Sebintang Rindu

Sebintang Rindu
Part 57_Terlalu Manis



Iksa dan kedua temannya kini sedang berada di Wiliam d'hotels mereka tengah serius memperhatikan penjelasan dari Chef yang membimbing mereka, Chef tersebut juga mengenalkan pada mereka ruangan di hotel tersebut yah meskipun nanti pembelajaran mereka di area dapur namun tidak menampik kemungkinan mereka akan di suruh pergi ke suatu ruangan.


Di ruang kerja Asyad tampak Asyad sedang berbunga hatinya mendapatkan informasi bahwa anak magang bagian boga sudah datang dan sedang tahap perkenalan oleh Chef Jery orang yang membimbing magang para mahasiswa boga.


"Silvi, aku ingin nanti salah satu dari mahasiswa itu mengantarkan makan pagi dan siang setiap hari ke ruang kerjaku!" Perintah Asyad kepada sang sekretaris.


"Baik pak, nanti saya akan membicarakannya kepada bagian staff dapur," Ucap Silvi menuruti perintah atasannya.


"Aku ingin melihat sendiri kinerja mereka, dan aku yang akan menentukan siapa yang akan mengantar makananku."


"Baik pak," Jawab Silvi dengan mengulas senyum karena ia tau apa yang dipikirkan atasannya itu.


Asyad berjalan menuju dapur exclusive di ikuti Silvi dari belakang, saat tiba di dapur para staff dan chef di dapur amat terkejut karena ia tak pernah melihat pemilik hotel berada di dapur dan ini sungguh mengejutkan bagi mereka semua, mereka pun menjamu atasannya dengan pelayanan penuh.


Setelah Silvi berbicara kepada kepala supervisi yang mengangani bagian dapur, akhirnya chef yang membimbing magang ketiga mahasiswa itu meminta untuk membuat sebuah dessert yang akan di suguhkan langsung kepada atasannya.


Mereka pun memulai aksinya, Iksa yang sedari tadi diamati oleh Asyad tampak merasa canggung entah kenapa ada Asyad di sini bukannya ia sekarang harus bekerja diruangannya.


Setelah semua masakan selesai kini Asyad lah yang akan menilai rasa dan tampilan masakan yang di buat ketiga orang tersebut.


"Ini terlalu manis dan tidak cocok untuk di suguhkan, kau..." Tunjuk Asyad pada Iksa.


"Maaf pak, itu sudah sesuai resep yang saya buat, saya sudah mengaturnya dan rasanya tidak terlalu manis," Ucapnya membenarkan masakannya yang memang sudah sesuai, dessert itu sudah sering ia buat di rumah maupun di kampus dan selalu mendapat nilai positif dari semuanya tapi ini Iksa merasa kesal beraninya kekasihnya menghina masakannya.


Asyad meletakkan sendok dan berbisik kepada chef yang membimbing mereka lalu ia pun beranjak pergi dengan sekretarisnya tanpa mau melanjutkan penilaian terhadap kedua mahasiswa itu.


"Kesel banget sih Kil, beraninya dia menghina. masakanku, padahal aku tau sendiri dia saja tidak bisa masak seenaknya saja mengatai masakanku tidak cocok untuk disuguhkan awas aja kau Asyad!" Ucapnya kesal.


"Biarkan saja kenapa, mungkin dia ingin bersikap profesional dalam bekerja, kau sih mending masih di makan dan di beri nilai masakanmu sedangkan aku dan Farhan boro-boro dinilai di makan saja tidak, huft!" Saut Kila dengan nada sedikit kesal.


Saat mereka tengah asyik membersihkan peralatan seusai masak tiba-tiba seorang staff dapur memanggil Iksa,


"Iksa maaf, pak Jery memanggilmu!" ucap staff tersebut dan diiyakan oleh Iksa.


Iksa pun masuk ke ruangan yang letaknya di samping dapur.


"Permisi pak, apa bapak memanggil saya?"


"Oh Iya masuk," Iksa pun menuruti dan mendudukkan bokongnya di kursi tepat di depan pak Jery.


"Jadi begini sekretaris direktur tadi bicara dengan saya bahwa pak direktur ingin setiap pagi dan siang makanan di antar ke ruangannya dan beliau ingin kau yang melakukan itu," Penjelasan pak Jery membuat Iksa terperangah.


"Tidak hanya itu, beliau juga berpesan makanan yang nanti kau bawa itu masakan dari tanganmu sendiri tanpa campur tangan orang lain, beliau sendiri yang nanti akan memberi nilaimu."


