
Setelah kepergian Vedo Iksa sangat terpukul sekali dia seperti tidak bisa menerima kepergian seseorang yang selama ini selalu dekat dengannya ya karena memang Iksa jarang mempunyai teman ia hanya dekat dengan sepupunya Vedo namun karena kondisinya yang sering sakit - sakitan Lena selalu melarang Vedo bermain dengan Iksa.
Iksa selalu murung setiap hari bahkan ibunya Maria selalu berusaha untuk mengajaknya bicara namun tetap Iksa hanya diam saja. Hingga terbesit di pikiran Maria untuk mengajak anaknya keluar kota karena pekerjaan Maria yang kini di pindah tugaskan ke daerah Surabaya.
"Sayang, lusa mama mau ajak Iksa pindah rumah."
"Kenapa harus pindah ma?" tanya Iksa.
"Iya, mama di pindah tugas ke Surabaya jadi mama gak mungkin harus pulang pergi dari Bandung ke Surabaya," jelas Maria.
"Iya, terserah mama terus sekolah Iksa gimana ma?" tanyanya.
"Iksa pindah sekolah ya disana," tutur Maria lalu Iksa pun hanya menganggukkan kepalanya.
Setelah menjelaskan semua kepada Iksa, Maria pun menidurkan Iksa hingga terlelap. lalu Maria mencari ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"Hallo, ada apa Mar?" jawab seseorang dari seberang telfon.
"Iya Len, maaf mengganggumu malam - malam begini aku hanya ingin kasih tau kalau lusa aku berniat mengajak Iksa pergi bersamaku menetap di surabaya apa kau mengizinkannya."
"Terserah kau saja, aku sudah tidak mau mendengar nama anak itu lagi, aku sangat membencinya bawalah sejauh - jauhnya dariku itu lebih baik," tutur Lena dengan penuh kebencian.
"Aku sangat membencinya karena dia suamiku harus terenggut nyawanya, sekarang Vedo dan itu semua gara - gara anak sialan itu, aku sungguh membencinya jika saja tuhan mau mengabulkan keinginanku aku hanya ingin tidak pernah melahirkan anak pembawa sial seperti dia," terang Lena dengan nada begitu penuh dengan kebencian.
"Len kau jangan berbicara seperti itu, semua yang terjadi sudah kehendak Tuhan kau tak bisa mengubah takdirnya."
"Sudahlah Mar, aku ini sedang berkabuh kau jangan menambah penderitaanku dengan membicarakan anak pembawa sial itu, aku tutup," Lena pun menutup telfonnya.
"Dasar kau Lena sampai kapan kau harus membenci anak yang tak berdosa ini, kau sungguh keterlaluan Lena," tuturnya lalu meletakkan ponsel ke meja kamarnya lalu tidur menemani Iksa.
Keesokan harinya seperti biasa Maria masih terus mengajak Iksa bicara dan sedikit di sertai candaan namun Iksa pun masih seperti biasa hanya menjawab singkat dan tak bisa tertawa bahkan tersenyum pun tidak.
Maria sangat prihatin dengan Iksa yang masih belia harus mengalami trauma yang akan kepergian Vedo, belum lagi Ibunya Lena yang tak pernah menganggapnya anak meskipun Iksa sendiri tak pernah tau kalau Lena adalah ibu kandungnya yang ia tau selama ini hanya Maria lah ibu kandungnya.
Malam harinya Maria mempersiapkan semua barang - barangnya dan semua pakaiannya lalu menaruh semua ke dalam koper tak lupa juga semua barang - barang Iksa pun dimasukkannya juga.
Keesokan harinya Maria dan Iksa pergi ke Terminal Cicaheum pagi - pagi sekali. Mereka pun pergi menaiki bus bandung express karena selain cepat bus nya juga nyaman. Perjalanan kurang lebih sekitar 15 jam, mereka sampai di Terminal Surabaya sekitar pukul tujuh malam lalu Maria mengajak Iksa turun dari bis dan Maria memesan taxi online ia pun sampai di sebuah rumah yang di berikan perusahaan untuk Maria karena sudah berkontribusi penuh dengan perusahaan. Mareka pun menetap untuk hidup di surabaya.
~Flashback Off~
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=