
Keesokan paginya Iksa yang terlihat sudah siap untuk berangkat ke kampus namun saat mengetuk kamar kos Kila tak ada sautan sama sekali “Dimana dia?” pikirnya.
Ia mengetuk kembali kamar kos Kila dan yang di dapatnya hanya sia-sia Kila sama sekali tak menyahutinya di dalam. “Sebenarnya kamu kemana Kil, gak biasanya seperti ini.”
Ia mencoba menghubungi Kila namun tak di angkat, ia mencoba menghubungi Nela,
“Iya sa, ada apa?” tanyanya yang setengah sadar karena terbangun dari tidurnya.
“Kamu sama Kila, Nel?”
“Oh iya kemaren aku ngajak Kila buat nginep di hotel, kakakku nginep di apartmentku, jadi aku males aja kalo harus deket sama dia pasti suka ngresek orang pas tidur jadinya aku ngajak Kila nginep di hotelnya Asyad aja, eh…tunggu tapi aku gak liat Kila Sa, tunggu bentar Sa.”
Iksa menunggu Nela
“Nanti aku telfon lagi Sa, aku cari Kila dulu,” Nela langsung mematikan ponselnya.
Iksa yang semakin bingung malah mencoba menelpon Nela kembali namun malah tak diangkat olehnya. Iksa berangkat ke kampus dengan perasaan gelisah dia berharap Kila sudah ke kampus lebih dulu.
Di kamar hotel Nela
Nela bangkit dari tidurnya dengan keadaan yang begitu berantakan ia pun mencari Kila di setiap sudut ruangan namun ia tak menemukan Kila bahkan tas Kila masih ada di sofa.
“Dimana tu anak kenapa keluar gak bilang-bilang?” gerutunya.
Nela menelpon nomor Kila namun ponselnya malah tidak aktif , Nela merasa panik ia pun keluar kamar hotel dengan keadaannya yang begitu berantakan. Saat ia berjalan mencari Kila ternyata ia tak sengaja bertemu Asyad.
“Asyad.”
“Nela, kau bangun tidur?” Nela mengangguk.
“Dasar tidak tau malu, mandi sana!! liat badan mu berantakan banget.”
“Syad aku nyariin Kila, kemaren aku nginep kesini sama Kila tapi entah kemana dia tiba-tiba ngilang ponselnya juga gak aktif, bisa ****** aku nanti sama si Iksa, dia pasti marah banget kalo sampe Kila kenapa-napa,” ucapnya dengan mimik muka yang terlihat kebingungan.
“Oh itu kemaren dia minta tolong padaku, dia nginep mungkin di Apartment Bara,” mengedikkan bahunya tanpa melanjutkan kata-katanya.
“What???? Kila nginep di apartment Bara, gila tu anak bisa-bisanya nginep di apartment si Bara, gak pamit pula sama aku,” sungutnya.
“Udahlah Nel, biarikan saja, seperti kau tak pernah jatuh cinta saja,” Seru Asyad.
“Eittsss, ini gak ada hubungannya dengan jatuh cinta masalahnya si Kila gak pamit sama aku ini si Iksa juga khawatir sama dia. dan satu lagi aku gak pernah tuh jatuh cinta, kau jangan sok tau ya Syad,” Kilah Nela.
“Hmmm okelah masih setia nih nunggu si doi, sampe gak mau bilang kalo pernah jatuh cinta,” ucap Asyad yang membuat Nela mengingat kembali masa lalunya.
“Apaan sih, nyebelin banget, udah aku mau ke kampus,” tukas Nela.
“Mandi dulu Nel,” teriak Asyad saat Nela berjalan menuju kamarnya.
*
Iksa yang sudah menunggu di kampus, gelisah akan sahabatnya yang tak ada kabar sama sekali belum lagi Nela pun juga belum memberi kabar, raut muka Iksa terlihat tak bersemangat hari ini.
“Hai.”
“Oh eh hai."
“Kenapa Sa? Tumben sendirian nih mana Nela sama Kila?” tanya Kendra mendekati Iksa yang tengah duduk sendiri di depan kelasnya.
“Eng-enggak papa Ken, ini lagi nungguin mereka dateng,” jawabnya.
“Oh…mau ke kantin dulu nyari sarapan, sambil nungguin temen kamu dateng,” ajak Kendra.
“Emmm ya udah kita tunggu mereka di kantin.” Iksa dan Kendra pun berjalan menuju kantin sepanjang jalan mereka saling bicara namun hanya Kendra yang aktif bertanya sesekali Iksa hanya mengangguk dan jawaban yang keluar dari mulutnya hanya kata iya dan tidak.
Mereka memesan makan masing masing namun Iksa hanya minum saja tak bisa makan karena pikirannya masih terpikirkan akan sahabatnya yang tak pulang ke kamar kosnya.
