
Setelah berbenah di kamar mandi akhirnya Iksa keluar dengan menggunakan pakaian yang sama yang semalam ia pakai tidur, melihat itu Asyad pun bergegas mendekati Iksa.
“Kenapa kau masih menggunakan baju semalam?” tanya Asyad.
“Memangnya kenapa?” tanya Iksa balik pada Asyad.
“Kau ini, selalu balik bertanya, memangnya kau tidak mandi kenapa harus pakai baju ini lagi, itu aku sudah menyiapkan pakaianmu,” tunjuk Asyad pada sebuah pepper bag yang Iksa yakini itu adalah sebuah baju untuknya.
“Tidak, aku memang tidak mandi aku takut kau berbuat macam-macam padaku.”
“Oh astaga sayang kenapa kau berpikiran negatif tentang diriku, apa aku serendah itu padamu,” ucap Asyad menundukkan
wajahnya agar lebih jelas melihat wajah sang kekasih.
“Iya, buktinya semalam kamu mengingkari janjimu sendiri, katanya kau tak akan macam-macam tapi nyatanya kau malah tidur denganku pakai peluk-peluk pula aku kan takut,” ucap Iksa memojokkan kata-kata Asyad.
“Dengar! aku memang tidak macam-macam padamu sayang, aku kemarin tak bisa tidur di sofa sayang badan aku sakit semua lalu aku pindah ke ranjang entahlah bagaimana bisa aku memelukmu tapi sungguh itu nyaman sekali namun lihatlah saat kau bangun bajumu masih utuh di tubuhmu aku tidak melakukan hal yang aneh-aneh saat kau tidur kita hanya berpelukan sepanjang malam, lagian sebentar lagi kan kau akan menjadi istriku yah hitung-hitung buat belajar jadi istri yang baik,” jelas Asyad yang langsung mendapat jitakan di kepalanya.
“Aw, sakit sayang kau kasar sekali sih sama calon suami sendiri,” ucapnya dengan mengusap-usap kepalanya.
“Biar tau rasa,” usap Iksa ketus namun tetap sayang.
“Ya sudah kamu mandi sayang atau aku mandiin nih?” Goda Asyad.
“Apaan sih tidak, aku tidak mau mandi, kau saja yang mandi aku akan pulang dengan baju ini saja,” tegas Iksa benar-benar tak mau di bantah.
“Ya sudah terserahmu saja, aku akan mandi, setelah itu aku antar pulang,” Asyad pun langsung menuju ke kamar mandi melakukan ritual mandinya.
Sembari menunggu Asyad yang sedang mandi Iksa berkelana mencari tahu isi kamar Asyad, saat memutari sebuah meja ada sebuah foto yang menarik perhatiannya. Foto tersebut adalah foto Asyad saat bersama sahabatnya waktu ia masih kecil.
“Dari kecil sampai sekarang dia memang selalu tampan pantas saja kalau memang banyak gadis yang terpesona,” ucap Iksa bermonolog yang ternyata di dengar oleh Asyad yang memang sedang berdiri di belakangnya yang baru saja menyelesaikan ritual mandinya.
“Oh iya, jadi kau mengakui kalau aku tampan sayang?” ucap Asyad mengagetkan Iksa.
“Kau, kenapa di sini?” entah pertanyaan aneh apa yang terlontar dari mulut Iksa ia hanya merasa gugup saja karena seseorang yang kini berdiri di hadapannya tidak menggunakan pakaian melainkan hanya handuk yang melilit di tubuhnya dari pusar hingga lutut saja.
“Kenapa kau bertelanjang dada, kau tidak sopan sekali, cepat pakai pakaiannmu!” Pinta Iksa sedikit gugup melihatnya.
“Hmmm, kau mengalihkan pembicaraan, sungguh tidak asyik sekali dirimu.” Ucapnya lalu pergi dari hadapan Iksa untuk berganti pakaian, Iksa pun hanya tersenyum saja melihatnya ia tak menyangka sekali laki-laki yang kini berada saat ini adalah orang yang akan menjadi suaminya, semoga saja.
