Sebintang Rindu

Sebintang Rindu
Part 13 _Sahabat terbaik



Setelah pelajaran selesai seperti biasa Iksa dan Kila menuju ke kantin baru saja mereka ingin membuka surat itu namun lagi lagi gagal karena tiba tiba Nela datang menemui mereka dan menuju ke kantin bersama. Setelah di kantin mereka hanya membeli snack saja dan menuju ke taman karena Nela yang mengajak mereka.


“Oh iya Sa besok Asyad pergi ke Jerman,” ucap Nela sambil menikmati snacknya.


“Oh,” jawab Iksa.


“Kok ekspresimu biasa aja sih Sa?” tanya Kila yang heran.


“Terus aku harus nangis gitu teriak teriak sama dia biar dia gak pergi,” Iksa pun mulai sedikit marah harus berbicara tentang Asyad.


“Kenapa kau jadi marah sih Sa aku kan cuma tanya aja kenapa kau jadi emosi kayak gini sih.”


“Udah aku mau balik ke kelas,” sambil berlalu meninggalkan Kila dan Nela dengan perasaan marah dan sedih.


“Iksa.......” teriak Nela.


“Udah biarin aja Nel, mungkin lagi PMS dia makanya lagi badmood kayak gitu,” ucap Kila pada Nela.


Iksa yang tengah menahan isak tangisnya ia pun memilih perpustakaan sebagai penenang diri, ia mencari cari buku hanya untuk sekedar menutupi air matanya yang sudah keluar dia pun duduk dan menyandarkan kepalanya di meja sambil membuka buku untuk menutupi kepalanya dan isak tangis pun semakin menjadi jadi dan menahan suara tangisnya biar tak terdengar teman – temannya yang asyik membaca.


Melihat ada yang aneh Kendra mantan ketua osis yang amat kutu buku namun pesonanya bisa membuat banyak kaum hawa tergila- gila, ia menghampiri Iksa yang membaca dengan posisi yang aneh.


“Maaf, jangan tidur di perpus!" sambil menepuk bahu Iksa dari belakang.


“Aku gak tidur hanya sedikit pusing mendingan jangan banyak tanya kepalaku semakin pusing ini,” jawabnya terlihat bohong tanpa menangkat kepalanya karena tak ingin malu.


“Kalau kamu pusing bisa istirahat di UKS jangan di sini,” pintanya.


“Iya aku pergi!” dengan kesal Iksa pun bangkit dan menatap sinis Kendra.


Kendra yang langsung kaget melihat wajah Iksa di penuhi air mata dan terlihat sangat kacau pun ia merasa sangat bersalah sudah menyuruhnya pergi begitu saja. Kendra pun segera menghampiri Iksa yang berjalan menuju pintu perpustakaan.


“Tunggu.....maaf aku gak tau kalau kamu lagi sedih, aku gak tau apa masalah kamu namun aku sungguh minta maaf kalau sudah membuatmu kesal karena mengusikmu tadi.”


“Gak pa pa Ken,” jawab Iksa langsung meninggalkan perpustakaan.


Iksa kembali ke ruang kelas nya dan mengikuti pelajaran yang sudah di mulai. Hingga jam sekolah usai Kila tak henti – hentinya menatap Iksa dengan penuh keheranan dari semenjak selesai istirahat ia melihat Iksa dengan matanya yang sembab dan saat pelajaran usai dia juga diam tak menyapa Kila sama sekali. Kila pun memberanikan diri bertanya pada Iksa.


“Sa kau kenapa?”


“Aku gak papa Kil.”


“Bohong.”


“Udah lah Kil, aku mau pulang capek banget,” Iksa pun bergegas mengambil motornya dan pergi begitu saja tanpa berpamitan dengan Kila.


Kila yang semakin heran dengan Iksa dia mencoba untuk mencari tau dengan datang ke rumah Iksa besok karena besok mereka libur jadi Kila bisa leluasa bertanya dengan Iksa.