“Kamu gak papa Sa?” tanya Kendra.
“Kamu yakin gak pesen makan?” tanyanya lagi.
“Iya aku lagi gak mood makan Ken.”
Tiba-tiba dari belakang seseorang memanggil Iksa, saat Iksa menoleh betapa lega hatinya ternyata sahabatnya Kila kembali.
“Kila,” Iksa bangkit dari duduknya langsung memeluk Kila.
“Kamu darimana aja Kil, aku khawatir banget tau pas aku panggil kamu di kamar gak ada jawaban sama sekali aku coba telfon Nela katanya kamu gak ada di kamar, kamu dari mana aja?” tanya Iksa beruntun.
“Maaf ya Sa, udah bikin kamu khawatir,” jawabnya merasa bersalah kepada sahabatnya.
Mereka pun akhirnya makan bersama Iksa yang tadinya hanya memesan minum kini memesan makan pula dua porsi untuk dirinya dan juga untuk Kila, Kendra yang hanya melihat pemandangan itu hanya bisa menggeleng-gelngkan kepalanya.
Nela yang saat itu check out dari hotel ia terlihat terburu-buru karena merasa jadwal kelasnya sudah hampir di mulai.
“Gara-gara Kila sialan, mana tas pake di tinggal segala bikin repot aja, awas kau Kil, bisa-bisanya ninggalin aku sendiri dan kau malah asyik-asyikan sama si Bara,” menstater mobilnya sembari mengumpat tidak jelas dan segera menuju kampus.
Sepanjang perjalanan Nela tak henti-hentinya mengumpat, paginya yang terlihat kesal karena di telfon Iksa yang khawatir akan Kila di tambah lagi ternyata Kila malah menginap di apartment Bara membuatnya kesal tak berkesudahan karena Kila tak pamit sama sekali dengannya.
Sesampainya di kampus Nela memarkirkan mobilnya dan keluar dari mobil dengan terburu-buru ia berlari menuju kelasnya yang memang sudah terlambat sepuluh menit. Ia mengikuti pelajaran dengan perasaan kesal, Kendra yang melihat Nela hanya tersenyum saja karena penampilan Nela yang berantakan.
“Hu…..apes banget hari ini, aku kayaknya gak bakal konsen sama ni pelajaran, bener-bener kesel banget aku sama si Kila, dasar Kila…..” tak sadar bicaranya yang mengeras terdengar Kendra di belakangnya.
"Are you okay?"
“Ha…emmm...nggak papa Ken,” jawabnya menoleh ke belakang sesaat lalu berbalik fokus ke depan.
Pelajaran pun telah usai Nela dengan cepat keluar dari kelasnya dan mencari Kila yang ingin dimakinya, belum sampai kelas Kila ia bertemu di koridor kampus Nela langsung menghampiri Kila yang sedang bersama Iksa.
“Kila,” bentaknya.
“Eh kau Nel, ada apa?” jawabnya seakan merasa tak bersalah sama sekali.
“Kau ya Kil, tega banget ninggalin aku sendirian di kamar dan ternyata kau malah pergi ke Apartment si Bara,” maki Nela yang langsung terdengar telinga Iksa.
“Haaa…kamu ke apartment Bara, ngapain Kil?” tanya Iksa penasaran.
“Eh…tunggu dong jangan main keroyok gini, aku bisa jelasin aku menginap karena Bara yang menyuruhku kesana dia sakit.”
Iksa dan Nela yang terlihat bingung ia pun semakin menatap tajam ke arah Kila, “Kenapa kau tak pamit denganku sih Kil, kan kita bisa kesana bareng,” ucap Nela sambil melipat tangannya di dada.
“Sory, aku gak tega bangunin kamu Nel, waktu itu aku niat pergi sendiri namun karena aku gak tau dimana apartment Bara, Bara menyuruhku minta antar si Asyad.”
“Jadi kamu kemaren beneran bermalam sama Bara?” tanya Nela.
Kila menganggukkan kepalanya ia pun tersipu malu dan semakin merasa bersalah dengan kedua sahabatnya.
“Kamu pacaran sama si Bara Kil?” tanya Iksa.
“Eh..enggak kok aku sama Bara gak pacaran aku cuma kasihan aja sama dia, dia minta tolong sama aku jadi aku gak tega kalo nolak permintaannya.” Tatapan wajah Iksa dan Nela semakin tajam membuat wajah Kila memerah.
“Udahlah kalian udah tau alasannya jadi, please, udahan ya berdebat dan nanya-nanyain aku lagi.” Tukasnya pada kedua sahabat-sahabatnya.
Iksa dan Nela hanya tersenyum penuh arti.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Buat kalian makasih banget ya udah setia baca novel aku😊😊😊
Lop youuu.
Buat kalian para silent riders pliss dong jejaknya🤗🤗