
Setelah berbincang dengan sahabatnya Iksa pun kembali ke rumah dengan sejuta senyum yang terukir di wajah cantiknya, bahkan Lena yang sedari tadi duduk di ruang tamu tak di hiraukan oleh Iksa karena pikirannya masih membayangkan akan ucapan Asyad di telpon tadi.
“Sayang, kau tidak apa-apa kan?” panggil Lena dengan lembutnya.
“Ah Mom, tidak Iksa tidak apa-apa hanya saja Iksa ingin istirahat di kamar.” Ucapnya karena memang ia sebenarnya sangat lelah karena tugas praktik di kampusnya berlangsung lama yang membuat Iksa seakan penat sekali belum lagi para sahabatnya mengajak hang out dan terpaksa Iksa mengiyakan karena memang pikirnya ia lama tak berkumpul bersama sahabatnya ia hanya selalu bersama Kila dan itu pun hanya saat di kampus setelahnya Iksa pun pasti akan langsung pulang.
“Baiklah, kau tak ingin makan dulu sayang?” tanya Lena.
“Tidak Mom, tadi Iksa sudah makan di luar bersama Nela juga Kila.”
“Ya sudah istirahatlah kalau begitu!” titah Lena.
Iksa pun menghempaskan dirinya di dalam kamar tidur kesayangannya karena dirinya yang sudah terlalu kecapaian namun semua itu seakan sirna ketika bayangan ucapan Asyad membuat ia tidak bisa memejamkan kedua matanya, dirinya seakan tersihir dengan ucapan yang membuat hatinya serasa berbunga-bunga. Tak dapat di tampiknya karena Iksa yang memang ingin hubungannya segera di resmikan agar ia selalu bersama kekasihnya itu dimanapun ia berada.
*
Setelah Asyad menyelesaikan pekerjaannya ia kini ingin sekali pulang ke Surabaya untuk menentukan tanggal pernikahannya meskipun Samira selalu menyuruh Asyad menunggu Iksa lulus namun Asyad tidak ingin menunggu terlalu lagi ia ingin segera bersama Iksa. Sebelum itu ia menelpon kekasihnya mengabarinya untuk ikut bersamanya ke Surabaya mengunjungi orang tuanya dan ia juga beralasan agar Iksa juga menemui Mamanya karena ia rasa Iksa pasti akan mau menyanggupi permintaannya untuk pulang ke Surabaya.
“Sayang sedang apa?” tanya Asyad setelah sambungan telponnya sudah terhubung dengan kekasihnya.
“Emmm aku aku sedang tidak melakukan apa-apa?” setelah Asyad mendengar ucapan Iksa ia pun mengalihkan sambungannya dengan video call.
“Sayang kau tampak lelah sekali, apa kau sakit?” tanya Asyad sedikit khawatir.
“Tidak aku tidak sakit, hanya saja aku sedikit kecapaian dan mungkin istirahat sebentar saja sudah segar kembali.”
“Oh, ya sudah kalau begitu, kau istirahat saja.”
“Emm nanti saja apa kau menelponku hanya untuk menyuruhku istirahat?”
“Tidak, aku tadi mau bicara denganmu tentang sesuatu, namun kalau kau masih butuh istirahat, istirahatlah, aku akan menelponmu setelah kau selesai istirahat.” Asyad mencoba untuk tidak membebani kekasihnya akan keinginannya.
“Tidak aku tidak apa-apa, ayolah katakan kau mau mengatakan apa?” tanya Iksa penasaran.
“Ya sudah kalau kau memaksa, jadi begini besok aku ingin ke Surabaya mengunjungi Bunda dan Ayah apa kau ingin ikut bersamaku?” tanya Asyad sedikit ragu.
“Oh iya, kau mengajakku, jelas saja aku mau, aku juga ingin bertemu Mama dan Bunda aku merindukan mereka.” Tanpa Asyad duga jawaban Iksa sungguh di luar dugaannya ia ternyata sangat antusias untuk ikut dengannya.