*


“Permisi, spadaaaa.......” teriak Kila.


“Oh kamu nak, cari Iksa? Dia ada tuh di kamar nya dari pulang sekolah kemarin gak mau keluar kamar murung terus dia,” ucap Maria.


“Haaaa.....Iksa kenapa sih tan, dari kemaren dia murung dan kayak uring – uringan gitu aku kira dia lagi PMS tan, apa Iksa sedang ada masalah tan?” tanya nya pada Maria.


“Biasa nak dia lagi patah hati,” jawab Maria.


“Eh masuk dulu nak Kila, sampai tante lupa nyuruh kamu masuk,” suruh Maria.


“Makasih tante, eh tan boleh ceritain dikit gak masalah Iksa, karena dari kemarin aku tanya dia cuman diem terus dia juga tidak mau cerita,” pinta Kila.


“Oh, dia lagi patah hati sama teman cowoknya si Asyad, katanya mereka berpisah.”


“Haaa.....bukannya Iksa baru aja jadian ya tan sama Asyad, haduh tan aku aja belum ketemu sama pacarnya Iksa, ngomong aja belum eh kok sekarang malah putus sih, tuh si Asyad kenapa coba pake mutusin Iksa segala kalau udah kayak gini akunya juga gak bisa ada temen ngobrolnya tan.”


Maria pun hanya menggeleng – gelengkan kepalanya ia pun langsung menyuruh Kila untuk menemui sahabatnya karena masih sibuk ia masih sibuk mengurusi urusan dapur yah tau lah sekarang kan hari minggu jadi sedikit santai meskipun jam 9 masih berkutik di dapur. Kila sendiri pun langsung masuk ke kamar Iksa.


“Sa?” sapa Kila yang tak mendapat sahutan dari Iksa.


“Sa?”


“Iksaaaaaaaaa,” teriak Kila dekat telinga Iksa yang sedang duduk di samping ranjang sambil memegang ponsel dan terlihat melamun.


“Apa sih Kil, kau ganggu aja deh pagi – pagi gini, ngapain??” sungut Iksa.


“Ya kau dari tadi aku panggil-panggil gak nyaut, aku udah tau kenapa kau dari kemaren banyak diem badmood dan habis nangis.”


Iksa pun tak kuasa menahan tangisnya lagi dia, Kila pun dengan sigap memeluk Iksa ia tau hatinya kini sangat amat rapuh dan sangat sedih akan kejadian ini karena Kila pun pernah merasakannya waktu pacaran dulu. Ia pun menenangkan hatinya Iksa dan setelah tangis isak Iksa berhenti barulah Kila bicara padanya.


“Aku tau kau sakit hati kau marah karena di saat kau lagi sayang – sayangnya dia malah memilih untuk menjauhi lo di saat lo butuh support untuk menghilangkan trauma di masa lalumu, aku tau itu gak mudah karena aku tau kau sedang melihat Vedo di diri Asyad,” tuturnya.


“Kila.....hiks ...hiks....hiks...” Iksa memeluk Kila dengan tangisnya lagi.


“Udah jangan nangis lagi, kau harus move on besok senin udah awal bulan kurang seminggu lagi kita bakal ujian, oh iya nanti kau mau kuliah dimana?” tanya Kila.


“Aku bakal ambil jurusan ATB (Akademik Tata Boga) lagi aku pengen kuliah di Bandung Kil,” jawab Iksa.


“Wahhhh beneran kau mau kesana? Aku rencana mau kesana juga Sa, eh tunggu Sa emang tante Maria bakal mengizinkanmu gitu kuliah kesana?”


“Aku gak tau tapi aku bakal tetep kuliah kesana aku kangen kota kelahiran aku Kil.”


“Oke Sa, aku bakal mendukungmu semoga kita bisa satu universitas,” sambil memegang erat tangan Iksa, Iksa pun mengepalkan tangannya memberi kobaran semangat untuk dirinya sendiri dan juga temannya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=