Sebintang Rindu

Sebintang Rindu
Part 60_Tidak Kuat



Asyad tersadar dia sedari tadi mengabaikan kekasihnya, kejadian tadi membuatnya kalut karena ia tak menyangka sahabatnya bisa berbicara seperti itu kepadanya ia masih bisa memaafkan perbuatannya kala itu, meskipun dia sendiri belum sepenuhnya memaafkan Luna kalau bukan karena kekasihnya yang membujuknya namun dengan beraninya Luna menantangnya di depan umum dan menghina Iksa di depan banyak orang sungguh ia tak akan memaafkan perbuatannya.


Asyad menghubungi kekasihnya ia tak ingin kekasihnya beranggapan lain tentangnya.


"Sayang, kau sudah di rumah?" Tanya Asyad pada Iksa di sebrang telpon.


"Aku baik Asyad," Jawabnya.


"Syukurlah, maaf ya sayang aku tak bermaksud membuatmu berpikir hal lain tentangku, aku hanya sedang menahan emosi saja karena tingkah Luna yang sudah keterlaluan denganku dan juga kamu."


"Sudahlah Asyad jangan dipikirkan, bagaimanapun juga Luna tetap sahabatmu, dia seperti itu juga karena terobsesi akan dirimu."


"Aku tau sayang tapi dia sungguh keterlaluan aku hanya memberi dia hukuman kecil, namun dia tak bersyukur, kalau bukan karena kau yang mencegahku aku sudah akan memasukkannya ke jeruji besi itu biar dia mendapat hukuman yang setimpal!" Asyad berucap penuh dengan emosi.


"Sayang sudahlah, semua itu tidak ada gunanya, maafkanlah dia jangan melakukan sesuatu yang membuat dia semakin membencimu." ucap Iksa menenangkan kekasihnya.


"Sayang, aku sangat mencintaimu sungguh aku beruntung mempunyai calon Istri sepertimu, kau akan menjadi Istri sempurna dalam hidupku."


"Tidak ada yang sempurna Asyad, masih banyak kekuranganku."


"Tidak, bagiku kau sempurna My future wife."


"Aku mencintaimu My future husband," Jawab Iksa dengan raut muka memerah.


"Aku mencintaimu juga sayang, sekarang Istirahatlah!"


"Iya, baiklah."


"Sampai jumpa besok sayang, Love you."


"Love you too." Jawaban Iksa mengakhiri panggilan mereka.


Asyad begitu lega ternyata kekasihnya sangat mengerti akan dirinya, dia pun keluar dari ruang kerjanya kembali ke ruang istirahatnya di tempat tidurnya.


*


Keesokan harinya Iksa yang kini sudah berada di hotel bersama kedua teman magangnya sedang bereksperimen membuat menu baru sesuai perintah dari chef pembimbing mereka.


"Iksa ini sudah jam makan siang, apa kau tak membawakan makanan kepada pak direktur?" tanya seorang chef bernama Ardi.


"Emm, tunggu sebentar!"


"Jangan membuat beliau menunggu Iksa nanti kau bisa kena amukan beliau!" Ardi sudah memberi tahu Iksa namun Iksa hanya bilang tunggu tunggu dan tunggu, padahal maksud Ardi ia ingin berkenalan dengan Kila biar makin dekat.


"Iya iya kau cerewet sekali, setelah ini aku akan mengantar makanannya," Ucap Iksa yang masih fokus pada aksi garnish in dinner plate.


"Ok, selesai, kau lihat kan Ar ini tidak akan lama!" Iksa hanya berkacak pinggang melihat hasil garnish yang menurutnya sempurna.


"Kila, Farhan kalian lihat cantik kan?" Iksa beralih ke wajah kedua temannya, Kila dan Farhan hanya memberi acungan jempol yang menandakan kalau makanan Iksa memang sungguh cantik.


"Ya sudah cepat sana!" Perintah Ardi pada Iksa.


Iksa pun membawa makanan yang sudah ia masak sedari tadi menuju ruang kerja Asyad, tak lupa ia juga menunjukkan hasil karyanya kepada sang kekasih dan berharap mendapat nilai yang cukup memuaskan.