“Baiklah sayang besok aku jemput kamu ya, mungkin aku akan menginap sekitar 3 hari di sana, apa kau tidak apa-apa, apa nanti ada masalah di kampusmu?”
“Sepertinya tidak, aku akan minta izin pada dosenku nanti.”
“Baiklah, sekarang kamu istirahat itu mata kamu sayu sekali,” Asyad menunjuk wajah Iksa.
“Ah iya sampai jumpa besok sayang.” ucap Iksa namun segera ia menutup mulutnya karena malu.
“Wahh, apa aku tidak salah dengar kau memanggilku....” Iksa hanya menggelengkan kepalanya dengan sikapnya yang malu-malu.
“Aku senang sekali dengan itu, tidurlah sayangku.” Iksa menganggukkan kepalanya ia masih malu dengan sikapnya yang sekarang terlihat berlebihan entah mengapa ia semakin merasa nyaman saat mendengar suara Asyad.
Iksa mematikan panggilan videonya, ia merasa bahagia bahkan Asyad kini mengajaknya bertemu dengan kedua orangtuanya sungguh hal yang Iksa nantikan bertemu keluarga Asyad dengan status kini sudah menjadi kekasihnya bahkan calon istrinya.
*
Keesokan di kampus terlihat Kila yang tengah bersandar dengan sedikit termenung ia membayangkan kejadian kemarin saat ia berjalan akan pulang, raut wajahnya kini tampak sangat layu seakan orang yang frustasi dengan sebuah masalah.
“Kila,” panggil Bara saat Kila dan Nela terpisah karena Nela mendapati sebuah janji dengan dosennya.
Kila hanya melihat Bara yang masih di dalam mobil sambil menjalankan mobilnya pelan sementara dirinya sendiri kini berjalan di trotoar tak memperdulikan Bara ia pun memalingkan pandangannya tetap fokus berjalan ke depan dan sedikit berlari.
“Kil, dengerin aku dulu, kau kemarin salah paham denganku, Kila kau jangan begini, oke oke aku salah tapi tolonglah beri aku kesempatan buat jelasin semuanya.” Ungkap Bara yang masih terus membujuk Kila.
“Tidak ada yang perlu dijelaskan semuanya sudah jelas, lagian untuk apa kau jelaskan kita hanya teman dan tidak lebih dari itu, jadi ku mohon berhentilah mengikutiku atau aku akan teriak jika kau tak mau pergi dari sini,” Ucap Kila dengan nada yang terdengar seakan menahan amarah.
“Kau jangan childish seperti ini, aku dan Diana hanya berteman dan itu hanya sebatas antar rekan kerja saja.”
“Terserah kau, aku tidak peduli, bahkan sekalipun dia kekasihmu aku juga tidak akan peduli.” Mendengar ucapan Kila yang terasa begah di telinganya Bara pun menghentikan mobilnya dengan Kila yang masih berjalan tak menghiraukan Bara sama sekali.
Bara yang kini sudah keluar dari dalam mobilnya ia pun segera berlari mengejar Kila yang tampak sudah terlihat jauh namun masih tampak tubuhnya dari belakang. Akhirnya dengan kekuatan penuh Bara berlari dan menarik Kila dalam gendongannya dan mengangkat Kila seperti mengangkat karung beras. Kaki Kila tak henti-hentinya berulah di tubuh Bara dengan sigap Bara merapatkan kaki Kila dan berjalan terus menuju mobilnya dengan punggungnya yang sedari tadi di pukul oleh tangan Kila namun Bara membiarkannya.
“Bara kau keterlaluan, kau selalu saja berbuat semaumu, kau selalu saja bermain curang.” Ucap Kila setelah Bara mendudukkannya di di kursi mobil dan memasangkan seatbelt Kila, ia pun menjalankan mobilnya membawa Kila ke suatu tempat.
Sepanjang perjalanan Kila selalu berteriak ingin di turunkan namun tetap Bara diam tak menghiraukan teriakan Kila yang begitu lantang di telinganya.
