
Bandara Internasional Juanda Surabaya
Terlihat teman – teman Asyad yaitu Bara, Fery, Nela, Venya dan Luna mereka semua mengantar kepergian Asyad.
“Bro hati – hati ya di negeri orang, eh di sana hidupnya bebas banget loh bro, kau bisa cari cewek – cewek bule di sana seneng deh rasanya,” celetuk Fery menggoda Asyad.
“HEEE yang benar saja kau, aku kesana buat kerja bukan main – main sama cewek,” jawab Asyad tak terima dengan tuduhan temannya.
“Ya kali bro kau nemuin pujaan hati di sana,” Fery mengedip – ngedipkan matanya yang tengah menggoda Asyad.
“Apaan sih Fer, jangan Syad cari yang dalam negeri aja, lagian di sana ceweknya terlalu vulgar bahaya buat matamu Syad,” sergah Venya yang tak mau kalah dengan Fery.
“Udah deh kalian apaan sih, Asyad ini mau pergi sebentar lagi pesawat Asyad akan lepas landas, buruan gih Syad ntar ketinggalan pesawat loh! ,” pisah Nela menengahi perdebatan Venya dan Fery.
“Hati – hati bro!,” Bara memeluk tubuh Asyad.
“Hati – hati ya Syad!,” peluk Luna sambil meneteskan air matanya karena ia begitu sedih bahwa sahabatnya akan pergi jauh meninggalkannya, Luna pun sebenarnya menaruh hati pada Asyad namun ia tak berani mengungkapkan karena baginya persahabatan akan jauh lebih mendekatkan dirinya daripada dengan sebuah cinta yang sebentar.
Asyad pun meninggalkan sahabatnya sesaat berbalik badan dan melambaikan tangannya untuk salam perpisahan.
Di dalam pesawat dengan sangat nyaman ia hanya merenung dan sesekali memikirkan kekasihnya Iksa, yah, Asyad masih menganggap Iksa sebagai kekasihnya ia hanya berniat untuk berpisah jarak bukan untuk berpisah hubungan karena sungguh dalam hatinya ia sangat mencintai Iksa lebih dari apapun. Mungkin pertemuan mereka sangat singkat namun bagi Asyad hubungannya dengan Iksa tak lebih hanya sekedar sepasang kekasih namun baginya Iksa adalah hidupnya. Ia rela meninggalkan Iksa begini karena utusan ayahnya.
***
Sebelum keberangkatan Asyad di kediaman rumahnya
Saat Asyad, Ayah Wiliam dan Mama Samira berkumpul di ruang makan untuk makan siang tiba – tiba Asyad membicarakan tentang hubungannya dengan Iksa kepada mereka, Asyad hanya ingin kedua orang tuanya bisa merima hubungannya dengan Iksa.
“Ayah,” panggil Asyad.
“Ada apa? muka kamu serius sekali nak,” tanya Wiliam heran.
“Asyad jatuh cinta sama seseorang yah rencananya Asyad bakal serius sama dia.”
“Oh iya, anak ayah lagi kasmaran ternyata, okelah jatuh cinta memang hal yang wajar bagi anak seumuran kamu ayah gak akan memilih siapa orang yang kamu cintai asal ia baik dan tulus sama kamu,” tutur Wiliam pada Asyad.
“ngomong – ngomong siapa wanita yang sudah membuat hati anak kesayangan Bunda akhirnya jatuh cinta?” tanya Samira sambil membelai lembut rambut Asyad bak seperti anak kecil.
“Dia masih sekolah Bun, dia temen satu sekolah dengan Nela namanya Iksa lebih tepatnya Armela Iksaria ma,” jawab Asyad Nampak begitu canggung dengan pertanyaan mamanya.
“Bunda seperti tidak asing dengan nama itu, ahh sudahlah yang penting kalau menurut kamu dia baik dan pantas buat kamu Bunda percaya dengan pilihan kamu Syad,” ucapnya sambil sedikit memikirkan nama yang tak asing di ucapkan Asyad.
“Tunggu dulu! kalau kamu memang serius sama dia kamu harus bahagiain dia dan gak mungkin kan dengan status kamu yang masih pengangguran itu kamu mau nikahin anak orang,” ucap Wiliam yang ingin mengatakan sesuatu pada anak semata wayangnya.
“Asyad akan mencari pekerjaan kok yah,” jawab Asyad.
“No.....kamu akan ayah pekerjakan ke jerman mengurus cabang hotel ayah disana.”
“Apa??? Ayah bercanda kan sama Asyad, ayolah yah kanan tangan papa itu banyak apa iya harus Asyad yang mengurus pekerjaan di sana,” rengeknya tak mau menerima tawaran ayahnya.
“Jangan bantah ayah, ini demi kamu juga setelah mengurus hotel cabang ayah kurang lebih sekitar 2 tahun sampai ayah mendapatkan orang yang bisa ayah percaya mengurus hotel disana, setelah itu kau kembalilah dan ajak lah gadismu itu menikah,” jelas sang ayah hingga membuat Asyad terkejut.
“Ayah serius bakal setujuin hubungan aku sama Iksa?” tanyanya dengan hati yang berbungah – bungah.
“Iya ayah serius kapan ayah bohong sama kamu? dan tunggu......kepergian kamu ke jerman jangan pernah membuat gadismu itu menunggu, pamit lah sama dia kalau kalian akan pisah jarak karena ayah masih belum yakin dengan keseriusanmu itu mana tau kau di jerman asyik memadu kasih dengan wanita lain,” ucapnya Wiliam sambil terkekeh di depan Asyad.
