Sebintang Rindu

Sebintang Rindu
Part 45_Kau tega sekali



“Benar-benar biadab wanita itu!” Ucap Asyad sangat marah setelah sampai di ruang kerjanya yang sudah berada sekretaris dan orang kepercayaannya memberitahukan sesuatu kepada Asyad.


“Apa sudah kamu selidiki semuanya?” tanya Asyad.


“Sudah Tuan, semuanya sudah saya selidiki kejadian tersebut memang sudah di rencanakan, semua dokumen ini dan saksi yang melihatnya akan menjadi bukti bahwa wanita itulah yang merencanakan aksi pembunuhan Nona Iksa.” Ucap Digo seorang yang sudah di percaya oleh keluarga Wiliam dalam menuntaskan kasus penyelidikan sebuah masalah.


“Baiklah kumpulkan semua buktinya aku yang akan menanganinya langsung.” Ucap Asyad dingin lalu pergi dari ruang kerjanya.


Perasaan Asyad sangat kacau sekarang belum habis rasa kesal dan cemburunya dengan Iksa sekarang di tambah lagi dengan masalah insiden pembunuhan yang di lakukan oleh sahabatnya sendiri Luna, Asyad benar-benar tak menyangka Luna sampai melakukan hal yang begitu hina, ia takkan bisa membiarkan ini.


Asyad kembali ke kamarnya ia baru ingat telah meninggalkan Iksa sendiri di kamarnya ia pergi tanpa peduli dengan Iksa sama sekali. Sesampainya di kamar pribadinya ia masih melihat tubuh mungil tersebut meringkuk di lantai dengan membenamkan wajahnya di atas lututnya.


“Sayang,” ucap Asyad mendekati Iksa dan mencoba menarik wajahnya agar keluar dari persembunyiaanya di atas lututnya.


Iksa tak bergeming sama sekali masih tetap di posisinya, Asyad pun menarik tubuhnya dan memeluk Iksa. Serasa sesosok tubuh memeluknya Iksa pun membalas pelukan Asyad seketika air matanya yang tadi mongering kini jatuh lagi menetes deras di bahu Asyad.


“Kamu jahat,” Ucap Iksa dengan menangis sesenggukan.


“Maaf sayang, maafkan aku, ini yang terakhir kali aku tak akan lagi membentakmu seperti tadi.” Sambil mengelus lembut punggung Iksa agar kekasihnya merasa tenang.


“Kamu tau kenapa aku mengabaikan semua pesan dan panggilanmu, semua itu juga karena aku cemburu padamu, bagaimana mungkin aku tak sakit hati saat foto kekasihku bersama wanita lain di dalam kamar hotel,” jelasnya melepas pelukannya dari tubuh Asyad.


“Maksud kamu apa? Aku mengantar wanita di kamar hotel? aku sungguh tidak mengerti yang kamu bicarakan sayang,” Ucap Asyad bingung karena memang ia tak pernah melakukan hal itu pada wanita lain hanya kemarin saja ia mengantarkan sahabatnya ke kamar hotel dan itu pun hanya menunjukkan kamar saja setelah itu ia pergi dan sahabatnya masuk ke kamar tersebut sendiri tanpa dirinya.


“Jangan berbohong Syad, aku tau semuanya dan aku punya buktinya.” Tegas Iksa.


“Bukti, mana coba aku lihat!” Iksa menunjukkan fotonya kepada Asyad dan betapa terkejutnya Asyad ternyata foto di dalam ponsel Iksa memang benar dirinya namun wanita yang difoto tersebut bukan lain adalah sahabatnya, bagaimana bisa Iksa mendapat foto ini.


“Astaga, kau dapat darimana foto ini? kau tau dia itu Venya sahabat aku.” Tunjuk Asyad pada foto tersebut.


“Oh jadi sekarang kamu main di belakang dengan sahabatmu,” ucap Iksa semakin geram dengan Asyad.


“Sayang dengarkan aku Venya kemarin itu ada masalah dengan kekasihnya Fery yang tak lain dia juga sahabatku kamu pasti juga kenal dia kan, kemarin setelah aku pulang dari rumahmu aku tak sengaja melihat Fery dan Venya di halte saat aku mendekatinya ternyata Fery sedang membujuk Venya untuk pulang dan Venya tidak mau, karena aku kasihan dengan Fery akhirnya aku mengajak Venya menginap di hotelku untuk menenangkan pikirannya dan Fery bisa menyusul esok paginya,” jelas Asyad membuat Iksa hanya bisa diam tak bicara sama sekali.


