
David menghadap tubuh Aileen yang terlihat mungil menggemaskan baginya, menatapnya dengan penuh perasaan, tangan David pun kini membalas timpukan Aileen namun berbeda dengan Aileen melakukannya karena tak sadar, David melakukannya karena dia ingin terlelap tidur kepalanya terasa pusing karena tak bisa tidur. Pergerakan David begitu lembut saat menyentuh pinggang Aileen lalu tubuhnya menurun sedikit ke bawah membawa tangan Aileen menyentuh pundaknya, David pun mulai merasakan tidur dalam dekapan Aileen terasa nyaman sekali tak lama membuatnya terkulai dalam mimpinya, sungguh David benar-benar memanfaatkan keadaan Aileen.
Pagi yang indah harum semerbak wanginya saat nafas mulai merasakan sensasi wangi yang tak biasa Aileen dengan nyamannya masih bergelung diranjangnya semalam, entah mengapa saat ia menggerakkan tangannya untuk berbalik badan tubuhnya terasa sangat berat seperti tertimpa sesuatu.
Perlahan mata indah berwarna coklat itu mulai terbuka menampakkan kesuluruhan wajah bangun tidurnya. Aileen menatap seseorang dalam pandangan wajahnya seseorang begitu damai dalam tidurnya terlihat sangat menarik dimata Aileen bibirnya wajah tampannya membuat Aileen sedikit menyunggingkan senyum tipisnya namun tak berapa lama ia baru menyadari bahwa ia dan David sedang melakukan hal yang tak seharusnya pikirnya.
"Apa apan ini, apa yang sudah aku lakukan?" Tanya Aileen begitu bingung, ia melihat dirinya dibalik selimut namun pakaiannya masih sama seperti kemarin tak berkurang sama sekali nafasnya langsung turun hatinya lega karena tak terjadi apa-apa diantara mereka.
Aileen bergegas turun dari ranjangnya, menuju ke dapur, tak tega membangunkan David yang masih lelap tertidur karena ia masih ingat David masih mempunyai gangguan tidurnya.
Aileen menuju dapur, ia sangat terkesima dengan interior hotel disini, yah mungkin bisa dijadikan inspirasi untuk proyek hotel yang sedang dikerjakannya.
Aileen melihat bahan makanan yang ada namun ternyata hanya ada roti, lemari pendinginnya hanya terisi air mineral, beberapa wine dan soda. Akhirnya ia pun hanya membuat roti bakar saja untuk menu paginya bersama David.
"Kau sedang apa?" Tanya David yang tiba-tiba muncul dari balik dinding penyekat.
"Eh, tidak, aku hanya ingin membuat sarapan, aku hanya bisa memasakkan roti bakar saja karena tak ada bahan makanan disini." Ucap Aileen jujur.
"Kita pesan saja, kau tak usah repot-repot memasak!" Ujar David mencoba menghentikan Aileen, karena bagi David ia hanya ingin ditemaninya bukan menyiapkan segala keperluannya.
"Baiklah jika itu maumu, pesan saja kalau begitu." Aileen malah dengan senang hati menerimanya setidaknya ia juga sedang malas berkutat didapur kalau melihat tak ada bahan yang menarik untuk dimasak.
Terdengar suara pintu terketuk, Aileen segera berlari membuka pintunya, ternyata Aldo dan Rayn yang tengah berdiri dibalik pintu tersebut saat Aileen melihat di monitor kecil didepan wajahnya.
"Selamat pagi Nona, saya membawakan barang keperluan anda dan juga teman anda ini." Ucapnya dengan penuh kewibawaan.
"Kenapa kau ikut kesini Rayn?" Aileen tak mengindahkan ucapan Aldo ia langsung mengiterogasi sahabatnya yang terlihat sangat aneh mengikuti Aldo kesana.
"Aku hanya ingin melihat keadaanmu, Ai, aku khawatir kau sedari malam tak pulang?" Ujar Rayn dengan penuh kemanjaan.
"Aku sudah memberitahumu, bahwa aku tak pulang kemarin, aku sudah bilang aku mau bertanggung jawab atas perbuatanku, biar hutangku tak semakin banyak padanya." Mendengar itu David yang sedari tadi duduk di sofa melirik tajam ke arah Aileen, namun Aileen tak mengetahuinya.
