Sebintang Rindu

Sebintang Rindu
Part 51_Menyelinap



Sesampainya di rumah Asyad mereka di sambut bahagia oleh Samira, ia begitu bahagia mendapati anak tunggalnya kembali ke rumah bersama calon menantu idamannya memang sedari dulu Samira ingin sekali Iksa menjadi menantunya karena dengan begitu hubungan antara Maria dan Lena tak akan pernah terpisah lagi.


“Ayo sayang Bunda sudah siapkan makan malam untuk kalian!” ujar Samira.


“Terima kasih Bunda,” Iksa sangat bahagia bisa mendapatkan perlakuan yang sangat ramah dari keluarga calon suaminya.


Samira menggandeng menantunya ke meja makan tanpa mempedulikan anaknya yang sedari tadi protes karena perlakuannya yang berlebihan akan calon menantunya.


“Huftt, sebenarnya anak Bunda siapa sih.” Dengusnya lalu berjalan mengikuti Iksa dan Bundanya.


Wiliam yang sedari tadi sudah menunggu di ruang makan ia pun tersenyum melihat istrinya begitu bahagia dengan calon menantunya ya istrinya memang menginginkan anak Maria itu untuk di jadikan menantunya dan ternyata takdir menghendaki permintaannya.


“Oh ya Ayah, Asyad ingin mempercepat pernikahan Asyad dengan Iksa,” ucapnya setelah selesai makan.


“Kau tidak ingin menunggu Iksa lulus dulu nak, kau tau itu akan menganggu pelajarannya nanti, lagi pula hanya tinggal satu tahun saja kenapa kau jadi tidak sabaran,” Wiliam benar-benar tidak habis pikir dengan putranya yang terkadang suka terburu-buru dalam menghadapi situasi.


“Sudahlah sayang, tidak apa-apa lagian kan Iksa bisa kok melanjutkan kuliahnya setelah menikah, Iya kan Iksa? ” Bujuk Samira pada sang suami.


"Emm, Iya Bunda," ucap Iksa.


“Ya sudah terserah kalian saja, Ayah menghargai keputusanmu.”


“Terima kasih Ayah jadi Asyad akan segera menentukan tanggal pernikahan kami,” Senyum Asyad merekah tampak binar kebahagiaan yang terlihat di mata elangnya.


“Jadi kapan kau akan menentukan tanggal pernikahanmu sayang?” tanya Samira kepada putranya tak lupa ia juga melirik melihat ekspresi wajah menantunya yang terlihat merona bahagia mendengar ucapan Asyad.


“Secepatnya, Asyad ingin bulan depan bisa menikah dengan Iksa.”


“Tidakkah terlalu cepat?” tanya Wiliam.


“Bunda setuju, tenang saja sayang, aku akan mengurus semuanya.” Ucap Samira penuh keyakinan.


“Iya sudah terserah saja kalian memang anak dan juga Ibu yang serasi.” Wiliam hanya menggelengkan kepalanya melihat istrinya yang ikut andil dalam urusan anaknya dengan begitu tidak sabaran melebihi calon pengantin.


“Terima kasih Bunda, Bunda memang paling the best.” Ucap Asyad dengan menunjukkan ibu jarinya di depan wajahnya.


Iksa hanya diam sedari tadi di meja makan ia tak ingin ikut andil dalam bicara karena baginya Asyad sudah mempersiapkan semuanya jadi ia hanya menurut saja apa yang akan di lakukan oleh calon suaminya.


Setelah makan malam Iksa di ajak oleh Samira tidur di kamar yang berada di sebelah kamar Asyad yang memang selalu kosong namun masih terlihat rapi dan bersih karena pembantu rumahnya selalu membersihkan kamar tersebut setiap hari.


“Tidur di sini ya calon menantu Bunda.”


“Iya Bunda,” Iksa hanya mengangguk patuh.


“Bun, kenapa harus tidur di situ?” tanya Asyad yang tiba-tiba menghampiri dua wanita kesayangannya.


“Hei, kau mau dia tidur dimana?” Sungut Samira pada anaknya.


“Kan bisa tidur di kamar Asyad.”


“Oh jadi kau yang akan tidur di sini, baiklah, ayo sayang kita ke kamar calon suamimu, biar dia yang tidur di sini,” ajak Samira pada Iksa namun Asyad menghalangi jalan mereka.


“Bukan Bun, Asyad juga tidur di kamar Asyad.”


