Sebintang Rindu

Sebintang Rindu
S2 - Terima Kasih Papa



Setelah selesai makan siang Iksa dan Rayn kembali mencari Asyad tepat disebuah parkir mobil halaman rumah sakit terlihat Asyad sedang berbicara dengan seseorang.


"Rayn, sebaiknya kamu kembali kekamar Aileen, biar Tante yang berbicara dengan Papanya Aileen." Ucap Iksa menyuruh Rayn pergi dari sana karena tak ingin melihat situasi Asyad yang seperti ini.


"Terima kasih banyak Tante, Rayn akan menjaga Aileen dengan baik, semoga Rayn dan Ai bisa mendapat kabar yang menyenangkan dari Tante, love you Tante Iksa," Rayn mencium pipi Iksa bertingkah seolah Iksa adalah orang tuanya sendiri karena memang persahabatannya dengan Iksa sangatlah dekat.


Iksa tersenyum melihat tingkah sahabat anaknya ini, ia pun berjanji akan memberikan kabar yang sesuai apa yang mereka inginkan.


Setelah kepergian Rayn, Iksa mendekati Asyad yang sudah berdiri dimobilnya dengan seorang laki-laki yang Iksa tau adalah suruhan Asyad sejak Aileen berada disini.


"Pa," Panggil Iksa, membuat Asyad melihat kearahnya dan segera menyuruh suruhannya untuk pergi.


"Ma, kenapa ada disini? Siapa yang menjaga Aileen?" Tanya Asyad heran kenapa istrinya sampai berada disini.


"Aileen tertidur Pa, Rayn juga sudah menjaganya jadi Papa tidak perlu khawatir." Jawab Iksa menenangkan sang suami yang selalu saja khawatir jika anak semata wayangnya terluka.


"Sayang, kau dari semalam tak tidur, istirahatlah dulu!" Ucap Asyad kepada istrinya.


"Aku tidak bisa tidur Papa," Ucap Iksa dengan manjanya membuat Asyad merasa gemas melihatnya.


"Baiklah, kalau Mama tidak mau istirahat disini kita pergi ke penginapan saja biar Mama bisa istirahat." Ucap Asyad tanpa menunggu jawaban sang istri ia menarik istrinya masuk kedalam mobil membuat Iksa terkejut dengan perlakuan suaminya.


Asyad mengendarai mobilnya menuju sebuah hotel yang mana hotel tersebut bagian dari investasi sahamnya.


Setelah sampai di hotel, Asyad disambut hormat oleh staff hotel tersebut meski begitu mendadak namun mereka semua tahu bahwa Asyad Bachtiar memiliki saham yang tak sedikit dihotel yang mereka tempati untuk bekerja.


Setelah mendapatkan ruangannya Asyad dan Iksa masuk kedalam kamar yang sudah disediakan dari pihak hotel.


"Pa, kenapa harus ke hotel sih, kan Mama bisa tidur dikamar Aileen." Ucap Iksa memberitahu bahwa dirinya bisa mengistirahatkan diri dimana saja.


"Aku tau kau tak akan bisa lelap tertidur." Ucap Asyad memeluk Iksa dari belakang membuat bibir Iksa melengkung pertanda ia mengerti suaminya sedang ingin diperhatikan.


"Sayang," Ucap Asyad sembari memberi kecupan ditengkuk indah milik Iksa meski umur mereka sudah cukup berumur namun mereka masih terlihat lebih muda dari umurnya.


"Hmm." Jawab Iksa sekenanya sembari memejamkan matanya karena perlakuan suaminya.


Asyad membalikkan tubuh Iksa lalu mencium bibir Iksa dengan begitu agresif, membuat Iksa terengah-engah kehabisan nafas, perlahan Asyad melepaskan ciumannya karena ia tau Iksa belum menyesuaikan gerakannya akibat terlalu agresifnya.


Asyad kembali mencium bibir Iksa namun perlahan mulai dengan sisi lembut yang sangat disukai Iksa, Asyad mulai menurunkan sentuhan bibirnya ke leher Iksa yang sudah sejak tadi ia inginkan.


Desahan Iksa dengan suara tertahan membuat Asyad semakin ingin segera menjelajahi tubuhnya. Dengan sigap Asyad membaringkan Iksa yang sudah dipenuhi kabut gairah menuju ranjang yang begitu nyaman.


Asyad perlahan membuka pakaian yang masih bergelayut ditubuh Iksa lalu dengan lincahnya ia sudah membuat tubuh sang istri terlihat polos tanpa sehelai benang membalutnya.


