Sebintang Rindu

Sebintang Rindu
Part 31_Kencan



Sementara Asyad yang tengah sibuk di kantornya tiba-tiba Bara datang tanpa permisi duduk tepat di depan Asyad.


“Kau bisa tidak biasakan ketuk pintu dulu, Bar,” keluh Asyad.


“Biasanya juga gak pakek ketuk hehehe,” Kilah Bara membuat Asyad hanya bisa menghembuskan napasnya kasar karena tingkah sahabatnya.


“Sedang apa kau, udah puas buat semua sahabat si Kila pada sibuk mencarinya dan khawatir sama dia kau malah tersenyum menang seperti ini, benar-benar tak merasa bersalah,” ungkap Asyad kesal.


“Oh iya Kila gak cerita tu sama aku,” sembari tersenyum penuh bahagia.


“Kau habis ngapain aja sama tu anak, jangan bilang……”


“Sembarangan kau, aku masih menghargainya jangan berpikir macam-macam kau.” Seru Bara tidak terima.


Asyad tersenyum sinis melihat raut muka Bara ia semakin menggoda sahabatnya yang sedang kasmaran.


“Kalo memang suka sama tu anak, buruan gih di tembak,” ucap Asyad.


“Mati dong bwahahahaha,” tawanya menggelegar.


“Sialan kau, jangan mainin perasaan orang awas aja kau sampai memyakiti hati sahabat Iksa, aku bakal membunuhmu karena secara tidak langsung kau sudah memyakiti Iksaku,” ucapnya mengancam.


“Sabar bro, sadis amat kata-katamu, emang kau sendiri sudah nembak si Iksa haaa?” tanya balik Bara.


“Buat apa? Aku bakalan melamar dia seromantis mungkin sehingga membuatnya bakal terus mengenang hari itu.” Tersenyum sambil membayangkan dirinya sedang melamar Iksa.


“Woiii jangan cuman nglamun doang, kapan kau bakal melamar tu anak?” tanya Bara.


“Seminggu lagi, pas bertepatan hari ulang tahunnya.”


“Aku berharap semoga kau selalu membahagiakan Iksa, aku gak tega lihat dia selalu takut sama masa lalunya, dia selalu terbayang-bayang akan kejadian itu.” Ucap Bara yang mengerti akan masa lalu Iksa karena memang saking seringnya Asyad curhat dengannya ia begitu iba dengan keadaan Iksa.


“Tanpa kau suruh aku pasti bakal jagain dia, bahkan dengan nyawaku sekalipun Bar,” jawabnya dengan penuh keyakinan.


Mereka pun melanjutkan obrolannya dengan sesekali Asyad yang menggoda Bara begitupun dengan Bara yang juga terkadang iseng menggoda Asyad, terkadang di selingi tertawa mereka yang begitu bahagia, begitulah obrolan kedua pemuda yang kini sedang di mabuk asmara.


*


Seminggu kemudian Asyad yang sudah menyiapkan semuanya ia pun menyewa sebuah restoran hanya untuk mereka berdua ia juga menyiapkan rangkaian bunga mawar indah yang sudah ia bawa ke restoran dengan sebuah cincin di dalam kotak beludru yang ia pegang, ia menunggu kedatangan Iksa yang sudah mereka sepakati pukul delapan malam.


Sementara di sisi lain Iksa yang sudah siap dengan gaun yang sudah di berikan oleh Asyad, Iksa nampak begitu cantik dengan gaun putih yang membalutinya. Kila dan Nela yang memandanginya begitu takjub melihat Iksa yang begitu cantik.


“Cantik banget kau Sa, kau kalau dandan cantik juga ya,” celetuk Kila yang tak henti memandangi sahabatnya.


“Iya dong Nela gitu loh, sahabat kita sudah seperti aktris favorit aku Britt Robertson mirip banget kan cantik imut duh..Sa ini seperti bukan Iksa kita hihihi,” Iksa hanya tersenyum menanggapi pujian sahabatnya.


“Oh iya Sa, aku anterin ya?” ucap Nela menawarkan tumpangan ke Iksa.


“Haduh gak usah Nel, kau kan juga mau pergi jadi gak usah, biar aku naik taxi aja ini aku mau pesan taxi online kok,” Tolaknya lembut karena mengerti tatkala sahabatnya juga sedang ada kepentingan sendiri.


“Hati-hati Sa,” ucap Kila.