“Dan sungguh entah kau dapat foto itu darimana aku hanya mengantar Venya ke kamar hotel dan menunjukkan kamarnya sudah itu saja sayang, selanjutnya aku pergi dari sana aku tak bersama Venya di kamarnya sayang, sungguh percayalah.”


“Sudahlah sayang itu hanya foto yang tak bertanggung jawab entah darimana kamu mendapatkannya jangan percaya itu, aku tidak pernah sama sekali main hati di belakangmu, kau tau aku sangat menyanyangimu aku takkan membiarkanmu pergi jauh dariku.” Asyad pun merengkuh tubuh Iksa dan memeluknya erat.


“Maafkan aku, harusnya aku tidak bersikap egois padamu,” Ucap Iksa menyesal.


“Sudahlah lupakan, sekarang sudah malam kamu sekarang tidur ya, ayo!” ajak Asyad.


“Tidur, di sini?” tanya Iksa.


“Kita ini belum menikah Asyad tak seharusnya kita tidur satu kamar.”


“Sayang, hanya tidur aku tak akan macam-macam.” Ucap Asyad sambil meringis di depan Iksa.


“Tidak, aku mau pulang saja, apa kata karyawanmu nanti melihatku satu kamar denganmu.”


“Ayolah sayang, ya sudah kalau begitu aku akan tidur di sofa saja, kamu jangan pulang ya ini sudah larut malam nanti aku bilang apa coba sama Mommy kamu, memulangkan anak gadisnya malam-malam begini.”


“Baiklah.”


Mereka pun tidur di masing-masing tempat, saat tengah malam Asyad begitu tidak bisa tidur karena tempat yang terlalu sempit, melihat sejenak ke arah Iksa yang sepertinya sudah tidur pulas ia pun bangkit dari sofa dan beralih ke ranjang tidur di sebelah Iksa, badannya terasa nyaman sekali saat sudah merebahkan dirinya di ranjang empuk miliknya.


*


Saat Iksa membuka matanya karena sinar matahari yang mengusik penglihatannya menandakan hari telah pagi ia pun beranjak dari tidurnya namun saat akan bangun ia merasa terkejut karena sebuah tangan memeluk erat tubuhnya.


“Asyad bangun Syad, kenapa kau ada di sini?” Teriak Iksa yang menganggu telinga Asyad.


“Sayang kenapa kau teriak teriak sih, aku masih ngantuk,” sambil menenggelamkan kepalanya di ceruk belakang leher Iksa karena begitu nyaman.


“Asyad kau kemarin bilang tak akan macam-macam kenapa kau malah di sini, kita bahkan tidur seranjang.” Ucap Iksa yang masih mencoba melepaskan rengkuhan Asyad di tubuhnya.


“Aku memang tak macam-macam sayang, kita hanya tidur tapi entahlah tubuhmu membuatku nyaman sekali saat tidur.”


“Syad ini sudah pagi ayo bangunlah, memangnya kau tak bekerja?”


“Aku bisa datang kapan saja, sudahlah hari ini sangat nyaman aku ingin menikmatinya.”


Iksa begitu kesal dengan sikap Asyad ini, ia mencoba membangunkan Asyad dengan cara lain.


“Oh tuhan, apa ini Asyad kau tega sekali,” Ucap Iksa sembari menangis, mendengar itu Asyad pun seketika bangun dan melepaskan rengkuhannya dari Iksa, dan saat Iksa merasa pelukan Asyad melonggar dan terlepas dari tubuhnya ia pun bangkit dan turun dari ranjang tersebut dan masuk ke dalam kamar mandi.


“Iksa, kau tega sekali,” ucap Asyad melemah, sedang di dalam kamar mandi Iksa hanya terkekeh geli membayangkan wajah Asyad yang tengah kecewa.


Iksa pun membasuh wajahnya dengan sabun dan air, terlihat sikat gigi yang masih terbungkus rapi ia pun membuka dan memakainya untuk membersihkan giginya. Ia tak bisa mandi karena selain tak membawa baju ganti ia pun juga tidak bisa mandi di dalam kamar mandi seorang laki-laki meskipun itu kekasihnya karena ia merasa belum menikah jadi ia takut kalau saja Asyad berbuat macam-macam dengannya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Mohon maaf beribu sangat kemarin malam tak sempat Update🙏🙏🙏🙏