
Iksa dan Kila kini yang tengah berjalan masuk di ruang kelasnya tiba – tiba Kila tak sengaja tertabrak seseorang di hadapannya hingga mereka terjatuh.
“Eh kalo jalan liat – liat dong badan besar gini masih aja gak bisa liat,” bentak Kila.
“Kendra,” ucap Iksa terkejut.
“Hay,” sapa Kendra sembari tersenyum ke arah mereka.
“Ya ampun kau Ken, kau kuliah di sini juga?” tanya Kila sambil merangkak berdiri.
“Bantuin aku dong Sa!" tangan Kila pun di tarik Iksa untuk berdiri.
“Iya aku kuliah di sini juga,” jawab Kendra.
“Hmmm jangan bilang kau juga ikutin kita kesini juga ya?” tanya Kila penuh selidik.
“kesini juga? Emang siapa lagi yang ikutin kalian?” tanya balik Kendra.
“Iya Ken, Nela juga ngikutin kita kuliah di sini karena pengen barengan kita kuliah disini,” sahut Iksa.
“Aku memang ingin kuliah di sini kok, ya secara ini kan universitas yang lumayan di minati banyak orang,” jawab Kendra sedikit takut jika keinginannya tak jauh berbeda dengan Nela.
“Oh iya juga sih, ya udah kita ke kelas dulu ya Ken,” ucap Iksa lalu menarik tangan Kila untuk segera masuk ke ruang kelasnya.
Mereka pun berjalan masuk ke ruang ke ruang kelas, Kendra yang hanya terdiam dan terus saja memandangi Iksa dan Kila pergi hmmm lebih tepatnya memandang punggung Iksa yang berlalu dari hadapannya.
*
Waktu berlalu begitu cepat tak terasa dua tahun sudah Asyad pergi ke Jerman ia kini kembali pulang ke Indonesia sesuai waktu yang di berikan ayahnya. Asyad kembali ke Surabaya dan bertemu dengan Wiliam dan Samira.
“Anak Bunda sudah pulang,” sambil memeluk Asyad dan mencium kedua pipi anak tercintanya.
“Asyad rindu banget sama Bunda.”
“Gak rindu sama Ayah?” sahut Wiliam di tengah pelukan seorang ibu dan anak.
“Ya jelas dong yah, Asyad juga sangat rindu banget sama ayah," menuju ke Wiliam dan langsung memeluknya.
“Makan dulu sayang, Bunda sudah siapkan makanan buat kamu dan khusus buat kamu.”
Mereka pun menuju ruang makan dan bersama menikmati kerinduan keluarganya, selamanya 2 tahun sudah Asyad tinggal di Jerman yang sama sekali tak di ijinkan ayah nya untuk pulang sebelum semuanya selesai.
Kini mereka nampak sangat bahagia karena anaknya yang mulai tumbuh semakin dewasa dan pemikiran yang semakin matang.
“Ayah sih pengennya kamu ngurusin hotel ayah yang di bandung, karena di sana saham ayah paling besar yaitu 50% dari lainnya, ayah ingin kamu juga ikut andil di dalamnya.”
“Ayah, Asyad mau di Surabaya Asyad ingin menyelesaikan masalah Asyad dengan Iksa gegara kepergian Asyad ke Jerman.”
“Ya udah terserah kamu, selesaikan masalah kamu, segera nikahi juga jika memang kalian sudah siap, biar ayah segera bisa memindahkan kamu mengurus hotel yang ada di Bandung.”
Seketika ruang makan menjadi hening mereka melanjutkan makan tanpa ada satu pun mulut yang berbicara. Setelah makan mereka semua pergi ke kamar masing – masing, namun Asyad masih belum terlihat mengantuk ia berjalan menuju taman belakang dan duduk di dekat kolam renang miliknya. Ia merasakan masa lalu kembali lagi dimana saat pertemuan dengan Iksa di masa kecil namun Iksa sama sekali tak pernah mengingat dirinya, Iksa hanya mengingatnya sebagai Tiar karena itulah panggilan khusus nya namun ia tak pernah mengenali bahwa Asyad lah teman masa kecilnya.