Setelah selesai dengan semuanya Asyad pun mengantar Iksa kembali pulang ke rumahnya dan tak lupa pakaian yang di berikan Asyad pun di bawanya karena memang Asyad membelikan pakaian tersebut untuk kado kencannya waktu itu namun gagal. Di dalam mobil tampak hening tak ada yang memulai untuk bicara sama sekali. Setelah sampai di rumah Iksa mereka pun turun dari mobil lalu masuk ke dalam rumah bertemu orang tua Iksa.
“Hmmm, calon pengantin kita sudah pulang Dad,” ucap Lena setelah membuka pintu rumahnya.
“Pagi Mom,” ucap Iksa.
“Haduh calon menantu jangan panggil tante panggil Mommy juga seperti Iksa, iya tidak apa-apa kemarin kan sudah izin juga sama Mommy, jadi Mommy percaya kalau Iksa sama kamu.” Ucap Lena.
“Baiklah Mommy,” Ucap Asyad sedikit kaku.
Mereka masuk ke dalam rumah Iksa ta lupa Lena menyuruh mereka untuk sarapan bersama, mereka menikmati hidangan makan pagi dengan begitu nikmat seolah mereka memang benar-benar menjadi sebuah keluarga. Setelah menuntaskan acara makan tersebut Asyad pun minta izin untuk segera pergi karena memang ada urusan pekerjaan yang memang tidak bisa di tunda.
“Sayang aku pergi dulu ya,” ucap Asyad saat Iksa mengantarnya ke depan rumahnya.
“Iya kamu juga hati-hati, jangan terlalu capek kerjanya, jangan lupa makan dan jangan sampai telat makan,” ucap Iksa begitu perhatian hingga tak sadar kalau kata-katanya membuat Asyad tersenyum senang.
“Aku berasa sedang berpamitan dengan istriku, perhatian sekali dengan suaminya,” Iksa hanya tersenyum mendengar penuturan Asyad padanya.
“Sudah cepat berangkat sana, nanti terlambat.”
“Morning kiss nya mana, kan kalau suami berangkat kerja istrinya harus memberi morning kiss dulu baru suami berangkat kerja,” godanya.
“Apaan sih, udah sana berangkat tidak ada morning kiss, kita belum jadi suami istri jadi tidak ada yang begituan.”
“Ayolah sayang, sekali saja!” pinta Asyad.
“Tidak!” namun Asyad dengan cepatnya menyambar bibir Iksa sekilas lalu berlalu pergi dari hadapan Iksa sebelum terkena amukannya.
“ASYAD….” Yang di panggil pun segera masuk ke dalam mobil sambil tersenyum puas melihat raut muka Iksa yang sungguh terkejut dengan perlakuannya.
Setelah Asyad pergi dari hadapan Iksa, Iksa pun tersenyum seorang diri membayangkan perlakuan Asyad padanya sungguh Iksa benar-benar sangat senang meski saat di depan Asyad terlihat jengkel, ya begitulah wanita.
*
Asyad yang kini sudah berada di dalam kantornya ia pun segera meneliti semua dokumen dan bukti untuk memberi pelajaran kepada seseorang yang memang sudah membuat sang pujaan hatinya hampir saja tidak tertolong.
“Aku yang akan mengurusnya sendiri, jadi pekerjaan kalian sudah selesai aku akan segera pergi, terima kasih sudah melakukan penyelidikan dengan sangat rinci, ini uang untukmu,” Asyad menyodorkan sebuah amplop coklat yang di dalamnya berisikan uang bayaran orang tersebut.
“Terima kasih Tuan, saya pamit undur diri,” ucap orang tersebut dan hanya mendapat anggukan dari Asyad lalu berlalu dari ruangan.
“Kau akan menerima semuanya Luna, kita memang sahabat namun hukum tetaplah hukum aku tidak akan membiarkanmu bebas sekarang.” Ucap Asyad di dalam hatinya ambil memandangi surat-surat dan dokumen tersebut.
“Silvi, hubungi pak Johan suruh ia siapkan mobil, saya akan ke suatu tempat.” Pintanya pada sekretaris pribadinya.
“Baik pak.” Sekeretaris itu pun langsung berlalu dari hadapan Asyad dan pergi menghubungi seseorang.
Asyad pun kini sudah berada di dalam mobil ia berada di sebuah tempat yaitu bangunan yang amat mewah dimana tempat itu adalah sebuah perusahaan yang menaungi Luna dalam dunia modeling nya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=