
Aileen yang tak hentinya menangis di kamar hingga esok pagi tiba ia masih bergelung dengan selimut dan tak ingin keluar kamar ia juga melewatkan makan paginya, sang Mama yang sedari tadi memanggil putri tercintanya tak pernah ada sahutan dari Aileen membuatnya merasa khawatir dengan keadaan Aileen.
Hingga Asyad terpaksa membuka kamar Aileen dengan kunci cadangan karena ia juga merasa khawatir dengan Aileen yang tak keluar dari kamarnya sedari tadi.
Setelah pintu kamar terbuka terlihat Aileen sedang meringkuk lemah diatas ranjangnya.
“Ai, sayang bangunlah!” Iksa mendekati putrinya terlihat sekali pipinya yang basah dan terlihat lingkar hitam di sekitar matanya menandakan Aileen tak tidur dari semalam.
“Dav...” Rintih Aileen namun masih dalam mata yang terpejam.
“Astaga Papa, badan Aileen panas sekali!” Sontak Iksa merasa terkejut saat dipegangnya dahi Iksa terasa sangat panas.
“Sayang, bangunlah!” Ucap Iksa penuh kekhawatiran.
“Pa, ayo ke rumah sakit, Aileen.” Tangis Iksa pecah begitu saja melihat keadaan putrinya yang tak berdaya.
“Maafkan Papa sayang,” Ucap Asyad lalu segera ia menggendong tubuh lemah Aileen.
Mereka menaiki mobil dengan sang supir yang sudah bersiap mengemudi menuju rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Aileen segera ditangani oleh dokter jaga saat itu. Asyad yang tengah menunggu pemeriksaan dokter gelisah karena benar-benar khawatir dengan keadaan putrinya.
“Keluarga Nona Aileen.” Panggil Arya dokter jaga yang menangani Aileen.
“Bagaimana keadaan Aileen dok?” Tanya Iksa menggebu.
“Nona Aileen tidak apa-apa, hanya saja ia harus dirawat inap mengingat tubuhnya sangat lemah, tubuhnya butuh istirahat.” Ucap dokter Arya.
Asyad dan Iksa menurut saja perkataan sang dokter, ini kedua kali sang anak harus masuk rumah sakit setelah masa percintaan yang terpatahkan, padahal sebelum mengenal percintaan seperti yang dialaminya itu, tubuh Aileen jarang sekali mengeluh sakit jikapun ia sakit ia hanya istirahat dan meminum obat karena ia tak tahan dengan bau obat yg menyengat kala dirumah sakit.
Aileen yang kini sudah berpindah diruang rawat inap kini terlihat masih memejamkan matanya seakan ia enggan sekali membuka matanya.
Asyad dan Iksa hanya melihat Aileen dengan tatapan iba, terutama Asyad ia merasa sangat bersalah hingga anaknya harus terbaring dibangsal terlihat begitu lemah. Setelah ia menyalahkan seseorang karena membuat sang putri harus terbaring di ranjang rumah sakit sekarang dirinyalah yang membuat anak semata wayangnya kembali merasakan ranjang itu lagi.
“Maafkan Papa sayang, Papa bersalah, mulai sekarang apapun yang kau inginkan Papa akan memenuhinya tapi Papa mohon bangunlah sayang!” Ucap Asyad begitu pilu dengan keadaan permata didepannya.
Iksa yang berada disamping Asyad hanya bisa mencoba menenangkannya, ia merasa tidak tega melihat suaminya merasa bersalah dengan keadaan putrinya.
“Ma, hubungi David, suruh dia kesini!” Ucap Asyad membuat Iksa sedikit terkejut.
“Tapi pa?” Tanya Iksa merasa tidak percaya.
“Ayo Ma! Mama tega melihat Aileen tersiksa begini, Papa yakin mungkin dengan adanya pria itu, dia mau membuka matanya.” Ucap Asyad mencoba menerima demi keadaan putrinya.
Iksa pun menghubungi David dan benar saja terdengar disana ia begitu terkejut saat Iksa memberi tahu keadaan Aileen.
Diseberang sana seorang laki-laki yang selesai menerima panggilan telpon dari Iksa, bahkan sekarang tak akan gentar ia tetap akan menghadapi Asyad apapun itu, meskipun ia diseret keluar pun ia tak akan peduli, ia sudah menahan sakit saat Aileennya terbaring dikamar inap karena dirinya dan kini ia harus kembali melihatnya terbaring lemah disana juga karena dirinya. Jika memang nanti orang tua Aileen masih tak merestui hubungannya maka ia akan segera menjauh dari Aileen, mungkin dengan begitu Aileen tak akan menderita seperti ini.
