
Di saat mereka berempat bertemu pandang terlihat Kila yang tengah menggiring Kendra keluar dengan paksa, tiba – tiba tangan Kendra menepis tangan Kila.
“Kau apa – apaan sih Kil? Kenapa coba kau memaksaku keluar, memang apa yang mau kau bicarakan haa?” sungut Kendra yang tak terima akan perlakuan Kila.
“Kau yang apa –apaan, aku sama temenku itu mau makan bareng sesama cewek, kau ngapain pakai numpang duduk makan di tempat meja makan kita, ha?” sambar Kila balik membentak Kendra.
“Terserahku sajalah ini tempat umum dan restoran ini juga bukan milikmu maupun punyaku, aku disini makan juga bayar, seenaknya aja kau memaksaku buat keluar, aku mau balik!” bentak Kendra namun dengan cepat Kila menarik tangan Kendra.
“Kau apa apaan sih Kil!” tambah Kendra yang semakin geram karena tingkah Kila yang menarik paksa tangannya.
“Udah kau jangan banyak tanya, ikut aku!”
“Dasar sinting kau Kil,” maki Kendra mengumpati Kila.
Dengan tangan Kendra yang masih di tarik Kila, ia membawa Kendra ke halaman restoran. Kila menghentikan jalannya dan duduk di kursi yang menghadap langsung ke arah jalan raya.
“Kau tau Ken, aku sama temenku itu jarang ketemu,” ucap Kila lirih.
“Terus?” tanyanya ketus.
“Aku sudah menunggu momen ini, dimana kita bisa saling sharing masalah kita masing – masing untuk meluapkan rasa sedih dan rasa bahagia kita,” ucap Kila dengan wajah yang menunduk.
Kendra yang semakin tidak mengerti dengan sikap dan kelakuan Kila di tambah pembicaraan yang tidak jelas seperti ini membuat Kendra menjadi bingung.
“Kenapa sih masih berdiri? Duduk sini!” Kila pun menarik lengan Kendra dan menjatuhkannya tepat disampingnya.
“Kau tau di sana Iksa sedang bergelut dengan masa lalunya aku sama Nela sedang membantunya, dan kau datang tiba – tiba seakan mau merusak rencana kita, bukan kita gak mau kau ada di sana tapi untuk saat ini plis, biarin kita menyelesaikan masalah ini,” pintanya.
“Aku makin gak ngerti sama semuanya, ah sudahlah aku mau cabut, males kalo harus denger yang menye menye gini.”
“Ken, maaf ya!”
“Hmmm.” Kendra pun bergegas meninggalkan Kila dan menuju mobilnya, Kila yang melihat Kendra sudah pergi dengan mobilnya ia pun bernapas lega, Akhirnya.... huffft.
“Gak sia- sia aku harus pura – pura sedih di depannya, syukurlah setidaknya dia tidak menanyakan hal yang lebih jauh lagi,” gumamnya selepas Kendra pergi.
Kila pun kembali ke dalam restoran dan menuju mejanya kembali, sesaat Kila agak
canggung karena ia sama sekali belum pernah tau sahabatnya Nela apalagi dekat.
“Sini Kil!” ajak Iksa menyuruh duduk dikursi sebelah yang ia tempati bersama Asyad.
Kila yang melirik Nela, ia pun langsung mengambil langkah dan duduk tepat di samping Bara.
“Hai kak,” sapanya kepada Bara.
“H-h-hai,” jawab Bara terlihat kaget saat Kila langsung duduk di sebelahnya.
“Dasar kau Kil, gak bisa liat yang bening dikit main nempel nempel aja,” gerutu Iksa kesal dengan tingkah sahabatnya.
“Kalau kau tak terima, kau boleh kok nempel – nempel sama aku,” saut Asyad menggoda Iksa.
“Apaan juga.”
“Udah dong kenapa kalian pada ribut sih,” sela Nela di tengah perdebatan Asyad dan Iksa.
Seketika suasana menjadi hening dan Kila yang sedari tadi mencuri-curi pandang kepada Bara, sempat merasa canggung karena Bara yang tak henti hentinya tersenyum.
