
Seusai berbincang dengan sahabatnya Iksa pun masuk ke dalam rumahnya, terlihat keluarga Asyad sedang berdiri hendak meninggalkan meja makan tersebut.
“Hai sayang Bunda pamit pulang dulu ya,” ucap Samira kepada Iksa.
“Loh Bunda mau balik ke Surabaya?” Tanya Iksa.
“Tidak, Bunda menginap dulu di hotel, baru besok Bunda dan Ayah balik ke Surabaya.”
“Ya sudah Iksa juga mau balik ke hotel, kan Asyad nyuruh Iksa tinggal di sana.” Ucap Iksa dengan polosnya, membuat Asyad terkejut.
“Ha....jadi kalian tinggal bersama, emang kamu ya gak bisa apa sabar menunggu main culik anak orang saja.” Ucap Samira menatap tajam kepada Asyad.
“Bun, jangan salah paham dulu Iksa tinggal di kamar berbeda denganku.” Ucap Asyad jujur.
“Sayang,” panggil Lena.
“Bagaimana kalau kamu ikut Ibu tinggal di sini? Ini kan juga rumah kamu sayang.” Ucap Lena.
“Iya, lebih baik kamu tinggal di sini Iksa, kalian butuh waktu bersama agar saling memahami,” Ucap Maria menyela ucapan Lena.
“Mau ya Sayang, Ibu ingin dekat denganmu.” Mohon Lena pada Iksa.
“Emmm,” Iksa melirik Asyad yang tak melihatnya.
“Bagaimana Iksa?” Tanya Lena.
“Emmm,” Iksa masih tak menjawab ia masih melirik Asyad yang tak juga melihatnya, padahal ia butuh jawaban darinya.
Samira yang mengerti arah pandang Iksa ia pun bergegas mencubit lengan Asyad yang sedari tadi tak melihat ke arah Iksa “Heiii kau, dia butuh jawaban darimu, kau jangan sok tidak tau, mau Bunda jewer telinganmu.”
“Bunda apaan sih, Iya terserah Iksa dia kan yang menentukan pilihannya.” Ucap Asyad seakan kesal dengan semua keluarganya yang terkesan membuatnya harus menjauh dari kekasihnya.
“Kalau kau tak mengijinkan, aku akan tetap tinggal di hotelmu.” Ujar Iksa yang membuat Asyad terkejut seakan ia memaksa Iksa ikut dengannya.
“Eh, itu terserah kau saja Sa, aku juga ingin kau bisa menjalin hubungan yang lebih baik lagi dengan Bu Lena.”
“Sungguh!!! baiklah aku mau Bu, aku mau tinggal bersama Ibu, Mama juga kan bakal tinggal di sini bersama kita?” ucap Iksa seketika bibirnya melebar dengan raut wajah yang bahagia.
“Iya untuk malam ini, Mama bakal menginap di sini, namun besok Mama harus kembali ke Surabaya karena Mama masih mempunyai tanggung jawab di sana.” Ucap Maria.
“Kenapa Mama harus pergi, memangnya Mama udah gak sayang sama Iksa.”
“Sayang, di sana Mama ada pekerjaan yang harus Mama urus, lagian kan kamu masih kuliah di sini lebih baik jika kamu tinggal bersama Ibumu, kalian juga butuh waktu untuk saling memahami, plisss Iksa jangan berfikir Mama tidak sayang dengan Iksa Mama sungguh sangat sayang denganmu nak, namun kini Ibumu jauh lebih berhak atas dirimu.”
“Tenang saja Iksa, Ibu akan selalu memberi kamu kebebasan dengan Mamamu,” ucap Lena menenangkan Iksa.
“Baiklah Ma.”
Asyad yang melihat itu senyumnya tersungging akan kebahagiaan Iksa dengan keluarganya namun di satu sisi dia harus berjauhan dengan Iksa, “Hufft, kenapa harus begini sih, aku bakalan jauh lagi darinya,” ucap Asyad dalam hati.
*
Keesokan hari setelah mengantar kedua orang tuanya ke bandara Asyad pun kembali ke hotel tak lupa sebelum itu dia mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.
“Halo sayang, bagaimana tidurmu apakah nyenyak?”
“Kurasa aku terlalu merindukanmu, aku bahkan bermimpi kau sedang di sisiku membuat tidurku sangat nyenyak sekali.” Jawab Iksa di sebrang telpon.
“Bahkan aku tak sabar ingin segera menikahimu, agar aku tak lagi jauh denganmu, sungguh ini menyiksaku.”