“Gak mungkin la yah, Asyad serius sama Iksa Asyad gak akan pernah mempermainkannya, ayah ini akan sangat sulit untuk memberi tau Iksa," rengeknya pada Wiliam.
“Anak ayah ini seorang pemimpin ayah yakin kau bisa mengatasinya, kau ingin kelak berbahagia dengannya kan?” lirik Wiliam dengan melihat wajah Asyad yang begitu sendu.
“Bunda yakin kamu pasti bisa nak,” ucap Samira menyemangati anaknya yang terlihat murung.
***
Setelah kurang lebih 3 jam perjalanan, pesawat pun transit terlebih dahulu di Bandara Changi, Singapura. Baru setelah itu perjalanan akan di lanjut lagi selama 13 jam 30 menit ke Bandara Dusseldorf dengan pesawat yang sama.
Tidak ada yang bisa Asyad lakukan di dalam perjalanan selain hanya tidur dan mendengar musik terkadang ia pun melihat pemandangan dari ketinggian pesawat.
Perjalanan panjang yang sangat melelahkan akhirnya Asyad sampai di hotel miliknya di kota Dusseldorf yang sudah di sambut oleh para GM dan seluruh staff karyawannya. Ia pun segera check in dan masuk ke kamar hotel dengan nomor 612, ia pun mengambil kunci password nya dari tangan resepsionis hotel dan mencari nomor kamarnya. Setelah tiba di pintu kamarnya ia pun menekan nomor password di gagang pintunya dan pintu pun terbuka. Asyad langsung merebahkan tubuhnya yang sudah sangat lelah akibat perjalanan panjang matanya pun terpejam.
Keesokan harinya Asyad mulai melakukan pekerjaan sesuai instruksi dari ayahnya karena memang Asyad yang masih baru maka ia di temani asistennya Rangga yang sudah di utus ayahnya untuk memberi pembelajaran Asyad mengurus hotelnya di usianya yang menginjak 25 tahun. Umur Rangga 6 tahun lebih tua dari Asyad sosoknya yang sangat berwibawa dan bijaksana membuat dengan mudah seorang Wiliam Martin memberi kepercayaan kepadanya.
Asyad pun memulai mempelajari karateristik hotelnya dan berkas – berkas yang sudah diberikan Rangga kepadanya untuk di pelajarinya.
*
“Hay Sa,” sapa Nela yang tiba – tiba mengagetkan si Kila.
“Kau, bisa gak sih kalau gak ngagetin Nel,” sungut Kila yang emosi karena tersedak makanannya.
“Yeee kau nya aja tu yang makannya gak ati – ati pakek nyalahin aku lagi,” balas Nela tak terima.
“Udah deh kalian ribut mulu, Ada apa Nel?” tanyanya pada Nela.
“Hmmm emang kalau aku nemuin sahabat aku harus yah ada apa apa nya?”
“Bukan gitu Nel kau jangan salah paham dulu,” jawab Iksa berusaha merubah kata – katanya.
“It’s ok Sa, aku gak masalahin itu, aku Cuma mau tanya kemarin kau baca gak surat yang aku taruh di mejamu?” tanyanya pada Iksa.
“Surat?” tanya Iksa sedikit bingung.
“Oh surat yang kemaren itu loh Sa yang mau di buka terus kau malah masukin lagi ke sakumu,” jawab Kila mengingatkan.
“Astaga iya aku baru ingat, itu surat darimu? Kenapa kau kasih aku surat Nel?”
“Itu surat dari Asyad Sa aku di suruh Asyad buat ngasih ke kamu dan aku di suruh ngasihnya diem – diem aja tapi....” jawaban Nela pun menggantung terpotong oleh Iksa.
“Asyad? Dia yang ngasih surat itu? tapi maaf aku belum membacanya, entahlah aku tak tau kemana surat itu mungkin sudah hanyut bersama mesin cuci waktu di cuci,” jawabnya malas.
Kila dan Nela hanya saling pandang melihat raut wajah sahabatnya berubah sendu seakan malas membahas seputar Asyad.
“Sa, surat itu di buat Asyad sebelum ia pergi ke jerman, aku gak pernah tau apa masalah kalian yang aku tau Asyad masih menanam cinta terlihat di matanya yang begitu sedih harus meninggalkanmu, surat itu ia kirim agar kau menemuinya di bandara namun sayang orang yang paling ia tunggu malah tak ada batang hidungnya,” jelas Nela pada Iksa.
“Tunggu! Bukannya Asyad sendiri yang minta hubungan mereka berakhir,” sela Kila yang Nampak bingung.
“Berakhir? Kau sama Asyad putus Sa?” tanya Nela terkejut.
“Iya, dia sendiri yang menginginkannya kenapa juga dia harus menyuruhku datang, ah sudahlah aku muak membahas tentang dia, aku balik kelas duluan,” Iksa pun pergi meninggalkan kedua sahabatnya.
*
Hari ini adalah penentuan kelulusan para siswa siswi SMK Bhakti Alam, mereka semua berebut melihat nilai kelulusannya di mading sekolah, Iksa yang melihat nilainya yang memuaskan ia sungguh nampak bahagia karena menduduki peringkat ke 2 kelulusannya, sedangkan peringkat pertama di raih oleh Kendra anak Multimedia.
Kebahagian yang terpancar dari para siswa siswi pun terlihat begitu heboh di kelas mereka masing – masing pasalnya mereka sudah menentukan universitas mana yang akan mreka tuju. Tak terkecuali Iksa yang sudah menetapkan pilihannya untuk meneruskan study nya di daerah kelahirannya.
\=\=\=\=\=\=
Makasih yang udah setia membaca, di baca aja aku tuh udah seneng banget kalian bisa lihat karya ku.
🤗🤗🤗🤗