David melaju menuju rumah sakit dengan kecepatan penuh dipikiran lelaki itu hanya ada bayangan sang kekasih yang terbaring lemah di kamar seperti dahulu saat ia akan meninggalkannya.
Sesampainya dirumah sakit David segera menuju kamar yang sudah di beritahu oleh Mama Iksa, tergesa-gesa ia melangkah menuju kamar Aileen, hingga sempat menabrak orang yang sedang berjalam melewatinya.
"Maaf, maaf," Ucap David dengan mata yang masih fokus mencari nomor ruangan tersebut.
Setelah sampai didepan pintu kamar Aileen, David menghembuskan napasnya berkali-kali agar terlihat tenang dihadapan kedua orang tua Aileen.
Terlihat Aileen yang sudah membuka matanya dengan kedua orang tuanya yang sibuk membujuknya, dengan perlahan David mendekati Aileen.
"Ai," Sapa David saat sudah dekat dengan bangsal Aileen
"Dav." Pancaran binar air mata Aileen terlihat menggenang, hatinya berdegub kala suara besar itu memanggil namanya.
"Ai, apa kau baik-baik saja?" Tanya David pada sang kekasih yang terus menatap dirinya.
Aileen hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, matanya tak henti menatap pujaan hatinya.
"Kemarilah nak, dia memanggil namamu sedari tadi!" Ucap Mama Iksa kepada David yang masih tak beranjak dari tempatnya.
David mendekati Aileen matanya pun hanya tertuju pada raut wajah Aileen yang tampak pucat sekali.
"Kalian berdua berbicaralah, Papa dan Mama akan keluar," Mama Iksa berucap dengan lembut sambil menggiring suaminya untuk ikut keluar bersama dirinya, meskipun dari raut wajah Asyad yang masih begitu kentara akan tak sukanya ia dengan David, Mama Iksa tidak peduli selama Aileen bahagia ia akan membiarkan sang anak memilih jalan hidupnya sendiri.
David mendekati Aileen setelah kedua orang tua Aileen pergi dan menutup pintu kamar.
Dengan hati berdegub David menarik tubuh Aileen ke pelukannya hingga tubuh Aileen yang lemah meringkuk dipelukan David.
"Sayang, kenapa kau jadi begini?"
"Aku merindukanmu Dav," Ucap Aileen dengan air mata yang sudah membasahi pipinya, pelukannya pun ia eratkan dipinggang David.
"Aku juga, aku juga sangat merindukanmu, tapi jangan lakukan ini lagi, sungguh konyol sayang kau malah menyakiti dirimu sendiri."
"Aku tidak peduli, aku sudah ingin menyerah saja Dav, aku cuma ingin kamu, Papa aku jahat tega sekali ia kemarin mengusir Mama."
"Apa?" David berjingkat kaget, dilepaslah pelukannya itu.
"Iya, tapi sekarang mereka sudah terlihat baik-baik saja, mmm kamu tau aku sakit dari siapa?" Tanya Aileen.
"Syukurlah kalau mereka sudah berbaikan, aku di telfon Tante Iksa sayang, Tante mengatakan kau mengigau dan terus memanggil namaku," Ucap David tersenyum.
"Sayang kita hadapi Papa sama-sama, aku akan mencoba lagi untuk meminta restu Papa, semoga kali ini Papa menyetujuinya." Tambah David meyakinkan Aileen dihadapannya.
"Aku mencintaimu, Dav," Ucap Iksa menatap bola mata David yang sangat ia sukai.
"Aku pun sangat mencintaimu, Aileen sayang." David mengecup puncak kepala Aileen lalu mengecup bibir Aileen yang pucat sekejab.
Namun ketika David melepaskannya Aileen malah menahan kemeja David, Aileen memagut bibir David seolah tidak ingin berhenti, David yang mengerti segera menahan tengkuk Aileen di l*matnya bibir Aileen dengan penuh kerinduan, hingga tangan Aileen yang sedari tadi berada didepan dada David kini berubah menuju tengkuk David hingga mer*mas rambut belakang David, keduanya kini diliputi oleh kabut gairah kerinduan yang membawa mereka untuk saling berebut sesapan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Jujur ikut merinding 😂😂
btw CMIIW yaaaa.....
Happy Reading yahh😉