Asyad memejamkan mata sembari merilexkan dirinya dari penatnya pikiran selama ini rasa rindunya pada Iksa yang selalu saja muncuk setiap hari.
“Iksa, apakah hatimu masih untukku apakah aku pantas masih bisa menjadi pelindung bagimu? namun aku ingin kau menjadi bagian hidupku dan tak ada satupun orang lain yang akan mendapatkannya hanya aku seorang, tunggu aku Iksa,” ucap Asyad di tengah keheningan malam.
Keesokan harinya keluarga Wiliam makan pagi bersama momen langkah setelah 2 tahun mereka tak pernah melakukan sarapan pagi bersama karena masalah jarak.
"Oh iya Syad satu bulan yang lalu Bunda ketemu sama tante Maria, kamu masih ingat kan sayang?” ucap Samira sambil mengingatkan anak semata wayangnya tentang kejadian masa lalu.
“Iya Bun Asyad inget, inget banget malah, Asyad dulu sering bertemu dengan tante Maria,” jawab Asyad tanpa ekspresi terkejut.
“Oh ya......kok Bunda gak tau, jadi selama ini sebelum kamu ke Jerman kamu sering bertemu dengan Maria, kok bisa kamu gak kasih tau Bunda,” Maria tampak terkejut karena anaknya yang sangat sangat mengabaikan mamanya.
“Ya karena Ayah, coba aja dulu ayah gak ngirim aku ke jerman aku pasti udah cerita sama Bunda,” ucap Asyad dengan terus makan tanpa memperdulikan keterkejutan mamanya.
“Maksud kamu nak?” tanya Maria yang benar benar tidak mengerti sedang Wiliam hanya diam saja anaknya sudah menyalahkannya.
“Iya waktu aku ngenalin Iksa dan mau serius sama Iksa inget kan Bun?” mencoba mengingatkan Maria.
“Astaga jadi gadis yang kamu kenalin ke Bunda sama ayah..itu...siapa namanya sayang....mama lupa?”
“Iksa ma Armela Iksaria.”
“Oh iya, jadi Iksa yang kamu bilang adalah teman kecilmu itu kamu sungguh tega sama mama, kenapa kamu gak sampai menunjukkan Iksa ke mama tau gitu mama yang gak akan izinin kamu pergi, mama rindu sekali dengannya nak, pokoknya kamu harus cari dia bawa dia ke hadapan Bunda, titik,” paksa Samira yang memang begitu ingin bertemu dengan Iksa.
Samira tau Iksa adalah anak Lena yang tak pernah di inginkan Ibu kandungnya karena bagi Lena ,Iksa, hanya seorang anak yang merugikan dirinya saja gegara kecelakaan yang terjadi akan suami Lena semenjak saat itulah Lena sangat amat membenci Iksa anak kandungnya sendiri, saat mencoba membuang Iksa Samira berniat untuk mengadopsinya namun di cegah oleh Maria karena Maria ingin menjadikannya sebagai anaknya karena Maria sendiri belum di beri keturunan. Kejadian itu hanya di ketahui oleh mereka bertiga tanpa ada satupun yang mengetahui kejadian ini. Semenjak saat itulah Maria dan Samira sangat menyanyangi Iksa namun karena pekerjaan suami Samira yang menuntutnya harus mengikutinya akhirnya mereka berpisah, di kala itu Samira sangat sedih harus meninggalkan Maria dan Iksa sendiri karena suami Maria yang meninggal akibat serangan jantung yang di deritanya. Satu sampai dua bulan mereka masih sering kontak namun tiba tiba nomor Maria tak bisa lagi di hubungi hingga akahirnya mereka benar – benar lost kontak.
Namun tanpa di sangka pertemuan kembali membawa anak mereka dalam suatu hubungan, Samira hanya berharap Iksa yang akan menjadi menantu dalam keluarga Wiliam.
Setelah makan pagi usai Asyad dan Wiliam berangkat ke hotel, mereka pun berpamitan tak lupa kebisaan Wiliam setiap pagi yang selalu mencium kening istrinya. Asyad mencium pipi kanan dan kiri mamanya.
“Cari Iksa sampai dapat sayang,” ucap Samira pada Asyad di depan pintu sambil melambaikan tangannya ke mobil Suami dan anaknya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=