"Bagaimana?" tanya Iksa menghadap kekasihnya saat Asyad mencicipi hasil masakan menu barunya.


"Biasa aja, masih belum memenuhi standart." jawab Asyad yang langsung mendapati wajah Iksa begitu muram.


"Kau ini jahat sekali, memang standart masakan terenak menurutmu siapa, sampai kau bilang masakanku belum memenuhi standart ha?" Iksa terlihat kesal pada Asyad sangat kentara sekali raut mukanya menunjukkan kekecewaan.


"Kamu!"


"Iya, kamu sayang."


"Kau bilang masakanku belum memenuhi standart!"


"Sini deh deketan sama aku!"


"Apaan?"


"Sini dulu!"


"Ngapain, disini aja!"


"Kesini sayang, mau nilaimu aku kasih merah?"


"Kau selalu saja suka perintah!"


"Karena aku bos di sini sayang," Iksa pun menuruti perintah Asyad ia pun duduk tepat di sebelah Asyad.


"Sudah!"


"Coba ini kamu makan sayang, aaa," Asyad melayangkan suapannya kemulut Iksa, Iksa hanya menurut saja dengan apa yang dilakukan sang kekasih.


Melihat Iksa mengunyah makanannya wajah Asyad pun perlahan mendekati Iksa, sadar akan Asyad yang semakin dekat dengannya membuat aksi mengunyahnya terhenti, tanpa menunggu lagi Asyad mencumbu Iksa lalu dengan cepat lidahnya menerobos masuk ke dalam mulut Iksa mengambil makanan yang saat itu sedang Iksa kunyah, Asyad melepas cumbuannya lalu menjauh dari wajah Iksa.


"Ini sesuai standard yang aku inginkan, sayang sangat nikmat sesuai dengan pemiliknya," ucap Asyad sambil mengunyah makanan yang diambil dari mulut Iksa.


"Kau, tidak sopan sekali!" Iksa malah memukul dada Asyad wajahnya sangat merah karena tak menyangka Asyad sangat gila menurutnya.


"Sayang ini sungguh sangat nikmat, kau juga harus mencobanya!" Ucap Asyad yang membuat Iksa semakin kencang memukul dadanya.


"Dasar pervert kamu!"


"Hanya padamu sayang."


"Puas sekarang?"


"Belum," jawab Asyad menggelengkan kepalanya.


Tanpa Asyad duga Iksa menyerang bibir Asyad tiba-tiba Asyad yang terlihat kaget berusaha untuk tenang akan perlakuan Iksa ini, ia pun terus mengikuti ciuman Iksa hingga saat Iksa melepaskan ciumannya Asyad menahannya, kini kembali Asyad sebagai dominan dalam ciuman itu membuat Iksa tak rela melepaskan ciuman itu lagi mereka berciuman dengan sama-sama agresif dan saling membutuhkan saling membelit lidah, menghisap bibir hingga Asyad melepaskan ciumannya dan beralih pada leher jenjang Iksa dengan rambut yang dikuncir tinggi membuat Asyad leluasa menelusuri leher Iksa, desahan Iksa membuat Asyad semakin panas Asyad menghisap leher Iksa kuat hingga Iksa melenguh meremas rambut Asyad.


Asyad menatap Iksa dalam kening mereka saling menyatu.


"Aku gak kuat Iksa, aku butuh pelepasan!" ucapnya dengan suara serak menahan hasratnya.


"Asyad kita belum menikah, aku harap kamu bisa bertahan."


"Aku sungguh tidak kuat Sa, ayolah!" Iksa malah mendorong tubuh Asyad.


"Selesaikan sendiri, aku mau balik ke dapur, bye." Iksa segera menjauh dari Asyad sebelum dia tertangkap, ia mentertawakan kekasihnya yang sungguh terlihat kasihan.


"Iksa kau sungguh kejam, huft," Asyad menahan hasratnya ia benar-benar butuh pelepasan, setelah kepergian sang kekasih Asyad pun menuju kamar mandi di ruangannya melepaskan semua hasratnya yang ingin mencapai puncak.


"Oh Iksa....." Gumamnya di dalam kamar mandiπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Vote dan like ya gaessss πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—