
Seusai mengakhiri makan malam mereka pun berpamitan masing - masing saling berjabat tangan dan saling berpeluk ria.
“Nel aku tunggu kau ke sana ok, kita liburan bareng,” ucap Venya pada Nela sembari memeluk tubuh gadis mungil itu.
“Pasti aku pasti kesana Ve, pokoknya aku mau jadi tamu agung disana,” balasnya sembari melepas peluk dari Venya bersedekap kedua tangan di depan dada.
“Siap barbie kece,” ledek Venya sambil menoel hidung mancung Nela.
“Kau ya bikinku malu aja, aku udah gak kayak Barbie lagi looo,” sungutnya sembari memajukan mulutnya.
“Kau selalu jadi Barbie kecenya kita kita bener gak Fer?” ucapnya kemudian melirik ke arah Fery yang memang sedang memperhatikan pembicaraannya.
“Iyap, betul banget Ve, yuk Ve kita pulang,” Fery menarik tubuh Venya dan melambaikan tangan ke depan Nela.
“Kalian hati-hati!” teriak Nela dari kejauhan.
“Nel aku sama Iksa balik duluan ya kalian selamat bersenang-senang kembali,” ucap Asyad pada Nela, Kila dan juga Luna.
Asyad pun menarik tangan Iksa dan membawanya ke dalam mobil sedangkan Nela, Kila dan Luna masih terdiam.
“Jadi gimana Lun, mau bareng kita, apa naik kendaraan lain?” Tanya Nela.
“Nel, kau kan tadi nyuruh dia bareng kita, kok malah kau tanya lagi,” bisik Kila di sebelah Nela.
“Udah diem aja lo Kil!”
“Aku tetep ikut kamu saja Nel, tapi aku mau langsung ke hotel aku gak mau keluar lagi aku capek pengen istirahat.” Jawab Luna sembari berjalan menuju parkiran mobil. “Oh iya mana mobilmu, ayo pulang!” sembari membuka sedikit kacamata hitamnya.
Akhirnya mereka berjalan menuju parkiran mobil dan mencari mobil sedan berwarna pink yang di gunakan Nela.
*
Sesampainya di hotel Luna pun turun dari mobil Nela
“Thanks ya Barbie kece,” sembari menundukkan tubuhnya di kaca mobil Nela yang terbuka sambil mengedipkan satu matanya dan tersenyum devil menatap sinis wajah Nela.
“Okay, aku balik dulu,” jawab Nela.
“Hati – hati Barbie kece!” sambil melambaikan tangannya ke mobil Nela yang sudah melaju menjauhi Luna.
“Dasar Nela, kenapa sih kau harus deketin gadis sialan itu dengan Asyad, aku sayang banget sama kamu Nel tapi apa boleh buat kau sendiri yang berusaha menjauhkan hubungan persahabatan kita, kau sudah tak menganggapku sahabatmu lagi saat kau sudah menemukan sahabat baru yang menurutmu lebih baik dariku, Ok, It’s fine itu maumu Nel, kita akan bersaing dan gadis itu juga akan mendapat akibatnya,” ucapnya sambil menatap mobil Nela yang sudah nampak jauh dari pandangannya.
Luna pun masuk ke dalam hotel tersebut, ia tak langsung masuk ia menunggu di lobby hotel dekat tempat resepsionist. Ia duduk di sofa mewah hotel Asyad dan menunggu kedatangannya.
Saat ia sedang menunggu kedatangan Asyad tiba – tiba ada seorang ibu – ibu duduk di sebelah Luna, ia tak menghiraukannya hanya melirik saja lalu kembali pada tatapan layar handphonenya yang lebih menarik.
“Hay, sedang menunggu seseorang?” Tanya Ibu tersebut.
“Oh iya, anda sendiri sedang menunggu siapa?” Tanya Luna balik.
“Oh saya lagi nunggu suami saya dia sedang berbicara dengan temannya.”
“Oh, anda menginap di sini juga?” Tanya Nela.
“Oh tidak, kami hanya sedang ingin bertemu client kami, kebetulan juga dia menginap di hotel ini jadi sekalian saya kesini, rumah saya dekat hotel ini.”
“Oh…begitu ya…”
“Kalau anda sedang menunggu siapa?” Tanya Ibu tersebut.
