Sebintang Rindu

Sebintang Rindu
Part 21_Minta Tolong



Sesampainya di depan tempat kos Iksa, Asyad pun menghentikan mobilnya. Iksa melepaskan seatbelt nya lalu turun dari mobil, namun tiba – tiba tangan Asyad meraih tangan Iksa sebelum Iksa turun.


“Ada apa?” tanya Iksa sambil menoleh ke arah Asyad.


“Aku mau bertemu kau besok ada yang ingin aku bicarakan, kau sedang tak sibuk kan?”


“Maaf Syad, aku gak bisa aku sibuk.”


“Pliss, aku janji gak akan ngulangin perbuatanku yang tadi Sa.”


“Aku gak janji,” seru Iksa sembari melepaskan tangannya dari sentuhan Asyad, membuka mobil dan Iksa pun turun meninggalkan mobil Asyad tanpa menoleh atau menyapa Asyad, Iksa pun langsung masuk ke dalam kos nya.


Asyad yang sedang berdiam diri didalam mobil hanya memandangi Iksa yang berlalu dari hadapannya kini dan menatap nanar rumah yang kini di tempati Iksa sebagai rumah sementaranya.


*


“Hai bro bengong aja kau,” ucap Bara menghentikan lamunan Asyad.


“Apaan kau Bar,” jawabnya sedikit ketus.


“Kau itu yang nyuruh aku kesini terus sekarang kau malah melamun tak jelas seperti itu, mirip patung pancoran aja kau,” ucap Bara sambil meneguk minuman bersoda di tangannya.


“Shit!! Enak aja kau muka ganteng gini kau bilang patung pancoran,” jawabnya kesal tak terima dengan pernyataan Bara.


“Ya kau nyebelin banget aku kira ada hal penting apa gitu menyuruhku kesini eh tiba disini cuma liatin orang bengong, kalo gak ada yang penting aku balik nih,” gertak Bara yang juga mulai kesal dengan sikap Asyad.


“Eh kau apaan sih kenapa jadi kau yang kesal seperti anak cewek aja, sini dulu lah Bar aku mau ngomong sesuatu ini penting menyangkut hidupku,” ucap Asyad sambil menyuruh Bara duduk di hadapannya.


“Oke, sekarang apa yang mau kau katakan hah?”


“Aku mau ngajak Iksa nikah,” ucap Asyad tanpa berbasa basi.


“Whatttt??? Gak salah denger kan aku?” jawab Bara terkejut yang dikatakan Asyad karena menurut yang Bara tau Asyad nya ini sudah berpisah dengan Iksa selama Asyad pergi ke Jerman, meskipun Bara tau rencana Nela yang ingin membuat Iksa dan Asyad kembali tapi tak di sangka langka Asyad ingin sejauh ini untuk kembali dengan gadis pujaan hatinya itu.


Asyad yang hanya menganggukkan kepala sontak membuat Bara bertanya tanya akan keputusan temannya yang tiba – tiba itu.


“Kenapa tiba - tiba sekali Syad?”


“Ini sama sekali gak tiba – tiba Bar, aku udah merencanakan ini setelah aku jadian dengan Iksa, dan kau tau Bar aku pergi ke Jerman itu tak lain karena keinginannku untuk menikah dengan dia.”


“Bentar bentar aku makin bingung dengan apa yang kau katakan barusan, kau pergi ke Jerman supaya kau bisa menikah dengan Iksa? tapi secara tidak langsung kau menyakitinya dengan melepasnya begitu aja setelah sehari kalian jadian, sebenernya apa sih yang ada di otakmu bro?” Bara pun menjadi semakin geram dengan Asyad karena dia berfikir Asyad sedang mempermainkan sebuah perasaan dan pernikahan.


“Bar, aku gak tau kalau dulu keputusanku bakalan membuat Iksa jadi sakit hati banget denganku,” terang Asyad lalu menjelaskan semua apa yang terjadi sebelum melepas Iksa pergi saat kejadian itu dan sempat memberikan surat kepada Iksa sebagai bukti penjelasan yang sampai sekarang pun Iksa tak membacanya.