“Heiiii, kalian belum resmi jadi tidak ada tidur sekamar, Bunda menolak keras,” Iksa hanya tertawa sambil menutup mulutnya karena tingkah Asyad.


“Apa maksudmu kegiatan lain, kau mau mencoba membuatkan cucu dari hubungan yang belum halal?”


“Bun!”


“Tidak, Bunda tidak mau ya tidak mau Bunda akan mengizinkan setelah kalian menikah, sekarang kau minggir biar Iksa yang tidur di kamarmu.”


“Bun, Astaga Bunda.”


Samira meninggalkan Asyad yang masih di penuhi kejengkelan, bahkan tadi mereka sampai menarik tubuh Iksa, Samira yang tetap bersikukuh dengan pendiriannya ia tak mau di kalahkan oleh anaknya, ia menarik kencang tubuh Iksa hingga Iksa merasa kesakitan di pergelangan tangannya, melihat Itu Asyad pun mengalah melepaskan Iksa tak ingin kekasihnya semakin merasa kesakitan.


“Sayang maafin Bunda ya tadi membuat pergelangan tangan kamu jadi kesakitan.”


ucap Samira saat duduk di ranjang kamar milik Asyad.


“Iya Bunda, lagian Iksa seneng kok, karena Asyad pasti akan melakukan hal lain jika Bunda mengizinkan kita sekamar.”


“Oh astaga apa kalian pernah sebelumnya?”


“I-I-Iya bunda, Asyad mengunci Iksa di kamar hotel, jadi Iksa terpaksa tidur sekamar dengannya, tapi Iksa tidak berbuat apa-apa kok Bun, sungguh!” Ucapnya sambil memegang kedua telinganya di hadapan Samira bermaksud untuk memberi tahu bahwa ia berkata jujur.


“Oh astaga anak Bunda memang nakal sekali, ya sudah Bunda percaya sama kamu, lebih baik Iksa istirahat ya sayang, besok katanya mau ke rumah Mamamu, Bunda besok juga akan kesana ikut kalian, Bunda rindu sekali dengan Mamamu.”


Iksa mengiyakan ucapan Samira, setelah Samira pergi Iksa merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang begitu empuk , merasa sangat nyaman karena dirinya yang sudah sangat lelah karena perjalanan jauhnya.


*


Dikamar Asyad yang kini tidur di sebalah kamarnya yang sesungguhnya ia merasa gusar sekali waktu sudah menunjukkan tengah malam namun ia masih tak bisa memejamkan matanya. Namun terbesit pikirannya untuk mencari kenyamanan dengan menyelinap masuk ke kamar Iksa.


Asyad tiba-tiba membuka pintu kamarnya yang di dalam terlihat gadis cantik tengah tidur sangat nyaman di ranjangnya. Ia perlahan menaiki ranjang tersebut lalu tidur di sebelah Iksa namun karena ingin mendapatkan kenyamanan yang lebih ia pun memeluk tubuh Iksa dari belakang baginya benar-benar sangat nyaman.


Iksa hanya menggeliat merasakan sesuatu yang berat menimpa dirinya ia tak senagaja terbangun pukul tiga dini hari, melihat ada tangan hangat melingkar di perutnya ia pun terlonjak kaget sangat kaget.


“Oh ya ampun,” Teriak Iksa namun tak membuat Asyad bangun karena ia baru tidur beberapa jam yang lalu.


“Asyad bangun....” Iksa mengguncang tubuh Asyad.


“Mmmm,” Asyad masih belum juga membuka matanya.


“Asyad bangun, kenapa kamu ada di sini?”


“Sayang,” Ucap Asyad setelah membuka matanya.


“Kau kenapa ada di sini, nanti ketahuan sama Bunda kita bisa dimarahin.”


“Tenang saja tidak akan, kamarnya aku kunci kok jadi kamu lebih baik tidur lagi,” Asyad menarik tubuh Iksa untuk kembali tertidur di dalam dekapannya.


“Asyad....” Iksa bergerak gelisah dengan keadaan yang seperti ini ia benar-benar takut akan Bunda Samira.


“Asyad kalau kamu gak mau keluar dari sini aku akan teriak nih.” Asyad yang kembali tidur tak mendengarkan ucapan Iksa.


Karena lelah dengan ucapnnya yang tak di gubris Asyad akhirnya Iksa memilih untuk tidur karena ia sangat lelah.


\=\=\=\=\=\=\=\=