“Baraaaa turunkan aku, atau aku akan lompat dari sini.” Ucap Kila dengan teriakan kejengkelannya.
“Coba saja kalau bisa!”
“Kau......” Kila terasa sangat kesal dengan sikap Bara akhirnya ia lelah berteriak dan hanya mengikuti saja apa yang akan Bara perbuat pada dirinya.
Kini mobil Bara sampai di suatu tempat yang terlihat sangat sejuk bahkan sangat menarik di mata ketika terlihat air sungat yang sangat tenang dengan bebatuan yang menonjol di antara permukaan sungai. Air sungai yang terlihat bening dan bersih seakan jauh dari orang-orang yang mengganggu kehidupan sungai tersebut.
“Kita ada dimana?” tanya Kila tetap memasang mimik wajah yang biasa saja tanpa meenunjukkan ketertarikannya akan suasana sungai tersebut.
“Ya begitulah, untuk apa kau membawaku kesini?”tanya Kila dengan cepat.
“Kila kumohon dengarkan aku, aku dan Diana tidak ada hubungan apapun kau tau saat itu aku hanya minta bantuan Diana untuk memberikanmu kejutan spesial karena aku merasa belum mengerti seperti apa ketertarikan wanita , aku janji mulai saat ini aku akan menjaga jarak dengan wanita lain meskipun itu rekan kerjaku sendiri aku janji Kila,” ucap Bara penuh kepastian.
“....” Kila hanya diam tak menjawab.
“Maukah kau menikah denganku?” ucap Bara setelah mengambil sebuah cincin dengan di balut benda persegi yang sangat cantik.
Kila sangat terkejut bahkan benar-benar terkejut ia tak menyangka Bara akan melamarnya dengan cara romantis seperti ini.
“Aku tidak bisa Bara, kau tau kita bukan sepasang kekasih kita juga tak pernah tau akan kehidupan kita masing-masing yang selama ini kita lakukan hanya have fun saja sebagai teman,” Kila sebenarnya enggan menolak namun ia juga harus menjadi wanita yang penuh dengan harga diri yang tinggi tidak mudah baginya bisa takluk dengan kata manis seseorang.
“Kil, aku ingin serius denganmu, kita akan saling menngenal setelah kita menikah nanti dan untuk kekasih mulai sekarang aku ingin kau menjadi kekasihku dan juga calon istriku.” Ucap Bara penuh ketegasan.
“Kenapa kau jadi pemaksa begini!” bentak Kila.
“Aku tidak memaksa, ini semua karena kita memang saling memilki perasaan.”
“Tidak, aku Tidak,” Ucap Kila berbohong.
“Ayolah, kau jangan seperti ini Kila, kau tau aku sudah berjuang membuat kejutan ini, apa kau tak mau menghargai apa yang ku persembahkan untukmu,” Bara menekuk lesu mukanya seakan frustasi akan jawaaban Kila.
“Ok, Baiklah namun aku masih belum siap menikah, untuk sementara kita saling mengenal saja dulu, kalau memang kita cocok okelah, namun kalau tidak--” ucapan Kila pun terhenti saat Bara dengan cepatnya meraih bibir mungil dan kenyal milik Kila, Bara menikmati cumbuannya ia semakin menarik rahang Kila untuk memperdalam cumbuannya tangan kanannya ia gunakan untuk menarik pinggang Kila agar semakin dekat dan menutup jarak diantara mereka.
Kila pun yang sedari tadi meronta dan berusaha lepas dari dekapan Bara kini melunak dan mengikuti permainan Bara menikmatinya seakan lupa akan kegengsian yang sedari tadi ia katakan.
Setelah beberapa menit Bara melepaskan cumbuannya untuk meraup oksigen yang hilang dan menarik Kila dari wajahnya, Kila yang masih nampak dengan mata tertutup seolah ia takut untuk membuka matanya, Bara membelai lembut pelipis Kila agar Kila membuka matanya.
“Kau tau setelah nanti kita saling mengenal entah cocok atau tidak kau akan tetap menjadi istriku kelak, apapun itu aku tak peduli,” Ucap Bara mendekap Kila kembali setelah mata Kila terbuka lebar.