Bara pun cukup memahami apa yang Asyad sampaikan kepadanya menurutnya ini memang hal sepele namun siapa sangka kalau ada orang yang menganggap ini kejadian yang menyakitkan iya Iksa dia benar – benar menganggap Asyad tengah membuangnya begitu saja. Ia pun mencoba membantu sahabatnya yang sedang kalut.


“Kita butuh bantuan Nela, Syad, kau tau sendiri kan Nela sekarang deket banget sama Iksa, gue juga bakal minta bantuan sama sahabatnya juga si Kila.”


“Kau tak lagi memanfaatkan kesempatan ini kan, Bar?” tanya Asyad menyelidik setelah mendengar nama Kila di sebut yang ia tau kemaren Bara membawanya pergi.


“Kau ya di bantuin malah menuduhku mencari kesempatan, ya enggak lah ngapain juga aku cari kesempatan, tanpa masalah ini pun aku juga bisa deketin dia sendiri.”


“Tu kan ketauan, kau lagi ngincar si Kila pasti.”


“Syad,” dengan tatapan sinis Bara yang di tujukan ke Asyad agar berhenti meledeknya.


“HAHAHAHA aku baru ini lihat kau seserem ini biasanya sukanya ngambek kayak anak cewek,” ledek Asyad tak henti hentinya membuat Bara semakin kesal.


“Diem kau!! Aku balik,” dengan sangat emosi karena Asyad yang meledeknya ia pun langsung keluar dari kantor Asyad.


“Jangan lupa Bar bantuin aku,” teriak Asyad kepada Bara yang menjauhi mejanya sambil terkikik geli.


*


Ting


Asyad


Nel kau lagi sibuk?


Nela


Enggak, ada apa Syad?


Asyad


Aku mau minta tolong padamu!!


Nela


Oke, apa?


Asyad


Aku telfon....


Drrrttt....drrrt......drrt


Berganti suara panggilan masuk dari handphone Nela.


“Iya ada apa? kau dari tadi berteleh – teleh banget langsung telfon napa, pakai acara kirim pesan segala,” gerutu Nela kesal.


“Elah Nel, galak banget sih sama temen sendiri, kan kalo langsung telfon takut kau sibuk dan aku ganggu, makanya aku kirim pesan dulu.”


“Okelah, ada apa sih emangnya?” tanya Nela penasaran.


“Mmmmm gimana yah mmmmm....” berfikir.


“Apa sih Syad a em a em aja, mau ngomong apa? aku tutup nih telfon kalo gak ngomong – ngomong.” Gerutu Nela kesal.


“Jangan di tutup napa Nel, bentar lah ini juga lagi mikir.”


“Yah harusnya tadi kau sudah menyiapkan kata – kata sebelum telfon, cepetan gih mikirnya jangan lama – lama, kayak kau telmi saja,” ucap Nela menahan tawa di balik ponsel.


“Hmmmm gini aku mau ketemu Iksa, kemaren aku udah bilang sama dia tapi dianya bilang gak janji katanya sibuk--”


“Eh sibuk, Iksa gak sibuk kita semua lagi free Syad, ini lagi ngumpul bareng, tapi tenang Iksa gak denger aku ngobrol denganmu, ini si Iksa lagi ngantri ngambil makanan.”


“Kau lagi dimana, aku samperin ya.”


“Oke, aku lagi makan di KFC deket kampusku.”


Nela pun mematikan ponselnya tak selang beberapa lama Iksa datang membawa nampan dan meletakkannya di meja hadapan mereka.


“Habis nelfon siapa Nel?” tanya Iksa setelah tau Nela baru menjauhkan ponselnya dari telinganya.


“Oh ini si Bara nih nanya- nanyain si Kila,” jawabnya berbohong dan langsung mendapat pelototan mata dari Kila.


“Dasar pembual,” gumam Kila dongkol kenapa juga bohongnya harus menyangkut pautkan dirinya.


“Ow, iya nih kayaknya Bara tu suka sama kamu deh Kil,” ucap Iksa menambah guratan kesal di wajah Kila.


“Udah makan aja deh,” saut Kila mengalihkan pembicaraan.


Iksa dan Nela pun terkikik melihat wajah Kila yang semakin merah, bukan karena jatuh cinta namun karena semburat kekesalan di wajahnya yang harus di simpan agar tak kecepelosan bicara demi rencana sahabatnya bisa lancar.


\=\=\=\=\=\=