“Mmmm menunggu kekasih saya,” jawabnya berbohong.
“Oh kalian menginap bersama?”
“Iya, kamar kami terpisah,” jawab Luna.
“Syukurlah, tunggu tunggu bukankah anda Luna Angelia model yang sedang naik daun itu?” ucapnya sembari memperhatikan wajah Luna.
“Iya bu, Saya Luna Angelia, senang bertemu dengan anda,” sambil tersenyum sinis menatapnya ia hanya mengira ibu tersebut hanyalah fansnya.
“Oow waw, sungguh kebetulan sekali yah, kita kesini menemui manager anda, karena kami ingin bekerja sama mempromosikan produk fashion baru kami.”
“Oh jadi ini ibu Lena Wijaya,” ucapnya terkejut langsung menunjukkan senyum lebarnya.
“Iya, anda benar sekali.”
“Senang bertemu anda ibu Lena,” sambil menjabat tangan Lena dan saling berpelukan
Ditengah obrolan Lena dan Luna tiba – tiba terlihat mata Luna kedatangan Asyad ia pun langsung menghampiri Asyad yang tengah berjalan.
“Hay Syad,” sapanya.
“Hmmm, kau mau apa kesini?”
“Ini tadi gak sengaja ketemu sama ibu Lena dia pemilik perusahaan SF group, dia kesini ingin bertemu dengan managerku jadi aku sekalian saja ngobrol sama beliau,” jawabnya sambil melihat Lena yang tengah duduk memperhatikan Asyad dan Luna.
“Ada apa lagi?” tanyanya kesal.
“Syad tunggu dong, kenapa sih buru buru banget aku mau bicara sama kamu.”
“Kau mau bicara apa? gak ada yang perlu dibicarakan kita gak ada masalah apa-apa,” sambil melepas tangan Luna yang masih menggenggamnya.
“Please Syad, kita ini sahabat kenapa kau jadi berubah begini, aku cuma ingin bicara sama kamu itu aja gak lebih,” ucapnya memelas pada Asyad.
“Ya sudah setelah urusanmu selesai kau bisa ke kamarku!” jawabnya singkat lalu berlalu dari hadapan Luna.
“Makasih Syad, aku bakal kesana sebentar lagi,” ucapnya begitu senang sembari melebarkan senyum kemenangan.
Luna pun menghampiri Lena yang tengah menunggunya di sofa
“Maaf ya bu Lena membuat ibu menunggu, mmm apa urusannya bisa di bicarakan lagi dengan manager saya bu, saya harus pergi dulu ingin menemui kekasih saya,” ucap Luna.
“Oh jadi pak Asyad itu kekasih anda, sungguh beruntung sekali anda memiliki kekasih seperti pak Asyad pemilik hotel Wiliam Group yang tersebar hampir di semua kota di indonesia bahkan hingga ke luar negeri, hotel bintang lima yang tak di ragukan kemewahan dan fasilitasnya,” ucapnya yang sangat kagum akan Asyad namun Lena tak begitu menyukai gadis cantik yang berdiri di hadapannya karena baginya kesan pertama bertemu dengannya ia terlihat angkuh sekali.
“Oh terima kasih ibu Lena Wijaya yang terhormat saya merasa sangat tersanjung, kalau begitu saya permisi bu Lena, mari bu,” ucapnya terlihat sopan karena mengetahui orang di hadapannya seorang pemegang perusahaan fashion yang sukses dan kini tengah memilih Luna sebagai model iklan produk barunya.
“Iya,” jawab Lena sambil tersenyum paksa karena sebenarnya ia tidak begitu suka mengeluarkan senyumnya dengan orang yang sudah angkuh tersebut, kalau bukan karena business mungkin ia tak akan mau melihat gadis itu lagi apalagi sampai bicara dengannya.
Luna pun berlalu dari hadapan Lena, ia pun segera masuk ke kamar Asyad.
Ting tung…….
Suara bel kamar Asyad berbunyi
Asyad yang sedang bertempur dengan pekerjaannya di dalam kamar pun bangkit membuka pintu kamarnya.
“Oh kau Lun,” ucapnya malas.
“Boleh masuk Syad, masa aku harus berdiri di sini.”
“Hmmm,” sambil melebarkan pintu kamarnya, memberi isyarat masuk kepada Luna.