“Bara,” ucap Kila serak.
“Kila.”
“Kau belum tau siapa aku, aku takut setelah kau melihat jelas kehidupanku kau akan meninggalkanku, maka sebelum itu terjadi aku tidak akan membawamu masuk lebih jauh di kehidupanku,” ucapnya dengan nada yang begitu sendu.
“Trust me, kau tau apapun itu aku akan tetap bersamamu, hal buruk apapun aku akan tetap pada keyakinanku bersamamu, aku mencintaimu Kila.”
“Bara....” ucap Kila yang hanya mengeratkan pelukannya dan memejamkan matanya seakan ia merasa percaya akan semua perkataan Bara.
Kila terlonjak dari lamunannya karena sahabatnya memanggil namanya dengan teriakan begitu nyaring didekat telinga tak usah ditanya siapa lagi kalau bukan Nela yang selalu mempunyai kegemaran usil dengan Kila.
“Kau dari tadi kupanggil dari ujung sana sampai ini mulut berada di telinga lebarmu kau tak mendengarku sama sekali, hayo mikirin apa tak biasanya kau seperti ini Kil.” Ucap Nela panjang lebar.
“Tidak aku hanya agak lelah Nel, karena semalam aku begadang mengerjakan semua makalahku untuk praktek minggu depan,” ucap Kila menutupi rasa cemasnya, ia cemas akan ungkapan rasa Bara yang masih menghantui pikirannya bahkan ia sampai tak bisa tidur hingga dini hari.
“Ow yasudah Kil, by the way kau tau tidak Iksa sepertinya akan meminta libur kuliah selama tiga hari.”
“Ow iya semalam Iksa menelponku, dia di ajak Asyad untuk berkunjung kerumahnya dan ke rumah tante Maria.”
Mereka berdua pun larut dalam obrolan pagi itu, hingga Kila melupakan masalahnya karena gurauan dari sahabatnya yang membuat suasana pagi itu terlihat hidup kembali bagi Kila.
*
“Sayang kau sudah siap,” tanya Asyad yang kini tengah berada di ruang tamu.
“Siap,” jawab Iksa dengan membawa koper di samping kiri tangannya.
“Ok siniin kopernya biar kubawa,” ucap Asyad langsung mengambil alih koper Iksa dan membawanya menuju mobil diikuti Iksa, Lena dan juga Jeremy.
“Sayang hati-hati ya, salam buat Mama kamu disana, Mommy tidak bisa ikut karena masih menghandle perusahaan karena Ayahmu sedang mengurus cabang di luar kota.”
“Mom, tidak apa-apa, Iksa mengerti.”
“Ya sudah Asyad, hati-hati yapokoknya jagain selalu anak Mommy salam buat Bunda dan Ayahmu.”
“Siap Mom saya akan sampaikan salam. Mommy, saya pamit dulu ya Ayah Mommy,” Pamit Asyad bercium dengan tangan kedua pasangan yang berdiri di hadapannya di ikuti oleh Iksa yang mencium dan memeluk Lena dan Jeremy
.
“Iksa berangkat ya Mom Yah,” pamitnya dengan berjalan masuk ke mobil Asyad dimana Asyad sudah berada di dalam mobil bagian belakang.
Setelah sudah dirasa siap Agung selaku supir dari hotel Asyad pun melajukan mobilnya menuju daerah Surabaya, kota yang sangat Iksa rindukan, jika Bandung adalah kenangan masa kecilnya Surabaya adalah kenangan masa remajanya yang begitu membuat dia bahagia.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hai semua ini aku update panjanggg kan??? hmmm, aku mau menyelesaikan masalah di cerita ini satu persatu jadi yang masih nunggu kapan Iksa dan Asyad Married pasti kok mereka Married jadi jangan khuatir okay.
untuk besok dan lusa belum bisa up ya, lagi banyak keperluan, mon maap ya reader tercinta.
salam cinta buat kalian sehat selalu yaaa🤗