya cocok dan keadaan Nona Iksa mulai stabil Ibu Lena juga baik-baik saja hanya butuh istirahat sebentar untuk memulihkan keadaannya, sekarang Nona Iksa masih dalam pemulihan mungkin sekitar satu jam Nona Iksa sudah sadar," jelas dokter menerangkan keadaan Iksa dan juga Lena.


Mereka semua bernapas lega mendengar penuturan dokter, Maria yang begitu bahagia akhirnya anak semata wayangnya itu bisa terselamatkan.


“Semua ini berkat tante Maria, akhirnya Iksa bisa tertolong,” ucap Kila memeluk Maria.


“Tidak Kila, ini semua berkat kalian semua juga yang tulus mendo’akan sahabat kalian, dan terutama untuk tante Lena, dialah yang berperan besar dalam hidup Iksa.”


“Tante…”


“Kila, sudah.” Mereka pun saling memeluk.


Setelah satu jam Iksa pun akhirnya sadar, ia pun segera di pindahkan ke ruang rawat inap, mereka semua yang tak sabar melihat Iksa pun memohon kepada dokternya untuk menemui Iksa, akhirnya dokter pun mengizinkan mereka semua masuk.


*


Mereka semua pun masuk terlihat Iksa yang sudah sadar namun masih memejamkan kedua matanya, perlahan suara-suara itu membuat mata Iksa terbuka.


“Bunda, Kila, Nela, Asyad kalian,” ucapnya bahagia.


“Oh Iksa akhirnya kau kembali lagi aku kangen banget pengen bercanda gurau lagi denganmh Sa,” peluk Kila dominan.


“Kau ya Kil, si Iksa kan baru sadar main peluk-peluk begitu,” sergah Nela yang membuat Kila sedikit mundur, sembari mengerucutkan bibir manyunnya.


“Sayang, gimana keadaan kamu?” tanya Maria sembari membelai lembut rambut Iksa.


“Iksa sudah agak baikan kok ma, maaf ya ma Iksa buat mama khawatir, mama harus bela-belain jauh-jauh kesini,” ucap Iksa mencium punggung tangan Maria.


“Sama sekali tidak sayang, mama cuma sedikit takut kehilangan anak kesayangan mama, apapun itu mama akan selalu lakukan yang terbaik buat Iksa.”


“Makasih mamaku sayang,” ucapnya begitu terlihat bahagia.


“Ehmmmm,” Asyad pun berdehem.


“Asyad,” ucap Iksa.


“Oh iya kalian berdua bicaralah dahulu, mama tinggal dulu melihat tante Lena.”


“Tante Lena?”


“Iya Sa, nanti mama ceritakan, sekarang mama mau melihat keadaan tante Lena dulu," Iksa menganggukan kepalanya namun masih merasa penasaran.


“Kila sama Nela ikut ya tante,” Maria pun mengiyakannya, mereka pun keluar dari ruang inap Iksa meninggalkan Iksa dan Asyad berdua di ruang tersebut.


“Sa..” ucap Asyad memegang tangan Iksa, “Maafin aku ya Sa, gara-gara aku kamu harus celaka begini, aku sudah gagal melindungi kamu Sa, aku gagal," ucapnya frustasi.


“Asyad cukup, ini semua kecelakaan gak ada yang salah di sini, aku ataupun kamu gak akan pernah tau kapan takdir buruk menimpa kita.”


“Kamu tenang saja Sa aku sudah menyuruh orang menyelidiki kecelakaan ini, sepertinya kecelakaan ini memang di sengaja, jika pelakunya di temukan aku gak akan pernah maafin dia aku bakal ngasih pelajaran yang setimpal seperti mereka melakukannya padamu,” ucapnya geram penuh penekanan.


“Sudah Asyad lupakan, aku sekarang baik-baik saja,” tangan Iksa membelai lembut pipi Asyad, Asyad pun menangkupnya dan mencium punggung tangan Iksa.


“Aku mencintaimu Iksa,” ucap Asyad.


“Aku juga mencintaimu Asyad,” balas Iksa dengan senyum bahagia.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=