Setelah Luna masuk Asyad pun menutup pintu kamarnya ia pun kembali ke sofa melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
“Apa yang mau kau bicarakan sekarang?” Tanya Asyad.
“Syad, kenapa sih sikapmu jadi dingin sama aku? kau dulu selalu hangat sama aku bicaramu juga tidak ketus seperti ini,” ucapnya sambil memegang tangan Asyad yang sedang sibuk dengan tuts keyboardnya.
“Lun, plis jangan begini, aku hanya gak suka aja dengan sikapmu ke Iksa, kau tau kan Iksa wanita yang selama ini aku tunggu dan aku cari, dan kau tau kita baru saja baikan kemarin, lalu dengan seenaknya kau bicara di resto tadi seakan tidak ada Iksa di sana,” jawabnya sembari melepas tangan Luna yang memegang tangannya.
“Aku kan sahabat kamu Syad jadi ya wajar saja aku bicara seperti itu, aku yakin Iksa juga pasti memakluminya.”
“Aku tau Iksa, dia ke toilet tadi pasti sedang meluapkan kesediahannya aku tau bola matanya yang terlihat sembab waktu dia duduk di sebelahku, dan itu artinya dia baru saja nangis dan itu karena aku lagi, sungguh aku kecewa denganmu, kau yang tak bisa menjaga sikap,” jelas Asyad menuturkan kesalahan Luna.
~Flashback on~
Setiba Asyad dan Iksa di restoran ia pun langsung menuju meja makan yang sudah di pesan sebelumnya olehnya dan juga Bara, Terlihat Bara, Fery, Luna dan Venya yang sudah lebih dulu sampai.
“Hay Syad,” sapa Luna menghampiri Asyad dan memeluknya sembari bercipika cipiki, “Kau apa kabar Syad?” sambil menarik tangan Asyad dan berjalan menuju kursi meninggalkan Iksa yang diam tak bergeming.
“Baik, kau juga apa kabar, eh bentar..Sa?” menengok ke arah Iksa, Iksa yang hanya diam ia hanya menurut saja saat tangan Asyad menarik tangannya ia pun duduk di sebelah Asyad.
“Oh jadi ini kekasihmu yang dulu tak ingin menemuimu saat kepergianmu ke Jerman, sungguh manis sekarang kembali lagi dengan wajah tak merasa bersalah,” sindirnya pada Iksa.
Iksa yang mendengar sungguh hatinya sangat sakit, ia sungguh ingin menangis saat kata-kata itu terlontar dari mulut Luna.
“Hmmm bisa ya saat kekasihnya pergi jauh tak sedikit pun kata sampai jumpa terucap, sungguh miris Syad.”
“Lun, cukup kau tak berhak bicara yang tidak kau tau darinya, aku yang salah jadi kau jangan pernah menyudutkan Iksa seolah olah ia yang bersalah.” Ucap Asyad sedikit membentak karena tak terima dengan tuduhan Luna kepada Iksa.
“Oh oke, Sorry aku hanya sedikit kesal saja Syad, jangan di masukin hati ya Sa,” ucapnya sembari menatap Iksa dengan tersenyum sinis.
“Iya, aku gak papa kok Syad,” jawab Iksa singkat.
“Tuh kan Iksa nya aja santai kok,” sembari melirik Iksa ia memegang tangan Asyad yang berada di atas meja makan.
Iksa pun melirik ke arah jemari Asyad yang tengah di genggam Luna, “Syad aku ke toilet dulu ya, sebentar ya semuanya,” ia pun berlalu dari hadapan Asyad dan sahabatnya menuju toilet dengan mata yang terlihat sudah berkaca kaca.
Dengan perasaan bersalah Asyad memandangi punggung Iksa yang sudah menjauh darinya, “Lun, kau keterlaluan!"
“Hei Lun, kau kalau bicara perasaan dikit dong, kau gak berpikir apa Iksa pasti sakit hati sama ucapanmu,” ucap Bara sedikit kesal karena ulah Luna yang tak bisa menjaga sikapnya di depan Asyad dan juga Iksa.
“Okelah, tenang aja dia pasti juga gak papa,” jawabnya asal yang membuat Asyad semakin kesal di buatnya.
~Flashback off~
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=