
Dusseldorf, jerman
“Pak Rangga, aku mau tanya sesuatu yang penting?” tanya Asyad di dalam kantor direktur miliknya.
“Iya, silahkan pak sebisa mungkin saya jawab.”
“Pak Rangga tau nggak gimana aku harus bisa cepet pulang sebelum 2 tahun?” tanyanya berharap pak Rangga bisa membantunya.
“Anda sudah ingin pulang, pak, ini masih satu minggu pak, kita hanya di suruh pak Wiliam sampai beliau mendapat orang kepercayaannya untuk mengurus hotel di sini.”
“Saya gak yakin sama Ayah yang menyuruh saya mengurus pekerjaan di sini, secara di sini anda adalah orang kepercayaan ayah sudah pasti ayah sangat mempercayai anda mengurus hotel ini, kenapa juga ayah harus ngirim aku kesini?”
“Pak Asyad tenang saja pak Wiliam hanya ingin mempercayakan hotelnya sendiri kepada anaknya sendiri, apa itu salah?”
“Tapi aku ingin cepat segera pulang pak Rangga.”
“Apa anda sudah begitu rindu dengan wanita itu?” tanya Rangga sambil melirik ke arah foto di meja Asyad dimana foto itu adalah foto Asyad dengan Iksa.
“Aku begitu merindukannya pak Rangga, aku meninggalkannya karena salah paham, ingin ku menjelaskan namun sekarang dia dan aku jauh bahkan sekarang dia mungkin sudah tak ingin mendengar kabar dariku, aku ingin cepat pulang menjelaskan semuanya,” jelasnya sambil berkaca – kaca menahan tangisnya.
“Saya tau apa yang pak Asyad rasakan saya juga pernah muda pak, gimana rasanya jauh sama seseorang yang sedang kita rindukan, pak Asyad hanya perlu bersabar tunjukkan pada Ayah anda kalau anda bisa dan hanya itulah agar anda bisa segera bertemu dengan gadis anda,” tuturnya membuat Asyad tersenyum dan mulai kembali ke pekerjaan.
Mereka sibuk dengan berkas – berkas yang sudah tertumpuk di meja, setelah itu Asyad mulai mengecek satu persatu di setiap ruangan untuk mendekatkan diri nya dengan karyawan di hotelnya. Semua karyawan yang melihat begitu terpesona wajah Asia Asyad yang begitu manis di tambah mukanya yang baby face membuat banyak karyawan dan staff wanita terpesona. Asyad dan Rangga berjalan menyusuri semua ruangan hingga tak sengaja ia menabrak seorang wanita yang tengah membawa koper besar dan memakai kacamata hitam.
“Maaf tuan, saya nggak sengaja,” kata wanita itu sambil mengusap usap lengan Asyad.
“Iya bu tidak apa - apa, apa anda akan menginap di hotel ini?” tanya Asyad yang begitu familiar dengan wajah itu.
“Ah iya tuan, saya dari Indonesia ingin bermalam di hotel ini karena ini hotel paling dekat dengan tempat kerja saya dan suami saya.”
“Oh jadi begitu, perkenalkan saya Asyad Bachtiar saya yang mengurus hotel di sini,” ucap Asyad sambil menyalami wanita yang sudah berumur itu.
“Saya Lena Wijaya, hebat ya kamu masih muda namun sudah sukses seperti ini saya bangga melihatmu,” jawab Lena tersenyum kagum melihat Asyad.
“Terima kasih ibu Lena, anda juga sangat hebat sosok perempuan yang sukses dengan karir anda,” ucap Asyad melempar pujian.
“Baiklah bu Lena saya permisi dulu, semoga istirahat anda di sini nyaman dan betah."
Asyad pun berlalu dari hadapan Lena sambil otaknya terus berfikir tentang wanita di hadapannya tadi, namun suara Rangga membuyarkan lamunannya. Asyad pun melanjutkan pekerjaannya.
Bandung
3 bulan sudah seusai kelulusan Iksa yang kini sudah di terima di salah satu universitas di Bandung begitu pun dengan Kila, mereka sama – sama memilih Fakultas Tehnik yang masih sama yaitu jasa boga karena bagi mereka makanan adalah salah satu hal terpenting dalam hidup tanpa makanan orang mungkin tidak akan bisa melindungi tubuh mereka karena kelaparan yang melandanya, begitu konyol namun ada benarnya juga sih.
“Aku gak nyangka Sa, kita bisa bareng bareng lagi,” sambil memeluk tubuh Iksa dari samping.
“Aku juga Kil, aku seneng banget bisa melanjutkan sekolah di kampus yang aku inginkan beserta sahabat yang selalu setia di samping aku.”
Tiba – tiba suara teriakan memanggil mereka berdua dari kejauhan sambil berlari
“Nela,” ucap Iksa dan Kila serentak yang melihat Nela datang ke hadapannya.
“Hay,” sapanya dengan tersenyum.
“Loh kok ada di sini bukannya kau di Surabaya?” tanya Iksa heran.
“Aku pengen pindah kesini sama kalian, aku batalin pendaftaran aku di sana biar aku bisa bareng kalian dan bisa selalu ketemu kalian.”
“Kenapa Nel, kau sampai harus mengikuti kita kesini?” tanya Iksa
“Kau gak tau sih, hidup aku kesepian kalau aku gak punya sahabat, tau sendiri semua sahabatku yang dulu udah sibuk dengan pekerjaan dan pindah ke luar negeri hanya aku yang masih sekolah,” jelas Nela terlihat murung.
Ya memang semua sahabat Nela sudah berpisah di mulai dari Asyad yang pergi ke Jerman, Bara yang harus mengurus bisnis keluarganya di luar kota, Fery dan Venya melanjutkan study nya keluar negeri serta Luna yang kini meniti karirnya di Jakarta sebagai model.
“Baiklah kauu kan sahabat kita, kita bakal selalu sama-sama Nel,” ucap Iksa sambil memeluk Nela.
“Kau ambil Fakultas tehnik Boga juga Nel?” tanya Kila.
“Hellowww, itu bukan aku banget Kil, aku di sini ngambil komunikasi, yang benar saja kau aku harus berkutik dengan barang – barang dapur yang ada tuh bakal rusak tu barang, aku mah sukanya makan aja deh simple gak pake ribet.”
“Yeee, aku mah cuma nanya Nel, dasar kau tukang makan,” sambil menatap sinis ke arah Nela.
Mereka pun tertawa melihat Kila yang begitu sinisnya pada Nela, mereka memang selalu saja berdebat ketika bertemu namun tak dipungkiri Kila lah yang paling di rindukan Nela karena sikapnya yang selalu konyol dan selalu bikin ketawa.
\=\=\=\=\=\=