Seusai mereka makan Iksa pun melihat Arloji di pergelangan tangan kirinya sambil mencari seseorang.
“Kamu mencari siapa sih Sa?” tanya Nela.
“Oh itu mmm mereka gak bisa dateng, Lu-Lu-Luna sibuk banyak pemotretan ya maklumlah namanya juga model papan atas, kalo Venya sama Fery mmm... dia belum bisa kembali karena belum bisa libur,” jawab Nela berbohong.
“Oh ya udah kalo emang gak bisa dateng aku mau pulang lagian udah selesai kan acaranya.”
“Eh oh iya Sa, tapi kayaknya aku gak bisa pulang dulu deh aku ada urusan kamu gak papa kan pulang sendirian?” ucap Nela.
“Oh iya gak papa kan ada Kila yang nemenin aku pulang, ya kan Kil?”
“Eh itu aku aku--”
“Aku mau ngajak pergi temen kamu dulu, boleh kan?” Sahut Bara memotong ucapan Kila.
“Oh iya udah gak papa jagain temen aku ya Kak.”
Bara pun membawa Kila pergi dan di susul dengan Nela yang juga pergi. Sesaat hening di meja makan hanya tersisa Asyad dan Iksa yang tengah duduk.
“Aku pulang duluan ya?”
“Aku anterin pulang ya Sa?”
“Gak usah makasih, aku pulang sendirian aja,” jawab Iksa.
Dengan cepat tangan Asyad menarik pergelangan tangan Iksa “Plis aku anterin ya Sa?”
“Gak usah,” Iksa menepis tangan Asyad dan berjalan keluar restoran.
Asyad pun langsung mengejar Iksa yang tengah keluar dari restoran sesampainya di halaman restoran tangan Asyad menarik kencang tangan Iksa hingga Iksa memutar badan dan langsung terhambur di tubuh Asyad dengan sigap Asyad pun memeluk Iksa.
Sesaat Iksa sadar ia pun memaksa untuk melepas pelukan Asyad namun karena pelukan Asyad yang begitu erat membuat Iksa susah melepaskan tubuhnya dari Asyad.
“Lepasin Syad!” Iksa meronta-ronta ingin di lepaskan.
“Aku Rindu sama kamu Sa, plis kamu jangan ngehindar dari aku.” Ucapnya sembari mengeratkan pelukannya.
“Syad lepasin,” Iksa berusaha melepaskan pelukannya
“Lepasin!!” tambah Iksa dengan suara tinggi dan Asyad pun melepaskan pelukannya, sesaat itu pelukan mereka merenggang.
PLAKKK
Suara tamparan di layangkan dari tangan Iksa “Kau...belum cukup dengan kejadian dulu membuangku seenak jidat kamu, dan sekarang kau kembali dengan mengatakan kau merindukanku dan memintaku buat tak menghindarimu, sungguh lucu,” bentak Iksa dengan wajah geram berlalu dari hadapan Asyad.
“Sa, aku bisa jelasin semuanya,” ucap Asyad lalu menarik lengan Iksa.
“Lepasin Syad, sakit tau.”
“Aku gak bakal melepaskanmu, aku akan mengantarmu pulang,” menarik paksa tangan Iksa dan segera menyuruhnya masuk ke dalam mobil.
Dengan cepat Asyad memutari mobilnya dan duduk di kursi kemudi tak lupa ia langsung mengunci pintu mobilnya.
“Syad aku mau turun, aku bisa pulang sendiri,” ucapnya sambil mencoba membuka pintu mobil yang ternyata Asyad telah mengunci mobilnya.
“Syad buka pintunya aku mau pulang,” tambahnya meneriaki Asyad.
Asyad pun mengemudikan mobilnya “Aku anterin pulang,” ucapnya dingin tanpa melihat Iksa.
Keheningan mencuat di dalam mobil Asyad tak ada satu pun dari mereka yang berbicara hingga akhirnya Asyad menanyakan tempat tinggal Iksa dan Iksa pun menjawabnya lalu suasana kembali hening hingga sampai di depan kos tempat tinggal Iksa.
\=\=\=\=\=\=