“Sabarlah, setelah aku lulus baru bawa aku ke pelaminan bersamamu.” Ucap Iksa menutup mulutnya entah mengapa ia bisa berkata seperti itu.
“Pasti sayang, aku akan segera membawamu pergi bersamaku.” Senyum lebar pun menghiasi wajah tampan lelaki yang sedang di landa cinta.
“Ya sudah aku tutup dulu, ada Ibu di sini.” Iksa pun langsung mematikan ponselnya sepihak tanpa menunggu jawaban dari Asyad.
Ia pun menuju ruangannya dan berkutat dengan pekerjaannya.
Sementara di rumah Lena Wijaya Iksa sedang bermain-main dengan dapurnya, Ya, dia memang sangat lihai dengan urusan dapur selain karena pendidikannya yang sejalan dengan hobinya dia memang tercipta menjadi gadis yang ahli di bidang makanan.
“Kau sedang berbicara dengan siapa sayang?” tanya Lena saat Iksa mematikan ponselnya.
“Oh ini Bu, dari Asyad biasalah pembahasan pagi yang tidak penting.” Jawab Iksa berbohong.
“Kau ini, oh iya apa kamu dan Asyad sudah lama berhubungan?” Tanya Lena yang kini duduk di meja makan melihat Iksa yang sedang memainkan peralatan dapur yang begitu piawai.
“Emmm sudah lama Bu, memangnya ada apa?” tanya Iksa balik.
“Begini sayang bukan apa-apa ya namun dulu waktu Ibu tak sengaja bertemu seseorang dia pernah mengaku menjadi kekasihnya.”
“Benarkah, apa Ibu tidak salah lihat maksud Iksa apa ibu melihat jelas kalau memang itu Asyad?” tanyanya yang masih belum mempercayai ucapan Lena.
“Entahlah, namun gadis itu mengiyakan ucapan Ibu saat Ibu bilang bahwa Itu Asyad.”
“....” Iksa nampak diam dan berpikir.
“Ya sudah jangan pikirkan mungkin saja nama Asyad memang banyak, kamu jangan terlalu memikirkan ucapan Ibu,” ucap Lena menghampiri Iksa dan segera menggenggam tangan Iksa agar tidak terlalu berfikir tentang apa yang ia katakan.
“Ibu hanya ingin anak ibu mendapatkan kebahagiaannya, Ibu tidak mau kamu harus tersakiti untuk yang kesekian kalinya nak.” Mecoba memberi ketenangan Iksa Lena pun meraih tubuh Iksa dan memeluknya penuh kasih sayang.
“Terima kasih Ibu, Iksa merasa bahagia sekali mendapat pelukan Ibu seperti ini.”
“OH...sayang bahkan kamu bisa mendapatkan pelukan ini setiap hari, oh tidak setiap jam setiap menit bahkan setiap detik Ibu akan selalu berikan untukmu, asal Iksa selalu merasa bahagia.”
“Ibu, Iksa sayang Ibu.”
“Ibu juga sayang, maafkan Ibu ya sayang.”
Melihat sahabat dan anaknya begitu bahagia Maria juga merasakan kebahagiaan yang sungguh tiada tara, selama ini ia juga berusaha mendekatkan hubungan ibu dan anak itu namun karena pemindahan kerja ia harus rela memisahkan Ibu dan anak itu.
“Ehemm,” suara Maria berdehem memecahkan haru kebahagiaan antara ibudan anak tersebut.
“Mama.”
“Maria.”
“Maaf harus mengganggu, Len, hari ini aku harus kembali ke Surabaya, jadi aku mohon kamu jaga Iksa baik-baik ya,” ucapnya pada Lena
“Pasti Mar, terimakasih banyak atas semua kasih sayangmu pada Iksa, ia bisa merasakan kebahagiaan memiliki orang tua, aku harap kau segera mendapat jodoh agar kau hidup tak sendiri lagi.”
“Oh Len, kau tak pernah berubah, aku masih kuat hidup sendiri, lagian aku ini juga sudah tua untuk apa mencari pasangan.” Ucap Maria.
“Iya itu terserah kau saja, ingat Mar, kau tak selamanya akan sendiri suatu saat kau pasti akan menemukan pasangan yang akan selalu mendampingimu, do’aku untukmu sahabatku.”
“ Teriama kasih.” Ucap Maria.
“Kau ingin mengantarku ke bandara?” tanya Maria.
“Aku akan mengantar Mama ke sana.” Tawar iksa pada Maria.
“Terima kasih sayang.”
“Ayo aku juga akan mengantarmu Maria.”
Setelah masakan Iksa selesai mereka pun makan bersama lalu mengantar Maria menuju bandara.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=