Sebintang Rindu

Sebintang Rindu
S2 - Tak Percaya Lagi



Aileen yang kini sudah sadarkan diri, melihat semua orang disekelilingnya, satu persatu ia mati wajah wajah dihadapannya namun sayang seseorang yang ia harapkan bisa ia lihat ak terlihat dari kedua bola matanya.


"Ai, kau sudah sadar, apa kau baik-baik saja?" Tanya Rayn yang sudah berdiri disamping Aileen.


"Ai, kamu tidak apa-apa sayang, Mama khawatir denganmu?" Ucap Iksa penuh kekhawatiran diraut wajahnya.


"Mama?" Ucap Aileen.


"Iya, ini Mama sayang, kenapa kau bisa sampai seperti ini, Mama begitu takut saat mendengar kabar ini." Ucap Iksa penuh kesenduan.


"Tante maafin Rayn, ini semua salah Rayn, kalau saja Rayn menuruti kata-kata Ai, pasti Ai tidak akan terluka separah ini, harusnya Rayn yang seperti ini, maafkan Rayn Tante, maafkan aku Ai." Ucap Rayn dengan menyesalnya dan menangis dihadapan Iksa dan Aileen.


"Rayn, sudahlah ini semua kecelakan kau tak usah menyalahkan dirimu seperti itu." Ucap Aileen menenangkan Rayn.


"Ai maafkan aku," Ucap Rayn tak henti-hentinya berkata maaf.


"Iya, sudah kau jangan menangis kau bertambah jelak tau." Aileen mencoba menghibur Rayn.


Iksa tersenyum melihat anaknya dan sahabatnya yang begitu saling menyayangi. sungguh sosok Rayn sangat mirip sekali dengan ibunya, Nela.


Ya Rayn adalah anak kandung dari Nela dan Kendra, jalan cerita hidup yang menyedihkan berakhir sebuah kebahagiaan.


"Sayang, minumlah dulu," Iksa menyodorkan minumnya kepada Aileen lalu membantunya untuk minum.


"Ma, Papa juga datang kesini?" Tanya Aileen tak melihat Asyad disekelilingnya.


"Iya Papa ada disini, dia sedang diluar bersama Aldo." Ucap Iksa memberitahu.


"Ma, maaf Mama harus datang jauh-jauh kesini, harusnya Aileen bisa menjaga diri Aileen." Ucap Aileen ia menyesal akibat rasa sakit hatinya ia harus membiarkan Rayn menyetir mobil sendiri dan berakhir kecelakaan seperti itu.


"Sayang, kau jangan bicara seperti itu Mama tak keberatan harus datang kesini bahkan meskipun Ai diluar negeri sekalipun, Mama pasti akan datang jika Ai terluka, Mama sangat menyayangimu." Iksa memeluk Aileen yang kini tengah posisi duduk dan bersandar dibangsalnya.


"Aileen makan ya, ini Mama suapi!" Iksa mengambil makanan yang sudah disediakan pihak rumah sakit lalu menyuapkannya ke mulut Aileen.


Sedang diluar Asyad dengan Aldo terlihat sangat serius sedang membicarakan sesuatu.


"Kemana David?" Tanya Asyad yang tak melihat David sedari tadi, ia menatap Aldo begitu tajam seolah ingin menerkamnya.


"Boss David kemarin pulang ke negaranya Tuan." Jawab Aldo tak bisa berbohong jika sudah berhadapan dengan orang yang begitu penting bagi boss David.


"Harusnya kalian berdua menjaga perempuan yang mengerjakan proyek bersama kalian, saya mempercayai kalian menangani proyek ini, karena saya yakin selain kalian bisa mengerjakannya saya juga percaya kalian bisa menjaga mereka." Tutur Asyad seakan marah karena harus melihat anak semata wayangnya berakhir dirumah sakit.


"Maaf Tuan Asyad, saya usahakan bos David akan segera menemui anda untuk menjelaskan ini semua." Ucap Aldo merasa gugup karena takut bilamana kerjasama mereka harus dibatalkan.


"Saya tak percaya dengan kalian berdua lagi, setelah Aileen sudah sembuh saya akan membawanya kembali pulang, untuk kerjasama tetap lakukan, hanya saja saya akan mengganti orang yang akan menangani proyek itu." Ucap Asyad penuh emosi, karena ia ingin sekali meluapkan amarahnya kepada David yang sudah ia berikan tanggung jawab menjaga Aileen, mengapa ia malah meremehkannya.