Asyad segera menanggalkan pakaiannya ia segera menjamah tubuh istrinya yang sudah siap menantinya.


Kabut gairah mereka berdua seakan bergejolak, mereka saling memberi dan melayani, hingga suara deru nafas mereka berdua saling berkejaran ingin mencapai nikmat yang mereka inginkan.


Pelepasan diantara merekapun terjadi, Asyad mencium sejenak bibir istrinya lalu membaringkan dirinya di sebelah sang istri lalu memeluknya erat, rasanya masih sama seperti pertama kali mereka melakukannya, begitu indah.


"Sayang," Ucap Iksa.


"Iya, kenapa?" Asyad melihat wajah Iksa yang begitu berbinar.


"Kau tau Aileen anak kita satu-satunya, bisa tidak kau jangan menghentikannya melakukan proyek itu, dia sudah bekerja keras akan itu, kau tega melihatnya begitu sedih." Ucap Iksa memberitahu sang suami agar mengerti akan keadaan anak semata wayangnya.


"Kalau kau masih tak memikirkan perasaan anak kita baiklah, aku tak akan lagi tidur denganmu, kau menyakiti hatinya berarti kau juga menyakitiku." Iksa menampakkan wajah kesalnya membuat Asyad justru terkejut mengapa Iksa jadi seperti ini.


"Sayang, kau ingin menyiksaku dengan ancamanmu itu?" Asyad seolah tak terima apa yang dikatakan sang istri.


"Terserah kau saja." Ucap Iksa membalikkan tubuhnya dari hadapan Asyad dan kini posisinya membelakanginya.


Asyad yang tak bisa menerima perlakuan istrinya ia pun mencoba membujuk sang istri.


"Baiklah, kau menang, aku tak akan menghentikan Aileen dari proyek itu," Asyad memeluk pinggang sang istri yang sedang dalam posisi merajuknya.


"Benarkah?" Iksa dengan senangnya ia langsung menghadap suaminya yang sudah ia yakini akan menuruti permintaannya.


"Aku semakin mencintaimu," Ucap Iksa lagi memeluk suaminya.


"Kau ingin menggodaku ya?" Asyad melihat sang istri lalu dengan kabut gairah yang sudah muncul kembali ia kembali menerkam sang istri, Iksa begitu bersemangat melayani suaminya yang tidak ada lelahnya sama sekali.


Merekapun melakukan kegiatan panasnya kembali di hari yang menjelang sore itu, membuat hawa dingin dihotel tersebut sudah tak berfungsi lagi terkalahkan oleh panas dari tubuh mereka berdua dalam mencapai puncak kenikmatannya.


***


Malam harinya Iksa dan Asyad kembali ke rumah sakit dimana Aileen dirawat, nampak Aileen tengah bercanda ria dengan sahabatnya dan nampak Aldo sedang duduk disofa yang hanya mendengarkan celotehan wanitanya dan sahabatnya.


"Sayang," Sapa Iksa pada keduanya.


"Mama."


"Tante."


Mereka memeluk erat sang Mama, mereka yakin wanita dihadapannya ini akan mengatakan kabar baik yang akan mereka terima.


"Kalian tenang saja, proyek akan tetap kalian tangani, namun Ai harus benar-benar sembuh karena Mama dan Papa tidak mau melihat Ai seperti ini lagi." Ucap Iksa memberitahu dan melihat wajah sang anak begitu senang.


"Mama terbaik buat Ai." Aileen memeluk kembali sang Mama.


"Kau hanya berterima kasih pada Mamamu saja?" Ucap Asyad yang berada dibelakang istrinya sedari tadi.


"Terima kasih Papa, Ai sangat menyayangimu." Asyad mendekat lalu memeluk buah hatinya begitu sayang.


"Ai besok kita pulang, Papa sudah berbicara kepada dokter kalau kau sudah diijinkan untuk pulang." Ucap Asyad memberitahu sembari mengelus rambut Aileen.


"Siap Papa, Ai dengan senang hati bisa kembali pulang, Rayn kau juga harus ikut!" Pinta Aileen membuat Rayn juga senang karena setidaknya ia terlepas dari pekerjaan yang membuatnya pusing.


Aldo yang melihat itu hanya tersenyum saat Rayn memandang kearahnya seolah mengatakan ikutlah bersamaku.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Pengobat rindu buat yang kangen sama Papa Asyad dan Mama Iksa😎😎😎


Makasih yang udah ngasih like dan votenya, semoga kalian semua diberi kelancaran rezeki dan dimudahkan segala urusannya.


Happy reading...... 😚😚😚