
Luna yang kini telah termenung di kamar hotelnya, ia seakan tidak rela usaha kerasnya untuk menjadi brand ambassador di perusahaan yang ia banggakan kini pupus sudah, ia merasa sia-sia dia sudah mengira pasti Asyad lah yang melakukan ini. tiba-tiba da teringat sesuatu ia pun meraih ponselnya yang berada di dalam tasnya untuk menghubungi seseorang.
“Hallo bisa kita bicara ada hal yang ingin ku bicarakan, aku mohon,” Pintanya.
“Baiklah.” Jawab suara dari sebrang telpon tersebut.
“Aku akan kesana,” ucap Luna lalu mematikan ponselnya dan bergegas menuju sebuah tempat.
Luna melajukan mobilnya bersama asisten pribadinya yang selalu membuntutinya kemanapun ia pergi, di dalam mobil ia berpikir pasti kali ini ia akan mendapat bantuan dari orang yang membuatnya akan mendapatkan kontrak itu kembali. Mobil itu terus melaju hingga berhenti di sebuah bangunan mewah lalu ia segera masuk ke dalam bangunan elit tersebut sebuah perusahaan mewah yang hampir semua saham di Indonesia ia miliki.
“Masuklah dan tutup pintunya Luna,” seseorang mempersilahkannya masuk dengan begitu dingin setelah Luna membuka ruang kerjanya.
“Apakah kau sibuk?” tanya Luna seoalah sedang mengintrogasinya.
“Kalau aku tidak sibuk tak mungkin aku ada di sini,” jawabnya ketus dan dingin.
“Baiklah,” jawab Luna ragu dengan mendudukkan dirinya di kursi depan sosok tampan tersebut.
“Apa yang ingin kau katakan, cepatlah aku tak punya waktu untuk hal yang tidak penting,” ucapnya ketus.
“Hei, apa kau mau mencekikku aku bahkan mau berbicara kau sudah menduganya tidak penting,” sungutnya.
“Cepatlah!”
“Begini, bisakah kau membantuku, sekarang perusahaan yang sedang menjadikanku brand ambassador di tempatnya kini memutuskan kontrak denganku kau tau kan bahwa aku selama ini menginginkan perusahaan yang amat tersohor itu untuk mendapatkan kontrak dengannya bahkan aku sudah berusaha dua tahun untuk itu.”
“Lalu...”
“Lalu, kau bisakan membujuk seseorang untuk memusnahkan sebuah rekaman dan foto yang membuatku tak bisa berkutik akan hal tersebut."
“Baiklah, ada satu syaratnya!” laki-laki itu mencoba memberi sebuah negosiasi dengannya dengan bibir yang terangkat ke atas.
Mereka tampak serius dengan itu, Luna yang berusaha menenangkan dirinya mencoba menerima apa yang akan laki-laki itu berikan, setelah mengatakan hal tersebut Luna terkejut bukan main bahkan ia seperti patung yang tak bisa kemana-mana karena saking terkejutnya dengan apa yang dikatakan oleh sosok berwajah maskulin di depannya.
“Apaaa.... kau memang sudah gila.”
*
Asyad kini sedang berkutat di depan layar laptop yang memancarkan radiasi cahaya ke matanya begitu fokus hingga kefokusannya terpecahkan karena sekretarisnya memanggilnya.
“Ada apa?”
“Maaf pak, di luar ada seseorang yang ingin bertemu dengan pak Asyad,” ucap sekretaris tersebut dengan sedikit berwajah takut.
“Siapa?”
“Itu pak pemilik perusahaan GD-GROUP ia ingin menemui pak Asyad.”
“Apa aku ada janji dengan beliau Silvi?” Silvi menggelengkan kepalanya pertanda memang orang tersebut berinisiatif ingin menemui Asyad tanpa basa basi.
“Baiklah suruh ia masuk!” ucapnya ketus namun tak menghilangkan rasa penasaran yang menyelubungi hatinya.
Silvi pun menyuruh orang tersebut masuk ke dalam, “Silahkan masuk pak?”
Namun orang tersebut hanya melewatinya tanpa membalas perkataannya sama sekali.
“Selamat siang pak Gean Darell, apa yang membuat anda masuk ke hotel saya, sungguh saya sangat senang akan kedatangan anda yang begitu tiba-tiba di sini.” Ucap Asyad begitu senang karena ia sungguh tidak menyangka orang yang memiliki banyak saham di perusahaan besar di Indonesia dan luar negri tersebut rela datang kemari menemuinya entah apa tujuannya itu Asyad masih berfikir positif.
“Terima kasih pak Asyad Bachtiar, saya di sini karena seseorang.”
“Oh iya, siapa?"
“Calon istri anda,” Seketika wajah Asyad tampak terkejut namun ia berusaha setenang mungkin karena ia tak ingin nampak terlalu kikuk di hadapan orang tersebut menyebut calon istrinya.
“Tenang saja saya sungguh tak mengenali istri anda namun di sini saya hanya ingin meminta maaf akan kejadian yang menimpa calon istri anda, karena calon istri saya.”
“Maksud anda?” Asyad begitu bingung dengan apa yang di ucapkan Gean ia sungguh benar-benar dibuat bingung.