Iksa pun menaiki taxi yang sudah ia pesan, sebenarnya Asyad sudah menawarkan untuk menjemput Iksa namun Iksa menolaknya karena ia ingin merubah penampilannya dan memberi kejutan kepada Asyad meskipun Iksa sendiri tak tau Asyad juga sedang memberikan kejutan padanya.


Taxi itu berjalan menuju restoran setelah Iksa masuk ke dalam taxi tersebut, namun saat di tengah perjalanan Iksa sudah curiga dengan mobil yang mengikutinya sedari tadi namun ia mengabaikannya pikirannya berusaha berpikir positif mungkin mobil itu memang pergi ke arah yang sama dengannya. Tak sampai di situ saat pikiran Iksa sudah tenang menghadapi mobil yang kini tengah mengikutinya tiba-tiba taxi yang saat ini ditumpanginya berhenti.


“Loh pak kenapa berhenti?” tanya Iksa yang sudah sedikit gelisah pasalnya janji temunya dengan Asyad sudah lebih dari yang mereka ditentukan.


“Sebentar mbak, saya cek dulu,” supir itu pun keluar dari mobil mengecek mobilnya.


“Waduh mbak saya minta maaf bannya bocor mbak ,” ucap supir taxi itu.


Iksa yang saat itu sudah sangat gelisah namun ia mencoba menenangkan dirinya mungkin ia masih bisa mencari taxi lain.


“Ya sudah pak tidak apa, saya pesan taxi online lain saja,” jawab Iksa lembut meskipun sedang di landa gelisah.


Saat ingin memesan taxi online ia merogoh ponsel di dalam tasnya namun saat di lihat ponselnya tak bisa dinyalakan ia pun hanya bisa mendengus napas kasar, “hufffttt….”


Terpaksa yang di lakukan Iksa ia harus berjalan kaki yang kurang lebih masih satu kilometer dari tempatnya kini sekitar empat puluh lima menit.


Iksa berjalan dengan cepat mungkin ia akan sampai di restoran pukul Sembilan malam yah apa boleh buat Iksa tak bisa melakukan apa-apa lagi. Di tengah perjalanannya tiba-tiba ada seorang orang laki-laki dengan menggunakan penutup kepala menghampiri Iksa, dengan cepat dan nampak begitu lihai laki-laki itu mengambil paksa tas Iksa, Iksa yang sempat menahan tasnya namun sia-sia tubuhnya di dorong laki-laki tersebut hingga badannya tersungkur ke tanah, dengan cepat Iksa pun bangun mengejar laki-laki bertopeng.


AHHHHH…..


BRUGHH


Tubuh Iksa terkapar di jalanan, mobil yang sedari tadi mengikutinya ia sengaja menabrak Iksa yang tengah berlari mengejar lelaki itu hingga membuat tubuh Iksa bersimbah darah, tanpa berpikir lagi mobil tersebut begitu saja melarikan diri , di tempat kejadian orang-orang di sekitar meneriaki mobil yang sengaja melarikan diri, ada salah satu dari orang tersebut sengaja mencatat plat nomor mobil tersebut. Mereka pun membawa Iksa ke rumah sakit terdekat, handphone yang sedari tadi di genggam Iksa yang tak terenggut oleh laki-laki bertopeng tersebut jatuh di sebelahnya dan di bawa pula oleh orang yang membawa Iksa.


*


Asyad yang sedari tadi melihat jam di tangan kirinya mulai gelisah karena orang yang di tunggu tak kunjung datang.


Drtttt drrrttttt……


Ponsel Asyad pun berbunyi panggilan suara dari Iksa, seketika ada sebuah kelegaan karena sedari tadi ia menghubungi nomor Iksa namun ponselnya berkali-kali tidak aktif.


“Halo, ini dengan keluarga atau teman perempuan pemilik handphone ini?” tanya suara di sebrang telpon.


“Iya saya kekasihnya, ini dengan siapa ya, kenapa handphone kekasih saya anda pegang?” tanya Asyad bingung apa yang terjadi.


“Maaf mas, kekasih anda saat ini ada di rumah sakit XXX ia baru mengalami kecelakaan tabrak lari, saya menemukan handphonenya di jalan dalam keadaan mati ini sedang saya cas.” Jelas suara di balik telpon.


Bagai di hantam petir, Asyad pun segera berlari menuju rumah sakit yang kini Iksa di rawat.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=