"Baik Tuan, saya akan menghubungi boss David." Ucap Aldo lalu Asyad begitu saja pergi dari hadapannya tanpa berucap satukata pun.


"Papa..." Teriak Aileen begitu senang melihat sang Ayah berdiri dihadapannya.


"Sayang, Papa merindukanmu," Ucap Asyad memeluk Aileen penuh kasih.


"Ai, juga merindukan Papa." Aileen begitu bahagia karena selama menjalani proyek, ia sama sekali tak menghubungi kedua orang tuanya.


"Nanti setelah Ai sembuh, Papa mau bawa Aileen pulang, Aileen istirahat dirumah, proyek akan Papa ganti dengan orang lain." Ucap Asyad membuat Aileen mendongakkan kepalanya.


"Kenapa harus diganti Pa, Ai masih bisa mengerjakannya setelah Ai sembuh." Ucap Aileen memohon.


"Sayang, Papa tak ingin melepaskanmu tanpa pengawasan Papa, jadi setelah ini Ai kembali pulang dan istirahat." Asyad tak ingin menuruti perkataan Aileen baginya keselamatan Aileen lebih penting diatas segalanya.


"Sayang, Papa benar Aileen istirahat dulu ya nanti kan Aileen bisa menghandle proyek lain." Ucap Iksa menenangkan Aileen.


"Tapi Ma, Aileen sudah hampir menyelesaikannya kenapa harus menggantinya dengan orang lain, kan Rayn juga masih bisa menghandle setelah Ai sembuh Ai akan menyusul proyeknya." Ucap Aileen mencoba untuk mencari cara agar Asyad tak mengganti penanganan proyek tersebut dengan orang lain.


"Aileen, sekali tidak tetap tidak!" Ucap Asyad lalu ia berlalu begitu saja dari hadapan Aileen.


"Ma.." Rengek Aileen pada Iksa.


"Sayang, Papamu benar, kau turuti saja permintaannya semua demi kamu sayang, biar hal seperti ini tak terjadi lagi."


"Ma, ini hanya kecelakaan siapapun pasti mengalaminya, kenapa Papa menghubungkan kejadian Aileen dengan proyek itu, ini tidak adil Mama, Aileen sudah bersusah payah mengerjakan proyek itu dan hampir selesai lalu dengan mudahnya Papa meminta Ai berhenti." Ucap Aileen menangis entah mengapa ia begitu kekeh dengan proyek tersebut dirinya pun merasa heran.


"Sayang, sudah kau jangan menangis." Iksa menghapus air mata Aileen yang jatuh begitu derasnya.


"Ai, kamu istirahat dulu yah, biar segera sembuh, kamu tenang saja aku akan berbicara dengan Papamu untuk menjelaskan ini, jadi kau jangan menangis." Seketika tangis Aileen berhenti saat mendengar Rayn berusaha membantunya untuk memperjuangkan proyek yang sudah ia kerjakan.


Aileen nampak sudah lelap tertidur karena pengaruh obat yang sudah diminumnya. Melihat itu Iksa tersenyum ia merasa yakin ada sesuatu di pengerjaan proyeknya hingga ia begitu teguh mempertahankannya.


"Tante temanin Rayn bicara ke Om Asyad yah, sebenarnya Rayn takut kena amukan Om Asyad, pasti Rayn tak bisa bicara kalau sudah dimarahinya." Ucap Rayn sambil tersenyum dihadapan Iksa.


"Ah, kau ini, iya Tante akan menemanimu." Ucap Iksa lalu mereka berdua tersenyum bersamaan.


Rayn keluar bersama Iksa mencari Asyad yang entah berada dimana, lalu mereka memutuskan untuk mencari makan siang lebih dulu barulah bertemu Asyad.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hahaha pasti nanti ending kok tenang aja aku gak akan ngegantungin paling2 kalau tiba2 mendadak ini otak gak ada inspirasi๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ ngilang gitu aja akunyaโœŒ


Yang kangen Mama Iksa dan Papa Asyad ini aku kasih scene nya, si Papa keluarnya marah2 mulu yah di chapter ini๐Ÿ˜๐Ÿ˜


Tungguin besok pasti ada yang manis2 di chapter selanjutnya.


Happ Reading ๐Ÿ“–๐Ÿ“–