“Begini kecelakaan calon istri anda yang membuatnya terluka tersebut saya akan menggantinya dengan apapun itu asal anda dan calon istri anda memaafkan calon istri saya.”
“Siapa yang anda maksud calon istri?”
“Luna ya Luna Angelia pasti anda sangat mengenalinya bukan?”
“Oh iya saya sangat mengenalinya, namun untuk memaafkan saya sudah memaafkannya, hukum tetaplah hukum seharusnya dia beruntung karena saya hanya memutuskan kontrak kerjanya, kalau saya tak memaafkannya mungkin saat ini foto dan rekaman audio tersebut sudah mendarat di meja polisi dengan sangat manis.” ucap Asyad dengan nada tegas dan penuh wibawa, ia sangat tau bahwa hanya dengan memutus kontrak kerja impian Luna ia sudah sangat menderita jadi ia tidak akan memutuskan sampai ke rana hukum.
“Baiklah, saya mohon pada anda untuk tidak memberi hukuman itu, karena saya akan menikahinya tidak lucu bukan saya menikah dengannya tiba-tiba polisi datang menjemputnya,” Gean masih bersikap sangat tenang meskipun sekarang dirinya seakan menjatuhkan harga dirinya hanya dengan meminta maaf untuk kesalahan seseorang namun apa boleh buat kalau dengan cara itu ia bisa mendapatkan Luna kembali.
“Saya mohon anda mnyerahkan foto dan rekaman itu kepada saya biar saya sendiri yang akan menghukumnya.”
“Karena anda sendiri yang meminta, baiklah, saya akan memberikan benda tersebut namun saya minta Luna tidak mengganggu Iksa karena bagaimanapun dia sahabat saya, saya tidak akan membuatnya menerima kesakitan seperti apa yang di alami oleh Iksa dengan tangan saya sendiri.” Asyad seakan membebaskan hukuman kepada sahabatnya karena sebenarnya ia masih memiliki rasa iba pada sahabatnya, Luna sahabatnya dari sejak ia remaja ia juga pernah melewati suka duka bersama dan bagaimanapun itu ia melakukan pembunuhan juga karena dirinya.
“Saya terima, saya yakin Luna tak akan menganggu kehidupan kalian, karena saya akan berencana membawanya keluar dari Negara ini.” Ucap Gean sambil mengulurkan tangannya dan di sambut oleh Asyad.
“Itu lebih baik, terima kasih setidaknya saya tidak harus berbuat dengan tangan saya sendiri untuk menjauhkan Luna dari hadapan Iksa." ucapnya sambil melepas uluran tangan dari Gean.
Gean dan Asyad kini berbincang bersama menceritakan kehidupan mereka masing-masing seolah mereka adalah teman dekat sama sekali tak sungkan bersenda gurau layaknya bocah ABG yang sedang menikmati masa remajanya. Tak hanya itu kini mereka menjalin kerjasama antar bisnisnya tentu saja Asyad sangat senang akan hal itu selain dia bisa menjalin kerjasama ia pun menjadikan sosok Gean seperti sahabatnya sendiri karena sikapnya yang begitu ramah.
*
Iksa yang sedang bersenda gurau dengan teman sebayanya siapa lagi kalau bukan Nela dan Kila dua sahabat yang tak pernah jauh darinya.
“Kalian tau muka si Kendra saat kita bilang kau sudah di pinang seseorang?” Ucap Nela denngan mengangkat alisnya yang tebal itu.
“Oh iya kenapa?”
“Dia langsung menggembungkan pipinya dan kau tau dia langsung lari ke kamar mandi entah apa yang di lakukan namun saat kembali matanya sangat merah aku tau dia pasti menangisimu Sa, kau sungguh menyakiti hatinya,” Ejek Nela menggoda Iksa.
“Aku kenapa aku, kan kau tau sendiri dari dulu aku juga tak pernah memberikannya harapan aku selalu menghindar saat dia mendekatiku.” Iksa menjelaskan keadaannya saat Kendra selalu saja mendekatinya.
“Okelah kau terlalu serius Sa, biarkan saja mungkin dengan begitu ia bisa menemukan cinta yang tepat baginya.” Ucap Nela.
“Kau seperti penasihat saja, seperti dirimu tidak pernah patah hati, aku yakin Sa, Nela ini sedang membicarakan dirinya sendiri.” Ejek Kila pada Nela.
“Kila kau....” tiba-tiba ponsel Iksa berbunyi begitu nyaring.
“Guys, Asyad nelpon, aku angkat sebentar ya,” Iksa menyela perbincangan sahabatnya lalu mengangkat telpon di depan kedua temannya.
“Hallo Asyad ada apa.”
“Sayang aku merindukanmu, aku ingin secepatnya menikahimu.”
“Kau sedang minum ya? Ucapanmu sungguh tak masuk akal.”
“Ayolah, aku ingin secepatnya menikah denganmu biar kau selalu bersamaku,” rengek Asyad.
“Kau ini, terserah kau saja,” ucap Iksa malas, namun di hatinya sungguh sangat senang.
“Aku akan berbicara dengan Mommy.”
Iksa mematikan sambungan telponnya dengan senyum mengembang di kedua sudut bibirnya dalam hati ‘Aku juga ingin secepatnya bersamamu’.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=