"Bapak tadi melihat sendiri kan kalau masakan saya itu buruk lalu kenapa harus saya yang mengantar?"


"Iksa, saya juga tidak tau saya hanya menjalankan tugas, kau bisa menanyakannya pada sekretaris beliau saat mengantar makanan, sebentar lagi jam makan siang kau harus mulai memasak untuk beliau siang ini, kau bisa kembali ke area!" Jery menegaskan penjelasannya pada Iksa, sementara Iksa hanya diam saja mengiyakan dan berlalu pergi dari ruangan tersebut.


Setelah selesai Iksa mengantarkan makanannya ke ruang kerja Asyad dengan senyum merekah, terlihat sekretaris yang sedang sibuk dengan layar di laptopnya.


"Permisi, Pak Asyadnya di dalam kan?" Tanya Iksa.


"Oh iya Nona Iksa, pak Asyad ada di ruangannya," jawab sekretaris dengan mengulas senyum kembali ia tau hubungan atasannya dengan mahasiswa yang bernama Iksa itu, maka darinya ia juga bersikap hormat kepada calon pemilik hotel itu.


Iksa pun masuk ke dalam ruangan Asyad tanpa mengetuk pintu, terlihat Asyad sedang asyik dengan layar benda di hadapannya.


"Ini makanan anda Tuan Asyad yang terhormat," ucapnya dengan penuh penekanan.


"Oh sayang kau sudah datang," Asyad menghampiri kekasihnya yang sedang berwajah masam itu.


"Puas sudah menghina masakanku, kau menghina masakanku di depan pegawai dan temanku kau lihat sekarang aku bercitra buruk dihadapan mereka aku seperti tidak becus menguasai jurusanku," ucap Iksa dengan mata yang berkaca-kaca, ia mengungkapkan kekesalannya pada kekasihnya, tanpa ia sadari satu tetes air matanya jatuh dan itu terlihat oleh Asyad.


"Eh, kok nangis sayang, oke-oke aku salah, aku tidak ada niat membuat citra memasakmu buruk dihadapan mereka aku hanya menguji seberapa kuat mental kamu saat kamu di jatuhkan."


"Kau jangan bawa-bawa hal itu, aku sudah mengalaminya berkali-kali jadi kau jangan meremehkanku," ucap Iksa tak mau kalah.


"Oke sayang, maafkan kekasihmu yang jahat ini, ayo kita duduk!" Asyad menggandeng Iksa menuju sofa.


Setelah mereka duduk tiba-tiba Asyad memeluk Iksa, sedang Iksa hanya diam saja mendapat perlakuan itu.


"Aku rindu sekali denganmu, Sayang."


"Aku juga, tapi kau jahat sudah mengatai masakanku."


"Maaf sayang," Asyad melepaskan pelukannya dan meraih bibir ranum Iksa ia mel*mat bibir Iksa dengan perasaan hangat.


Mereka pun asyik dengan cumbuannya tak henti-hentinya Asyad memb*lit lidah Iksa dengan penuh penekanan rasanya sungguh nikmat, Iksa yang tadinya hanya diam saja ia pun membalas ciuman Asyad dengan penuh hasrat. Asyad yang kini tengah diliputi gairah ia pun melepaskan cumbuannya dan turun ke rahang Iksa hingga sampai ke leher jenjang Iksa yang tampak indah ia memberikan kecupan di leher Iksa dan hampir menghisap lehernya namun suara ketukan pintu membuyarkan semua kegiatan mereka, Asyad melepaskannya dan menggenggam tangan Iksa.


"Maaf, aku hampir kelepasan," ucap Asyad serak karena masih di liputi gairah.


Iksa hanya merunduk malu bisa-bisanya ia juga menikmatinya, bahkan ia membiarkan Asyad mencium lehernya.


Pintu ruangan terbuka dan terlihat sekretaris tersebut datang membawa beberapa dokumen untuk atasannya setelah itu Asyad hanya menyuruhnya meletakkan di meja dan sekretaris itu pun keluar dari ruangannya dengan senyuman malu karena melihat atasannya sejak tadi menggenggam tangan kekasihnya.


"Oh astaga mereka membuatku iri!" ucap Silvi dalam hati dan menutup pintu ruangan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


**Sebenarnya kemarin mau update, eh pas udah selesai aku lupa simpan dan akhirnya hilang tulisanku mau nulis lagi jadi badmood.


Jangan lupa ya like dan votenya nak kanak**!!!!