"Baiklah, kalau begitu aku akan menjagamu menjaga pak David." Rayn yang berdiri dihadapan Aileen langsung berjalan ke arah David.
"Bagaimana pak, bagaimana kalau saya dan Aileen ikut merawat anda disini?" Tanya Rayn dengan suara manjanya.
"Maaf, saya hanya butuh satu orang untuk ada disini, bahkan Aldo saja tak kubiarkan masuk karena saya tak ingin terlalu banyak orang disini!" Jawab David seakan menekankan semua kata-katanya berharap wanita didepannya ini tak memaksa kehendaknya.
"Baiklah," Ucapnya dengan kecewa, "Tapi hari ini aku ingin menemani Aileen disini, aku ingin bersamanya karena dari kemarin aku kesepian tak ada teman."
"Tidak ada aku hanya butuh teman sekarang!" Ucap Rayn bahkan sorot matanya seperti tak lepas melihat David.
Aileen yang melihat itu sedikit curiga, entah kenapa pagi-pagi sekali dia sudah datang disini dan tiba-tiba saja ingin meminta merawat David, ada apa dengannya? pikir Aileen, namun ditepisnya mungkin karena sikap shaabatnya yang begitu manja jadi wajar jija dia tidak bisa ditinggal sendirian.
"Aldo, kemarin kau tidur dimana?" Tanya Aileen menghiraukan sahabatnya yang masih saja memandang kearah David.
"Saya tidur di sebelah kamar bos David, Nona, saya menyewa sampai anda sudah selesai dengan tugas anda merawat bos David." Ujarnya penuh kharisma.
Aileen hanya mengangguk, "Lalu kenapa kau dan Rayn disini secara bersamaan?" Tanya Aileen merasa ada yang berbeda dengan sikap Rayn saat ini.
"Saya tidak tau Nona, setelah saya menutup pintu kamar saya berniat ingin kemari, tiba-tiba saja sahabat anda mengikuti saya dan ingin bertemu anda." Ucap Aldo jujur.
Aileen tampak berpikir dengan penjelasan Aldo, kalau memang Rayn ingin bertemu dengannya mengapa ia tak menelpon dahulu, lalu dimana dia bisa tau tempat hotel dimana David menginap, padahal selama ini Aileen tak pernah mengajak Rayn kemari, Aileen sendiri baru saja tau tempat David kemarin saat David keluar dari rumah sakit.
Aileen berjalan menghampiri David melupakan sejenak tentang sikap Rayn.
"Apa kau ingin mandi?" Tanya Aileen pada David.
"Yah, aku ingin mandi sedari kemarin aku tak mengguyur tubuhku." Ucap David dengan senyum seringainya dihadapan Aileen.
"Baiklah, kau tunggu disini aku akan menyiapkan air hangat untukmu," Aileen beranjak pergi dari David namun tiba-tiba terhenti karena tangan David yang menariknya sangat kuat.
"Kau tak usah menyiapkan itu, biar aku saja kau tunggulah jika nanti makanan sudah datang, panggil aku."
"Baiklah," Mendengar itu David segera beranjak dari tempat meninggalkan tiga orang yang tengah saling bersitatap penuh tanda tanya.
Aileen melihat Rayn, sedari tadi tatapan mata Rayn tak pernah berhenti melihat David, entah membuat Aileen sedikit kesal atau cemburu, cemburu? bukan dia bukan cemburu hanya saja Aileen tak pernah melihat Rayn yang tatapannya seolah ada perasaan didalamnya.
Terdengar suara ketukan pintu, lamunan Aileen tentang sahabatnya itu teralihkan dan ingin berjalan ke arah pintu masuk tersebut.
"Biar saya yang membuka Nona!" Pinta Aldo mengajukan diri untuk membuka pintu tersebut karena bagaimanapun dilihat dari tempat berdirinya Aldo lah yang paling dekat dengan pintu.
"Baiklah." Aileen tetap berdiri di tempatnya memandang Aldo yang masih berjalan mengarah ke pintu tersebut.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=