
“Sa,” Panggil Iksa sembari mengajak duduk di sebuah taman yang tak lain adalah taman yang pernah ia datangi bersama Asyad, dimana taman itu juga mengingat Iksa akan kejadian masalalu yang sungguh melukai hatinya.
“Syad, kenapa kau mengajakku kesini?” matanya pun berkaca kaca menahan tangis yang ingin tumpah melihat ada masalalu di taman ini yang tak pernah bisa ia lupakan.
“Sa, kau masih ingat siapa dulu yang pertama kalinya mengajakmu ke tempat bermain ini?” Tanya Asyad berharap Iksa kembali mengingat masa lalu dengannya.
“Mama sama tante Samira,” jawabnya.
“Yang mengajakmu bermain di sini, hmmm?” Tanya Asyad lagi.
“Aku dulu main sama Tiar di sini, dia teman masa kecilku yang paling dekat namun entah kenapa dia menghilang begitu saja tanpa meninggalkan kabar sama sekali, padaku.” Ucapnya sembari mengingat juga memori bersama Tiar.
“Astaga, jangan bilang kamu?” ucapnya lagi seraya membungkam mulutnya dengan telapak tangan kanannya.
“Hmmm,” jawab Asyad sambil menarik kedua alisnya ke atas sembari tetap menatap Iksa dengan senyuman yang penuh tanya dengan ingatan Iksa.
“Kamu Tiar?” tanyanya begitu terkejut.
“Menurutmu, untuk apa aku menanyakan ini semua, Sa, aku minta maaf karena udah meninggalkanmu tanpa kabar, aku juga sudah meninggalkanmu kemarin untuk yang kedua kalinya, sungguh aku minta maaf Iksa,” ucapnya memohon.
“Tiar........ aku merindukanmu, aku sungguh sangat merindukanmu,” ucap Iksa yang langsung mendekap tubuh Asyad ke dalam pelukannya, Asyad pun juga membalas pelukan Iksa. “Aku gak nyangka kau akan kembali Syad, aku pikir kau sudah melupakanku selama ini, jadi selama ini kau masih berada di sini, bersamaku,” ucapnya lagi tangisnya pecah di bahu Asyad. “Kenapa kau jahat sekali? Kau sama sekali tak memberitauku kalau kau sebenarnya Tiar,” ucapnya seraya melepas pelukannya.
“Aku, sebenernya tak ingin memberitaumu sekarang Sa, biar kau mengetahui sendiri aja, tapi ya gimana lagi, lagi – lagi aku tak bisa menahan untuk tak memberitaumu, gegara saat di makam tadi. Aku tau kau pasti habis menangis kan di makan Vedo sampai bisa - bisanya kau tidur di atas makamnya,” ucapnya panjang lebar, menahan bahu Iksa dengan telapak tangannya mencoba untuk memberi sorot ketenangan di matanya.
“Aku hanya merindukannya Syad, kau tau dialah satu – satunya saudara juga teman yang paling dekat denganku, semenjak kau pergi meninggalkanku, aku hanya selalu bersama dia,” Iksa menangis sesenggukan.
“Oke mulai sekarang aku gak akan ninggalin kamu lagi Sa, aku akan selalu dekat denganmu, aku bakal selalu menjagamu, ” Ucap Asyad seraya menarik tubuh Iksa ke dekapannya.
“Syad,” mendongak melihat wajah Asyad.
“Hmmm,” jawab Asyad.
“Aku sangat sangat mencintaimu Sa, jangan pernah bersedih lagi meratapi sebuah masa lalu, aku akan selalu bersamamu sekarang dan untuk selamanya,” ucapnya dengan mencium puncak kepala Iksa.
Setelah keduanya melepas rindu karena masa lalunya mereka pun kembali pulang, dengan perasaan bahagia terutama Iksa yang kini perasaannya begitu bahagia karena teman masa kecil yang ia rindukan kini telah kembali pulang. Mereka melepas tawanya di dalam perjalanan berbicara tiada henti hingga sampai mobil Asyad di depan kos Iksa. Iksa pun berpamitan dengan Asyad dengan sigap sebelum Iksa keluar tangan Asyad menarik tangan Iksa ia pun mencium lembut kening Iksa begitu lama hingga Iksa merasa hanyut dengan benda lembut di keningnya.
“Besok malam tahun baru, aku mau mengajakmu pulang ke Surabaya.” Sembari melepas bibirnya dari kening Iksa.
“Kenapa? Kenapa harus ke Surabaya Syad?” tanya Iksa.
“Aku ingin merayakan tahun baru bersamamu tanpa harus berada di kota masa lalu yang membuatmu harus terpuruk dengan kesedihan Sa.”
“Syad…aku justru ingin merayakan tahun baru di sini di kota kelahiran aku dan bersama dengan orang yang dulu sangat aku rindukan, kita dulu pernah bersama di kota ini aku ingin kita bersama lagi di kota ini di malam tahun baru nanti,” sambil memegang punggung tangan Asyad mencoba memberi pengertian kepada Asyad agar ia tidak membawanya ke Surabaya.
“Baiklah kalau memang itu maumu, besok aku ingin mengajakmu ke tempat spesial.”
“Tempat spesial?” tanya Iksa penasaran.
“Hmmm, sekarang kau masuk ke kamar, see you….” mengelus lembut rambut Iksa.
“Mmmm oke, kamu memang sengaja bikin aku gak bisa tidur Syad,” ucapnya lalu turun dari mobil Asyad yang sebenarnya masih penasaran dengan apa yang ia katakan, lalu Iksa melambaikan tangannya pada Asyad dan masuk ke dalam kamarnya.
Asyad yang hanya tersenyum saat gadis itu masuk ke dalam kamarnya, ia melajukan mobilnya kembali menuju hotel.
Saat berjalan menuju ke kamar hotel dengan mata membulat ia terkejut akan seseorang yang tengah berdiri menunggu di depan kamar tidurnya, sungguh Asyad tak menyangka.
“Kamu..”
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=